I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
24.Keinginan Bram



"Charlie," jawabnya menyambut uluran tangan Bram.


" Sepertinya anda menyukai musik," komentar Bram menumbuhkan sebuah senyuman di bibir Charlie.


"Saya menyukainya, hanya bukan pengemar," jawabnya.


"Lalu apa yang membuat anda ada disini?" tanya Bram mengerutkan keningnya.


"Saya menerima undangan dari teman saya, saya keluar karena saya menerima panggilan penting yang tidak bisa saya abaikan," terang Charlie.


" Bukankah di dalam tidak di perbolehkan menggunakan ponsel?" tanya Bram.


" Saya mendapatkan ijin pengecualian," jawab Charlie.


"Begitu ya," sambut Bram menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana dengan anda? Apa yang membuat anda berada disini?" tanya Charlie.


" Ah, tolong jangan bersikap formal. Itu benar-benar terasa aneh," ucap Bram menyisir rambutnya dengan jari tangannya.


" Baiklah," jawab Charlie tersenyum ramah.


" Aku pun mendapatkan undangan untuk datang kesini. Aku hanya sedikit merasa tidak nyaman di dalam dan mencari udara segar di luar sebentar," papar Bram.


" Patah hati?" celetuk Charlie lalu tertawa ringan. " hanya bercanda" ralatnya.


" Sejujurnya ya," jawab Bram tersenyum getir.


"Ah, maafkan aku, aku tidak bermaksud," ucap Charlie menyesal.


" Tidak, kamu tidak melakukan kesalahan. Aku sendiri tidak tau bagaimana ini terjadi," terang Bram.


" Apakah dia menolakmu?" tanya Charlie.


"Tidak," Bram mengelengkan kepalanya. " Tapi aku pernah menyakitinya, dan aku sangat berharap dia kembali. Tapi, kurasa sekarang itu sangat mustahil," jelasnya.


" Karena dia mencintai orang lain?" tebak Charlie.


"Hampir, hanya dia belum menyadari bahwa dia mencintai orang itu," sambut Bram.


"Maksudmu, kalian saling mengenal?" Charlie melebarkan matanya.


"Aku mengenalnya berawal dari dia. Dan aku juga melihat orang itu juga mencintaiya, tapi aku terus saja menyangkalnya. Sekarang semua terasa lebih jelas dan itu memang menjadi akhir bagiku," ungkap Bram.


" Aku tidak pandai dalam menghibur orang lain, tapi aku sangat mengerti yang kamu rasakan," terang Charlie.


" Ah.. Maafkan aku. Aku jadi banyak bicara padamu. Padahal kamu juga harus segera kedalam untuk pertunjukan yang sedang berlangsung," sesal Bram.


"Aku tidak keberatan, sejujurnya kisahmu, aku pernah melihatnya menimpa pada kenalanku. Itulah sebabnya aku bisa mengatakan bahwa aku mengerti perasaanmu," terang Charlie.


"Jadi bukan kamu yang mengalaminya?" celetuk Bram.


Charlie tertawa ringan untuk beberapa saat lalu melanjutkan.


"Itu terjadi pada sahabatku," ungkapnya.


"Menurutmu apa yang harus kulakukan,"tanya Bram.


"Hanya satu. Merelakannya," tegas Charlie. "Memang terdengar seperti aku terlalu kejam mengatakan hal seperti itu, tapi jika kita bertingkah seolah kita bisa mendapatkannya kembali dengan menunjukkan cinta kita padanya, hal itu justru akan menciptakan jarak baru yang membuatmu akan lebih sulit untuk menjangkaunya," terang Charlie.


"Akan lebih berguna jika kita tetap ada untuknya dan tetap mencintainya namun tidak memaksakan kehendak kita. Dan ketika hati kita siap, maka kita bisa melepaskannya," sambungnya.


" Jika cinta yang kita miliki adalah cinta tanpa syarat, hal itu akan mengalir begitu saja. Bukan karena kita melakukan karena sebuah tuntutan,"


Charlie menjelaskan dengan hati-hati. Sedangkan Bram termenung meresapi semua yang di katakan Charlie.


Ya, Ariel bersikap baik padanya dan tetap peduli padanya saat dirnya tidak menunjukan perasaannya pada Ariel. Berbeda dengan ketika Ia bersikap dengan menunjukan perasaannya. Sikap dingin Ariel dan dinding tebal kembali dibangun dengan kokoh.


