I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
83. Akankah Ken berubah?



###Keesokan harinya....


Joel tiba dirumah sakit dan masuk kedalam ruangannya. Tepat saat ia selesai mengenakan jas putihnya, Seth masuk tanpa mengetuk pintu.


"Hoo,,, Aku sempat mengira kau tidak datang hari ini," ucap Seth.


"Hari liburku adalah akhir pekan nanti, tentu saja aku tidak mau mengabaikan hari ini," jawab Joel.


"Hei,, Joel, apa yang terjadi dengan wajahmu?" seru Seth kaget saat melihat wajah Joel lebam.


"Jangan sekarang, aku akan menceritakannya nanti," jawab Joel.


"Kacamatamu?" tanya Seth lagi, merasa tidak puas dengan jawaban Joel.


"Rusak, aku sudah memesan yang baru, dan akan datang besok," jawab Joel. "Dan tolong, berhenti bertanya tentang luka menyebalkan ini, oke?" tekan Joel.


"Baik,, baik,, aku akan bertanya hal lain," sambut Seth terkekeh pelan, sedikitpun tidak merasa khawatir.


"Apa kau berencana berlibur ke suatu tempat?" lanjutnya.


"Masih belum terpikirkan, namun kemanapun itu aku hanya ingin memastikan dia juga menikmatinya," jawab Joel.


"Hemm,,, aku tidak bisa berkomentar apapun tentang itu," sambut Seth tertawa.


"Omong-omong, kau yakin meninggalkan dia sendiri? Bukankah dia masih sakit?" tanya Seth.


"Awalnya aku ingin menunda jam berangkatku, tapi dia bersikeras bahwa dia baik-baik saja, hanya sedikit flu ringan, dan memaksaku untuk berangkat," terang Joel.


"Benar-benar,,," decak Seth mengeleng-gelengkan kepalanya.


'Siapa sangka, dia menemukan wanita luar biasa yang dia cintai dan juga mencintainya. Aku sempat salah sangka saat wanita yang mengaku kekasihnya itu datang, dan aku membuat kesalahan dengan memberikan alamat Joel padanya. Aku baru tau ternyata wanita itu yang telah mengoreskan luka dihatinya,' batin Seth.


"Kurasa kisah cintamu akan menjadi cerita unik," komentar Seth.


"Mengapa begitu?" tanya Joel mengerutkan keningnya.


"Yah,,, kalian bertemu dalam situasi yang,,, sangat,,, tidak menyenangkan, dan lihatlah sekarang," goda Seth.


Joel hanya mengeleng-gelengkan kepalanya mendengar candaan temannya itu, namun tidak menyangkal apa yang dikatakan Seth. Pertemuannya dengan Ariel yang tak pernah ia duga berawal dari kecerobohannya di pantai kala itu, berlanjut dengan hal buruk saat ia menabraknya dan merawatnya hingga sembuh.


Bahkan ia tak pernah menyangka akan begitu mencintainya. Joel melangkah keluar diikuti Seth disampingnya. Memulai pekerjaan rutin mereka.


Sementara itu, disaat yang sama namun di tempat berbeda, bel pintu apartemen Ariel berbunyi ketika ia baru saja selesai merapikan meja dimana dirinya dan Joel sarapan pagi ini. Joel bahkan baru beberapa menit lalu berangkat bekerja.


Ariel memaksakan kakinya untuk membuka pintu untuk melihat siapa yang datang disaat masih pagi.


"Ken,,," desis Ariel terkejut.


Ariel melebarkan mata melihat Ken berdiri didepan pintu apartemennya, tersenyum lesu, lalu menundukkan kepalanya.


"Masuk," tawar Ariel.


Ken hanya menurut, bahkan saat Ariel memintanya duduk, Ken langsung melakukannya tanpa perlawanan apapun.


"Ini pertama kalinya kau datang pagi-pagi sekali, apakah semua baik-baik saja Ken?" tanya Ariel di balik meja counter tengah meracik kopi.


"Aku,,,, hanya,,,, ingin melihat keadaan kakak, kemarin coach Gerry berkata, kak Ariel sakit," tutur Ken.


Ariel bebalik untuk melihat Ken, namun Ken justru langsung menundukkan kepalanya, kembali menghindari bertatapan dengannya.


'Dia masih saja bertingkah aneh, apakah aku benar-benar melakukan kesalahan?' batin Ariel.


Ariel menghampiri Ken dengan kopi di tangannya dan kudapan yang dibuat Joel pagi ini, lalu meletakkannya didepan Ken.


"T-Terima kasih," ucap Ken.


Ariel hanya tersenyum, lalu duduk berseberangan dengan Ken.


"Aku ingin minta maaf padamu, Ken," ucap Ariel membuat Ken manaikan wajahnya dengan cepat.


