I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
32. Jesica



Disisi lain diwaktu yang sama.


Dikoridor rumah sakit, Charlie berjalan dibelakang seorang wanita seusia dirinya. Wanita itu tampak kesal saat dirinya gagal lagi untuk menemui seseorang.


"Kenapa dia sulit sekali ditemui?" sungutnya kesal sembari menghentakkan kakinya.


"Jaga sikapmu, Jesica!" sambut Charlie menarik tangan Jesica.


"Ini rumah sakit. Kau bisa menganggu pasien disini. Terlebih ini sudah diluar jam besuk. Kita bisa ditendang keluar oleh securty jika kita membuat keributan," ungkap Charlie.


"Apa yang kau takutkan?" dengus Jesica kesal. " Aku hanya perlu menutup mulutnya dengan uang," sambut Jesica.


"Tidak semua hal adalah tentang uang, Jes," balas Charlie.


"Daripada kau banyak bicara, lebih baik bantu aku mencari dimana rumah Joel sekarang," sahut Jesica.


"Aku tidak tau dimana dia tinggal," jawab Charlie.


"Apa kau yakin mengatakan hal yang sebenarnya?" tanya Jesica berbalik sembari menyipitkan matanya.


"Apa maksudmu?" balas Charlie manaikan alisnya.


"Kau pernah menyembunyikan fakta bahwa Joel ada di kota ini dariku. Kau bahkan mengatakan belum bertemu dengnnya sejak kau berada dikota ini" ujar Jesica.


"Aku tidak menyembunyikannya," sanggah Charlie.


"Ketika kau bertanya saat itu, aku memang tidak tau kalau dia juga ada dikota ini," terang Charlie.


"Lalu kenapa kau tidak mengatakanya saat kau sudah mengetahuinya?" sambut Jesica kesal.


"Karena aku juga sibuk dengan pekerjaanku, dan aku benar-benar lupa menghubungimu," kilah Charlie.


"Oke,,, sekarang apakah yang kau katakan juga benar? Dia bekerja disini? Kenapa dia selalu tidak bisa ditemui? atau kau berbohong padaku tentang jadwal kerjanya?" cecar Jesica.


"Jangan konyol,!" sergah Charlie. " Aku hanya tau dia bekerja disini, dan itupun karena kasus yang kutangani berhubungan dengan kecelakaan. Dan dia yang merawat korban kecelakan itu, aku tidak tau lebih banyak, terlebih tentang jadwalnya" papar Charlie.


"Cih,,, " cibir Jesica.


"Kita pergi dari sini sekarang,!" ucap Charlie seraya menarik tangan Jesica. Membawanya keluar dari rumah sakit.


"Lepaskan aku, aku bisa menggunakan kakiku sendiri, tak perlu menarikku!" sungut Jesica menarik tangannya saat mereka telah berada dihalaman rumah sakit.


Charlie menghembuskan nafas panjang dan menatap Jesica yang menjadi sahabatnya dengan putus asa.


"Kenapa kau kembali mencari Joel, Jes?" tanya Charlie.


'Aku sudah berusaha agar mereka tidak kembali bertemu, tapi Jesica bukan orang yang bisa dihentikan begitu saja. Cepat atau lambat, mereka akan kembali bertemu walau sekeras apapun aku mencoba mencegahnya,' bisik hati Charlie.


"Aku mencintainya," jawab Jesica.


"Itu bukan cinta, Jesica. Itu adalah ambisimu. Kau sudah mencampakkannya begitu saja. Dan itu menghancurkan hatinya, dia tidak mungkin kembali padamu," sambut Charlie.


"Bukan kau yang berhak untuk menilai disini," balas Jesica.


"Aku yakin Joel akan kembali padaku," sahut Jesica.


"Bagaimana jika tidak?" tandas Charlie.


"Itu tidak mungkin, dia sangat mencintaiku," jawab Jesica.


