I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
140. Pernyataan



Keheningan yang sempat terjadi berakhir ketika Ariel kembali membuka suara.


"Pada kenyataannya, saya bahkan tidak memiliki ketertarikan sedikitpun padanya selain menjalin hubungan sebagai teman dengannya. Bukan karena ada yang kurang dari Darcie, melainkan karena saya hanya bisa mencintai satu orang,"


"Uhmm,,,maaf, sepertinya tanpa sadar saya menggunakan nama yang tidak seharunya. Uhm,,, maksud saya,,, tuan Adonis, hheerrr,," ucap Ariel seketika bergidik sendiri mendengar kalimat yang keluar dari bibirnya.


Darcie seketika terbahak dengan suara keras sembari menunjukan jempolnya pada Ariel. Membuat semua tamu tercengang melihat betapa Ariel sangat santai berada didepan Darcie, bahkan terkesan bersikap seenaknya


"Uhm,,, Darcie," ujar Ariel menoleh kearah Darcie yang masih tertawa.


"Bisakah aku mengunakan nama itu saja? Lidahku akan sering tergelincir jika mengunakan nama A_,,Adonis padamu," terang Ariel tanpa beban.


"Lakukan sesukamu Ariel, caramu terlalu unik untuk dihentikan," jawab Darcie disela tawanya.


Nyali mereka yang sebelumnya mengeluarkan kata-kata kasar seketika menciut tatkala melihat Ariel bisa membuat Adonis yang mereka segani tertawa sampai terbahak.


"Kami berteman bahkan sebelum saya menikah," ungkap Ariel. "Tentu saja suami saya juga mengenalnya dan mereka juga berteman,"


"Logika saja, jika memang kekayaan yang saya inginkan, orang seperti Darcie yang akan saya incar, bukan orang yang berada dibawahnya," ujar Ariel.


"Suami saya mungkin tidak bisa dibandingkan dangan Bram. Namun mereka juga memiliki sisi yang sama. Mereka berusaha keras untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Bahkan, untuk berada diposisinya saat ini, perlu usaha bertahun-tahun untuk mencapainya," papar Ariel.


"Benarkah kalian berdua pernah menjalin hubungan asmara?"


Pertanyaan itu seolah terlontar tanpa sengaja hingga orang yang bertanya membekap mulutnya sendiri dan menundukkan kepalanya.


Sementara Ariel hanya terenyum simpul mendengar pertanyaan tanpa bermaksud untuk mengintimidasi yang ditanyakan orang itu.


"Benar," jawab Ariel membuat semua orang terkejut.


"Hanya saja, hubungan kami berakhir dengan cepat, dan itu berakhir sebelum saya dikenal sebagai pemusik," ungkap Ariel.


"Saya tidak tau persis apa saja yang sudah anda sekalian dengar tentang saya dan Bram. Alasan kenapa hubungan kami berakhir, kami lebih memilih untuk menyimpannya dihalaman masa lalu kami, kenapa harus mempertanyakan hal yang telah berlalu beberapa tahun lalu?"


"Jika kalian mengatakan Bram yang bersalah, maka saya akan mengatakan sayalah yang bersalah. Dan Bram akan membalas bahwa dirinyalah yang bersalah, itu hanya akan menjadi drama panjang saling menyalahkan diri sendiri,"


"Jika kami berhasil berdamai dengan diri kami sendiri, apakah masuk akal kalian yang bahkan tidak terlibat andil apapun justru menghakimi apa yang kami lakukan?"


Suasana masih hening, tak seorangpun membalas apa yang dikatakan Ariel. Meski demikian, beberapa orang masih memberikan tatapan tak puas diwajah mereka.


"Memang benar, sebagian dari pemikiran kita akan menganggap ketika hubungan berakhir, akan menarik kesimpulan bahwa orang itu hanya ingin mencari orang yang lebih dari berbagai aspek,"


"Namun, ada satu hal yang harus kalian tau,"


"Saya memiliki kehidupan sempurna, dan saya tidak akan pernah mau jika harus menukar kehidupan sempurna yang saya dapatkan dengan kekayaan tak peduli seberapa banyak kekayaan itu,"


"Saya memiliki suami yang penuh kasih, sahabat melebihi saudara, bahkan seorang adik menyebalkan yang selalu peduli kepada saya, dimana hubungan kami sebelumnya hanyalah hubungan pelatih dan murid,"


"Apa lagi yang saya inginkan ketika saya sudah mendapatkan semuanya?"


