I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
126. Saling Pandang



Joel perlahan membungkukkan badannnnya, mendekatkan wajahnya pada Ariel. Namun, Ariel justru meletakkan dua jari di bibir Joel sembari memberikan dorongan ringan agar Joel menjauh.


"Bisakah aku meminta waktu privasiku sebentar, Joel?" harap Ariel.


Joel tersenyum lembut, mengangguk pelan dan mengecup kening Ariel dengan penuh kasih.


"Tentu, Sweety, gunakan waktumu sebanyak yang kamu inginkan," jawab Joel.


Ariel tersenyum tipis, sedikit lega karena Joel tidak terlihat kecewa. Ia bergegas menuju kamar mandi untuk melakukan ritualnya. Sementara Joel keluar kamar untuk menemui orang yang tadi menyambut mereka.


Barang bawaan mereka yang berada di bagasi mobil telah berada didalam ruangan, tersusun rapi di sisi sofa ruang tamu. Pria yang menyambut kedatangan mereka menyerahkan kunci mobil dan kunci Cottage yang mereka tempati dan pergi setelah berpamitan pada Joel.


Joel mengeluarkan ponsel dari saku celananya, memeriksa beberapa pesan dan membalasnya, serta memeriksa beberapa aplikasi pemesanan tiket.


Tepat ketika Joel menutup pintu kamar dan berbalik, pintu kamar mandi terbuka. Ariel keluar mengenakan Bathrobe abu dan handuk kecil ditangannya untuk mengeringkan wajahnya.


Joel menelan salivanya, hampir menjatuhkan ponsel dari tangannya saat melihat gerakan ringan Ariel mengeringkan air di wajah dan lehernya.


"Apakah kamu baru saja menemui orang tadi?" tanya Ariel.


Hening. . . .


Ariel mengerutkan keningnya merasa aneh dan mengarahkan pandagannya pada Joel yang masih berdiri menatap dirinya.


"Joel,,,?" panggil Ariel.


Joel tetap bergeming, hingga membuat Ariel berjalan mendekat. Mengulurkan tangannya menyentuh garis rahang Joel.


"Hey,,, Bunny? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ariel lembut.


"Ahh,, Ehh,,,A-Ada apa?" tanya Joel setengah tersentak saat tangan Ariel menyentuhnya.


"Ada apa?" tanya Ariel. "Apakah terjadi sesuatu? Kamu terlihat aneh," tanya Ariel.


"Tidak ada," jawab Joel cepat.


"Tunggu sebentar, aku ingin ke kamar mandi," ujarnya.


Joel melepaskan kacamatanya dan meletakan ponsel beserta kacamata di nakas sebelum pergi ke kamar mandi dengan langkah cepat, meninggalkan raut wajah penuh tanda tanya di wajah Ariel yang terus menatapnya hingga Joel menutup pintu kamar mandi.


"Apakah dia lelah setelah perjalanan? Kenapa dia terlihat aneh?" gumam Ariel.


Ariel mengelengkan kepalanya, tidak ingin memikirkan hal-hal yang tidak perlu dan berjalan kearah pintu menuju balkon. Saat itulah ia baru menyadari berada dimana dirinya saat ini.


"Laut?" ucap Ariel melebarkan matanya.


"Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya saat keluar dari mobil?" gumamnya pelan.


Hembusan angin laut yang menerpa wajahnya mengibarkan rambut panjangnya. Balkon berlantai kayu dengan pembatas kayu setinggi pinggangnya dengan warna yang sama mengelilingi balkon. Disalah satu sisi terdapat dua kursi santai dengan satu payung berada diantara kursi dalam keadaan tertutup.


"Kenapa tidak mengatakan sejak awal jika tujuan kita adalah pantai?" gerutu Ariel.


"Tujuan kita memang pantai, tapi bukan pantai ini,"


Jawaban Joel membuat Ariel membalikkan badannya hanya untuk melihat Joel yang baru saja selesai mandi dan hanya melilitkan handuk di pingganya. Satu tangannya mengosok rambut yang masih basah menggunakan handuk lain, menyebabkan butiran air menetes di badannya yang terpahat sempurna.


Tanpa sadar Arel terus menatapnya, terpana dengan apa yang ada di depannya, namun dengan cepat berusaha mengendalikan perasaannya.


"Apa maksudnya tujuan kita bukan pantai ini?" tanya Ariel.


"Hemm,,," Joel tersenyum nakal sembari menyipitkan matanya.


