I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
62. Hilang



Disebuah Nightclub, dengan cahaya remang-remang yang berada didalamnya dan suara musik yang menghentak mengiringi setiap orang yang tengah menari bersama pasangan mereka masing-masing.


Pria dan wanita, entah itu pasangan atau bukan saling menempelkan tubuh mereka ketika menari dengan iringan musik disertai tawa lepas mereka.


Disudut lain meja bar, Bram terlihat tengah meneguk minuman yang ada di tangannya. Ia kembali meminta bartender mengisi gelasnya setiap kali gelas itu kosong.


Lingkaran hitam dimatanya, dan mata sayu yang terlihat jelas membuat siapapun yang melihatnya bisa menebak bahwa dia tengah melakukan segala cara untuk melupakan sesuatu yang menimpa hidupnya. Sesuatu yang membuat hatinya terasa sesak.


Disudut lain meja, seorang wanita tengah memperhatikannya. Menunjukan sikap seolah ingin mendekatinya namun ragu-ragu. Suara musik dan cahaya lampu yang redup tidak bisa menutupi wanita itu ketika sebuah senyum tipis tersungging dibibirnya.


Bram mencengkram kepalanya, berpikir keras untuk melakukan sesuatu yang dapat mengalihkan perhatiannya. Ketika ia akan kembali meneguk minuman di gelasnya lagi, sebuah tangan bergerak lebih dulu menghentikannya, membuat Bram menoleh kearah pemilik tangan itu.


"Kau sudah terlalu banyak minum, Bram. Berapa banyak lagi yang akan kau minum?" tegur wanita itu.


"Kau,,?" desis Bram segera menepis tangan wanita itu dari tangannya denga kasar.


"Pergilah! Aku tidak memerlukan orang yang hanya bisa berpura-pura sepertimu," ujar Bram sengit.


"Tidak bisakakah kau berpikir lebih logis lagi, Bram? Dengan kamu bersikap seperti ini tidak akan membuat dia menoleh kebelakang untuk melihatmu," tuturnya dengan lembut.


"Kau tidak perlu meluangkan waktu berhargamu untuk mengurusku, aku bisa mengurus diriku sendiri," dengus Bram.


"Jika dia melihatmu seperti ini, dia tak akan menyukainya," bujuk wanita itu.


"Itu akan terjadi hanya jika kau yang mengatakan hal ini padanya, dan percayalah! Aku akan membencimu jika kau melakukannya," tegas Bram.


"Lagi pula, kenapa kau berada disini?" ujar Bram dengan nada sinis.


"Aku hanya ingin membantumu," jawabnya.


"Dengan membujukku agar memisahkan mereka?" cibir Bram.


"Aku tidak akan melakukan hal itu, dan aku juga tdak akan membiarkanmu melakukannya, Jesica," imbuhnya.


Wanita itu yang tidak lain adalah Jesica menghembuskan nafas panjang setelah mendengar apa yang dikatakan Bram.


Bram kembali meneguk minumannya, kesadarannya perlahan memudar disertai dengan dirinya yang terus merancau tanpa kendali.


Jesica segera memapah Bram keluar dari Nightclub menuju mobilnya, berniat untuk mengantarnya pulang ke apartemennya.


"Hei, Bram, Sadarlah,,!!" ucap Jesica sembari mengoyang bahu Bram.


"Katakan padaku dimana apartemenmu," pinta Jesica.


"Kenapa kau harus tau apartemenku?" jawab Bram balas bertanya.


"Eergh,,," Jesica mengeram kesal sembari menguncang tubuh Bram lebih kuat.


"Bangun,! Bre*n*sek,,!! Katakan sekarang dimana apartemenmu agar aku bisa mengantarmu pulang," hardik Jesica tidak sabar.


"Cih,,, aku tidak akan membiarkanmu tau dimana aku tinggal," jawab Bram dengan mata terpejam.


"Ariel yang bertanya padamu, apa kau tidak akan menjawabnya?" pancing Jesica.


"Benarkah? Apakah Ariel akan berkunjung?" tanya Bram membuka matanya.


Mata Bram mulai memerah, aroma menyengat alkohol tercium setiap kali Bram membuka mulutnya untuk bicara.


"Ya, jawab sekarang sebelum dia marah," jawab Jesica.


"Alamatnya ada di ******, lantai ***," jawab Bram dengan lancar.


Jesica segera menjalankan mobilnya menuju alamat yang disebutkan Bram. Tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan alamat itu, sebuah apartemen yang tidak jauh dari pantai.


Jesica kembali memapah Bram menuju apartemennya. Membujuk Bram untuk membuka pintu yang menggunakan kode khusus.


Dengan susah payah, Jesica membaringkan Bram diatas tempat tidurnya. Kembali menggunakan nama Ariel agar Bram mau buka mulut untuk menunjukan dimana kamarnya berada.


"Dasar merepotkan!" dengus Jesica kesal.


Jesica duduk dikursi berlengan yang berada didekat tempat tidur, menatap Bram yang terbaring didepannya, tertidur pulas setelah merancau panjang yang membuat Jesica menutup telinganya.


Selama beberapa saat, Jesica mengedarkan pandangannya, dan tertegun setelah melihat apa yang ada didepan matanya.


Kamar Bram penuh dengan foto Ariel, foto yang Jesica tau itu adalah foto beberapa tahun lalu. Foto kebersamaan mereka berdua, dan beberapa foto yang terlihat baru dimana itu terlihat jelas berada di pantai yang dikunjungi Ariel dan didapatkan dengan mencuri.


Disudut lain, sebuah gitar akustik putih dan sebuah payung yang memiliki gantungan piano dengan dua lonceng kecil, berada tepat didekatnya.


Jesica mendekati payung itu dan segera mengenali gantungan piano dengan ukiran nama A.E tertulis disana.


