
Selama beberapa saat Joel tertegun mendengar pengungkapan Ariel. Kalimat sederhana yang diucapkan Ariel seolah mengatakan bahwa Ariel hanya menunjukan sisi lemahnya pada Joel namun tidak pada orang lain.
"Kalau begitu, katakan padaku apa yang terjadi?" tanya Joel.
Ariel mengerakkan kepalanya dan menunjuk sisi ruangan. Joel mengikuti arah yang ditunjuk Ariel, lalu terkejut melihat beberapa alat musik yang rusak, bahkan nyaris hancur.
"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Joel lagi.
"Aku tidak tau bagaimana awalnya, hanya saja keributan terjadi disaat aku sedang makan siang di luar. Lalu Ken datang dengan wajah panik, begitu juga dengan Gina dan Oliver, mereka mengatakan alat musik ruangan sebelah juga mengalami hal serupa dan menemukan barang milik muridku disana,"
"Tapi, kami juga menemukan barang milik mereka disini," papar Ariel.
"Itu terdengar seperti seseorang sengaja mengadu domba kalian," sambut Joel.
"Aku juga berpikir sama, tapi menuduh mereka juga bukan hal yang benar untuk dilakukan," jawab Ariel.
"Bersama siapa kamu saat makan siang?" tanya Joel.
"Pada awalnya aku hanya sendiri, tapi di tengah makan siangku, Jessi datang bersama seseorang yang sesama berada di bidang bisnis," terang Ariel.
'Sekarang ini menjadi masuk akal kenapa aku merasa aneh dengan balasan pesan dari Ariel, dan alasan kenapa Ariel mengatakan aku tidak mengirim pesan sama sekali,' batin Joel.
"Kenapa Jesica harus menemuimu?apakah dia menganggumu lagi?" tanya Joel.
"Tidak. Dia hanya menyapa," kilah Ariel.
'Ini bukan waktu yang tepat untuk menceritakan pertemuanku dengan Mr.Evrad. Biar bagaimanapun juga, aku harus mengatakan ini kepada Bram lebih dulu karena Mr.Evrad adalah ayahnya sendiri,' batin Ariel
"Tak lama setelah itu, hal ini terjadi," lanjut Ariel.
"Kenapa setiap kali kamu mengalami hal buruk, selalu ada Jesica disana?" geram Joel.
"Bukankah dia yang paling memungkinkan untuk melakukan semua ini? Dia akan melakukan apa saja hanya untuk membuat dirinya puas," sambungnya.
"Aku,,, rasa,,, dia tidak mungkin melakukannya. Jika dia yang melakukannya, ini terlalu sederhana, Joel," sambut Ariel.
"Jangan bilang kamu masih menganggap dia sebagai sahabatmu?" tebak Joel menyipitkan matanya.
Ariel terdiam.
"Dia adalah orang yang sudah mengkhianatimu, Ariel. Ingatlah akan hal itu," ucap Joel lagi.
"Aku,,, hanya tidak bisa,,," Ariel menghentikan kalimatnya.
'Aku masih tidak bisa percaya bahwa dia mengkhianatiku. Rasanya sungguh tidak mungkin, kenapa semua terasa samar? dan kenapa aku masih berpikir Jessi tidak mungkin melakukannya?,' batin Ariel.
"Percaya bahwa dia yang menjadi sahabatmu menusukmu dari belakang?" ucap Joel meneruskan kalimat Ariel.
Ariel kembali terdiam.
"Lalu, menurutmu, siapa yang akan mampu untuk melakukan hal ini? Ini bukan hanya satu atau dua alat musik," tanya Joel.
Ariel semakin tengelam dalam kebisuannya. Sebanyak apapun ia mencoba untuk menepisnya, namun semua yang Joel katakan memiliki kemungkinan.
"Hey,,," Joel menyentuh pipi Ariel dan membimbing Ariel untuk menatapnya.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk menambah beban pikiranmu. Sekarang, kita selesaikan dulu tentang masalah alat musiknya," ucap Joel.
