I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
48. Sabotase



Lewat tengah malam, [Pantages Theatre].


Seorang pria menyelinap masuk dengan pakaian staf dan mengenakan topi yang sedikit menutupi wajahnya dari sorotan kamera pengawas.


Pria itu berhasil masuk kedalam sebuah ruangan yang dipenuhi dengan alat musik. Entah apa yang dilakukannya dalam kegelapan, pria itu kembali keluar setelah beberapa menit berada didalam, dan pergi begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa.


####Pada malam hari berikutnya###


Ariel baru saja keluar dari apartemennya dan dikejutkan dengan Joel dan Bram yang telah menunggu didekat mobil Bram.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Ariel saat jarak mereka hanya dua langkah darinya.


"Aku hanya berpikir untuk berangkat bersama," sambut Bram.


"Tentu saja untu menjemputmu," sambut Joel.


Mereka berdua menjawab bersama dangan jawaban berbeda. Mendengar hal itu, mereka saling pandang dengan tatapan tidak mau mengalah.


"Kamu pergi bersamaku kan, Ariel?" tanya joel.


"Tidak bisa. Ariel akan bersamaku, aku yang lebih dulu tiba disini," tukas Bram.


"Hanya karena kau tiba lebih dulu, bukan berarti Ariel harus pergi bersamamu," sambut Joel.


"Kenapa tidak? Tidakkah kau pernah mendengar kalimat siapa cepat dia dapat?" balas Bram.


"Sayang sekali, aku bukan barang," cetus Ariel.


Bram memejamkan matanya, dan dengan perlahan menoleh kearah dimana Ariel berdiri menetapnya dengan tangan terlipat.


"Bukan begitu maksudku," ucap Bram merasa bersalah.


"Secara tidak langsung kau menyebutku sebuah barang, bukan begitu?" tandas Ariel.


"Tidak,,, Bukan,,, Maksudku adalah,,, aku hanya,,," Bram tergagap berusaha menjelaskan maksudnya pada Ariel.


"Kalau begitu, kamu akan pergi bersamaku?" tanya Joel senang.


Ariel beralih menatap Joel tanpa senyum diwajahnya. Hal itu membuat senyuman yang semula menghiasi bibir Joel lenyap tanpa bekas.


"Tidak," tegas Ariel.


Mereka berdua serentak menurunkan bahu mereka. Mendesah pelan, lalu mentap Ariel lagi.


"Ayolah, Ariel,, apa yang salah dengan berangkat bersama disaat tujuan kita sama?" bujuk Joel.


"Pertanyaan itulah tepatnya yang ingin kutanyakan pada kalian. Apa yang salah dengan kalian berdua? Sesaat kalian bisa sangat kompak, namun detik berikutnya kalian kembali dengan pertengkaran kalian," ucap Ariel menatap Joel dan Bram bergantian.


Ariel melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya, lalu mendesah pelan.


"Kita gunakan satu mobil saja," saran Bram.


"Aku tidak ingin Ariel terlambat, jadi gunakan mobilmu saja," ujar Joel mengalah.


"Wow,,, aku terkesan," sambut Bram dengan seringai lebar.


"Berisik,!" tukas Joel. " Cukup berangkat saja. Kita kehabisan waktu," sambung Joel kesal.


"Baik," jawab Bram senang.


"Tunggu sebentar, aku harus menunggu satu orang lagi," cegah Ariel.


"Siapa?" tanya Bram.


"Charlie?" tebak Joel.


"Ken," jawab Ariel singkat.


Serentak wajah keduanya berubah seratus delapan puluh derajat. Tanpa disadari, mereka mendengus kesal sembari memalingkan wajahnya.


'Ada apa dengan mereka sebenarnya?' batin Ariel,


Tak lama setelah itu, sebuah taksi berhenti tak jauh dari mereka. Dari pintu penumpang, Ken keluar dan segera berlari menghampiri Ariel.


"Lho,,, kok,,," Ken menatap bingung dengan kehadiran Joel dan Bram.


"Ayo berangkat," ajak Bram.


"Ah,, baik," jawab Ken gugup.


Joel mengarahkan Ariel untuk duduk didepan bersama Bram. Tidak membiarkan ariel duduk dibelakang bersama Ken.


"Kamu duduk di depan saja, aku yang di belakang," cegah Joel.


'Aku mimpi apa sih? Kenapa sekarang aku dihadapkan dengan mereka lagi,' keluh hati Ken.


Ken duduk dalam diam saat mobil mulai berjalan meninggalkan apartemen Ariel.


"Boleh aku menanyakan sesuatu padamu, Ariel?" tanya Bram tanpa melepan pandangannya dari jalan.


"Ya, tentu," jawab Ariel.


"Tidak biasanya kamu tampil mengenakan pakaian formal, apakah ada alasan tertentu?" tanya Bram menoleh sekilas dan kembali melihat jalan lagi.


"Karena ini bukan murni pertunjukanku, tapi lebih ke arah mereka yang kulatih. Dan tentu saja nanti aku akan tetap tampil bersama mereka di akhir acara. Untuk menunjukkan ikatan diantara aku dan mereka yang kulatih," terang Ariel.