"Kau benar-benar menyedihkan, Bram. Kau bahkan menyimpan payung ini," cibir Jesica.


"Kaulah yang melakukan hal bodoh, dan melepaskannya. Dan sekarang kau bertingkah menyedihkan seperti ini," ujarJesica skeptis.


Jesica menatap wajah Bram yang masih terlelap untuk terakhir kali sebelum melangkah keluar meninggalkan apartemen Bram.


Pada keesokan harinya.


"Argh,,, kepalaku sakit sekali," erangnya pelan seraya mencengkram kepalanya.


"Bagaimana aku bisa pulang? Apa yang terjadi tadi malam?" gumam Bram linglung.


Ia menekan pelipisnya, berusaha mengingat kejadian sebelumnya, namun gagal. Bram justru merasakan kepalanya berdenyut saat ia berusaha mengingat.


"Ahh,,, dimana ponselku?" ujar bram sembari meraba celannya.


"Ini dia," ucap Bram seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


Tangannya mengulir ponsel untuk menghubungi seseorang tanpa menyimpan rasa curiga apapun. Ia mendekatkan ponselnya ke telinga ketika panggilannya telah terhubung dengan seseorang.


"Bisakah kau datang kemari, Sam? Dan bawakan sup mabuk untukku! aku akan datang ke kantor setelah membaik," pinta Bram.


"Saya segera kesana, tuan," jawab Sam cepat.


Bram melanjutkan berbaringnya seraya meletakkan punggung tangan didahinya, memejamkan matanya selama beberapa saat, lalu memaksa tubuhnya untuk bangun dan segera berjalan kearah kamar mandi.


Bertepatan dengan Bram yang menyelesaikan ritual paginya, seseorang menekan Bel apartemennya, memperlihatkan sosok pemuda berdiri didepan pintu dengan kotak makan ditangannya.


"Haruskah saya memindahkan ini, tuan?" tanya Sam sopan.


"Tidak perlu! Letakkan saja disana, aku akan langsung memakannya," jawab Bram.


"Sementara itu, tolong urus rapat pagi ini, katakan saja aku dalam keadaan tidak baik dan akan kembali siang nanti," perintah Bram.


"Baik," jawab Sam patuh.


"Tapi, bolehkah saya bertanya, tuan?" ucap Sam hati-hati.


"Alasan kenapa aku mabuk?" tebak Bram yang di jawab dengan anggukan pelan kepala Sam.


"Anda tidak biasanya sampai terlalu mabuk hingga meinggalkan jadwal pagi di kantor," ujar Sam.


"Adakah hal yang membebani pikiran anda?" tanya Sam.


"Bukan apa-apa," kilah Bram. "Mungkin karena pekerjaan terllau banyak akhir-akhir ini dan tanpa sadar aku minum terlalu banyak," imbuhnya.


"Saya mengerti, saya akan segera ke kantor dan mengurusnya. Anda bisa istirahat selama yang anda perlukan," ucap Sam.


"Aku tau bisa mengandalkanmu," puji Bram.


"Dengan senang hati, tuan. Saya pamit," jawab Sam sekaligus pamit.


Bram memakan sup dengan tenang setelah kepergian Sam dan kembali kekamarnya. Ia mengedarkan pandangannya, dan untuk kesekian kalinya ia tersenyum getir.


"Apakah aku sudah gila?"gumam Bram pelan.


"Meski aku mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku merelakannya dan akan melupakannya, tetap saja sangat sulit," desah Bram lirih.


"Tapi, dengan cara ini rasa kosong dihatiku sedikit terobati, meski cara ini akan terlihat menjijikan dimata mereka berdua. Aku hanya perlu menyimpan ini untuk diriku sendiri," ucap Bram pada diri sendiri.


Bram menyibukkan diri dengan komputernya untuk menyelesaikan pekerjaan yang memang menjadi tugasnya. Melupakan segala yang terjadi malam itu dan tidak berusaha untuk mengingatya.


Sesuai dengan janjinya, Bram datang ke kantor saat jam makan siang. Menyibukkan diri dengan bekerja untuk mengalihkan perhatiannya. Namun, ketika hari berganti malam dan pekerjaannya selesai, ia kembali melarikan dirinya ke Nighclub.


Tanpa ia sadari bahwa dirinya selalu diawasi setiap kali datang ke Nightclub, seolah menunggu waktu yang tepat untuk mendekati Bram. Senyuman misterius tersungging di bibirnya setiap kali melihat Bram disana.


Bram kembai duduk dimeja bar dan mencoba untuk mengingat hal terakhir yang terjadi disana.


"Aku ingat ada yang mendekatiku saat itu, tapi siapa?" gumam Bram pelan.


"Aku benar-benar tidak bisa mengingatnya, seorang wanita, tapi siapa?" gumamnya lagi.


Bram meneguk minumannya seraya mengeluarkan ponselnya saat dirasakan ponselnya bergetar disaku celananya.


"Uhukk,,,,,!!!"


Bram tersedak saat ia melihat siapa yang menghubunginya malam itu. Nama 'Ariel' tertera di layar ponselnya, membuat ia mengosok kedua matanya seolah tak percaya Ariel akan menghubunginya.


"Apakah anda baik-baik saja tuan?" tanya bartender khawatir.


"Aku baik-baik saja, tuangkan saja minuman untukku," pinta Bram.


"Tentu," sambut bartender terseyum.


"Ah,, tolong buatkan Negroni untukku," pinta Bram lagi sebelum menjawab panggilan dari Ariel.


"Ya? Ada apa Ariel?" sambut Bram menempelkan ponsel di telinganya.


"Uhh,,, suara brisik apa ini, Bram?"


...>>>>>>>--<<<<<<<...