"Meminta maaf?" ulang Ken mengerutkan keningnya.


"Tapi, kakak tidak melakukan kesalahan," jawab Ken


"Aku tak yakin tentang itu, karena aku tak mengingat apapun tentang apa yang terjadi malam itu," tutur Ariel.


"Beberapa kali aku ingin mengatakan ini padamu, tapi kau terus menghindariku. Jadi, meski sekarang terlambat aku merasa berhutang kata maaf padamu," lanjutnya.


"Tapi, sungguh, kakak tidak melakukan kesalahan," sanggah Ken.


"Justru akulah yang telah melakukan kesalahan, dan terlalu takut untuk mengakuinya, tapi aku juga tidak ingin terus merasa bersalah, aku ingin meminta maaf dengan benar. Karena bagaimanapun juga aku sudah melakukan kesalahan pada kakak," ungkap Ken.


"Kakak terlibat masalah karenaku, andai saja aku tidak meminta bantuan kakak untuk kesana, kakak tidak akan mendapatkan masalah," sambungnya.


"Aku bahkan tidak bisa melakukan apapun saat ada yang berusaha mencelakai kakak,"


Ken mengeluarkan kegelisahan yang ia pendam, namun memilih tidak menyebutkan tentang obat.


"Apa maksudnya kamu mengatakan itu?" tanya Ariel mengerutkan keningnya.


"Kakak pingsan setelah meminum minuman yang disuguhkan disana, dan saat aku mengantar kakak pulang, kak Joel datang," jawab Ken.


"Jika aku tidak meminta kakak datang, hal itu tidak akan terjadi,"


Ken kembali menundukan kepalanya lebih dalam. Merasa menyesal dengan semua yang terjadi.


"Ken,,," panggil Ariel.


Perlahan Ken mengangkat wajahnya, berusaha agar tidak menunduk lagi meski terasa sulit, tak lama kemudian, Ariel tersenyum.


"Kau tau? Aku sangat lega mendengar bahwa aku tidak mengacaukan acaranya," ucap Ariel. "Aku sempat berpikir aku melakukan hal diluar kendali dan mengacaukan acara keluargamu," imbuhnya.


'Kak Joel benar, kak Ariel justru berpikir bahwa kak Ariel-lah yang melakukan kesalahan,' batin Ken.


"Itu tidak mungkin," bantah Ken.


"Itulah sebabnya aku ingin minta maaf, aku juga minta maaf karena aku terus diam dan tidak mengatakannya," imbuhnya.


Ken memaksakan senyum dibibirnya, menutupi fakta sebenarnya dengan alasan tidak ingin Ariel membencinya.


"Kakak yang terbaik," sambut Ken.


Menutupi kecanggungan hatinya, Ken menyeruput kopi didepannya, dan mencoba kudapan yang disuguhkan Ariel padanya.


"Apakah kakak membuat ini sendiri?" tanya Ken.


"Joel yang membuatnya pagi ini," jawab Ariel.


"Jadi, kak Joel menginap disini?" tanya Ken melebarkan matanya.


"Ya, lebih tepatnya merawatku," jawab Ariel sembari mengosok belakang telinga denga jarinya.


"Hooo,,, jadi,,, sedekat apa sekarang kak Ariel dengannya?" selidik Ken tetap memaksakan senyum di bibirnya.


"Makan saja makananmu, Ken," elak Ariel.


Jawaban Ariel mendatangkan suara tawa ringan Ken. Meski ada rasa sakit menyelinap dihatinya, namun disaat yang sama ia juga merasa senang melihat orang yang ia sukai tersenyum.


"Bisakah aku menanyakan sesuatu pada kakak?" tanya Ken setelah tawanya mereda.


"Tentu, apa itu?" ambut Ariel.


"Andaikan, kakak mencintai seseorang namun orang yang kakak cintai justru mencintai orang lain, bagaimana kakak akan menyikapinya?" tanya Ken.


Ariel terdiam sejenak untuk menelaah pertanyaan yang di ajukan Ken padanya.


"Cinta bukanlah hal yang bisa di paksakan, Ken, itu selalu datang dengan sendirinya, bahkan tanpa bisa kita cegah,"


"Bagaimana jika seseorang sudah melakukan segala cara agar dia juga bisa dicintai oleh orang yang dicintainya? Merubah dirinya sendiri misalnya," sela Ken.


Interupsi dari Ken sedikit mengejutkan Ariel, dimana ia merasakan emosi dalam suaranya. Hal itu membuat Ariel berpikir bahwa Ken sedang menceritakan tentang dirinya sendiri, namun malu untuk mengakuinya.


Menghembuskan nafas panjang, Ariel tersenyum sebelum kembali berbicara.