"Usaha pengalihan yang cukup bagus," sindir Joel.


"A-Apa maksudnya?" sambut Ariel tergagap.


"Entahlah," jawab Joel menaikan bahunya. "Aku sendiri tidak tau apa maksudnya," sambungnya.


"Lalu, jawab pertanyaanku," pinta Ariel.


"Hemmm,,,,"


Joel bergumam, perlahan melangkah mendekat dimana Ariel berdiri. Tiap langkah yang dilakukan Joel justru membuat Ariel kian berdebar. Jarak yang semakin menipis tanpa sadar membuat Ariel melangkah mundur.


"Hei,,, kau tau aku tidak mengigit bukan?" goda Joel.


"Ha ha,,, lucu,, aku bahkan tidak yakin sekarang itu benar," sambut Ariel tertawa gugup.


Joel terkekeh pelan, namun tetap terus melangkah. Hingga pinggang Ariel menyentuh pembatas balkon.


"Eh,,?" Ariel sedikit tersentak saat ia menoleh telah sampai di pembatas balkon.


Sebelum Ariel memiliki waktu untuk kembali bergerak, Joel telah melatakkan kedua tangannya di sisi tubuh Ariel, mengurungnya diantara kedua tangannya.


"Kenapa sekarang kamu berusaha menghindariku?" tanya Joel.


"Siapa yang menghindar?" kilah Ariel.


"Kamu masih saja buruk dalam hal mengelak," sindir Joel.


"Aku tidak mengelak," sanggahnya. "Hanya saja_,,,"


Ariel tidak meneruskan kalimatnya ketika merasakan tangan Joel yang semula berada di sisi tubuhnya bergerak perlahan berpindah di pinggangnya. Kedua tangannya melingkari pinggang Ariel dan menariknya mendekat.


"Meski begitu, aku menyukainya," ucap Joel.


"Dan aku suka ketika kamu memandangiku dengan tatapan seperti itu," ucap Joel lagi setengah berbisik.


Mereka saling bertatapan tanpa mengatakan apapun, hanya degup jantung mereka serta hembusan nafas mereka yang terdengar dalam keheningan malam.


Gerakan tangan Joel semakin naik dan berhenti di tengkuk Ariel lalu menariknya mendekat ke wajahnya dengan gerakan lembut sampai bibir mereka bertemu. Memagut bibir bawahnya dengan lembut dan meninggalkan gigitan kecil.


Ariel melingkarkan kedua tangannya di leher Joel, dan merasakan Joel menuntunnya kembali kedalam kamar tanpa melepaskan ciuman mereka. Kedua tangan Joel tidak tinggal diam ketika mereka telah berada di dalam, ia mulai meraba tali pengikat bathrobe yang di kenakan Ariel, lalu menariknya.


Bathrobe yang semula menempel di tubuh Ariel jatuh perlahan ke lantai, membuat hembusan nafas kasar Joel terdengar jelas ketika melihat pemandangan indah didepan matanya. Dengan gerakan mudah, Joel membaringkan Ariel diatas tempat tidur, mengukungnya di bawah tubuhnya.


Joel melepaskan pangutan bibirnya, memandangi wajah wanita yang telah menjadi isterinya dengan tatapan penuh damba.


"Kamu sungguh cantik, Sweety. Aku merasa tak akan pernah cukup jika hanya memandangimu," tutur Joel.


Ariel tersenyum sembari mengulurkan tangannya, membelai wajahnya.


"Aku milikmu, Bunny," jawab Ariel dengan senyum di wajahnya.


Mendengar kalimat itu, Joel kembali mendekatkan wajahnya, bibir mereka kembali bertemu. Tangannya melepaskan lilitan handuk yang berada di pinggangnya dan melemparnya dengan asal. Ciuman yang semula lembut berubah menjadi lebih mendesak dan menuntut, seolah tidak sabar untuk mencapai tujuan mereka.


Gerakan bibir Joel perlahan turun kelehernya, meninggalkan jejak kepemilikannya disana. Menambah hawa panas yang telah mereka berdua rasakan.


Suara deburan ombak yang terdengar samar, dan hembusan angin yang gagal masuk kedalam ruangan seolah menjadi saksi dimana dua orang tengah menikmati syahdunya malam.


...>>>>>>>--<<<<<<<<...


Suara kicauan burung dan sinar mentari menembus tirai kamar dimana satu pasangan masih terlelap dalam tidur mereka.


