I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
106. Marah



Didepan aparteman dimana Bram tinggal, mobil Joel terparkir disana dengan Joel berada didalamnya.


Joel membuka laptopnya dan mulai mengetik dengan gerakan jari yang tidak bisa diikuti dengan gerakan mata.


Dalam layar laptop itu, sebuah rekaman cctv muncul, dan Joel mulai melihat tiap rekaman cctv itu dengan seksama.


Joel mengertakkan giginya saat dalam rekaman itu melihat Ariel bersama Bram masuk kedalam salah satu apartemen. Namun begitu berada didalam, Ariel tidak kunjung keluar.


Joel mulai mempercepat rekamannya dan kembali mengertakkan giginya saat melihat waktu yang tertera disana.


Pagi hari Ariel terlihat membuka pintu saat ada seorang pria yang tidak Joel kenal menekan bel. Hal yang membuat darah Joel mendidih adalah saat itu Ariel hanya mengenakan kemeja pria, dan ia yakin itu adalah kemeja milik Bram.


"Haaa,,, penjelasan apa yang aku harapkan setelah melihat semua ini?" dengus Joel.


Joel terus menunggu disana, sambil terus melihat rekaman yang masih terus berjalan. Hingga Joel kembali melihat pria yang sebelumnya datang lagi dengan membawa dua paper bag besar ditangannya.


Ariel kembali membuka pintu dan masih mengenakan kemeja yang sebelumnya, membuat Joel tersenyum kecut melihat hal itu.


"Cih,,, haruskah aku mengatakan bahwa kau tak jauh berbeda dengan Jesica, kau juga menusukku dari belakang, Ariel,"


"Kesalahan apa yang sudah aku lakukan padamu?"


"Kau memainkan permainan yang sungguh sempurna untuk menghancurkan hati seseorang," geram Joel sembari mengepalkan tangannya.


Joel menghembuskan nafas kasar, berusaha menenagkan hatinya, dan membuat keputusan untuk menunggu Ariel disana hingga Ariel keluar dari apartemen Bram.


Ariel menyambut kembali kedatangan Sam tanpa mengetahui Joel menunggunya.


"Maafkan saya membuat anda menunggu lama," sesal Sam sebelum masuk.


"Bukan masalah, Sam. Aku justru berterima kasih," sambut Ariel.


Ariel mengambil alih paper bag dari tangan Sam.


"Uhm,,, maaf sebelumnya nona, saya membeli satu set pakaian, namun saya tidak tau apakah itu sesuai dengan selera anda," ucap Sam.


Ariel mengerutkan keningnya dan segera membuka paper bag ditangnnya.


Atasan lengan pendek berwarna coral dan sebuah celana jens panjang putih.


"Tapi, aku tidak memintamu untuk membeli ini," jawab Ariel ragu menerima pemberian Sam.


"Namun, anda memerlukannya, dan itu juga perintah dari tuan," sanggah Sam.


"Kamu tidak mungkin pulang dengan mengenakan pakaian itu, Ariel" sela Bram.


Suara bram terdengar dari balik punggung Ariel, membuat ia berbalik dan melihat Bram telah memakai pakaian santai berjalan menghampirinya.


"Kamu bisa mengganti pakaianmu, jika kamu tidak menyukainya, aku akan memesan lagi beberapa dan akan langsung dikirim kemari," ucap Bram.


"Cobalah," saran Bram. "Mungkin kamu tidak nyaman jika harus terus memakai itu," sambung Bram menundukkan kepalanya.


"Kalau begitu, makan ini," ucap Ariel memberikan satu paper bag berisi makanan pada Bram.


"Aku meminta Sam untuk mencarikan makanan penghilang mabuk," imbuhnya.


"Terima kasih," sambut Bram.


"Kamu bisa mengganti pakaian dikamarku, atau dimanapun kamu merasa nyaman," ucap Bram tanpa menatap Ariel.


Ariel mengangguk dan berjalan menuju kamar Bram. Setelah mengunci pintu, Ariel mulai membuka kemeja dari tubuhnya.


Gerakannya tiba-tiba terhenti, digantikan dengan tubuhnya yang gemetar hebat. Kejadian malam itu seolah berputar lagi didepan matanya bagaikan sebuah film.


Air matanya kembali bergulir tanpa bisa ia cegah, kakinya melemah seolah kehilangan tenaga hingga Ariel berjongkok sembari memeluk lututnya. Berharap gemetarnya segera berhenti.


