
Rumah Joel tampak begitu hangat dengan meja makan yang telah di tata rapi dengan rangkaian bunga mawar berada ditengah meja dan beberapa lilin disekitarnya.
Joel masih dengan apron coklat yang menempel ditubuhnya tengah memasukan pai kacang kedalam oven. Sesekali matanya melirik kearah jam yang yang tergantung diatas lemari pendingin engan senyum merekah.
Senyumannya semakin lebar ketika ia mendengar bel pintu rumahnya berbunyi.
"Apakah dia tidak bekerja atau dia pulang lebih cepat dari biasanya?" gumam Joel sedikit heran.
Meski begitu, raut wajahnya yang terlihat senang tidak bisa ia sembunyikan. Ia bergegas menuju pintu setelah mencuci tangan dan mengeringkan tangannya.
Raut wajahnya berubah setelah ia membuka pintu, seseorang yang yang muncul bukanlah sosok yang ia harapkan. Senyum lebarnya seketika menghilang, digantikan dengan senyuman paksa dan terkejut disaat yang sama.
"Apa yang sedang kau lakukan disini, Christina?" tanya Joel terkejut dengan kedatangan Christina yang tiba-tiba.
"Dan bagaimana kau bisa tau rumahku?" tanya Joel lagi.
"Aku mendapatkannya dari seseorang," jawabnya sembari tersenyum.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Joel. Sebentar saja, aku hanya ingin berbicara denganmu," harap Christina.
"Kita bicarakan itu nanti, aku memiliki janji dengan seseorang," tegas Joel.
Untuk beberapa saat, Joel teringat dengan ucapan Bram pagi ini. Dirinya berpikir apa yang salah dengan Christina? Apa yang Bram ketahui tentang Christina?.
"Dia yang kamu tunggu, adalah Ariel bukan?" tanya Christina dengan nada skeptis.
"Ya, memang benar itu adalah Ariel. Tapi, bagaimana kamu bisa tau?" tanya Joel dengan kening berkerut.
"Aku hanya menebak, dan aku terkejut itu benar," sambut Christina lesu.
"Apakah kamu yakin dia akan datang?" tanya Christina sinis.
"Tentu saja dia akan datang. Dia sudah berjanji akan datang," jawab Joel yakin.
"Dan bagaimana jika dia tidak datang?" tanya Christina.
"Aku yakin dia akan datang," jawab Joel.
"Aku melihatnya bersama Bram, kamu yakin dia akan tetap datang ketika dia bersama Bram?" ucap Christina.
"Ya, aku yakin," jawab Joel singkat, mulai merasa terganggu.
"Bukankah mereka sepasang kekasih? Kenapa kamu membuat janji dengan seseorang yang telah memiliki kekasih?" ucap Christina tajam.
"Mereka hanya teman," jawab joel singkat.
"Begitu ya," gumam Christina menundukkan kepalanya.
"Ehmm,, bisakah kita mengobrol sebentar? Lagi pula Ariel belum datang kan?" tanya Christina.
"Baiklah," jawab Joel.
Joel dan Christina berjalan menuju sudut teras, mereka berdiri saling berhadapan. Christina menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Apakah aku hanya menjadi penganggu dalam hari-harimu, Joel?" tanya Christina lirih.
"Tentu saja tidak," sanggah Joel. "Bukankah kita teman?" imbuhnya bertanya.
"Dan kamu hanya menganggapku sebagai teman? Tidak lebih dari itu?" Christina balas bertanya.
"Apa maksudmu?" tanya Joel tak mengerti.
"Aku,,, aku,,, aku menyukaimu Joel, dan bukan suka yang ditunjukan kepada seorang teman, tapi lebih dari itu," ungkap Christina.
Keheningan menyelimuti mereka setelah pengakuan Christina. Hanya suara hembusan angin yang terdengar dari bungkamnya mereka berdua. Setelah beberapa saat, Joel menghembuskan mafas pelan, lalu tersenyum tipis menatap Christina.
"Aku berterima kasih karena kamu mengatakan hal ini, Christina. Tapi, aku juga minta maaf karenanya," jawab Joel hati-hai.
Air mata mulai mengenang di mata Christina, ia menatap Joel dengan mata berkaca-kaca, lalu mengatur nafasnya untuk mengeluarkan kaliamat yang tersangkut di tenggrokannya.
Tak jauh dari mereka, Ariel tengah berjalan mendekati mereka. Langkah Ariel melambat saat menyadari ketegangan menyelimuti mereka berdua.
Saat air mata Christina mulai mengalir, saat itulah Ariel menyadari sesuatu, dan menghentikan langkahnya. Posisi dimana ia berdiri cukup untuk mendengar apa yang tengah mereka berdua bicarakan.
"Tidak, bukan itu maksudnya," ucap Joel pelan.