"Ahh,,, begitu. Tampaknya pertunjukan akhir akan menjadi penantian yang sangat diharapkan," sambut Bram.


"Kamu berkata seolah telah mengklaim nilai terbaik ada ditangan kami," jawab Ariel tertawa singkat.


"Sejujurnya, aku sangat yakin jika itu kamu. Aku tak memiliki keraguan sedikitpun tentang itu," balas Bram.


"Kenapa kau tidak berkata saja bahwa kau sudah mengintip mereka saat latihan alih-alih berkata dengan berbelit-belit," sindir Joel.


Ken berusaha menahan tawanya.


"Seolah kau tidak melakukannya," cibir Joel.


"Oh,, tentu saja. Perbedaannya adalah aku tidak mengakuinya secara terang-terangan sepertimu," balas Bram.


"Jika yang seperti ini disebut tidak mengakui perbuatan, aku tidak tau lagi apa yang harus dikatakan," celetuk Ken.


"Heeppp,,,"


Ken dengan cepat menutup mulutnya sembari menutup matanya.


"Maaf, saya tidak bermaksud menyela_,,," sesal Ken.


Tanpa diduga, Ariel, Bram dan Joel menyemburkan tawa mereka, membuat Ken mengerjap bingung.


"Kelihatannya seseorang telah kehilangan rasa gugupnya," sindir Bram melirik melalui kaca mobil.


"Ehh,,"


Ken seolah baru saja tersadar. Mereka berdua tidak seburuk pemikirannya. Ia baru menyadari ketika perasaan gugup yang sebelumnya dirasakan telah menguap entah kemana.


"Jadi,,, tadi,," Ken mengantung kalimatnya.


Matanya bergantian menatap Ariel, Bram lalu Joel yang berada disampingnya.


"Aku berharap kamu tidak demam panggung," celetuk Ariel.


"Apa kau sadar kamu terlihat sangat tegang sebelum kita berangkat?" tanya Ariel.


"Mereka bahkan sampai menyadarinya," imbuhnya.


"Dan memberimu terapi terbaik selama perjalanan. Itu akan mengeluarkan tarif mahal," sambung Bram.


"Tentu saja terapi yang benar-benar memberikan hasil," imbuh Joel.


Ken tersenyum sembari mengosok belakang lehernya.


"Terima kasih banyak," ucap Ken tuus.


"Jika kau ingin berterima kasih, mainkan saja dengan kemampuan terbaikmu," sambut Bram.


"Pasti, saya akan melakukannya," jawab Ken.


Mereka tiba beberapa menit sebelu waktunya dan di sambut sosok charlie yang melambai ringan kearah Ariel.


Disamping Charlie, telah berdiri Oliver dan Gina yang menunggu kedatangan Ariel.


"Apakah akan ada kompetisi lagi?" ucap Oliver ketika melihat bram dan Joel datang bersama.


"Diamlah, sekarang kita kedalam untuk mempersiapkan diri kalian," tegas Ariel.


"Baik, kak," jawab Oliver.


Mereka segera masuk kedalam gedung dimana pertunjukan akan diadakan.


Oliver dan Gina yang sudah terbiasa, melakukan semua hal yang diperlukan tanpa diminta.


Sementara Ken memperhatikan kedua temannya, sesekali melakukan hal yang diminta Ariel.


Waktu terus berjalan, suasana gedung semakin ramai ketika mulai dipenuhi orang-orang yang akan menampilkan kemampuan memainkan alat musik mereka.


"Kak,,," seru Oliver panik.


"Apa? Kenapa kamu panik?"tanya Ariel.


Oliver melambai, meminta Ariel mendekat.


"Ada yang salah dengan koper Cello nya. bukan hanya itu, alat musik yang akan kita gunakan seolah seseorang baru saja memindahkannya," terang Oliver.


"Mungkin itu petugas kebersihan," sambut Ariel. "Bukankah itu wajar?" sambungnya.


"Lebih baik kakak lihat dulu," pinta Oliver cemas.


Ariel mengerutkan keningnya dan menuruti saran Oliver.


Bram, Joel dan Charlie yang melihat kepanikan Oliver segera menghampiri Ariel yang sedang memeriksa alat musik yang dipersiapkan untuk mereka.


"Apa-apaan ini,?" desis Ariel.


Ariel melihat keretakan di bagian badan Cello dan biola. Hal aneh lain berada di bagian piano yang terlihat jelas tuts piano telah diganti dengan paksa.


"Bagaimana bisa ini terjadi?" gumam Ariel.


Ketegangan mulai merayap didalam hatinya.


Ariel terdiam, memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi jika mereka membatalkan secara tiba-tiba untuk tampil.


Mereka akan dicap tidak kompeten dan hanya mencari-cari alasan jika mengatakan alat musik mereka rusak.


Ariel menekan tuts piano, dan segera mengernyit tidak mengenali nada yang dihasilkan. Begitu pula dengan Biola dan Cello. Nada yang dihasilkan benar-benar sumbang.


"Ariel,,? Apakah terjadi sesuatu?"


Bram muncul dan menanyakan apa yang sedang terjadi. Begitu pula dengan Joel dan Charlie.


"Alat musik yang akan mereka gunakan rusak" ucap Ariel lirih.


"......"


"....."


"....."