
Sebuah mobil berhenti dengan kasar didepan sebuah rumah besar dengan gerbang menjulang tinggi yang tertutup rapat.
Ketika pintu mobil terbuka, Bram turun dari mobilnya dan menerobos masuk kedalam rumah. Beberapa orang mecoba menghentikannya, namun Bram terus melangkah ketika mlihat Jesica tengah duduk di gazebo yang ada ditaman.
"Aku bisa menuntutmu atas tindakan menerobos masuk ke rumahku tanpa ijin, Bram," sambut Jesica tersenyum tenang melihat kedatangan Bram.
"Kau bersikap seolah sudah tau bahwa aku akan datang," balas Bram.
"Oh, Ayolah,, aku sudah cukup mengenalmu. Kau akan melakukan apapun untuk Ariel, bukankah begitu?" sindir Jesica tersenyum sinis.
"Maka itu mejelaskan kau sudah tau apa yang terjadi dan hal yang menimpanya?" dengus Bram.
Jesica yang semula tengah memainkan ponselnya mendongak menatap Bram yang berdiri didepannya dengan kening berkerut.
"Menimpanya? Maksudmu pada Ariel?" tanya Jesica.
"Kau tau persis apa yang aku bicarakan bukan?" sindir Bram mulai tersulut emosi.
"Nona, haruskah saya memanggil keamanan yang lain untuk memintanya keluar?" sela pelayan rumah Jesica.
"Tidak perlu. Dia memang suka seenaknya, tapi dia tidak akan membuat masalah disini. Buatkan secangkir teh saja untuknya dan bawakan kudapan," pinta Jesica.
"Baik," jawab pelayan sembari membungkuk patuh.
"Duduklah Bram. Ini masih terlalu pagi untuk berdebat. Kita bisa berbincang sambil menikmati teh," ucap Jesica lembut.
"Aku menolak. Dan aku datang bukan untuk menikmati teh bersamamu," sambut Bram dingin.
Jesica tertawa renyah. Menatap lekat mata Bram yang terlihat jelas amarah memenuhi wajahnya.
"Haahh,,," desah Jesica pelan. "Sekarang aku baru menyadari, kau masih tetap tampan ketika marah," imbuhnya.
"Berhenti berputar-putar dan menganti topik pembicaraan, Jesica!" hardik Bram.
"Atau apa?" tantang Jesica melipat tangannya.
Pelayan kembali menyela membawakan teh dan beberapa kudapan, lalu meletakkan dimeja. Jesica mengerakkan tangannya meminta pelayan itu pergi.
"Minumlah Bram!" tawar Jesica. " Dan aku pastikan itu tidak beracun," imbuhnya, lalu tersenyum lagi.
"Apa tujuanmu melalukannya?" tanya Bram mengabaikan tawaran Jesica.
"Sejujurnya, aku tidak mengerti apa yang kamu maksud," jawab Jesica.
"Hal yang aku tau, kau cukup pandai dalam berdalih," cibir Bram.
"Tapi kau juga tau, aku tidak suka mengatakan hal yang terlalu berbelit-belit," balas Jesica.
"Jika terjadi sesuatu padanya, apakah harus aku yang akan selalu terlibat didalamnya?" tanya Jesica.
"Jika kau berpikir begitu, itu hanya menunjukkan betapa naifnya dirimu. Dan kau membuatnya terdengar seperti aku hanya berasumsi tanpa dasar meskipun jelas bukan itu masalahnya," tambahnya.
'Ukh,,, yang dia katakan memang benar. Aku berasumsi dia yang melakukannya tanpa mencari bukti yang lebih akurat,' batin Bram.
Jesica bangun dari duduknya dan berhadapan dengan Bram. Senyum di wajahnya sedikitpun tidak berkurang. Sebaliknya, Jesica justru tersenyum lebih percaya diri.
"Kau tau? Aku suka saat melihatmu berdiri tegak di depan hanya untuk melindungi seseorang. Dan itulah yang membuatku terpesona padamu," ucap Jesica.
Jesica mengerakkan tangannya dengan berani menyusuri garis dada Bram hingga mencapai bahunya. Tepat saat tangan Jesica hendak menyentuh wajah Bram, tangan Bram menghentikan Jesica dan mencengkram kuat pergelangan tangnnya.