"Hanya karena dia tidak mencintaimu, bukan berarti kamu tidak baik untuknya, atau kamu tidak layak untuknya,"


"Akan tetapi, kamu tidak memiliki kehendak untuk menentukan dia mencintaimu atau tidak, bahkan dirinya sendiri tidak memiiki kehendak untuk menentukan hatinya akan jatuh cinta kepada siapa,"


"Mungkin akan terdengar kejam, tapi kita sendiri tidak bisa memaksa hati untuk mencintai orang yang kita tunjuk, begitu juga sebaliknya, kita juga tidak bisa memakasa hati orang lain untuk mencintai kita,"


"Jika kamu merubah dirimu demi orang lain, itu tidak bisa dibenarkan sepenuhnya, namun juga bukan berarti itu salah. Hanya saja, kamu harus bisa memilah antara alasan atau obsesi,"


"Akan lebih baik jika kamu merubah dirimu demi dirimu sendiri, bukan demi orang lain. Jika itu memang tetap demi orang lain, jadikanlah alasan itu sebagai motivasimu, bukan tujunmu,"


Hening,,,,


Ken terenyak, semua yang Ariel katakan padanya membuatnya diam seribu bahasa, tidak bisa lagi menyanggah semua ucapannya.


"Aku mungkin bukan kakakmu secara biologis, tapi kau sudah seperti adik bagiku, jika kamu merasa sesak akan sesuatu, kamu bisa menceritakannya padaku," tutur Ariel dengan tulus.


'Bagaimana mungkin aku menceritakannya jika itu tentang kakak sendiri,' ratap Ken dalam hati.


'Pada akhirnya, aku hanya tetap berada di posisi seorang adik, andai aku bisa mengatakannya bahwa aku menolak hal itu,'


"Bagaimana caranya menghilangkan rasa ini? Rasa sakit ini?" gumam Ken lirih.


"Ken,,,? Kamu bilang apa?" tanya Ariel mengerutkan keningnya, merasa Ken mengumamkan sesuatu namun tidak begitu mendengarnya.


"Bukan apa-apa," kilah Ken.


"Ah,, maaf kak, sepertinya aku harus pulang," ucap Ken gusar.


Ken beranjak dari duduknya, namun langkahnya terhenti saat mencapai pintu karena Ariel lebih dulu mencekal pergelangan tangannya.


"Sebentar, Ken!"


Ken berusaha menyembunyikan wajahnya, tidak ingin Ariel melihat wajahnya yang tentu saja mengungkapkan semua perasaannya.


Ken tau pasti bagaimana Ariel bisa membaca hati seseorang hanya dengan menatapnya, dan ia tidak ingin Ariel tau bahwa ia mencintainya.


"Ada apa sebenarnya? Jika kamu memiliki masalah, kamu bisa mengatakannya padaku," tutur Ariel.


Menarik nafas dalam-dalam, Ken berbalik dengan memberikan senyum lebar diwajahnya.


"Aku lupa, aku tadi keluar karena kakakku memintaku untuk membeli sesuatu, tapi aku justru ingat kakak, jadi aku datang kemari lebih dulu," jawab Ken tersenyum konyol sembari mengaruk belakang lehernya.


"Hubunganku dengan kakakku tidak sebaik dengan kak Ariel, aku juga terlalu malas banyak bicara dengannya," sambungnya.


"Kau yakin mengatakan yang sebenarnya?" tekan Ariel menatap lekat mata Ken.


"Aduh kak,,, ayolah,,, dia bahkan tidak sebaik kakak, lain kali aku akan ajak kak Ariel ke rumahku,tapi aku tidak berharap kakak bertemu dengannya," jawab Ken memajukan bibirnya.


"Di rumahku sekarang juga ada Cello, kakak tidak keberatan kan kalau misalnya aku meminta kakak ke rumah untuk latihan?" ucap Ken lagi.


Ariel tersenyum sembari mengeleng-gelengkan kepalanya. Tangannya melepaskan Ken sebelum kembali berbicara.


"Baiklah, aku bisa datang," ucap Ariel menyerah.


"Janji?" harap Ken mengrjapkan matanya.


"Oke,, aku janji, kau senang?" sambut Ariel tertawa.


Ken melirik sekilas pada tangan Ariel yang di perban, lalu tersenyum sekali lagi sebelum membuka pintu dan meninggalkan apartemen Ariel.


"Aku tau dia berbohong, tapi aku juga sadar dia memiliki privasinya. Akan lebih baik jika aku tidak masuk terlalu dalam tentang privasinya meskipun aku ingin," ucap Ariel pada diri sendiri.


Ketika Ariel akan beranjak menjauh dari pintu, seklai lagi bel pintunya berbunyi, membuat ia kembali berbalik menyangka Ken kembali.


"Apa kau melupakan sesuatu, Ken_,,,, Eh,, Bram,,?"


...>>>>>>>--<<<<<<<...