"Aku yang akan menganti semuanya, Joel," ucap Ariel.
"Aku sudah menduga kamu akan melakukan itu, dan aku yakin ada beberapa hal yang kamu pertimbangkan kenapa kamu melakukannya. Kalau begitu, kenapa kamu tidak menghubungi David? Bukankah kamu memiliki nomor ponselnya? Aku yakin dia bisa mendapatkan alat musik yang kamu butuhkan dengan kualitas terbaik dan harga bersahabat tentu saja," tutur Joel.
"David,,, Astaga,,, aku sungguh lupa tentang dia," sambut Ariel menepuk dahinya dan mulai tersenyum.
"Berikan ponselmu padaku, sementara kamu cek sekali lagi apa saja yang kamu butuhkan, aku akan menghubunginya lebih dulu. Jika aku menghubungi si gila itu dengan ponselku, dia hanya akan mengabaikannya," ucap Joel.
"Baiklah," jawab Ariel.
Ariel memberikan ponselnya kepada Joel tanpa curiga.
Saat ponsel Ariel sudah berada ditangannya, Joel segera membuka layarnya, lalu tertegun sesaat melihat walpaper di layar ponsel Ariel. Ia mengelengkan kepalanya dan mulai memeriksa ponsel Ariel dibagian penerima pesan.
Benar saja, pesan darinya beserta balasan yang dikirim, sudah tidak ada disana. Jarinya bergerak cepat untuk keluar dari bagian pesan dan masuk ke panggilan dan menghubungi David. Mencoba untuk tetap bersikap tenang agar Ariel tidak curiga ia telah memeriksa ponsel Ariel.
"Wah,, ini kejutan. Ada apa menghubungiku, Ariel?" sambut David setelah panggilannya terhubung.
"Ini aku," ucap Joel.
"Tunggu,,,! Hei,,, apakah kalian saling bertukar ponsel atau apa? Jelas-jelas ini nomor ponsel Ariel," ucap David.
"Kau terlalu banyak bicara seperti biasanya," sambut Joel. "Ariel menghubungimu karena ingin minta tolong, dan tentu saja itu akan memberikan keuntungan untukmu," lanjutnya.
"Bukan begitu caranya ketika kamu minta tolong pada orang lain, Joel," tegur Ariel menyela pembicaraan Joel.
Ariel meminta ponsel dari tangan Joel, lalu menyalakan pengeras suara.
"Hai David, maaf jika aku menghubungimu tiba-tiba," ucap Ariel.
"Tidak apa-apa, aku tak mempermasalahkan tentang itu," jawab David tertawa renyah.
"Omong-omong, bantuan apa yang bisa kuberikan untukmu?" sambung David bertanya.
"Ehm,,, bisakan kamu mencarikan beberapa alat musik baru untukku?" pinta Ariel penuh harap.
"Tentu saja, sebanyak yang kamu perlukan," jawab David tanpa berpikir.
"Berapa alat musik yang kamu perlukan?" tanya David.
"Uhm,,, Dua piano, enam Cello, empat Contrabass, empat Biola, dua Violin dan empat gitar akustik," papar Ariel.
"Sebentar,,,," jeda sesaat. "Sepertinya pendengaranku bermasalah. Bisa kamu ulangi, Ariel?" pinta David.
"Jawabanku masih sama, David," jawab Ariel menegaskan suaranya.
"Kenapa kamu memerlukan alat musik sebanyak itu?" tanya David terkejut.
"Ada beberapa masalah, jadi aku memerlukan semua yang sudah aku sebutkan," jawab Ariel.
"Aku tau ini terlalu tiba-tiba, dan aku juga akan mengerti jika kamu keberatan untuk_,,,"
"Hei,,, jangan remehkan kemampuanku," potong David cepat.
"Mendapatkan semua yang kamu butuhkan hanya sepotong kue bagiku. Hanya saja, aku terkejut kamu membeli banyak alat musik," ucap David. "Apa kau berencana membuka studio pribadi?" imbuhnya.
"Itu untuk di studio tempatku melatih," jelas Ariel.