Selama beberapa saat, Joel memandangi istrinya. Mendengar apa yang dikatakan sang istri di hadapan semua orang membuatnya merasa keberadaannya diakui dan di hargai. Sampai Ariel beralih menatap suaminya, tersenyum seolah mengucapkan terima kasih.


"Diantara semua orang yang saya kenal, hanya dia sosok sempurna bagi saya," ucap Ariel menatap lekat wajah suaminya.


Pernyataan Ariel perlahan menghapus pandangan miring yang sebelumnya ia terima. Hingga Bram tiba-tiba bergabung bersama Ariel sembari mengandeng Jesica.


"Jika kalian masih meragukan pernyataan Ariel, sekarang akan saya katakan, dialah orang yang saya cintai, bukan Ariel. Dan kami semua bersahabat sejak lama," ungkap Bram sembari menunjuk Jesica.


Bram menjalinkan jemarinya dengan jemari Jesica yang terlihat sedikit terkejut dengan pernyataan Bram, namun memilih tidak mengatakan apapun.


"Persahabatan kami mungkin terlihat seperti tidak masuk akal, tapi itulah kenyataannya. Kami berempat bersahabat," ungkap Bram.


"Saya akan menegaskan sekali lagi disini, bahwa apa yang dikatakan tuan Evrad, yang tidak lain adalah ayah saya, semua itu hanyalah kebohongan,"


"Saya dan Ariel memiliki kemiripan dalam satu hal, dimana kami hanya akan mengatakan apa yang ada didalam kepala kami,"


"Dan saya tidak ingin, usaha kami sia-sia ketika kami memilih untuk memaafkan diri kami sendiri, memperbaiki hubungan kami dengan persahabatan yang justru lebih baik dari sebelumnya," tutur Bram dengan kesungguhan.


PROK


PROK


PROK


Suara tepuk tangan keras Darcie berhasil menarik semua orang untuk mengikuti apa yang dilakukan olehnya.


"Apakah itu artinya, ini adalah acara double date kalian?" goda Darcie.


"Hei,,, kaulah yang mengundang kami disini, bukankah itu artinya kaulah yang merencanakan ini?" sambut Ariel.


"Okey,,, tapi kamu harus ingat ini, Ariel," jawab Darcie tersenyum lebar.


"Aku tidak tau jika kamu memiliki hubungan dengan mereka,"


"Aku mengundang mereka karena mereka pernah mengajukan tawaran kerjasama, dan sekarang aku bisa mengatakan aku akan menerima tawaran mereka," ucap Darcie.


"Apakah anda serius, tuan Adonis?" sela Bram dengan tatapan tak percaya.


"Tentu saja, lagipula jika kau sampai melakukan kesalahan, aku hanya perlu meminta pertanggung jawaban pada Ariel," jawab Darcie seenaknya.


"Kenapa rasanya selalu aku yang dijadikan sasaran?" gerutu Ariel.


"Kalau begitu, tepati janjimu! Dan kamu akan kulepaskan," pinta Darcie.


"Kau janji akan bermain piano di acaraku, ingat?" ucap Darcie mengedipkan matanya.


"Aku menantikan permainan pianomu sejak lama, dan sangat ingin melihatnya secara langsung," tutur Darcie.


"Dengan senang hati," jawab Ariel. "Khusus untukmu, aku akan mempersembahkan lagu yang baru aku buat," imbuhnya.


"Sebuah kehormatan bagiku," jawab Darcie tersenyum senang.


Joel kembali menjauh untuk sementara, membiarkan istrinya bermain piano tanpa gangguan. Sementara disudut lain, Jesica menarik paksa Bram menjauh dari kerumunan orang-orang ketempat yang lebih sepi.


"Apa maksudmu mengatakan hal seperti itu,Bram?" sentak Jesica.


"Untuk menyelamatkan dirimu sendiri, kenapa harus aku yag kau tarik kedalamnya?" imbuhnya.


"Aku mengatakan yang sebenarnya, apakah itu salah?" balas Bram dengan suara tenang.


"Untuk melindungi Ariel, benar bukan?" cibir Jesica.


"Kau tau? Aku bahkan mulai muak sekarang dengan sikap yang kau tunjukkan. Aku diam karena hal ini bisa melindungi Ariel, jika bukan karena itu, aku akan mengatakan pada semua orang bahwa apa yang kau katakan hanyalah omong kosong," sergah Jesica.