"Ya, dulu. Dan itu sebelum kamu menghancurkan hatinya," sambut Charlie. " itu sudah berlalu cukup lama, Jesica. Dan itu adalah waktu yang cukup baginya untuk mencintai wanita lain," terang Charlie.


"Mustahil!" tegas Jesica.


"Jesica, mengertilah,! Segala hal bisa dan mungkin terjadi dalam waktu beberapa tahun. Lepaskan saja," bujuk Charlie.


"Kenapa kau berpihak padanya?" decak Jesica menatap Charlie tajam.


"Aku tidak berpihak pada siapapun, tapi dia juga temanku," ungkap Charlie.


"Dan aku sahabatmu," balas Jesica.


"Itu memang benar. Tapi aku juga tidak bisa mendukungmu jika itu adalah hal salah," jawab Charlie.


"Aku tidak peduli," tegas Jesica.


"Cari tau dimana rumahnya. Kau seorang polisi, tentu akan mudah mencari tau dimana dia tinggal," sambung Jesica.


"Aku seorang polisi, bukan seorang hacker," balas Charlie.


"Ahh ,,, aku ingat. Dia sangat menyukai pantai," seru Jesica tiba-tiba, mengabaikan perkataan Charlie.


"Kota ini tidak jauh dari pantai, kenapa aku melupakannya? Tentu saja alasan Joel ada disini adalah pantai," ucap Jesica pada diri sendiri.


Charlie mengusap wajahnya, lalu mendesah pelan.


'Dia menyadarinya lebih cepat dari dugaanku. Aku harus meperingatkan Joel,' batin Charlie.


"Aku akan mencarinya mulai besok jika aku masih tidak bisa menemukannya di rumah sakit ini," ucap Jesica lagi.


"Aku akan pulang. Kau bisa pulang sendiri kan, Charlie?" tanya Jesica.


Charlie menatap Jesica, mulai sedikit kesal namun tidak mengatakan apapun ketika Jesica hanya peduli dengan perasaannya sendiri, dan mengabaikannya setelah merengek minta ditemani mendatangi rumah sakit dimana Joel bekerja.


Jesica pergi begitu saja sebelum Charlie memberikan jawabannya. Detik berikutnya, Charlie mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Joel.


TUT,,,,,,


"Kau akan mendapatkan masalah jika tidak menerima panggilanku Joel," dengus Charlie.


Charlie kembali menghubungi Joel. Dan sekali lagi panggilannya di tolak. Tidak menyerah begitu saja, Charlie kembali menghubungi Joel.


Hingga percobaan yang ke sepuluh, Joel akhirnya menerima panggilan telepon darinya dan menyambutnya dengan rasa kesal.


"Apa yang kau inginkan?" sentak Joel marah.


"Tidak bisakah kau berhenti menganggu kehidupanku?" semburnya.


"Hei,,, tenanglah. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu yang penting," ucap Charlie menenangkan.


"Joel,,,, Apakah semua baik-baik saja?"


Suara lain terdegar melalui ponselnya. Charlie memusatkan pendengarannya dan segera mengenali pemilik suara yang terdengar dari ponselnya.


"Semua baik-baik saja. Maaf aku tidak sengaja manaikkan suaraku," jawab Joel pada lawab bicaranya.


"Apa kau yakin?" tanyanya lagi.


"Aku tidak apa-apa, Ariel. Aku akan berbicara dengannya sebentar," jawab Joel.


Sebuah jeda keheningan terjadi sesaat. Hingga Charlie kembali membuka suaranya.


"Kau sedang bersama Ariel?" tanya Charlie.


"Ya,,, katakan apa maumu," tanya Joel menurunkan suaranya.


"Sepertinya Ariel bisa diandalkan untuk menurunkan emosimu," sindir Charlie.


"Katakan apa maumu atau ku tutup teleponya," ancam Joel.


"Hei,,, tenanglah," sambut Charlie. " Aku hanya bercanda," sambungnya tertawa pendek.


