
Pintu ruangan Joel bekerja terbuka diikuti dengan Joel yang melangkah masuk. Ia duduk di kursinya dan segera mengeluarkan ponsel dari laci mejanya.
Jari-jari tangannya mengetik dengan cepat untuk mengirim pesan pada Ariel.
[[ Hai Sweety,,, aku memiliki jam bebas malam ini, bagaimana kalau kita makan malam bersama di luar? @Joel ]]
Joel meletakkan ponselnya dimeja, menunggu balasan. Ketika ponselnya berbunyi, tangannya dengan cepat meraih ponsel dan membuka pesan balasan dari Ariel
"Sepertinya dia tidak sibuk, balasanya sungguh cepat," gumamnya dengan senyum lebar.
[[ Aku sibuk,@Ariel ]]
'DEG,,,!'
Joel mengernyit ketika membuka pesan yang dikirim Ariel untuknya, senyum dibibirya pun memudar. Balasan yang sangat singkat dan menolak dengan cepat ajakan darinya. Benar-benar bukan Ariel yang ia kenal.
[[ Kalau begitu, aku antarkan makan malam untukmu, @Joel ]]
Ia kembali membalas pesan dari Ariel dan segera mengirimnya.
[[ Tidak perlu, @Ariel ]]
Sekali lagi, balasan yang ia terima kembali singkat. Seolah memberitahu dirinya si penerima pesan tidak menyukai pesan darinya.
"Apa ini? Kenapa? Apa yang terjadi? Apakah aku melakukan kesalahan?" gumam Joel tak mengerti.
[[ Hei, apakah terjadi sesuatu? @Joel ]]
Joel kembali mengirim pesan, menepis pikiran buruk yang merayap di pikirannya. Namun, setelah setengah jam menunggu, ia tidak lagi mendapatkan balasan.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa sulit sekali untuk berbicara dengannya? Aku hanya merindukanmu, Ariel. Kalaupun aku tidak bisa bertemu denganmu, setidaknya aku ingin mendengar suaramu," gumam Joel terus menatap layar ponselnya.
Joel kembali mengulir ponselnya, membuka foto yang ia dapatkan selama liburan bersama Ariel beberapa hari yang lalu. Entah berapa banyak foto yang ia dapatkan, dirinya selalu mengambil kesempatan sekecil apapun untuk memotret Ariel tanpa di sadari.
Seulas senyum terbentuk dibibirnya ketika melihat salah satu foto ketika ia berhasil menangkap momen saat Ariel bermain piano bersama Albert dan teman-temannya.
Perhatiannya teralihkan ketika Joel mendengar suara ketukan pintu ruangannya diikuti seorang perawat yang memintanya untuk ke ruang gawat darurat karena akan ada pasien tiba dalam beberapa menit.
"Haahh,,," desah Joel. "Aku akan melihat balasannya nanti," sambungnya.
"Joel kembali meletakkan ponsel di laci mejanya dan pergi menyusul perawat yang tadi memanggilnya.
>>>>>>>--<<<<<<<
Suara serak dan tegas namun terasa familiar bagi Ariel terdengar dibalik punggungnya. Ketika Ariel menoleh untuk melihat siapa orang yang telah menyapanya, seketika tubuhnya membeku.
Bibirnya terkatup rapat hanya dengan melihat senyum tipis dari bibir yang menghiasi wajah tegas pria setengah baya yang kini berdiri didepannya.
Disamping pria itu, wanita seumuran dengannya dan sangat dikenalnya berdiri dengan percaya diri. Wanita yang tidak lain adalah Jesica.
"Apakah aku terlalu mengejutkanmu, Ariel?" tanyanya.
Intonasi dalam suaranya sesaat membuat Ariel sedikit gemetar. Lidahnya berubah kelu, namun ia juga tidak ingin pria di depannya meyadari apa yang ia rasakan.
"Lama tidak bertemu, Mr.Evrad," sambut Ariel berdiri dan sedikit membungkukkan badannya.
"Saya sangat menyesal menunjukan telah sikap tidak sopan saya, namun saya berharap anda memaafkan saya karena saya memang sangat terkejut melihat anda disini," tutur Ariel tenang.
