I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
94. Sikap yang berubah-ubah



Mereka menundukan kepala mereka seolah tengah berada di ruang sidang. Pasrah dangan hukuman apa saja yang akan mereka terima, karena sejak awal sikap mereka memanglah salah.


"Saya minta ma_,,," Marc baru mulai membuka suara, namun Ariel memotongnya lebih dulu.


"Bahkan tidak sedikitpun," jawab Ariel.


Jawaban Ariel sontak membuat mereka semua mengangkat wajah mereka, mengarahkan pandangan mereka pada Ariel yang tengah membalas tatapan Bram.


"Kau yakin?" tanya Bram lagi.


"Kenapa kau bertanya seolah aku mengatakan hal yang salah?" tanya Ariel mengerutkan keningnya.


"Sama sepertinya," ucap Bram menunjuk Joel dengan kepalanya. "Jika mata empat tak menyukai apa saja yang mengusikmu, aku juga tidak akan menyukainya," papar Bram.


"Sekali lagi kau menyebutku mata empat, aku akan pastikan membuatmu memakai kacamata seumur hidupmu," ancam Joel.


"Baiklah, tidak lagi, dokter Arogan," ledek Bram.


"Terserah," sambut Joel.


"Jadi, katakan padaku!" Bram kembali beralih kepada Ariel, menunggu jawabannya.


"Tidak, mereka menyambutku dengan baik," jawab Ariel.


"Kau yakin mengatakan yang sebenarnya?" tanya Bram lagi.


"Maksudmu?" tanya Ariel mengerutkan keningnya.


Sesekali Ariel melirik kearah Joel yang sedari tadi memilih diam. Hal itu membuat Ariel yakin bahwa Joel telah mengatakan sesuatu kepada Bram.


"Aku mengenalmu, dan kau akan bersikap seperti ini hanya untuk melindungi seseorang," jawab Bram.


"Apa yang kau pikirkan jika aku mengatakan mereka melakukan hal buruk?" tanya Ariel.


"Apa saja yang mungkin berguna," jawab Bram.


"Termasuk kau akan melampiaskan kepada orang yang tidak bersangkutan?" tanya Ariel melipat kedua tangannya.


"Mungkin," jawab Bram sedikit abai.


"Tidakkah kau merasa itu tindakan tidak profesional?" tanya Ariel.


"Entahlah," jawab Bram menaikan kedua bahunya.


"Kau terdengar memilih untuk bersikap impulsif, dibadingkan dengan mencari jalan keluar yang lebih baik," sambut Ariel.


"Bukankah sikap impulsif terkadang di perlukan?" balas Bram.


"Ya, hanya jika orang itu bisa mengendalikannya," jawab Ariel.


"Aku hanya bertanya, apakah mereka bersikap buruk padamu atau tidak," balas Bram.


"Aku sudah menjawabnya," jawab Ariel. "Dan jawabanku masih sama," imbuhnya.


"Baiklah kalau memang begitu jawabanmu, ini ku anggap selesai?" sambut Bram.


'Huuft,,, aku hampir saja mengeluarkan amarahku,' desah Bram dalam hati.


"Maaf jika saya menyela," ucap Oscar.


Serentak Ariel, Bram dan juga Joel menoleh kearah Oscar.


"Ya?" sambut Ariel.


"Apakah mereka memperlakukan anda dengan tidak seharusnya selama mereka bersama anda, nona?" tanya Oscar dengan wajah cemas.


"Sama sekali tidak," jawab Ariel. "Aku menikmati waktuku bersama mereka. Mereka bahkan bisa membuat lagu luar biasa yang bisa ku dengar," tambahnya.


"Lagu?" ulang Oscar.


"Yang mereka maikan malam ini adalah ciptaan mereka sendiri," ungkap Ariel.


"Darimana kamu tau?" celetuk Albert.


Albert segera menutup mulutnya saat Ariel menoleh padanya.


"Maaf, saya tidak bermaksud menyela," ucap Albert kembali menunduk.


"Aku tau dari kalian sendiri," jawab Ariel tersenyum.


"Dan,, Albert, ayolah, kenapa sekarang kamu sekaku itu padaku? Bukankah kau menganggap aku teman?" tanya Ariel.


"Saya_,,,"


"Aku tidak menerima sikap formalmu," potong Ariel.


"Saya minta maaf atas sikap saya sebelumnya," ucap Marc tiba-tiba.


"Haahh,,," desah Ariel.