"Dengar,,,!" ucap Charlie memulai. "Jesica sudah mulai mencarimu, lebih tepatnya menyelidikimu," ungkap Charlie dengan suara serius.


Hening. . . . . .


Keheningan terjadi beerapa saat. Seolah Joel masih perlu waktu untuk memproses apa yang baru saja Charlie katakan padanya.


"Dia sudah datang beberapa kali kerumah sakit untuk menemuimu. Dan aku sudah berusaha agar kalian tidak bertemu. Tapi, sekarang akan menjadi lebih sulit karena dia sudah menyadari tentang pantai. Itu membuatku tidak bisa berbuat banyak," terang Charlie.


"Aku hanya ingin memperingatkanmu untuk bisa berhati-hati jika kau masih ingin menghindarinya, walaupun cepat atau lambat kalian akan tetap kembali bertemu" sambungnya.


"Kenapa kau memberitahukan ini padaku?" tanya Joel.


"Karena kau temanku," jawab Charlie santai.


"Tapi dia sahabatmu," balas Joel.


"Dan kau berpikir aku berpihak pada sahabatku walaupun itu salah?" sindir Charlie.


"Siappun akan berpikir begitu," sambut Joel.


"Memang benar," jawab Charlie. "Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan temanku," sambungnya.


"Aku tak menyalahkanmu jika kau ragu dengan ucapanku. Tapi aku mengatakan yang sebenarnya," tutur Charlie.


"Kesalahanku adalah membiarkan hubungan kalian terjalin disaat aku benar-benar tidak bisa membagi waktuku dan bersikap abai dengan yang terjadi, jadi biarkan aku menebusnya sekarang," harap Charlie.


"Sejujurnya itu bukan kesalahanmu, aku hanya kesal padamu karena kau terus mencampuri urusanku dan mengungkit masa lalu yang berhubungan dengannya," terang Joel.


"Hei,,, aku sudah tidak melakukannya," sanggah Charlie.


"Dan aku berjanji tidak akan melakukannya lagi," sambung Charlie.


"Terima kasih sudah memperingatkan aku tentang Jesica, dan maafkan aku atas sikap kasarku padamu," ungkap Joel.


"Bukan masalah. Aku akan mengabarimu jika dia kembali melakukan hal-hal gilanya," terang Charlie.


"Terima kasih. Aku akan menghadapinya ketika tiba saatnya aku bertemu lagi dengannya. Aku tidak mungkin menghindarinya selamanya," ucap Joel.


"Tapi, ingatlah untuk berhati-hati, terlebih lagi ada Ariel disekitarmu," ucap Charlie.


"Apa maksudmu?" tanya Joel bingung.


"Aku sangat mengenalnya, Joel. Dia selalu melakukan segalanya untuk mencapai ambisinya walaupun itu harus menyakiti orang lain," ungkap Charlie.


"Terima kasih, memperingatkan aku tentang itu. Aku akan berhati-hati," ucap Joel.


"Baiklah, nikmati waktumu bersama Ariel," goda Charlie. " Apakah Ariel menginap di rumahmu, atau kau yang kembali menginap di apartemen Ariel?" imbuhnya.


"Berisik," sambut Joel.


"Ha ha ha,,, baikalah, aku tidak menganggu lagi. Selamat bersenang-senang, Joel," goda Charlie lagi.


"Heii,, kau_,,,"


Charlie mematikan panggilannya sebelum Joel menyelesaikan protesnya.


Charlie tersenyum tipis, merasa bersyukur akan kehadiran Ariel dalam kehidupan Joel. Namun sisi lain hatinya juga merasa khawatir jika sampai terjadi sesuatu pada Ariel.


"Dia wanita baik-baik, aku tidak akan membiarkan Jesica menghancurkan hidupnya," ucap Charlie pada dirinya sendiri.


...>>>>>>>--<<<<<<<...