TOK,,,


TOK,,,


TOK,,,


"Hemph,,," reflek Ariel membungkam mulutnya sendiri, berharap isak tagisnya tak didengar orang lain.


"Ariel,,, apa kamu baik-baik saja?" tanya Bram cemas.


"Aku,,," suara Ariel tercekat.


'Kumohon,,, berhenti,,,,' harap Ariel dalam hati sembari mengigit tangannya.


"Aku,, baik-baik saja," jawab Ariel.


"Ariel,,, ada apa? Apa terjadi sesuatu didalam?" tanya Bram khawatir.


Hening,,,,


"Ariel,,, bisakah kamu membuka pintunya?" harap Bram.


"Kamu sudah didalam lebih dari tiga puluh menit, ada apa? Apakah terjadi sesuatu?"


Suara Bram terdengar semakin khawatir, namun Ariel masih belum bisa mengontrol suaranya karena isak tangisnya. Tangannya masih membekap kuat mulutnya sendiri.


"Aku,,, hanya perlu ke kamar mandi. Aku selesai sebentar lagi," jawab Ariel.


"Apa kamu yakin?" tanya Bram.


"Sangat," jawab Ariel.


"Baiklah, katakan padaku jika kamu memerlukan hal lain," ucap Bram.


Hening,,,,


Lagi, Ariel tidak mengatakan apapun, namun suara Bram tidak lagi terdengar. Suara langkah kaki yang menjauh menandakan Bram tidak lagi berada didepan pintu.


Ariel berjalan menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya. Menatap bayangan dirinya sendiri didepan cermin, lalu menutup matanya sembari meraba lehernya untuk mengenggam kalung dilehernya. Senyum tipis tumbuh disudut bibirnya ketika teringat akan Joel hanya dengan mengenggam kalung yang selalu ia kenakan dan ingat akan bertemu dengan kekasihnya hari ini.


Mengingat hal itu, cukup membuatnya kembali tenang. Ariel berpikir tidak ingin terlihat buruk didepan sang kekasih, dan kembali membasuh wajahnya.


Setelah selasai, Ariel keluar menemui dua pria yang masih duduk di sofa menunggunya.


Bram bangun dari duduknya menyadari perubahan raut wajah Ariel, ia segera berjalan menghampiri Ariel.


"Ada apa?" tanya Bram sembari meletakkan tangannya dibahu Ariel.


'PLAKK,,,!'


Bram terkesiap, begitu juga dengan Ariel sendiri yang menunjukan reaksi sama saat tanpa sadar Ariel menepis tangan Bram dengan punggung tangannya ketika tangan Bram akan menyentuhnya.


"M-maaf, aku tidak bermaksud_,,,,"


Bram tersenyum sedih ketika melihat tubuh Ariel sedikit gemetar, namun Ariel tetap memasang senyum diwajahnya. Bram menarik kembali tangannya sembari mengepalkan tangannya.


"Duduklah sebentar, aku membuat coklat panas untukmu," ucap Bram lembut.


Ariel mengangguk, lalu menurut duduk. Mengambil cangkir berisi coklat panas yang disodorkan Bram untuknya, lalu menyesapnya.


"Sebentar lagi jam makan siang, apakah kamu ingin makan sesuatu?" tawar Bram.


"Aku tidak lapar," jawab Ariel.


"Baiklah kalau begitu," sambut Bram.


Ada jeda panjang yang terjadi diantara mereka sebelum Bram kembali membuka suaranya.


"Bisakah kamu percaya padaku sekali lagi, Ariel?" harap Bram.


"Aku mempercayaimu lebih dari sekali, Bram," sambut Ariel.


"Terima kasih. Aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan yang kamu berikan padaku," jawab Bram.


"Sam akan mengantarmu pulang," imbuhnya.


"Tidak perlu, aku membawa mobilku_ah benar, mobilmu masih disana," ucap Ariel.


"Aku akan mengurusnya nanti," sambut Bram tersenyum.


"Kalau begitu, aku akan pulang sekarang," ucap Ariel. "Lagipula, Sam sudah berada disini, dan terima kasih untuk pakaiannya," tambahnya.


"Aku berharap bisa melakukan hal lebih," sambut Bram.


"Biarkan Sam mengantarmu, setidaknya sampai di mobilmu," ucap Bram.