Ariel menghela nafas panjang, menatap mereka yang masih tetap menundkkan kepala mereka.


Joel dan Bram memilih diam seolah ingin memberi Ariel ruang. Sedangkan Oscar yang tidak tau apapun hanya menatap Ariel dan tim Albert secara bergantian, mencoba untuk mencerna situasi yang terjadi.


"Dengar,,! Apapun yang terjadi sebelum ini, tolong, tidak perlu dibahas lagi. Reaksi yang kalian perlihatkan padaku, terutama kalian berdua, Marc dan Marius, itu hanyalah reaksi defensif yang akan ditunjukan oleh sapapun,"


"Perbedaannya adalah, sampai sejauh apa reaksi itu dilakukan oleh seseorang. Aku tidak akan mengatakan apakah sikap kalian baik atau buruk, kalianlah yang lebih tau tentang itu,"


"Namun, aku sungguh-sungguh menikmati waktuku bersama kalian," tutur Ariel.


Perkataan tulus Ariel perlahan mampu membuat mereka mulai mengangkat wajah mereka.


Ariel tersenyum hangat, mereka bahkan tidak melihat sedikitpun tatapan intimidasi yang biasa mereka terima dari orang-orang yang pernah mereka temui hanya karena mereka memiliki kedudukan lebih tinggi.


Mereka bisa melihat dengan jelas sosok Ariel sangatlah berbeda. Perlahan, senyum tipis mulai terbentuk di bibir mereka. Hingga pada akhirnya mereka mengucapkan terima kasih dan meninggalkan gedung.


Beberapa menit setelahnya, Ariel dan Joel juga pergi diikuti Bram, meninggalkan gedung Palais Granier yang selalu menjadi tempat untuk pertunjukan orkestra ataupun teater.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


#### Keesokan harinya.


Mata Joel membulat sempurna saat ia keluar dari hotel tempatnya menginap bersama Ariel melihat Bram tengah menunggu dihalaman hotel.


Dengan senyum cerahnya, Bram melambai kearah mereka berdua.


"Bagaimana kau bisa berada disini?" tanya Joel saat Bram menghampiri mereka.


"Bukankah aku sudah bilang bahwa aku ingin ikut berlibur," jawab Bram santai.


"Kenapa harus bergabung bersama kami?" sambut Joel.


"Sudahlah, biarkan saja dia bergabung," sela Ariel menengahi mereka.


"Tapi kan_,,,"


"Ariel saja tidak masalah," potong Bram meyeringai.


"Baiklah," jawab Joel mengalah.


Bram tersenyum penuh kemenangan. Namun, saat mereka akan memulai perjalanan mereka, ponsel Bram berdering.


Bram segera mengeluarkan ponselnya dan melihat nama Sam tertera di layar ponsel.


"Ya?" sambut Bram menempelkan ponsel di telinganya.


"Saya sudah mendapatkannya tuan," ucap Sam.


"Meskipun ini belum seluruhnya, tapi ini sangat cukup jika tuan ingin melawan tuan besar," jelas Sam.


"Saya bahkan menemukan beberapa dokumen ilegal dan juga dokumen tentang perjodohan anda," jelasnya.


"Dimana kamu sekarang?" tanya Bram.


"Saya dikantor cabang, di ruangan anda," jelas Sam.


"Pergilah dari sana, dan pindah ke gedung sebelah. Aku segera kesana," titah Bram.


"Baik," jawab Sam.


Panggilan berakhir dengan meninggalkan kerutan tajam di dahi Ariel dan juga Joel.


"Apakah terjadi sesuatu?" tanya Ariel.


"Maaf, aku harus pergi sekarang, ada masalah pekerjaan," ucap Bram.


Saat Bram akan bergerak pergi, tangan Ariel secara tidak sadar menangkap pergelangan tangan Bram.


"Tunggu, Bram!" tahan Ariel.


"Ada apa? Apakah hal buruk terjadi?" tanya Ariel.


"Hanya masalah pekerjaan, dan mereka gagal mengatasinya. Aku tidak mungkin membiarkan mereka, bukan?" kilah Bram.


"Kau yakin hanya itu?" tanya Ariel lagi.


"Tentu saja, dan lagi, sepertinya ini memang diharuskan untuk menjadi hari kalian berdua," jawab Bram terkekeh pelan.


"Selamat bersenang-senang," ujar Bram.


Bram menepis tangan Ariel dengan lembut, lalu bergegas pergi. Meninggalkan mereka dengan pikiran mereka masing-masing.


