
Pernyataan Bram terasa seperti pertanyaan bagi Jesica, namun ia tidak tau pasti apa yang di tanyakan Bram padanya.
"Ingin jalan-jalan untuk bersantai besok?" ajak Bram.
"Jalan-jalan?" ulang Jesica dengan kening berkerut.
"Yah,,, sekedar jalan-jalan biasa atau pergi kesuatu tempat, mungkin?" jelas Bram.
'Apakah maksudnya dia mengajakku berkencan?' batin Jesica setengah berharap.
"Nonton atau semacamnya?" ucap Bram lagi seolah memberi Jesica pilihan.
"Nonton sepertinya bukan ide buruk," sambut Jesica.
'Setidaknya, aku masih bersahabat dengannya, itu sudah lebih dari cukup. Aku memang mencintai Bram, namun aku juga tau Bram sulit untuk melepaskan cintanya terhadap Ariel,' batin Jesica.
"Kalau begitu, aku akan menjemputmu besok sore," ucap Bram.
"Baiklah," sambut Jesica.
Bram meneguk minuman kalengnya, sementara Jesica menyesap kopinya. Ada jeda keheningan panjang berada diantara mereka sampai Bram kembali membuka suaranya untuk memecah keheningan.
"Apakah setelah ini kamu akan pergi ke suatu tempat?" tanya Bram.
"Tidak," Jesica mengeleng. "Aku akan pulang setelah ini, aku hanya melepas lelah disini. Jika aku pulang, aku hanya akan menganggu Steve," jelas Jesica.
"Steve?" ulang Bram dengan keing berkerut.
"Butler di manison keluargaku," terang Jesica.
"Ah,,, begitu rupanya. Sepertinya kamu mulai terbiasa dengan rumahmu sendiri," ujar Bram.
"Tidak terlalu, hanya saja, setelah perusahaan berada di tanganku, aku juga memiliki tanggung jawab mengurus semua yang bekerja disana,"
"Dan Steve sangat berbeda, dia sangat mengerti dengan apa yang aku suka dan tidak suka, bekerja dengan profesional, namun menjagaku seperti menjaga adiknya sendiri,"
"Bahkan berbohong pada ayahku hanya untuk melindungiku, dan menjadi mata-mataku selama ini," papar Jesica.
"Apakah Ariel juga mengenalnya?" tanya Bram.
"Tidak, hanya Charlie yang mengenalnya," jawab Jesica.
"Bagaimana?" kening Bram saling bertaut.
"Di sini adalah kota asalku, seperti halnya dengan Charlie. Aku bertemu Joel di kota dimana Joel tinggal saat aku mengurus perusahaan yang ada di sana,"
"Dan itu terjadi saat aku belum menemukan Ariel. Dan ketika aku bertemu Ariel, kami menjadi lebih sering dengan hubungan jarak jauh kami,"
"Dan,, yah,, kau tau apa kelanjutannya, itu sudah aku ceritakan," terang Jesica menaikan bahunya.
"Tapi, bagaimana Joel dan Charlie saling mengenal? kamu bilang Charlie sahabat ketika kalian masih berstatus sebagai pelajar," tanya Bram.
"Aku sering meminta Charlie datang menemuiku disaat aku bersama Joel. Dan mereka, bisa dikatakan sering bersama karena terkait kasus kecelakaan," jelas Jesica.
Bram mengangguk mengerti. Semuanya tampak seperti di rencanakan, namun itu adalah kebetulan yang sangat jarang terjadi.
Bram melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya, lalu berdiri.
"Sudah larut, ayo ku antar pulang," tawar Bram.
"Tidak perlu, Bram. Terima kasih. Lagipula rumahku tidaklah jauh," tolak Jesica halus.
"Kau pikir, aku akan membiarkanmu pulang sendiri? Tidak akan,!" tegas Bram. "Ayo,!" ajak Bram sembari mengulurkan tangannya.
Selama beberapa saat, Jesica terdiam, menatap tangan Bram yang terulur padanya. Hal itu membuat hatinya senang, namun hal itu juga terkadang membuatnya sedikit berharap, dan itu terasa menyesakkan baginya.
"Apa yang membuatmu berpikir lama?" tanya Bram membuyarkan lamunan Jesica.
"Tidak ada," kilah Jesica.
"Lalu?" alis Bram terangkat.
"Baiklah," jawab Jesica seraya berdiri
"Ayo," imbuhnya menerima tawaran Bram tanpa menyambut tangannya.
Bram hanya menaikan bahunya, lalu menurunkan tangannya, memimpin jalan menuju tempatnya memarkir mobil.
Keheningan berlangsung selama perjalanan. Jesica seolah berubah menjadi sosok berbeda jika tidak ada Ariel di sekitarnya. Menjadi lebih pendiam.
Dilubuk hati Bram, ia mengagumi dengan bagaimana cara Jesica bersikap. Mengakui betapa seorang Jesica memiliki sisi kuatnya sendiri.
"Terima kasih sudah mengantarku,"
Suara Jesica memecah keheningan dan membuyarkan pikiran Bram. Ia sendiri tidak tau kenapa memikirkan hal itu.
"Bukan masalah," jawab Bram.
Jesica bergerak membuka pintu, dan akan bergerak keluar ketika ia kembali berbalik untuk menatap Bram yang masih memandanginya.
"Bisakah aku meminta satu hal darimu, Bram?" tanya Jesica.
"Tentang?" jawab Bram belas bertanya.
"Bisakah kamu mengirimiku pesan saat kamu tiba di apartemenmu?" harap Jesica.
"Hanya itu?" tanya Bram.
Jesica mengangguk pelan. "Hanya itu," jawabnya.
"Tentu, aku akan mengirimu pesan nanti," janji Bram.