"Ahh,, begitu, kalau begitu perlu standar tertentu untuk setiap alat musik yang berbeda," sambut David.
"Baiklah, aku akan mencarikannya, dan aku pastikan semua bisa dikirim lusa. Kemana aku harus mengirimkan alat musiknya?" tanya David.
"Aku akan mengirimkan lokasinya," jawab Ariel.
"Baiklah, kalau begitu ini selesai. Ah,, kalau sempat, datanglah ketempatku besok untuk memastikan semua alatnya," ucap David.
"Terima kasih banyak, David. Aku sangat terbantu," sambut Ariel.
"Bukan masalah, lagipula kau temanku. Hei,, sekarang aku bisa pamer kepada mereka bahwa aku memiliki teman seorang pemusik," seloroh David diikuti dengan suara tawa keras.
"Kau masih saja banyak bicara seperti dulu," sela Joel.
"Wow,,, kenapa? Apa kau cemburu padaku? Aku sempat berpikir kau tidak disana," cecar David.
"Kau bisa mengharapkan hal itu dalam mimpimu," tukas Joel.
"Pft,, Ha ha ha,,, sekarang kau benar-benar menjadi budak cinta," ledek David.
"Berisik,!!" sambut Joel.
"Baiklah,,, Baiklah,, Hey Ariel? Kau masih disana?" tanya David.
"Ya?" jawab Ariel.
"Aku akan memberimu kabar tentang alat musiknya," ucap David.
"Terima kasih," sambut Ariel tersenyum senang.
"Dan aku punya saran gratis untukmu," ucap David lagi.
"Eh, Apa itu?" tanya Ariel.
"Si mata empat ini akan merepotkan ketika dia cemburu, jadi hati-hati saja untuk tidak membuatnya cemburu,"
"Hei,,, apa maksudnya itu?" sembur Joel, namun David hanya tertawa keras.
"Alasanya sederhana, setiap pria yang melihatmu untuk pertama kali, dia akan tertarik padamu, tentu saja karena kamu cantik, juga pesonamu tak terbantahkan dan membuat mereka mendekatimu. Saat hal itu terjadi, dan mata empat cemburu,"
...... jeda sesaat,
"Cium saja dia, maka dia akan menjadi jinak,"
"DAVIIDDDD,,,,,,,,!!!!!!"
Joel dan Ariel serentak meneriakkan nama David yang dijawab dengan suara tawa puasnya. Suara tawa terbahak-bahak David terdengar selama beberapa saat sebelum akhirnya menghilang.
"Dia gila," sembur Ariel menatap ponselnya.
"Tapi selalu membantu disaat diperlukan," sambung Joel.
"Aku tak bisa menyangkal jika tentang itu, dia benar-benar bisa di andalkan, tapi tidak dengan mulutnya," sungut Ariel.
Ariel menghembuskan nafas lega, lalu mengarahkan pandangannya pada Joel.
"Terima kasih, Joel. Kamu membantuku lagi-ah tidak, lebih tepatnya menyelamatkanku lagi," tutur Ariel.
"Bukankah aku sudah pernah bilang bahwa aku akan melakukan apapun untukmu?" balas Joel tersenyum.
"Besok aku akan menemanimu," lanjutnya.
"Tapi, pekerjaanmu?" tanya Ariel merasa tidak enak.
"Aku bisa meluangkan waktu untuk besok," jawab Joel.
"Sungguh?" tanya Ariel memastikan.
"Tentu saja, anggap saja untuk menganti waktu yang telah berlalu tanpa mengatakan apapun yang sudah kita lalui," ucap Joel.
"Tapi, katakan padaku tentang satu hal!" imbuhnya.
"Apa?" tanya Ariel.
Joel mengambil alih ponsel Ariel lagi, lalu menyentuh layarnya untuk membuka.
"Kapan kamu memotretku? Aku bahkan tidak menyadarinya," tanya Joel sembari memperlihatkan layar ponsel Ariel dengan walpaper foto Joel disana.
....
....
.
.
To be Continued