I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
125. Resmi



Pesta pernikahan Joel dan Ariel berlangsung hingga malam. Semua teman baik dari Joel ataupun Ariel hadir dalam acara itu.


Baik Ariel ataupun Joel saling menyapa dan berbaur dengan teman-teman pasangan mereka yang masih bertahan menikmati pesta hingga malam. Berencana untuk melepas keberangkatan pasangan bahagia itu untuk pergi ke tempat yang telah mereka rencanakan.


Ariel melepaskan gaun pernikahannya dan mengantinya dengan dress yang lebih ringan dibantu Jesica yang setia menemani dirinya. Bahkan saat Ariel akan pergi malam itu bersama Joel, ia menemani Ariel sampai di dekat mobil.


"Selamat bersenang-senang," goda Jesica.


"Tolong berhenti!" keluh Ariel sembari mendorong main-main Jesica.


"Aahhh,,, menyebalkan! Padahal aku baru saja bisa kembali seperti dulu denganmu, tapi si mata empat justru merebutmu dariku," gerutu Jesica sembari memeluk erat sahabatnya.


"Aku masih mendengarmu, Jesica," sahut Joel yang berada di sisi mobil.


"Upss,,," sambut Jesica menutup mulutnya. "Aku bahkan tidak peduli kamu mendengar atau tidak," imbuhnya sembari menjulurkan lidahnya.


"Lagipula yang aku katakan memang benar," ucap Jesica lagi.


"Apapun," sahut Joel menaikan bahunya lalu memalingkan wajahnya.


Mereka hanya tertawa melihat sikap Joel. Bram, Ken serta beberapa teman Joel memberinya pelukan ringan sebelum Joel masuk kedalam mobil.


Charlie memeluk Ariel dengan erat sampai Jesica kembali memeluk sahabnya, seolah enggan melepaskan Ariel begitu saja.


"Aku sudah mempersiapkan semuanya untukmu, semua yang kamu perlukan juga telah tersedia di sana," bisik Jesica.


"Kau yang terbaik, Jessi," sambut Ariel membalas pelukan Jesica.


"Ahh,, rasanya tidak adil," gerutu Gina bergantian memeluk Ariel.


"Padahal aku ingin latihan lagi bersama kakak di saat libur, tapi kakak justru akan pergi beberapa hari," keluhnya.


Oliver pun tak mau kalah, ia memeluk kakak pelatih terbaiknya dengan erat, termasuk Niels yang pernah beberapa kali latihan bersamanya juga memberikan pelukan erat.


"Aku akan urus semua yang di studio, jadi kakak bisa tenang," ucap Ken saat memeluk Ariel.


"Terima kasih, Ken. Aku tau bisa mengandalkanmu dalam hal ini," sahut Ariel.


Sebelum Ariel masuk kedalam mobil, Bram yang semula menahan diri untuk tidak memeluk Ariel tidak bisa lagi menahannya.


Bram memeluk dengan erat. Meski ia beberapa kali pikirannya teralihkan oleh kehadiran Jesica, namun rasa sesak itu masih tetap ada di hatinya kala melihat Ariel akan pergi bersama Joel untuk menikmati waktu mereka.


Hal berbeda saat ini adalah rasa sesak itu jauh berkurang dibandingkan sebelumnya, ia juga merasa bahagia dengan pernikahan itu. Hatinya bahkan tersentuh saat mendengar Joel mengungkapkan sumpahnya untuk pernikahan mereka.


"Selamat berbahagia, kamu harus selalu bahagia," bisik Bram.


"Kamu sahabat terbaikku selain Jessi, Bram. Terima kasih," sahut Ariel membalas pelukan Bram dengan ringan.


"Aku akan selalu menjadi sahabatmu, selamanya," jawab Bram.


'Malam ini, aku melepaskanmu sepenuhnya, Ariel,' batin Bram.


Bram melepaskan pelukannya. Memandangi wajah wanita yang telah sepenuhnya menjadi milik orang lain, lalu tersenyum.


Bram membukakan pintu mobil, membuat Joel yang telah duduk di belakang kemudi telihat jelas didepan matanya.


"Terima kasih," ucap Ariel seraya masuk ke dalam mobil.


"Berhati-hatilah selama perjalanan,!" pesan Bram.


"Terima kasih, Bram," sambut Joel terlihat tetap tenang meski telah melihat memeluk Ariel didepan matanya.


Joel hanya percaya, Bram tidak akan melakukan apapun yang akan menyakiti sahabatnya. Hal itu terbukti dengan betapa banyak usahanya untuk membuat hubungan mereka berdua kembali utuh ketika ada masalah.


Bram menutup pintu mobil dengan perlahan, tangannya melambai ketika suara deru mobil terdengar. Para tamu yang masih hadir termasuk sahabat dari keduanya melambaikan tangan mereka saat mobil mulai bergerak perlahan meninggalkan tempat acara.


Ariel membalas dengan melambai ringan kepada mereka semua. Hingga ketika mereka telah merada di jalanan kota dan semua orang tidak lagi terlihat, ia menaikan kaca mobil.


"Kenapa kita harus pergi keluar? Dan kamu masih harus mengemudi, tidakkah kamu merasa lelah?" tanya Ariel memecah keheningan.


"Jika kita tidak pergi, mereka hanya akan menganggu kita," sahut Joel tetap fokus dengan jalan didepannya.