"Selamat malam, Bram," pamit Jesica.
Bram keluar dari mobil dan melangkah menuju gerbang tang perlahan terbuka, memperlihatkan seorang penjaga keamanan rumah Jesica yang menyambutnya dengan ramah.
Jesica masih berdiri di depan gerbang seolah menunggu Bram pergi. Ia menurunkan kaca mobilnya dan melambai ringan sebelum pergi meninggalkan kediaman Jesica.
...>>>>>>>--<<<<<<<...
Satu pasangan terlihat menikmati waktu mereka saat bermain Arcade yang berada di satu tempat dengan bioskop. Mereka dengan kompaknya memainkan Game Walking Dead hingga berhasil menyelesaikan misi.
Berpindah pada game lainnya, mereka kembali bermain Dance Revolution, dimana konsentrasi mereka tertuju pada layar dan bergerak bersama untuk mendapatkan skor tinggi.
Suara gelak tawa mereka sesekali terdengar saat mereka justru saling menabrak karena menuju arah yang sama.
"Hei,,, bergeraklah dengan benar atau skor yang kitadapatkan rendah,"
"Kaulah yang bergerak ke arah yang aku tuju, Bram," sambutnya tidak mau di salahkan.
"Ya ya ya,, seorang Jesica tidak pernah salah," jawabnya. "Nona besar," imbuhnya.
Jesica hanya tertawa menanggapi ocehan Bram yang tengah mengerucutkan bibirnya. Pada akhirnya mereka tetap tidak bisa mencapai skor tinggi dan berpindah dengan memainkan game lain.
Bram menunjuk Street Basketball sembari menarik paksa Jesica.
"Aku memang tidak sehebat, Joel. Tapi aku lebih unggul darimu," ujar Bram percaya diri.
"Kau terlalu percaya diri," cibir Jesica menjulurkan lidahnya.
"Kalau begitu, ayo bermain?" tantang Bram.
"Aku bukan orang yang akan mundur dari tantangan," sambut Jesica.
"Kalau begitu, siapapun pemenangnya, yang kalah harus mengabulkan apapun permintaan si pemenang," ucap Bram.
"Hei,,, kenapa kau membuat kepuutusan seenaknya?" sambut Jesica.
"Takut?" ledek Bram.
"Ugh,,, baik, satu permintaan untuk pemenang. Kau senang?" jawab Jesica.
Mereka mulai bermain dengan mengejar waktu, berlomba untuk memasukan bola sebanyak mungkin ketika waktu terus berjalan.
Hingga saat waktu berakhir, skor yang Bram dapatkan jauh lebih banyak, menghadirkan suara tawa penuh kemenangan.
"Cih,,," sungut Jesica cemberut.
Jesica masih memegang bola di tangannya, memalingkan wajahnya dari Bram. Perlahan Bram mendekat, berdiri dibelakang Jesica. Tangannya terulur kedepan untuk membantu Jesica melempar bola.
"Jangan marah," hibur Bram. "Letakkan tanganmu seperti ini,,,,"
Bram menuntun tangan Jesica, meletakkan telapak tangannya di atas tangan Jesica. Membuat posisi mereka terlihat seperti berpelukan.
"Dan,,, lempar,,,"
Suara Bram yang terdengar di telinganya membuat ia menahan nafasnya sejenak. Tangan mereka yang saling bersentuhan menganggu konsentrasinya.
Namun, anehnya saat mereka melemparkan bola bersama, skor yang mereka dapatkan justru lebih banyak dari yang Bram peroleh sebelumnya. Membuat Jesica melupakan rasa gugupnya.
"Ayo beli minuman!" ajak Bram.
"Sepertinya ini juga sudah hampir tiba waktunya film di putar," sambut Jesica melirik jam tangannya.
"Ahh,, kau benar. Mau popcorn?" tawar Bram.
"Tentu saja, akan terasa kurang jika kita nonton tidak ada popcorn," jawab Jesica antusias.
"Baiklah, kamu tunggu antrian masuknya, aku akan membeli popcorn dan minuman untuk kita," ucap Bram.
"Manis sekali," sambut Jesica tersenyum.
Jesica berdiri di barisan antrian masuk, sementara Bram pergi membeli popcorn. Tak berselang lama, Bram kembali dengan dua minuman di tangannya dan satu popcorn tepat saat Jesica akan masuk.
Tangannya meraih dua minuman di tangan Bram saat melihat dia kesulitan untuk mengeluarkan tiket dari saku celanaya.
"Terima kasih," ujar Bram.
Mereka duduk tenang menikmati film yang diputar. Namun keduanya sama-sama tidak begitu memperhatikan apa yang di kisahkan dari film itu. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing hingga film berakhir begitu saja.
Dalam perjalanan pulang, tak banyak yang mereka bicarakan, hanya membahas tentang acara pernikahan saja yang membuat mereka tidak terjebak dalam keheningan panjang.
"Terima kasih untuk hari ini," ucap Jesica saat mereka telah sampai dii depan rumah Jesica.
"Akulah yang berterima kasih karena kamu mau menemaniku hari ini," jawab Bram.
"Dan aku bersenang-senang juga berkatmu," imbuhnya.
"Aku juga bersenang-senang hari ini," balas Jesica.
"Sampai bertemu lagi, Bram," pamit Jesica seraya membuka pintu mobil.
"Sampai bertemu lagi," balas Bram tersenyum.
Bram meninggalakan kediaman Jesica dengan senyum di wajahnya, merasakan hatinya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Hal serupa juga dilakukan Jesica, senyum itu terus mengembang di bibirnya hingga ia tertidur.
...>>>>>>>--<<<<<<<...
.......
.....
To be Continued...