I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
46. Menemuinya



[@Joel "Aku minta maaf, Ariel"]


Ariel mendesah pelan dan kembali meletakkan ponselnya saat mendengar jawaban Niels.


"Bisakah anda memberi saya waktu untuk menyesuaikan diri dengan anda?" harap Niels.


"Karena kau khawatir itu terkesan tidak sopan padaku?" tebak Ariel yang di jawab anggukan kepala Niels.


"Rasa hormat bukan ditunjukan dari cara kamu menyebut nama seseorang berdasarkan posisinya,"


"Namun, dari bagaimana kamu menerapkan apa yang telah kamu pelajari darinya," Ken menimpali ucapan Ariel hingga mereka mengatakan kalimat yang sama secara bersamaan.


"Kau sangat hobi meniru perkataanku, Ken," sindir Ariel.


"Karena apa yang kak Ariel katakan padaku,selalu ku ingat. Dan tentu saja aku juga menerapkannya," sambut Ken tersenyum lebar.


'Pantas saja dia bisa bertahan lama ketika coach Ariel melatihnya, hubungan mereka akrab sekali,' batin Niels.


'Tapi, harus kuakui, ketika marah memang membuatku merindng,' imbuhnya.


"Saya mengerti, saya akan menyesuaikan diri dengan anda coach- eh kak," ucap Niels.


"Kalau begitu, kembalilah ke ruanganmu. Gerry akan datang sebentar lagi, kau bisa menemuiku lagi setelah jadwal latihanmu berakhir," saran Ariel.


"Baik, saya pamit," ucap Niels membungkukkan badannya lalu menutup pintu setelah keluar.


"Astaga,,, jantungku sampai maraton begini," gumam Niels belum beranjak dari depan pintu sembari mengelus dadanya.


"Mereka terlihat sangat senang saat berlatih, dan terasa hidup," gumamnya lagi.


"Dan kalau tidak salah, dia Ken yang selalu sulit di atur dan selalu menolak untuk latihan kan?"


Niels bertanya-tanya dalam hatinya, ia beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan menuju ruang latihannya.


>>>>><<<<<<<


Disisi lain pada waktu yang sama.


Dirumah sakit, Joel menjadi lebih pendiam dibandingkan sebelumnya. Entah sudah keberapa kalinya, ia memeriksa ponselnya. Berharap mendapatkan balasan yang diinginkan.


Hal serupa juga terjadi pada Bram dan Charlie.


Hingga, seolah telah membuat janji sebelumnya, mereka mendatangi tempat Ariel melatih musik di jam pulang dan tanpa sengaja bertemu disana.


"Apa yang sedang kalian lakukan disini?"


Mereka serentak menanyakan hal yang sama ketika mereka saling berhadapan.


"Aku tentu saja ingin menemui Ariel," jawab Charlie.


"Itu juga yang ingin ku lakukan, itu sebabnya aku disini," sambut Joel.


"Aku juga ingin menemuinya, alih-alih menunggu balasan pesan darinya. Akan lebih baik jika aku menemuinya langsung," timpal Bram.


Mereka saling pandang satu sma lain, lalu mendesah pelan.


"Sudah seperti ini, sekalian saja kita temui bersama," saran Charlie.


"Bukan ide buruk," sambut Bram.


"Aku setuju," timpal Joel.


Mereka melihat beberapa orang keluar dari studio. Sebagian besar dari mereka berusia lebih muda.


Mereka langsung menuju ruang latihan Ariel setelah menyapa orang yang berjaga di lobi. Namun, setelah mereka berdiri didepan ruang latihan Ariel, mereka justru mematung didepan pintu.


Tangan Joel terhenti ketika hendak mengetuk pintu. Ragu apakah Ariel akan menerima kehadiran mereka atau justru akan mengusir mereka.


"Biar aku saja," ucap Charlie.


Charlie menarik nafas panjang dan mengetuk pintu. Beberapa saat menunggu, tidak ada jawaban.


Dengan hati-hati, Charlie membuka pintu, berniat untuk masuk. Namun, gerakannya terhenti saat pintu sedikit terbuka dan ia mendengar melodi dari dua alat musik yang berbeda.


"Dia belum selesai melatih?" tanya Charlie menoleh pada Joel dan Bram.


Mereka berdua yang ditatap Charlie hanya menaikan bahunya. Tanpa berpikir lagi, Charlie melebarkan pintunya, dan mendapati Ariel tengah melatih dua orang dengan alat musik berbeda.


Salah satu dari mereka adalah Ken. Dan satu lagi tidak dikenali oleh Joel dan Bram. Mereka berdua bahkan tidak melihatnya saat menjemput Ariel waktu itu.


Melodi lembut mengalir dari piano yang dimainkan, diiringi dengan melodi dari Cello yang dimainkan Ken.


"Apa yang membuatmu tidak fokus, Niels? Tempo yang kau mainkan terlalu lambat," komentar Ariel pada Niels.


