
"Dia bahkan sekarang sangat dekat dengan Stave," ujar Jesica seolah memancing Joel agar melarang Ariel datang ke rumahnya.
"Butler itu? Ariel sering menceritakan tentangnya," sambut Joel datar.
"Hei,, dimana sisi cemburu akutmu?" sahut Jesica blak-blakan.
"Masih ada dalam sangkarnya," jawab Joel asal.
"Dan kemana perginya pasanganmu?" balasnya
"Tak perlu menanyakan pertanyaan yang kau tau jelas apa jawabannya," jawab Jesica berdecak kesal.
"Sejujurnya aku sangat senang Ariel sering kemari, dengan catatan tidak melakukan apapun. Tapi, dia justru seperti tangan kanan Steve yang melakukan berbagai hal," terang Jesica.
"Sudah ku bilang bukan? Dia menjadi lebih keras kepala dibandingkan sebelumnya," jawab Joel terkekeh pelan.
"Cih,,," cibir Jesica.
"Apakah kau tidak khawatir jika istrimu kelelahan?" tanya Jesica.
"Aku selalu memeriksa keadaanya setelah aktivitas yang dia lakukan, dan semuanya normal. Dan besok jadwal rutinya untuk cek kandungan," terang Joel.
"Baiklah kalau kau sudah mengatakan begitu," balas Jesica.
Jesica menghebuskan nafas panjang, hingga suara Ariel mengisi jeda keheningan yang terjadi diantara mereka berdua.
"Jessi,,," panggil Ariel.
"Aku disini," jawab Jesica.
Ariel muncul dari balik dinding pemisah ruangan dengan sebuah buku ditangannya, lalu tersenyum ketika melihat suaminya telah datang untuk menjemput dirinya.
"Kapan kamu datang?" sambut Ariel.
"Baru saja, dan Jesica mengeluh karenamu. Apa yang kamu lakukan padanya_,,, aduh,, hei,, apa-apaan?" sungut Joel saat ia gagal menyelesaikan kalimatnya ketika Jesica menginjak kakinya.
"Aku mau istirahat," jawab Jesica mengabaikan Joel dan beralih menatap Ariel.
"Dan untukmu, Ariel,,, tolonglah, jangan terlalu bekerja keras dalam keadaanmu sekarang. Kau bahkan sedikit kesulitan ketika bangun dari dudukmu," saran Jesica.
"Kamu juga sudah banyak membantuku, itu sudah cukup. Lagipula ada mereka yang mengerjakan tugas mereka,"
"Sebagai gantinya, ketika tiba waktunya untuk memilih pakaian pernikahan kami, kamu yang memilihkannya untukku, bagaimana?"
Jesica membujuk dengan harap-harap cemas. Berharap Ariel tidak tersinggung dan salah paham dirinya menolak bantuan dari sahabatnya sendiri.
"Satu lagi," ucap Jesica menunjukkan satu jarinya.
"Kapanpun kamu boleh kemari untuk menemaniku, tapi tidak dengan melakukan pekerjaan yang seharusnya tidak kamu lakukan," sambung Jesica.
"Baiklah," jawab Ariel lesu.
"Hei,, jangan memberikan jawaban dengan wajah seperti itu padaku, kau membuatku menjadi tokoh antagonisnya disini," tukas Jesica dengan wajah memelas.
"Pft,,, ha ha ha,, okey aku mengerti, Jessi. Lagipula besok jadwal kontrol, dan aku tidak bisa datang kemari," jawab Ariel tersenyum.
"Pulang sekarang?" tanya Joel.
"Iya, kita pulang sekarang," jawab Ariel.
"Ini," ujar Ariel menyerahkan buku catatan pada Jesica.
"Aku akan menggunakan semua yang kamu pilihkan untukku, Ariel. Sungguh," ucap Jesica ketika membuka buku yang diberikan Ariel padanya dengan decakan kagum.
Semua detail tentang sovenir, undangan, dekorasi, bahkan menu untuk perjamuan tertulis dengan rapi. Bahkan semua yang dipilih Ariel terlihat sangat teliti dengan memperhatikan apa yang Jesika suka dan tidak. Termasuk selera Bram juga tidak luput dari pemilihannya. Ariel bahkan memberikan pilihan lain yang tidak kalah baiknya, dan hal itu sangat mempermudah Jesica yang akan mengadakan acara pernikahan nanti.
