I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
21. Terbuka



Tinggalkan jejak kalian dengan koment, saran dan kritik kalian untuk menciptakan alur yang lebih baik.~~~


_ _ _ _ _ _ _ _ _


Kehadiran Ariel di rumah Joe siang itu, membuat Joel tak henti-hentinya meyunggingkan senyum.


Ariel tengah mengosok piring dengan sabun di wastafel dan mulai membilas dengan air mengalir sementara Joel terus melanjutkan aktivitasnya mengosok dengan sabun.


Mereka yang berdiri berdampingan membuat Joel dengan sangat mudah mencuri pandang pada Ariel yang berdiri di sampingnya.


Joel yang memiliki postur tubuh lebih tinggi dari Ariel, membuatnya lebih lelusa memandangi wajah Ariel dari tempatnya berdiri.


Tiba-tiba senyum jahil tumbuh di bibirnya. Ariel terus membilas piring yang telah digosok menggunakan sabun oleh Joel di air mengalir ketika Joel dengan cepat mencolek hidung Ariel dengan tangan yang penuh dengan buih.


"Aahh,,, Joelll,," pekik Ariel tersentak memundurkan kepalanya dan mendapati hudungnya telah terkena buih dari tangan Joel.


"Awas,, yaa,,," desis Ariel lalu mencipratkan air yang masih mengalir di tangannya pada Joel yang segera merunduk.


"Hei,,, kamu curang," seru Ariel saat air tidak mengenai Joel.


"Aku hanya menghindar di saat yang tep_,,,"


Ariel memotong ucapan Joel dengan mencipratkan air berikutnya dan tepat mengenai wajahnya.


"Arielll,,," Joel protes namun hanya di balas dengan tawa ringan yang kuluar dari mulutnya.


"Kaulah yang memulainya," sanggah Ariel menjulurkan lidahnya.


Joel tersenyum gemas dan mulai menyerang Ariel lagi dangan tangan yang penuh dengan busa sabun. Namun, sebelum Joel berhasil melakukannya lagi, Ariel lebih dulu mencipratkan air ke wajahnya dan kabur. Menghindari serangan Joel sambil terkikik .


"Mau lari kemana kau?" ucap Joel mengejar Ariel.


Aksi kejar-kejaran akhirnya tidak dapat di hindari. Joel terus mengejar Ariel, sementara Ariel terus menghindar dengan menjulurkan lidahnya.


"Su-dah cu-kup Joel. A-ku capek," ucap Ariel tersengal.


"A a,, tidak bisa," jawab Joel dengan seringai di wajahnya.


Ariel terjebak dan melangkah mundur menuju balkon. Wajahnya memelas dan meminta Joel berhenti bermain. Namun, Joel masih terus maju dan berusaha menjangkau Ariel.


Saat Ariel melangkah mundur, tanpa sengaja kakinya tersandung hingga membuatnya terjatuh.


"Arielll,,," seru Joel.


Dalam gerakan cepat, Joel berhasil menjangkau Ariel dan melindungi kepalanya dari benturan saat ia terjatuh.


Mereka terjatuh bersama dengan posisi Joel berada di atas Ariel dan tangan di bawah kepalanya. Mereka saling menatap mata satu sama lain.


"Dasar ceroboh," dengus Joel.


Ariel terbahak menyambut umpatan Joel, hingga membuat Joel ikut tertawa.


Joel mengeser tubuhnya dan berbaring di samping Ariel setelah menarik pelan tangannya. Mereka berbaring di lantai balkon dan menatap langit yang mulai besinar jingga.


"Sepertinya menghabiskan waktu denganmu benar-benar tidak terasa, aku bahkan tidak sadar sekarang sudah sore," ungkap Ariel.


"Aku pun merasakan hal yang sama," sambut Joel.


Ariel menoleh diikuti Joel. Mereka saling pandang untuk beberapa saat dan saling melempar senyum.


Entah disadari atau tidak, hubungan yang terjalin di antara mereka menjdi lebih dekat. Joel bangun dan menahan tubuhnya dengan kedua tangannya, menatap Ariel yang masih berbaring.


"Ingin melihat matahari terbenam dengan suasana berbeda?" tawar Joel.


"Maksudmu pantai?" tanya Ariel.


"Setengah benar," jawab Joel tersenyum misterius.


"Lalu?" Ariel mengerutkan keningnya.


"Ikut saja dan lihatlah sendiri, maka kamu akan mengerti," jawab Joel.


"Baiklah," balas Ariel.


Joel mengulurkan tagannya, membantu Ariel bangun dan berdiri. Mereka kemudian melangkah keluar dari rumah Joel dan berjalan kearah yang berlawanan dengan saat Ariel datang.


Namun Joel seolah mengerti kesulitan Ariel tanpa mengatakannya dan segera mengulurkan tangan untuk membantu. Ariel segera menerimanya dengan senang hati.


"Bagaimana bisa, fisikmu sekuat ini, Joel?" tanya Ariel terengah-engah saat mencapai puncak tebing berbatu.


Ariel membungkuk dan menopang tubuhnya dengan dua tangan di atas lututnya sembari mengatur nafasnya yang masih terengah-engah.