Jesica membalikkan badannya dengan kekesalan menghiasi wajahnya. Namun, sebelum Jesica bisa melangkah jauh, Bram mencekal pergelangan tangan Jesica dan mendorong tubuhnya ke dinding, mengurung Jesica diantara kedua tangan Bram.


"Kenapa harus selalu Ariel yang kau sebut? Kenapa kau selalu menganggap apa yang kulakukan hanya atas dasar perasaanku padanya?" cecar Bram.


"Karena kau mencintainya seperti orang gila," jawab Jesica sembari mendorong Bram dengan kasar.


Jesica memberi tatapan tajam pada Bram, dan berlalu meninggalkan Bram.


"Apa yang harus ku lakukan untuk membuktikan bahwa aku mencintaimu, Jes?" tanya Bram lirih.


Langkah Jesica terhenti, lalu berbalik menatap Bram dengan tatapan tak percaya.


"Apa?" Jesica mengerutkan keningnya.


"Apa kau sedang mencoba untuk mempermainkanku, Bram?" cibir Jesica tersenyum kecut.


"Bahkan tidak sedikitpun," jawab Bram.


"Aku mencintaimu, namun aku juga tidak bisa memaksamu untuk bersamaku. Dan aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya," ungkap Bram.


"Apa yang aku rasakan sekarang, jauh berbeda dengan yang dulu aku rasakan,"


"Tapi, aku bisa merasakan dengan cara yang sama. Perbedaannya adalah, orang itu bukan lagi Ariel, tapi kamu," papar Bram.


Tanpa sadar, air mata Jesica bergulir. Merasa penantiannya tidaklah sia-sia.


"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, bahkan jika kamu tidak menjawabnya sekalipun, itu tak akan merubah perasaanku. Aku mencintaimu tanpa syarat," ucap bram lagi ketika Jesica hanya diam tanpa suara.


Bram tersenyum getir, merasa sekali lagi ia terlambat dalam melangkah. Namun, tanpa di duga, Jesica menghambur ke pelukannya, memeluk Bram dengan erat seraya berbisik di telinganya.


"Dasar bodoh! Kau membuatku menunggu terlalu lama hanya untuk mengatakan itu," ucap Jesica terisak bahagia.


"Aku juga mencintaimu, sejak dulu dan itu tidak berubah hingga sekrang," ungkap Jesica.


Bram mendorong Jesica menjauh, menatap matanya seolah ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Sungguh?" tanya Bram.


Jesica mengangguk pelan.


"Katakan sekali lagi," pinta Bram.


"Satu-satunya pria bodoh yang kucintai adalah kau, Bram. Aku mencintaimu," ungkap Jesica.


Bram kembali menarik Jesica kedalam pelukannya, mengangkat tubuhnya lalu memutarnya dengan perasaan bahagia. Perasaan bahagia yang bahkan tidak pernah ia bayangkan dapat ia rasakan.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Terima kasih sudah menungguku," ungkap Bram.


"WOHHOOOOO,,,,,,!!!!"


Suara sorakan dari belakang mereka membuat mereka tersentak kaget hingga melepaskan pelukan mereka dan berbalik kesumber suara.


Ariel, Joel, Ken, Darcie bertepuk tangan melihat mereka berdua yang akhirnya bersatu, turut bahagia melihat sahabat mereka bersatu.


"Sejak kapan kamu disana, Ariel?" tanya Jesica dengan semburat merah diwajahnya.


"Wwoww,,, ini momen langka melihat seorang Jessi tersipu," goda Ariel.


"Bahkan seorang pria bar-bar juga bisa tersipu, seharusnya aku mengabadikan kejadian tadi dengan memotretnya," timpal Joel.


"Akan ada pesta lagi," sambung Ken terkekeh.


"Berisik," sambut Bram memalingkan wajahnya.


Joel dan Ken merangkul sahabat mereka, termasuk Ariel juga segera memberikan pelukan hangat untuk sahabatnya. Membawa serta Alice yang tidak mengetahui cerita apapun untuk mereyakan kebahagiaan mereka. Sementara Darcie yang menjadi saksi persahabatan mereka tersenyum tipis sebelum pergi meninggalkan mereka bersama Frank untuk melanjutkan rencana mereka.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


To be Continued...