Ariel mengangguk, tidak ingin berdebat lebih panjang, dalam pikirannya sekarang hanyalah ia ingin sampai di apartemennya segera dan bersiap untuk bertemu dengan Joel sore nanti.


"Antar Ariel sampai ke mobilnya, Sam," titah Bram.


"Baik," jawab Sam patuh.


Sam bangun dari duduknya, membukkan pintu untuk Ariel dan kembali menutup pintu apartemen.


"Dia terlihat takut padaku, sekarang," gumam Bram sedih setelah Ariel menghilang di balik pintu.


Keheningan menyelimuti tiap langkah Ariel bersama Sam disampingnya. Pada awalnya, Sam masih ingin mengatakan sesuatu ketika tidak bersama tuannya, namun ia mengurungkan niatnya ketika melihat reaksi Ariel saat tuannya menyentuh bahu Ariel.


'Nona masih bisa tersenyum seperti ini setelah apa yang terjadi. Bagaimana bisa, nona sekuat itu?' batin Sam.


Tak membutuhkan waktu lama, mereka akhirnya sampai di samping mobil Ariel.


"Kau bisa kembali, Sam. Terima kasih," ucap Ariel.


"Anda yakin tidak perlu diantar, nona?" tanya Sam memastikan.


"Sejujurnya, aku justru merasa lebi baik jika sendiri untuk saat ini," sambut Ariel tersenyum.


"Baiklah, mohon tetap berhati-hati dalam perjalanan anda, nona," ucap Sam.


Ariel hanya memberi anggukan tipis sebagai jawabannya, dan membuka pintu mobilnya ketika sebuah tangan menghentikan Ariel dengan menutup kembali pintu mobil yang sempat dibuka.


Ariel menoleh kearah pemilik tangan dan membelalakan matanya. Tubuhnya seketika membeku, lidahnya kelu.


Namun orang itu hanya tersenyum tipis, sedikitpun tidak menyembunyikan tatapan penuh amarah pada Ariel.


"Hei,,, apa yang anda lakukan?" seru Sam berniat menyingkirkan tangan orang itu dari mobil Ariel.


"Joel,,," desis Ariel.


"Eh,,?" gerakan tangan Sam terhenti ditengah jalan saat mendengar Ariel menyebut nama seseorang.


"Kamu,,,, disini,,," Ariel tergagap, gagal untuk meneruskan kalimatnya.


"Kenapa? Apakah aku menganggu?" cibir Joel.


"Tidak menyangka aku akan menemuknmu?" tanya Joel dengan suara menahan amarah.


"Aku,,, akan jelaskan semuanya," ucap Ariel.


"Dua orang sekaligus?" sindir Joel melirik tajam kearah Sam.


"Maaf tuan, anda salah paham," sela Sam.


"Tentang apa?" tanya Joel dingin.


"Joel, aku akan ceritakan semuanya, tapi tidak disini," harap Ariel.


"Kenapa tidak? Khawatir kekasih lamamu tau?" sindir Joel.


"Apa maksudmu?" jawab Ariel balas bertanya.


"Kau lebih tau dengan apa yang kumaksud, Ariel," sambut Joel dingin.


Ariel mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Joel. Namun Joel menepisnya dengan kasar.


"Berapa banyak dalih yang kau siapkan untuk hal ini?" tanya Joel geram.


"Tuan, tolong dengarkan saya sebentar, anda salah paham," sela Sam lagi.


"Benarkah? Lalu menurutmu aku akan percaya?" dengus Joel.


"Nona Ariel tidak melakukan hal buruk_,,,"


"Sekali lagi, apakah kau pikir aku akan percaya dengan ucapanmu? Tentu saja kau membelanya karena kau bersamanya," dengus Joel.


Ketegangan diantara mereka meningkat. Ariel bahkan tak pernah melihat amarah yang begitu besar dimata Joel seperti sekarang sebelumnya.


"Joel,,, kumohon,, mari kita duduk sebentar dan aku akan menceritakan semuanya_,,,"


"Wah,,, ini kejutan yang menyenangkan,"


Suara serak dan berat khas dari seorang pria paruh baya menyela mereka, membuat mereka serentak menoleh.


Ariel dan Sam melebarkan matanya, sementara Joel memberikan tatapan bertanya tentang siapa pria paruh baya yang menyela mereka.


....


.


.


To be Continued