"Menurutmu? Kenapa aku sangat menyukai surfing? Itu adalah olahraga dimana aku harus menguatkan kaki dan menjaga keseimbangan tubuhku di atas papan, Ariel," terang Joel.


"Syukurlah aku tidak melakukannya," sambut Ariel membuang nafas dengan keras lalu menegakkan bandannya dan terpesona setelahnya.


Ariel membuka mulutnya melihat keindahan yang tak pernah dilihatnya. Di tempatnya berdiri saat ini, Ariel merasa seperti terbang. Di atas lautan, angin yang berhembus mengibarkan rambutnya, dan matahari yang mulai tengelam memancarkan cahaya orange yang indah.


Pohon palem yang melambai menambah keindahan yang mengelilingi tempat itu.


"Bukankah jalan itu yang tadi aku lalui?" tanya Ariel menunjuk jalan dangan naungan pohon palem.


"Benar," jawab Joel.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Joel.


"Aku bersedia tinggal di sini selama apapun itu, aku benar-benar tidak akan bosan jika melihat ini setiap hari. Kau sangat beruntung Joel," ungkap Ariel.


"Kau bahkan di perbolehkan tinggal disini jika kau mau," sambut Joel.


"Ha ha..sangat lucu. Terima kasih tawarannya," cibir Ariel kembali menjulurkan lidahnya.


Ariel menatap matahari terbenam. Masih tetap terpesona dengan keindahan alam berwarna jingga yang terbentang luas dihadapannya. Dalam hatinya tak pernah berhenti bersyukur betapa beruntungnya ia bertemu dengan Joel.


Hatinya kembali goyah, Ariel mengelengkan kepalanya. Menyadarkan dirinya sendiri hal ini tidak boleh berlanjut lebih jauh lagi. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia juga menolak pada waktu yang bersamaan.


"Terima kasih sudah menunjukan ini padaku, Joel, dan aku juga sangat berterima kasih kamu mau terbuka padaku. Aku sangat menghargainya," ucap Ariel masih terus manatap matahari terbenam.


"Aku adalah buku terbuka jika itu kamu yang bertanya, Ariel," tutur Joel.


"Kurasa kamu tidak melakukannya," celetuk Ariel.


"Kenapa kamu berpikir begitu?" tanya Joel.


"Karena kamu sama sekali tidak terbuka jika itu berkaitan dengan Charlie," ucap Ariel.


Ariel berbalik dan tersenyum melihat perubahan eksperesi pada Joel lalu melanjutkan sebelum Jole berbicara.


"Aku tidak akan mendesakmu, Joel. Dan aku juga akan berhenti bertanya tentang itu. Aku mengerti dengan sangat baik apa itu privasi," terang Ariel.


"Sama seperti kamu yang tidak ingin bericara tentang Bram?" tanya Joel.


"Anggap saja seperti itu. Tapi aku bahkan tidak masalah jika ingin menceritankan tentang Bram. Hanya saja, aku selalu kehilangan kendaliku sendiri jika mengigat apa yang Bram lakukan padaku," terang Ariel.


"Lalu kenapa kau mau kembali berteman dengannya jika kamu sendiri merasa tidak nyaman?" tanya Joel hati-hati.


"Sebenarnya aku meliliki alasan sederhana, aku memutuskan untuk tetap berteman dengannya karena aku juga ingin berdamai dengan diriku sendiri," jelas Ariel.


"Maksudmu?" tanya Joel mengerutkan keningnya.


"Membencinya hanya membuatku terus mengingatnya, dan itu sangat menyebalkan. Tapi saat aku memutuskan untuk berteman dengannya, rasa sesak itu berkurang. Namun aku tidak lagi mencintainya. Aku hanya peduli padanya sebatas sesama teman. Dan hal itu juga yang membuatku sedikit lega dan rasa sesak itu sedikit berkurang. Walaupun terkadang aku marah dan kesal padanya, itu benar-benar berbeda dengan yang pernah aku rasakan dulu," ungkap Ariel.


"Jadi kamu ingin mengatakan bahwa kamu benar-benar telah terlepas dari perasaanmu padanya" tanya Joel.


"Tepat," sambut Ariel.


Pengungkapan Ariel membuat hati Joel lega. Entah knapa hatinya merasa sangat senang mendengar Ariel mengatakan itu.


Joel meraih tangan Ariel dan mengengamnya erat. Meremas lembut jari-jarinya lalu mengecupnya.


"Terlepas dari semua hal yang pernah dia lakukan padamu, dan kisah apapun yang pernah kamu jalani bersamanya, Aku bersumpah tidak akan melakukan hal itu padamu, Ariel. Dan aku juga tidak akan mendesakmu," papar Joel dengan senyum lembut.


Ariel tertegun, membalas tatapan Joel yang tertuju padanya dengan segala cinta dan kasih sayang yang ia miliki. Namun, hatinya selalu ragu dan bertanya-tanya.


'Apakah aku mencintainya?' batin Ariel.


Mereka kembali turun sebelum langit benar-benar gelap, dan Ariel memutuskan untuk pulang setelah menjanjikan satu hal pada Joel bahwa lusa ia akan datang kerumah sakit untuk mengantarkan tiket masuk studio musik sesuai janjinya.


...>>>>>>>--<<<<<<<<...