"Sejujurnya aku sangat berharap kamu bisa memainkan piano, tapi_,,,"
"Aku bisa melakukannya," potong Ariel cepat dengan mata berbinar.
"Kalau begitu, kita sepakat," sambut Jesica segera memeluk sahabatnya.
"Berhati-hatilah dalam perjalanan," ucap Jesica.
Ariel mengangguk pelan. Dengan dibantu suaminya keluar dari rumah Jesica menuju mobil yang diparkirkan dihalaman rumahnya.
Joel membukakan pintu mobil dan membantu Ariel duduk dengan sedikit menurunkan sandarannya. Selesai dengan itu, ia mengitari mobil dan masuk ke sisi kemudi. Mereka meninggalkan kediaman Jesica untuk pulang ke apartemen mereka.
"Jadi, apa yang kamu lakukan hari ini?" tanya Joel memecah keheningan selama perjalanan.
"Sebenarnya tidak banyak yang kulakukan hari ini. Para pelayan Jessi melarangku melakukan apapun, dan aku hanya dikamarnya. Memilih beberapa dekorasi dan keperluan lain,"
"Kamu tau? Tuan Evrad bahkan sering datang dan sering bertanya tentangmu, juga menanyakan kondisiku," papar Ariel.
"Senang mendengarnya, semoga saja mereka benar-benar mendukung hubungan anak mereka," sahut Joel.
"Akh,,," Ariel mengerang pelan sembari menegakkan badannya.
"Ada apa? Apakah perutmu sakit?" tanya Joel khawatir, beberapa kali melihat istrinya dan kearah jalan secara bergantian.
"Bukan itu," jawab Ariel.
"Coba rasakan ini," ucap Ariel sembari meraih tangan Joel dan meletakkan diperutnya.
Joel meletakkan tangannya dengan hati-hati sembari pandagannya tetap fokus pada jalan didepannya. Tiba-tiba tangannya merasakan sebuah pergerakan halus seolah sesuatu menendang telapak tangannya, membuat matanya membelalak lebar tak percaya.
"Sweety, ini,,,"
"Tendangannya cukup kuat bukan? Bahkan ini lebih kuat dibandingkan sebelumnya," tutur Ariel tersenyum bangga.
...>>>>>>>--<<<<<<<...
Hari berikutnya.
Dokter Sisca yang selama ini memantau perkembangan kandungan Ariel tengah melakukan pemeriksaan rutin yang dilakukan hari itu. Sang dokter beberapa kali melihat monitor ketika proses USG dilakukan seolah ingin memastikan sesuatu. Wajahnya menunjukan keterkejutan yang tidak bisa ia tutupi.
"Dok, apakah terjadi sesuatu?" tanya Ariel cemas.
"Ah,, maafkan saya. Baiklah, saya akan menjelaskannya," sambut Sisca.
Ariel bangun dari berbaringnya dan turun dari tempat tidur dengan dibantu suaminya.
"Apakah ada masalah dengan kandungannya, dok?" tanya Joel.
"Tidak, tidak ada sama sekali, istri anda sangat sehat, begitu pula dengan kandungan istri anda," jawab dokter.
"Tapi?" lanjut Joel dengan manaikan alisnya.
"Istri anda mengandung kembar, dan keduanya sehat," ungkap dokter Sisca.
"Tunggu," sambut Joel tak percaya.
"Bagaimana bisa? Bukankah diawal istri saya hanya mengandung satu anak laki-laki?" sambungnya dengan wajah bingung.
"Itulah yang membuat saya terkejut, tapi berapa kali saya memeriksanya, itu kembar laki-laki dan perempuan," papar dokter Sisca.
"Kamu tidak hanya memberiku satu hadiah, melainkan dua. Adakah cara terbaik yang bisa kulakukan untuk berterima kasih padamu, Sweety?" ujar Joel mengecup kening Ariel tanpa ragu didepan dokter yang masih bersama mereka
'Aku penasaran dengan bagaimana cara mereka bertemu, dokter Joel terlihat sangat jelas mencintai istrinya,' batin Sisca.