'Apa yang sebenarnya disembunyikan olehnya?' batin Ariel.


'Apakah ini ada hubungannya dengan Ariel? Aku masih belum bisa menemukan bukti bahwa pelaku yang hampir menculik Ariel saat itu adalah dia,' batin Joel.


Mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka setelah mobil yang di gunakan Bram menghilang dari pandangan mereka.


"Apakah Bram juga memiliki mobil juga rumah di setiap tempat yang terdapat cabang perusahaannya?" celetuk Joel.


"Haa,,,???" Ariel memiringkan kepalanya menatap Joel yang memasang wajah serius.


"Kurasa dia memiliki kehidupan berbeda yang tidak bisa kita mengerti," sambut Ariel menaikkan kedua bahunya.


"Bukankah kamu pernah bersamanya? Tentu dia memperlakukanmu dengan istimewa mengingat betapa kayanya dia," ujar Joel dengan suara skeptis.


"Ya, itu memang benar," jawab Ariel tersenyum kecut.


Perubahan suara Joel ketika mengatakan hal itu, untuk sesaat mengusik hati Ariel. Hal yang semula ingin ia katakan pada Joel, mau tak mau ia telan kembali. Merasa akan terasa sia-sia jika mengatakan hal itu sekarang.


"Maaf, aku tidak bermaksud begitu," sesal Joel saat menyadari perubahan wajah Ariel.


"Bukan salahmu, dan aku juga tau kamu tak bermaksud untuk itu," sambut Ariel.


Sementara Joel dan Ariel yang akan menempuh perjalanan selama beberapa jam, di tempat lain Bram memasuki sebuah gedung kosong dimana Sam telah menunggunya.


Sam menunggu disalah satu ruang yang telah rapikan sebelumnya. Pandangannya tertuju pada gedung yang berada disebelahnya, dimana gedung itu adalah salah satu perusahaan yang pernah dikelola Bram hingga mencapai puncaknya.


Bertepatan dengan terbukanya pintu ruangan dimana Sam berada didalamnya, Bram masuk dan segera menghampiri Sam.


Sam memberikan beberapa dokumen kepada Bram yang segera membacanya.


"Tidak,,," ujar Bram mengelengkan kepalanya.


"Ini memang cukup jika hanya untuk membungkamnya, tapi kurang jika ingin mengalahkannya,"


"Aku masih memerlukan lebih banyak dari ini," ucap Bram sembari membuka lembar demi lembar dokumen ditangannya.


"Apakah ada lagi yang kamu temukan?" tanya Bram.


"Saya agak kesulitan mencarinya, entah sejak kapan, banyak sekali kamera dipasang disetap sudut kantor, termasuk ruangan anda," papar Sam.


"Apa?" seru Bram terkejut.


"Apakah kau juga tertangkap kamera?" tambahnya.


"Tidak, tuan. Saya menyadari adanya kamera sebelum saya masuk kedalam kantor, jadi saya mencari tempat dimana titik buta kamera berada, dan itu membantu saya tidak tertangkap kamera,"


"Hanya saja, pergerakan saja menjadi sangat terbatas," terang Sam.


"Sejak kapan?" desis Bram dengan suara kesal.


"Aku yang menaikan nama perusahaan ini, kenapa sekarang Ayah seenaknya merubah apa yang sudah aku kelola," geram Bram berusha menahan diri untuk tidak merobek dokumen di tangannya.


"Saya berasumsi, tuan besar ingin menjatuhkan anda dengan cara ini. Karena disini nama andalah yang tertulis dalam bisnis ilegal yang sedang berjalan,"


"Memaksa anda menikah dengan menjadikan hal ini sebagai ancaman, dan berpikir anda akan menuruti semua yang tuan besar katakan," papar Sam menjelaskan pemikirannya.


Bram mengusap wajahnya dengan frustasi. Mencoba memikirkan cara apa saja yang bisa ia lakukan untuk membalik keadaan.


'Satu-satunya orang yang bisa membantku saat ini adalah dia, karena dia memiliki koneksi lebih kuat dari Ayah. Tapi, aku tidak yakin dia akan membantu,' batin Bram.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


To be Continued


Penjelasan singkat.


-Impulsif\=> perilaku seseorang ketika melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya dan dilakukan secara berulang-ulang.


-Defensif\=> Sikap engan mengakui kesalahan sebagai bentuk pertahanan diri. Biasanya muncul ketika seseorang merasa malu, cemas atau marah.