Begitu pula saat dirinya membiarkan semua mengalir sesuai dengan ketulusan hatinya, dan tanpa sebuah desakan, Ariel kembali bersikap lembut. Walaupun kelembutan itu jelas berbeda dengan kelembutan yang Ariel tunjukkan kepada Joel.


"Cih, aku sudah kalah telak darinya, tak perlu melakukan hal yang terlalu menunjukan perasaanku lagi, tapi jika aku menganggap Ariel sebagai saudara, apakah itu akan berhasil?' batin Bram.


"Apa yang sedang kamu lakukan disini, Charlie? Apakah kamu tau bahwa aku mencarimu?"


Suara yang sangat di kenal Bram terdengar dari balik punggungnya. Setelah menarik nafas dalam, Bram menoleh dan tersenyum.


"Maaf, aku yang sudah menahannya," ucap Bram.


"Eehh,,, kalian saling mengenal?" Ariel berseru kaget.


"Lebih tepatnya baru saja mengenal," ralat Charlie.


"Apa yang membuatmu disini, Bram?" tanya Ariel.


"Oh,,, jadi Bram adalah temanmu,?" Charlie menyela pertanyaan Ariel.


Charlie memperhatikan reaksi Bram dan menyadari bahwa orang yang baru saja di ceritakan Bram, tidak lain adalah Ariel.


'Kelihatannya Bram ingin keluar dari situasi ini, apakah tebakanku benar atau tidak, aku akan melihatnya segera,' batin Charlie.


"Yah,,, dia adalah temanku. Aku bisa mengerti kenapa kamu menghilang. Tapi aku tidak mengerti apa yang membuat Bram pergi meninggalkan ruangan?" Ariel mencoba menerka dan menatap Bram yang kini memalingkan wajahnya.


"Tak ada alasan, aku hanya ingin mencari udara segar setelah mendapatkan panggilan dari seseorang," kilah Bram.


"Tck,,, jika kau mau berbohong, carilah alasan yang lebih baik," decak Ariel berkacak pinggang.


Bram menoleh lalu meringis dan menaikan bahunya.


'Dia bahkan masih mengingat hal kecil itu dariku. Menyebalkan, hal ini akan membuatku lebih sulit untuk melepaskanmu, Ariel,' keluh hatinya.


"Baiklah,,,Baiklah,," sambut Bram mengangkat kedua tangnnya. " Aku memang mencari udara segar karena aku sedang kesal. Dan aku tidak ingin mengacaukan acarmu, terlebih itu adalah pertunjukan yang penting bagimu," sambung Bram.


Bram menatap mata Ariel saat mengatakannya, membuatnya kembali mengingat masa indah saat mereka bersama.


'Kenapa aku dulu meninggalkannya hanya karena alasan konyol? Kenapa aku menyakitinya dan memilih wanita itu?kenapa aku,,,' Bram merutuk dirinya sendiri dan kembali memalingkan wajahnya.


"Baiklah, sekarang kita masuk saja, Ariel," sela Charlie merasa tidak tega dengan situasi yang dihadapi Bram.


Charlie mengandeng Ariel kembali masuk dan memberi Bram waktu untuk sendiri selama beberapa saat. Sebelum pergi, Charlie menoleh dan mengedipkan mata pada Bram.


"Apa yang kalian bicarakan sebenarnya? Kalian tampak akrab?" tanya Ariel.


"Hemmm,,," Charlie begumam sesaat sebelum melanjutkan. " Tak ada yang istimewa sebenarnya, tapi aku merasa dia terlihat kesepian," tutur Charlie hati-hati.


"Kamu merasa seperti itu?" tanya Ariel dengan alis terangkat.


"Anggap saja itu hanyalah firasatku, dan yah, aku hanya terbawa dengan kebiasaan pekerjaan," kilah Charlie.


"Tapi katakan padaku, apakah kamu menyukainya?" pancing Charlie.


"Apa yang mmbuatmu berpikir seperti itu?" tanya Ariel dengan alis terangkat.


"Hanya ingin memastikan firasatku saja, apakah benar atau salah," jawab Charlie.


"Apakah kau akan percaya jika aku mengatakan bahwa dia adalah bagian dari masa lalu yang ingin aku lupakan?" tanya Ariel memelankan suaranya sembari menatap Charlie.


"Aku percaya," jawabnya tanpa ragu.


"Secepat itu kamu percaya?" sambut Ariel menyipitkan mata.


"Karena kau bukan orang yang suka berkata omong kosong, jadi aku tau apa yang kamu ucapkan adalah benar. Dan lagi, aku bisa melihat bahwa kamu berkata jujur," balas Charlie.