"Kamu cantik, Christina, kamu juga baik. Pria manapun akan senang untuk berteman denganmu, bahkan lebih dari itu," tutur Joel.
"Tapi, aku tak cukup baik untukmu," balas Christina.
"Bukan itu maksudku," sanggah Joel mulai merasa bersalah.
Jantung Ariel berdetak cepat, ia menatap nanar kearah Joel dan Christina. Ia juga sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan mereka. Christina mengungkapkan perasaannya.
Hal itu membuat Ariel ditarik oleh kenyataan dan mengambil kesimpulan bahwa inilah yang Joel inginkan, inilah yang Joel ingin dengar. Ketika Joel mengungkapkan perasaannya, ia mendapatkan balasan yang sama.
Namun, ia hanya membiarkan Joel terus menunggu. Ia terus menutup rapat hatinya ketika Joel datang mengetuknya. Dan entah kenapa Ariel merasakan penyesalan yang entah dari mana datangnya.
"Kita masih bisa berteman baik, Christina," ucap Joel lembut.
"Tapi aku tidak ingin berteman, Joel. Perasaanku lebih dari itu," balas Christina.
"Hatiku sudah memilih untuk orang yang aku sukai, Cristina. Maafkan aku, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku bahwa aku mencintai Ariel," terang Joel.
"Tapi, aku mencintaimu," balas Christina meninggikan suaranya.
'DEG,!'
Sebuah kalimat yang bagi Ariel sangat sulit untuk ia ucapkan, terlontar dengan sangat mudahnya dari bibir Christina.
Sekali lagi Ariel memikirkan bahwa hal seperti itu yang Joel harapkan darinya, atau dari orang lain. Seseorang yang seperti Christina yang bisa dengan lantang mengucapkan kata-kata itu setiap jam untuknya.
"Aku tidak menginginkan teman seperti apapun, hanya dengan kamu bersamaku, itu sudah cukup untukku," ucap Christina di sela isak tangisnya.
"Aku juga tidak menginginkan teman seperti Ariel disekitarku, itu tidak penting bagiku," imbuhnya.
"Hei,, teman sangat berarti bagiku, Christina. Aku selalu kesulitan untuk mendapatkan seseorang yang benar-benar bisa dianggap teman. Bagaimana bisa kamu mengatakan teman tidaklah penting?" sambut Joel.
"Aku hanya tau, aku mencintaimu, Joel. Aku sungguh-sungguh mencintaimu," ucap Christina mulai mendekati Joel.
"Aku mencintai Ariel, dan itu tidak akan berubah," tegas Joel.
"Dan Ariel tidak mencintaimu," cibir Christina tersenyum kecut.
"Kamu tidak berhak menentukan bagaimana perasaan seseorang, Christina," jawab Joel tak suka.
"Aku tau itu, dia bahkan tidak membalas perasaanmu, kenapa kamu tetap mempertahankan perasaan yang tidak akan menjadi milikmu?" ujar Christina.
"Dan aku ingin kamu tau, bahwa aku mencintaimu," ungkap Christina lagi.
Ariel mulai melangkah mundur, hatinya mulai membengkak oleh luapan emosi didalam hatinya. Ia tak tau pasti kenapa dan bagaimana hatinya merasakan sesuatu yang pernah ia lupakan.
Tepat saat Joel menyadari kehadirannya, Ariel berbalik dan berlari meninggalkan tempat itu. Mengabaikan teriakan Joel yang terus memanggil namanya. Yang ia inginkan saat itu hanyalah pergi sajauh mungkin.
"Ariell,,, tunggu,,,!!" seru Joel.
Saat Jeol hendak mengejar Ariel, tangan Christina menahannya.
"Jika kamu pergi, pertemanan kita juga berakhir disini," ancam Christina.
"Lakukanlah sesukamu," jawab Joel menepis tangan Christina.
"Cih,,, seharusnya aku melakukan hal lebih untuk mempermalukannya diacara musik saat itu," dengus Christina.
Langkah lari Joel terhenti seketika dan berbalik dengan tatapan marah. Pertanyaan yang ia miliki saat Bram memberinya peringatan, terjawab sudah.
"Bagus, sekarang kau mengakui sendiri bahwa kaulah dalang dari sabotase malam itu," sambut Joel kesal.
"A-A-Aku,,, aku,,, hanya,,, jika Ariel melakukan hal memalukan, kau akan menjauhinya," ucap Christina terbata.
"Penalaran logikamu terlalu kacau, dan bodohnya aku tidak menyadarinya sejak awal. Aku lebih memilih kehilangan teman sepertimu dan menghancurkan hidupku dari pada tetap bersamamu dengan segala pemikiran picik yang kau miliki," ucap Joel tajam.
Joel berbalik dan berlari mengejar Ariel, mengabaikan Christina yang kembali menangis.
...>>>>>>>--<<<<<<<...