"Ukh,,," desis Jesica meringis.
"Kau melakukan sabotase ketika malam pertunjukan Ariel dan berencana mempermalukan dirinya dihadapan semua orang. Aku datang karena aku ingin mendengar alasanmu melakukan hal kotor itu,!" geram Bram.
"Kau sudah pernah menghancurkannya, apakah kau masih belum puas melakukanya?" dengus Bram.
"Kau hanya berasumsi tanpa bukti. Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku yang melakukannya?" sambut Jesica tidak senang.
"Aku hanya tau kau wanita penuh ambisi, dan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang kau inginkan," balas Bram melepaskan tangan Jesica.
"Jika itu aku, apa kau pikir aku hanya akan melakukan hal sederhana?" sindir Jesica.
"Aku tidak melakukannya, oke?" tegas Jesica mengusap pergelangan tangannya yang tampak memerah.
"Dan kau ingin aku percaya?" dengus Bram.
"Tidak. Karena aku juga tau kau tidak akan mendengarku," jawab Jesica.
"Mendengarmu hanya untuk jatuh kedalam lubang yang sama?" sambut Bram tersenyum sinis.
"Aku tidak akan membiarkanmu mendekati mereka, Joel dan Ariel bukan lagi orang yang bisa kau usik dengan mudah. Joel bahkan tidak mencintaimu, jadi lepaskan saja," ucap Bram.
"Atau apa? Kau akan datang lagi seperti sekarang dan membuat keributan tanpa dasar?" sindir Jesica.
"Salah satunya," jawab Bram.
"Kenapa kau tidak menggunakan kesempatan itu untuk merebut hatinya kembali? Bukankah kau masih mencintainya?" cecar Jesica.
"Aku akan melakukannya, tapi tidak dengan cara kotor sepertimu," tegas Bram.
Menatap Jesica yang masih berdiri menantangnya, Bram kemudian berbalik dan meninggalkan Jesica. Meninggalkan rumah besar milik Jesica.
"Cih,,," cibir Jesica lalu kembali duduk dan membuka ponselnya lagi untuk menghubungi seseorang.
"Awasi Ariel Esther dan laporkan semua informasi tentang yang dia lakukan!" perintah Jesica.
Jesica meletakkan ponsel dengan kasar dimeja dan menutup wajah dengan telapak tangannya
**********************
Tanpa berpikir dua kali, Bram turun dari mobilnya dan menuju apartemen yang ditinggali Ariel.
Tangannya menekan bel ketika ia akhirnya sampai didepan pintu. Tak berselang lama, Ariel muncul dengan celana pendek dan kaos longgar putih dengan rambut yang diikat asal. Membuat Bram tecengang untuk sesaat.
'Kenapa dia harus terlihat semanis ini?' keluh Bram.
"Bram??" sambut Ariel bingung.
"Masuk," ucap Ariel mempersilahkan Bram.
Bram masuk tanpa suara, lalu mengedarkan pandangannya. Melihat ruangan yang tersusun rapi dengan interior sederhana namun terasa hangat.
"Duduklah, jangan berdiri saja. Aku akan membuatkan minuman untukmu," ucap Ariel menyadarkan Bram dari lamunannya.
"Apa yang akan kau pilih? Teh atau kopi?" tawar Ariel.
"Kamu bisa membuat kopi?" tanya Bram.
"Aku memiliki alatnya, dan sempat mempelajarinya. Hanya saja, jangan terlalu berharap rasanya akan enak," jawab Ariel tersenyum.
"Kalau begitu, berikan itu padaku. Mari kita lihat sebaik apa kemampuanmu membuat kopi, apakah akan sebaik kamu membuat coktail?" sambut Bram tersenyum lembut.
"Tunggu sebentar," jawab Ariel.
Ariel berdiri dibalik meja counter dan mulai meracik kopi. Bram kemudian duduk dan melihat meja yang penuh dengan lembaran kertas dengan cangkir kopi yang sudah sedikit berkurang.
Sambil menunggu,Bram memperhatikan lembaran kertas yang sedikit berserakan. Ia baru menyadari ternyata itu adalah pratitur.