'Apa yang salah dengan nada pianonya? Dia memainkan piano dengan baik, tapi Ariel mengkritiknya?' batin Charlie.


"M-Maafkan saya," jawab Niels terbata.


"Tidak perlu terlalu gugup seperti itu. Aku mengerti jika kamu lelah setelah latihanmu bersama Gerry. Kamu bisa istirahat sebentar," ucap Ariel.


"Kak,,," panggil Ken.


"Apa?" Ariel menatap Ken yang menunjuk belakang Ariel dengan dagunya.


Ariel berbalik dan melebarkan matanya mendapati Charlie, Joel dan Bram telah berada disana.


"Apa yang sedang kalian lakukan disini?" tanya Ariel.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, " jawab Charlie.


"Apakah itu berkaitan dengan kemarin?" tebak Ariel.


"Benar," jawab Bram.


"Kamu tidak membalas satupun pesan yang ku kirim. Jadi satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah menemuimu disini," terang Joel.


"Dan kalian berdua berpikiran sama?" tebak Ariel lagi.


Mereka menganggukan kepala membenarkan.


Ariel menghembuskan nafas panjang, lalu mengarahan pandangannya pada Ken dan Niels yang menghentikan latihan mereka.


"Kita lanjutkan besok," ucap Ariel.


Baik Ken ataupun Niels mengangguk tanpa bertanya dan segera merapikan alat musik mereka.


"Saya pamit, kak. Terima kasih untuk hari ini," ucap Niels membungkukkan badannya sebelum pergi dan tersenyum ramah pada teman-teman Ariel.


"Duduklah,!" pinta Ariel setelah Niels menutup pintu.


Mereka bertiga menurut duduk di kursi panjang tanpa berkomentar.


"Apakah aku perlu membelikan sesuatu untuk tamu kakak?" tawar Ken.


Ariel melirik ketiga temannya sekilas, lalu kembali menatap Ken.


"Tolong ambilkan beberapa kaleng soda dan sedikit kudapan," jawab Ariel.


"Baik, kak. Tunggu sebentar," sambut ken tersenyum dan beranjak pergi.


Mereka duduk berdampingan, sedikit menunduk dan mengigit bibir mereka. Sekilas, mereka melihat tas Ariel tergletak tak jauh dari mereka duduk dengan ponsel diatasnya.


"Baiklah, sekarang katakan, ada apa kalian menemuiku? Apa yang membuat kalian sampai mengharuskan datang bersama kesini?" tanya Ariel.


"Dan tolong jangan berkata aku tidak menjawab panggilan kalian dan membalas pesan sebagai alasannya," imbuhnya.


Mereka bertiga segera mendongak dan menatap Ariel yang melipat tangannya menatap lekat mereka secara bergantian.


"Sebelumnya, aku minta maaf karena menganggu waktumu. Aku sungguh tidak tau jika kamu masih belum bebas dari jam melatihmu," papar Charlie.


"Mereka meminta jam tambahan padaku, dan aku tidak bisa menolaknya," jawab Ariel datar. " Lalu?" lanjutnya menaikkan kedua alisnya.


"Aku- tidak, bukan hanya aku, tapi kami ingin meminta maaf padamu," ucap Charlie.


"Maaf? Untuk?" tanya Ariel mengerutkan keningnya.


"Aku tidak seharusnya membiarkan Jesica datang," tutur Charlie.


Tok,,,


Tok,,,


Tok,,,


Suara ketukan pintu menyela mereka dan Ken muncul dari balik pintu dengan beberapa kaleng minuman dan kudapan.


"Kak, maaf. Hanya ini yang bisa kudapatkan," sesal Ken.


"Deesert kesukaan kakak tidak tersisa sama sekali," ungkapnya.


Ken menghampiri dimana Ariel duduk dan menyerahkan apa yang ada ditangannya.


"Aku tidak memintamu untuk membeli deesert, Ken. Terima kasih sudah membantu membeli ini," sambut Ariel.


"Aku cuma terpikirkan membeli makanan manis untuk kakak karena kak Ariel tidak tidur semalam," jawab Ken.


"Apa maksudmu?" tanya Ariel mengerutkan keningnya.


"Riasan kakak pudar," jawab Ker tersenyum lebar.


"Ken,,,"


"Iya,, iya,, maaf. Aku pergi," jawab Ken terkekeh pelan dan melenggang pergi begitu saja.


"Ambil ini," ucap Ariel menyodorkan kaleng minuman kepada Charlie.


"T-terima kasih," sambut Charlie.


Ariel memberikan mereka masing-masing minuman dan meletakkan makanan disisi mereka.


Dengan tenang, Ariel membuka kaleng minumannya lalu meneguknya. Membiarkan keheningan merayap diantara mereka.


"Apa yang membuat kalian bepikir bahwa aku marah pada kalian?" tanya Ariel memecah keheningan.