"Bagian dari pekerjaan, apakah benar begitu?" sambut Ariel.


" Aku menghadapi banyak orang, Ariel. Dan hal itu membuatku belajar banyak bagaimana melihat orang itu berkata jujur atau tidak," terang Charlie.


"Memangnya apa pekerjaanmu?" sela Bram.


"Polisi," jawab Ariel.


"Tunggu sebentar,,," Bram memasukkan telunjuk ke lubang telinganya dan mengetuk-ngetukkan kedua telapak tangan pada dua telinganya.


"Kurasa, aku salah mendengar sesuatu. Tadi kamu mengatakan apa,Ariel?" tanya Bram tidak percaya dengan yang di dengarnya.


"Kau tidak salah dengar. Dia seorang POLISI," tegas Ariel.


"APAAA,,,??" seru Bram.


"Apakah ada yang salah?" tanya Charlie santai.


"Tidak,,, sejujurnya tidak ada yang salah. Tapi aku sungguh tak menyangka kamu seoarang polisi," ucap Bram.


"Kenapa begitu?" tanya Charlie.


"Entahlah," jawab Bram menaikkan bahunya. " karena kamu cantik," sambungnya.


"Apakah kau sedang mengodaku?" sambut Charlie meyipitkan matanya.


"Tidak," jawab Bram santai. " hanya mengatakan apa yang terlintas di pikiranku," sambungnya.


"Terima kasih atas sanjungannya," jawab Charlie.


Bram tersenyum dan kembali mengarahkan pandangannya pada Ariel.


"Bisakah aku bicara denganmu berdua saja, Ariel?" harap Bram.


"Baiklah, aku akan memberi kalian waktu. Aku akan menunggumu di belakang panggung," ucap Charlie menepuk bahu Ariel sembari mengedipkan mata.


Ariel meringis tidak setuju saat Charlie meninggalkannya, namun Charlie tersenyum meyakinkan dirinya bahwa Ariel harus menerima ajakan Bram.


Sesaat setelah Charlie pergi, Bram mengulurkan tangannya dengan senyum tulus menghiasi wajahnya.


"Aku hanya ingin berbicara baik-baik. Dan aku juga janji tidak akan ada paksaan lagi," janji Bram.


"Baiklah. Tapi apakah kamu juga bisa berjanji ini tidak akan lama?" tanya Ariel masih belum menerima uluran tangan Bram.


"Aku janji tidak akan membiarkanmu malu di acaaramu sendiri,Ariel." tegasnya.


"Sepakat," jawa Ariel sembari menerima tangan Bram.


Mereka berjalan menuju tempat yang agak sepi. Berdiri bersandar di sebuah pagar pembatas di mana dibawah mereka terdapat sebuah danau yang memantulkan cahaya bulan.


"Apakah kamu akan menjawab jika aku bertanya bagaimana kamu menjalani harimu, Ariel?" Bram bertanya dengan suara pelan seolah ragu apakah itu pertanyaan yang tepat atau tidak.


"Kenapa kamu bertanya?" balas Ariel bertanya.


Ariel menatap Bram yang tengah menatap pantulan bulan di permukaan danau. Tersenyum getir, seakan tengah menyimpan sebuah beban. Detik berikutnya, Bram menghadapkan wajahnya di depan Ariel.


Saat itulah Ariel melihatnya. Kilauan di sudut matanya, kilauan yang di sembunyikan Bram sekuat yang ia bisa namun gagal.


Ariel memilih diam. Memberikan Bram waktu untuk menyusun kata-kata yang akan ia ucapkan padanya.


" Aku mencoba sekuat yang aku bisa, mengunakan cara apa saja untuk bisa mengalihkan pikiranku darimu. Tapi semua itu berakhir dengan sia-sia," ungkap Bram.


Ariel masih diam dan menunggu kelanjutannya.


"Jika aku menceritakan kisahku, apakah kamu keberatan untuk mendengarnya?" tanya Bram penuh harap.


Ariel menatap lekat mata Bram. Mencari sesuatau di bola matanya. Mencari apa yang terlukis di sana. Dan hanya satu yang Ariel lihat. Kehampaan.


Ariel tersenyum meyakinkan lalu mengangguk pasti.


"Aku tidak keberatan," jawab Ariel.


"Sungguh?" tanya Bram penuh harap.


"Ya, Aku serius," balas Ariel.


Bram meraih tangan Ariel, meremasnya lembut lalu mengecupnya.


"Terima kasih," ucapnya haru.


Bram menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan sebelum memulai ceritanya.


...>>>>>>>--<<<<<<<...