Bram juga melihat beberapa coretan dari pratitur yang ada, seolah ingin menganti atau memastikan sesuatu.
"Ini dia kopimu," sela Ariel tiba-tiba, membuat Bram sedikit terkejut.
Ariel meletakkan cangkir dengan kopi yang masih mengepulkan uap panas dan dua croissant yang masih hangat didepan Bram.
"Aku hanya berpikir kau belum makan," ucap Ariel sebelum akhirnya duduk dilantai beralas karpet.
"Terima kasih," ucap Bram.
"Kamu tampak sibuk, apakah aku menganggumu?" tanya Bram mengikuti Ariel duduk dilantai.
"Pakai karpet yang ada dilaci bawah sofa untuk alas duduk, Bram. Kau bisa saja terkena flu jika langsung duduk tanpa alas apapun," ucap Ariel mengingatkan.
Bram meraba bawah sofa dan merasakan pegangan laci, lalu menariknya. Beberapa karpet bulu khusus untuk alas duduk tersusun rapi didalamnya. Segera ia mengambil satu dan menutupnya kembali.
"Apa yang sedang kamu kerjakan? Tidakkah seharusnya kamu libur setelah pertunjukan kemarin?" tanya Bram.
"Hanya melakukan aransemen," jawab Ariel.
"Aku ingat, kamu selalu membuat instrumen dan melakukan aransemen setelahnya. Apakah itu berarti pratitur ini adalah ciptaanmu sendiri?"tanya Bram.
"Yap,,, tepat sekali. Hanya saja, entah kenapa aku beberapa kali kehilangan fokusku," keluh Ariel mengaruk kepalanya.
"Mau jalan-jalan keluar untuk mencari inspirasi?" tawar Bram.
Ariel menegakkan badannya dan menatap Bram. Mempertimbangkan tawarannya yang menurutnya tidak buruk.
"Itu bukan ide buruk," sambut Ariel.
"Kalau begitu, beri aku waktu untuk bersiap. Sementara itu, nikmati kopinya," ucap Ariel.
"Kamu bisa menggunakan waktu sebanyak yang kamu mau, aku akan menunggu," sambut Bram tersenyum senang.
Bram menyeruput kopi yang disuguhkan Ariel padanya.
'Ini lumayan, ah tidak bahkan bisa dikatakan ini enak,' batin Bram kembali meminum kopinya.
Tangannya meraih croissant,lalu mengigitnya. Ia tersenyum ketika merasakan croissant yang disiapkan Ariel untuknya adalah croissant dengan rasa coklat kacang favoritnya yang selalu di panggang dengan tambahan taburan gula.
Ariel adalah salah satu orang yang sangat tau kebiasaannya ketika memakan sesuatu, dan croissant dengan taburan gula bukanlah kesukaan Ariel.
'Apakah dia menyadarinya atau tidak, tapi aku senang dengan hal ini,' batin Bram.
Bram menghabiskan croissant didepannya dan kembali meminum kopi, ketika pintu kamar terbuka.
Ariel muncul dengan celana jens pendek dan atasan hijau lumut yang ditutupi dengan kemeja tipis dengan warna lebih terang.
"Kamu sudah siap?" tanya Bram.
"Ya, aku hanya perlu mengeluarkan sepatuku saja," jawab Ariel.
"Lalu, bagaimana dengan pratiturnya?" tanya Bram menunjuk meja yang masih berserakan.
"Ah,, benar. Tunggu sebentar," ucap Ariel.
Ia segera merapikan pratitur dimeja. Sementara Bram menyingkirkan cangkir kopi dan piring yang ia gunakan beserta cangkir yang digunakan Ariel, lalu mencucinya.
"Hei,,, Bram. Kamulah tamunya disini? Kenapa kau mencuci cangkirnya?" protes Ariel masih membereskan meja.
"Menghemat waktu," jawab Bram asal lalu terkekeh pelan.
" Kau benar-benar tidak berubah, masih saja membiarkan meja penuh dengan kertas," sindir Bram.
"Ah, diamlah!" sungut Ariel tersipu.
Mereka akhirnya keluar dari apartemen dan menuju mobil Bram yang tarparkir tidak terlalu jauh.
...>>>>>>>--<<<<<<<<...