Ariel sekuat tenaga mengendalikan dirinya juga perasaan yang kini memenuhi hatinya. Pria yang kini berada didepannya tidak lain adalah Ayah dari Bram. Dan dia bukanlah sosok yang akan menyapa seseorang yang tidak setara dengannya, terlebih itu berada di sebuah bistrot tempat Ariel berada saat ini.
Pertanyaan besar menyelimuti hati Ariel karena sosok pria didepannya bukanlah orang yang akan menyapanya dengan ramah jika tidak ada hal yang dia inginkan dari Ariel yang selalu disebut dengan orang rendahan.
Mr.Evrad Alphonse. Pebisnis ternama yang memiliki aset yang tersebar di beberapa negara. Sosok yang Ariel kenal sebagai orang yang selalu menekan Bram untuk mengikuti jejaknya.
Memaksa Bram terus bekerja diusia yang masih muda, dan membangun ego tinggi di hati anaknya sendiri. Alasan Evrad tidak menyukai Ariel adalah saat itu Bram mencintai Ariel.
Namun Evrad tetap setuju dengan hubungan mereka asalkan Bram bisa mengelola dan lebih meninggikan namanya dengan cara apapun yang Bram inginkan. Sayangnya Bram lebih memiliki nurani jika dibandingkan dengan ayahnya.
Pertama kali Ariel bertemu, tatapan mata seorang Evrad bahkan seolah menembus jantungnya, membuat Ariel tidak bisa berkutik entah kenapa.
"Ah,,, kenapa kau menjadi formal sekali padaku? Bukankah kamu pernah memanggilku dengan sebutan paman?" sambut Evrad tersenyum.
"Saya hanya menghormati anda, Mr,Evrad. Terlebih lagi ini berada di tempat umum, apa yang akan dikatakan orang nanti? Bukankah begitu?" jawab Ariel tersenyum hambar yang ditanggapi dengan suara tawa kerasnya.
"Ah,, betapa tidak sopannya saya. Silahkan duduk Mr.Evard," ucap Ariel seraya mengarahkan kedua tangannya di kursi kosong.
"Terima kasih," sambutnya masih mempertahankan senyum diwajahnya.
Evrad duduk, diikuti Jesica yang turut duduk.
"Apakah kamu sedang menikmati makan siang?" tanya Evrad.
"Benar, apakah anda ingin memesan sesuatu? Saya bisa membantu anda memesannya," jawab Ariel.
'Dan sekarang aku benar-benar kehilangan selera makanku,' batin Ariel.
"Kalau begitu, pesanakan aku makanan yang sama dengan yang kamu pesan," pintanya.
"Eh,,,? Apakah anda yakin? Saya khawair itu bukan termasuk selera anda," tanya Ariel.
Untuk sesaat, Ariel melirik Jesica yang masih duduk tenang di samping Evrad. Pandangan mereka saling bertemu. Namun tak lama Jesica segera memalingkan wajahnya.
"Aku yakin, pesankan saja itu, lalu, Jesica apa yang ingin kamu pesan?" tanya Evrad beralih ke Jesica.
"Kalau begitu dua menu yang sama," ucap Evrad.
"Baik, mohon tunggu sebentar," sambut Ariel.
Ariel meninggalakan meja dimana mereka duduk, lebih tepatnya mereka duduk bersebalahan dengan meja tempat Ariel duduk.
Ketika pandangan Evrad tertuju pada Ariel, Jesica meraih ponsel yang kebetulan masih berada dimeja. Menemukan pesan dengan nama Bunny dan segera membalas pesan itu lalu menghapusnya.
'Aku tau itu nomor ponsel, Joel. Karena aku sangat menghafalnya,' batin Jesica.
Selesai dengan itu, Jesica meletakkan kembali ponsel Ariel ditempatnya.
"Ternyata kau tak berbohong saat mengatakan tau dimana dia berada," ucap Evrad senang.
"Tentu saja," sambut Jesica tersenyum.
"Tapi, kenapa dia tidak menyapamu? Kau bilang dia temanmu," tanya Evrad heran.
"Seperti itulah dia, Ariel berpikir saya yang bersama anda adalah urusan bisnis, dan dia menghargai hal itu," jelas Jesica.
"Kuarasa itu cukup untukku agar tidak melepaskannya kali ini. Aku harus mendapatkan dia, kuharap dia dan Bram tidak sedang bertengkar," ucapnya terus memandangi punggung Ariel yang masih menunggu di meja pemesanan.