Senyum bahagia mengembang sempurna diwajah Joel. Hal yang sama juga dirasakan Ariel sembari terus mengusap perutnya dengan penuh kasih. Mereka meninggalkan rumah sakit setelah urusan mereka selesai, membawa serta kabar baik yang mereka dapatkan bersama mereka
...>>>>>>>--<<<<<<<...
Hari-hari kembali berjalan dengan begitu cepatnya. Hingga tiba hari dimana Jesica memilih gaun pengntinnya. Mereka memutuskan untuk memilih pakaian ditempat yang sama dengan ketika Ariel menikah. Seolah ingin berada ditempatt yang sama ketika momen bahagia itu menimpa mereka.
Sang pegawai yang melayani mereka seolah mengalami deja vu ketika Ariel mengeleng polos saat Jesica menunjukan penampilannya dengan gaun pengantin.
Dengan duduk santai disofa yang disiapkan dengan sangat baik oleh pegawai yang melayani mereka, Ariel bahkan memiliki bantal empuk di punggungnya.
"Apakah kau balas dendam padaku, Ariel?" gerutu Jesica ketika Ariel kembali mengeleng.
"Gaun itu terlalu feminim untukmu yang selalu bar-bar," jawab Ariel blak-blakan.
"Gaun sebelumnya terlalu polos jika dibandingkan denganmu yang memiliki sisi keras namun penuh kasih," papar Ariel.
"Ganti," ujar Ariel sembari meminum jus ditangannya.
"Kau mengatakan itu tanpa beban?" sungut Jesica sembari menyipitkan matanya melihat sahabatnya justru menikmati apa yang di sediakan pegawai atas perintah darinya.
"Jangan lupakan bahwa aku juga mengalami hal sama," jawab Ariel menjulurkan lidahnya.
"Ya,,, ya,,, ya,,, baiklah, kau rajanya disini," gerutu Jesica kembali mencoba gaun lain setelah pegawai menutup tirai.
Ariel menghubungi suaminya selama menunggu yang langsung di angkat dalam hitungan detik.
📞📞📞 Apa kau memerlukan sesuatu, Sweety?" tanya Joel.
"Heem,, tidak, tapi aku sedikit bosan menunggu Jessi menganti gaunnya. Bagaimana dengan di sana?" tanya Ariel.
"Aku tak menyangka, ternyata Bram sulit menemukan setelan yang cocok," jawab Joel.
"Sepertinya ini yang mereka rasakan ketika kita yang mencoba pakaian pernikahan," ujar Ariel terkekeh pelan.
"Yah,, dan mereka juga merasakan apa yang kita alami," sambut Joel.📞📞📞
"Tidak,! Ganti lagi," ujar Joel sedikit menjauhkan ponselnya.
"Mata empat, kau sedang balas dendam padaku, bukan?" ujar Bram kesal.
"Setelan itu bertolak belakang dengan sifatmu, ganti!" perintah Joel.
"Kau berkata dengan sesantai itu, dan berbicara dengan seseorang?" sambut Bram.
📞📞📞"Bisakah kamu memberi dia obat tidur saja, Bunny?" tanya Ariel.
"Kenapa dia suka sekali menyebutmu begitu?" gerutunya.
"Ingin mengatakan hal itu sendiri padanya?" jawab Joel tertawa.
"Tidak," jawab Ariel cepat.
"Tunggu sebentar, aku tutup dulu, sepertinya Bram butuh bantuan," tutur Joel.
"Baiklah," jawab Ariel.
"Sampai nanti," ucap Joel sebelum mengakhiri pangilannya. 📞📞📞
Ariel menghembuskan nafas panjang, menyandarkan punggungnya yang terasa lebih cepat lelah dibandingkan bulan sebelumnya.
Tirai penutup tempat Jesica menganti pakaian kembali di buka, menampilkan penampilan Jesica yang dibalu dengan gaun putih yang membuat ia terpana ketika melihatnya.
.... .....
To be Continued.