"Baiklah, tapi katakan padaku! Kemana kita akan pergi?" tanya Ariel.


"Kamu akan segera melihatnya," sambut Joel tersenyum.


"Apakah itu jauh?" tanya Ariel lgi.


"Itu cukup lama," sambut Ariel sedikit terkejut. "Kenapa kita tidak menggunaan jasa sopir saja?" sambungnya.


"Aku lebih menikmati saat ini jika di bandingkan ketika ada orang lain," jawab Joel.


Tangan Joel bergerak meraih tangan Ariel, meremasnya dengan lembut.


"Istirahatlah, perjalanannya cukup panjang. Aku akan membangunkanmu ketika kita telah sampai," ucap Joel menoleh sekilas sebelum kembali pada jalan didepannya.


"Tidak," tolak Ariel mengelengkan kepalanya. "Aku ingin tetap menemanimu," imbuhnya sembari menatap wajah pria yang telah menjadi suaminya.


Joel mendekatkan tangan Ariel ke wajahnya, lalu mengecupnya dengan lembut. Kebahagian terlihat sangat jelas di wajahnya. Waktu yang terus berjalan tanpa terasa membawa mereka ke sebuah Cottage.


Cottage dua lantai yang telah diterangi dengan cahaya lampu di setiap sudut. beberapa pohon yang menghiasi di sekeklilingnya menambah keasrian tempat itu.


Bagian teras depan memiliki satu meja dan dua kursi dengan payung putih diatasnya. Lantai kayu di bawahnya justru membuat tampilan itu terlihat lebih menawan. Tak lama setelah Joel mematikan mesin mobil, seseorang terlihat setengah berlari menghampiri mereka.


"Tunggulah disini sebentar," pesan Joel sebelum ia membuka pintu mobil dan keluar.


Joel mengatakan sesuatu yang tidak bisa Ariel dengar, tangnnya mengulurkan sesuatu pada orang itu, dan dia pergi meninggalkan Joel.


Joel kembali mendekati mobil dan membukakan pintu, meminta Ariel untuk keluar dari mobil.


"Siapa orang itu?" tanya Ariel.


"Yang menjaga tempat ini," jawab Joel singkat.


"Begitukah?"sambut Ariel.


Ariel masih menatap takjub dengan bangunan elegan dari Cottage di depannya, cahaya hangat dari lampu seolah memberikan rasa nyaman tersendiri. Hingga ia tidak menyadari Joel yang sejak tadi terus menatapnya.


"Aaahhh,,,!!!" pekik Ariel, tersentak saat Joel tiba-tiba mengendongnya.


"Biarkan aku membawamu kedalam," ucap Joel tersenyum lebar.


"Jadi, seorang dokter juga bisa menjadi seorang bangsawan?" goda Ariel terkekeh pelan.


"Hei,, aku tau bagaimana menjadi seorang pria," sambut Joel.


"Kalau begitu, aku tidak akan meragukannya," balas Ariel seraya melingkarkan tangannya di leher Joel.


Mereka mulai berjalan memasuki Cottage, suasana hangat menyambut mereka begitu mereka berada di dalam. Lantai kayu, dinding putih yang dipadukan dengan biru langit, dan sebuah perapian dengan hamparan karpet bulu di dekatnya.


Joel menurunkan Ariel ketika mereka masuk ke sebuah kamar. Sekali lagi Ariel di buat terpana dengan suasana kamar yang telah di hias dengan sedemikian rupa.


Tempat tidur besar bertiang empat dengan kain lembut yang menjuntai menyentuh lantai, taburan kelopak mawar yang memenuhi tempat tidur, dan nyala lilin aromaterapy yang menguarkan aroma lavender dan vanila memberikan rasa tenang dan rileks.


"Joel,,, apakah kamu yang menyiapkannya?" tanya Ariel tanpa menoleh.


Ia mengedarkan pandangannya, tidak bisa mengalihkan perhatiannya. Sampai Joel mendekat dan melingkarkan kedua tanganya di pinggang Ariel, memeluknya dari belakang.


"Yah,,, aku menyiapkannya, dibantu Jesica," papar Joel.


"Semula aku ragu, akankah kamu menyukai apa yang aku persiapkan untukmu, jadi aku meminta pendapatnya dan dia meyakinkanku kamu akan menyukainya. Dan aku berharap itu benar," ungkapnya.


"Apakah kamu menyukainya?" tanya Joel penuh harap.


Ariel berbailk untuk menghadap Joel dan melingkarkan tangannya di leher suaminya.


"Ini sangat menakjubkan, aku lebih dari sangat menyukainya," jawab Ariel.


"Aku senang jika kamu menyukainya," sambut Joel tersenyum senang.


Hanya mendengar Ariel menyukai apa yang ia siapkan, cukup baginya untuk membayar semua usahanya. Ia ingin melakukan apapun yang bisa membuat wanitanya senang.


Perlahan, Joel membungkuk, mendekatkan wajahnya pada Ariel. Namun, Ariel justru meletakan dua jarinya dibibir Joel, memberikan dorongan ringan untuk meminta Joel menjauh.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


.......


To be Continued...


Penjelasan ,,,,


-Cottage\=> Adalah Rumah kecil yang di kenal sebagai rumah musiman. Bisanya terletak di pantai atau pedesaan