"Dia jauh berbeda dengan terakhir kali kulihat, cantik dan mempesona bahkan dibalik pakaian sederhananya itu," ucap Evrad.
"Kenapa anda sangat ingin mendapatkannya?" tanya Jesica.
"Banyak dari rekan bisnisku terpukau dengan permainan pianonya, bahkan mereka juga mengagumi kecantikannya. Dan mereka juga mengatakan Ariel bukan hanya menguasai piano, tapi alat musik lain,"
"Ketika aku mengatakan bahwa aku mengenalnya, dan dia adalah kekasih Bram, mereka semua tertarik padaku, itu akan membuat perusahaanku mendapatkan keuntungan besar jika dia menikah dengan Bram," terang Evard.
"Memang benar, banyak sekali mereka yang berasal dari kalangan bisnis tertarik padanya. Bahkan saat saya menghadiri acara pertemuan, mereka membicarakan tentangnya tanpa tau wajahnya," jelas Jesica.
"Mungkin jika di keluarga saya ada pria yang belum menikah, kami tentu akan memilihnya," lanjutnya.
"Kita benar-benar memiliki pemikiran sama," sambut Evrad senang.
"Tapi, bagaimana jika dia tidak mau menikah dengan putra anda?" tanya Jesica.
"Itu hal mudah, aku hanya perlu membuat dokumen tentang mereka berdua yang harus di tanda tangani," jawab Evrad santai.
"Bukankah itu ilegal?" sambut Jesica melebarkan matanya.
"Tidak, selama mereka tidak bisa membuktikannya," jawab Evrad tersenyum misterius.
Jesica tersenyum tipis sebagai tanggapan, namun ia terus memperhatikan raut wajah Evrad, mencari tau apakah apa yang dikatakannya adalah hal serius atau sekedar main-main.
"Maaf membuat anda menunggu lama," sela Ariel membuat Jesica sedikit tersentak.
Suara Ariel membuat Jesica kembali ke kenyataan, dan kembali memasang wajah datarnya.
Ariel meletakkan nampan berisi menu makan siang yang sama seperti yang ia pesan kepada Evrad dan Jesica.
"Silahkan nikmati makan siang anda berdua," ucap Ariel.
Ariel baru saja akan duduk di kursi yang sebelumnya ia duduki ketika suara Evrad kembali menghentikannya.
"Duduklah disini, Ariel!" pinta Evrad.
"Setelah sekian lama tidak bertemu, aku ingin sekali berbincang denganmu," sambungnya.
'Tidak perlu, terima kasih. Kedatanganmu yang tiba-tiba sudah cukup untuk membuatku kenyang. Jika aku diduduk didepanmu, aku khawatir akan melemparkan makanan ditanganku ke wajahmu,' batin Ariel.
Ariel memaksakan senyum diwajahnya bersiap untuk menolak meskipun ia yakin itu akan terlihat seperti orang yang menahan sakit perut dibandingkan dengan senyuman.
"Aku hanya ingin berbincang denganmu, Ariel. Sekaligus menanyakan sesuatu padamu," ucap Evrad lagi.
'Berbincang denganmu? Jangan bercanda! Melihat matamu saja sudah cukup menguras semua darah yang ada didalam tubuhku,' rutuk Ariel dalam hati.
"AKU BILANG DUDUK!!" titah Evrad.
Evrad meninggikan serta menegaskan suaranya sembari menatap tajam pada Ariel, memberikan tatapan yang tidak bisa di tolak. Dari suaranya seolah mengatakan 'Aku membenci orang yang tidak menuruti perintahku,' .
Ariel menurut duduk didepan Evrad hanya dengan membawa minumannya, dan menyelipkan ponsel di saku celananya. Hanya dengan melihat hal itu, Evrad tersenyum puas.
'Aku menurut bukan karena aku takut,' batin Ariel menyemangati dirinya sendiri.
Evrad dan Jesica mulai memakan makanan didepan mereka, memuji Ariel karena memiliki selera yang sama dengan Evrad sebelum akhirnya memasang wajah serius dengan menatap Ariel yang tengah meneguk minuman di depannya.
"Apa yang akan kau katakan jika aku bilang menikahlah dengan Bram,,"
....
....
.
.
To be Continued.