Pergerakan halus terlihat dari si wanita dan mulai mengerjapkan matanya.


"Selamat pagi, Sweety,"


Ariel segera mendongak untuk melihat Joel yang tengah menatapnya dalam posisi masih mendekap tubuhnya.


"Kamu bisa tidur lagi jika masih lelah," ucap Joel melihat wajah lelah wanita yang berada dalam dekapannya.


"Menurutmu, siapa pelakunya?" sambut Ariel sedikit memajukan bibirnya.


Ariel merasakan lelah yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Joel melakukannya hingga menjelang pagi, membuat ia sesaat bertanya dalam hatinya darimana asalnya semua tenaga yang dimiliki suaminya.


"Apa yang bisa kukatakkan?" sambut Joel tertawa.


"Rasanya seperti menggunakan narkotika dimana aku tidak bisa berhenti begitu saja, dan aku terus meginginkan lebih," imbuhnya.


Joel mengecup lembut puncak kepala Ariel sembari mengusap lembut rambut panjangnya.


"Apakah kamu ingin berendam? Aku akan menyiapkan airnya," tawar Joel.


Alih-alih menjawab, Ariel justru membenamkan wajahnya di dada Joel.


"Itu terdengar mengoda," jawab Ariel.


"Tapi, nanti saja, aku ingin tidur sebentar lagi," imbuhnya.


Dengan sengaja, Ariel mengesekkan kakinya di kaki Joel, membuat ia sedikit bergidik.


"Sweety,,, jangan salahkan aku jika aku membuatmu lebih lelah lagi karena kamu yang memulainya," ancam Joel.


Ariel tergelak sesaat, lalu mengangkat wajahnya menghadap wajah suaminya. Tangannya mendorong bahu Joel, menjadikannya sebagai tumpuan ketika Ariel mengangkat sedikit badannya, menjadikan posisinya berada di atas Joel.


"Apa?" tanya Joel ketika Ariel hanya menatapnya tanpa mengatakan apapun.


"Rasanya tidak adil, bahkan ketika bangun tidur kamu tetap terlihat tampan," ucap Ariel.


"Terkadang sikap terus terangmu sungguh mengejutkan," sambut Joel seraya membalikan badannya hingga Ariel yang berada dibawah.


"Dan,,, perlu ku ingatkan sekali lagi padamu, berhenti mengodaku," sambung Joel dengan nada mengancam.


"Kalau tidak, apa?" tantang Ariel.


Ariel justru melingkarkan kedua tangannya dileher Joel. Ia tersenyum jahil berencana menggoda suaminya. Ketika Joel mendekatkan wajahnya, Ariel mendorongnya dan segera bangun dari tempat tidur setelah berhasli menyambar handuk yang tergletak di lantai untuk menutupi tubuh polosnya.


Secepat gerakan Ariel yang mendorong Joel, secepat itu juga Joel berhasil menangkap tangannya, dan melingkarkan tangan di pinggang Ariel


"Mau kemana? Hemm? Kamu bahkan tidak bisa berjalan dengan benar," sindir Joel.


"Ukh,,, baiklah,,, kurasa berendam memang ide terbaik sekarang," jawab Ariel meringis saat rasa sakit di sekujur tubuhnya kian terasa saat ia bangun dari tempat tidur dengan cara tiba-tiba.


"Tidak secepat itu, bukankah seharusnya kamu bertanggung jawab?" sambut Joel.


Ariel segera melebarkan matanya setelah menangkap apa yang Joel maksudkan.


"Uh,, tidak,, tidak,, " Ariel mengeleng sembari mencengkram handuk ditangannya. "Aku sungguh lelah," sambungnya.


"Dan aku sudah memperingatkanmu," jawab Joel menyeringai.


"Ayolah, aku hanya bercand_,,,, hemph,,"


Joel membungkam Ariel mengunakan bibirnya, kembali menariknya ke tempat tidur setelah melempar handuk yang Ariel lilitkan dengan asal di tubuhnya dan akan menjadi penghalang bagi Joel menuju tempat terindah baginya.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


Disebuah ruangan yang cukup luas, Jesica duduk didepan komputernya dengan jari tangan yang bergerak cepat mengetikan sesuatu.


Didepannya, seorang pria paruh baya duduk dengan angkuh, menatap tajam pada Jesica yang terlihat sedikit abai. Pria yang tidak lain adalah Evrad, ayah dari Bram.


.....


.....


To be Continued...