I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
103. Hilang kendali



Ariel tercengang selama beberapa saat, namun begitu pintu apartemen terbuka, Ariel melangkah masuk dengan susah payah dan pintu apartemen terkunci otomatis.


Matanya melebar ketika Ariel telah berada didalam. Ruangan apartemen Bram sangat luas, bahkan memiliki beberapa ruangan dengan masing-masing pintu yang tertutup.


"Dimana kamarmu?" tanya Ariel bingung.


"Aku tidak mau berkeliling hanya untuk mencari kamar," imbuhnya.


"Lantai dua pintu ke tiga," jawab Bram.


"APAA,,,???" pekik Ariel terkejut.


"Kau benar-benar akan membunuhku," keluh Ariel menatap tangga lalu berpindah menatap Bram yang masih saja menutup matanya.


"Argghh,,,, menyebalkan," rutuknya.


Ariel mulai manaiki satu per satu anak tangga dalam keadaan memapah Bram di bahunya.


"Ayolah,,, " ucap Ariel memberi semangat untuk dirinya sendiri.


Mengerahkan seluruh tenaga yang ia miliki, Ariel akhirnya berhasil mencapai pintu. Satu tangannya membuka pintu dan segera masuk.


Ariel membaringkan tubuh Bram diatas tempat tidur, menaikkan kedua kakinya setelah melepas sepatunya.


"Haahh,,," desah Ariel meletakkan kedua tangannya dipinggang.


"Akhirnya penderitaanku berakhir," desah Ariel lega sembari menatap Bram masih belum membuka matanya.


"Aku akan datang lagi besok, setidaknya dia harus menjawab semua pertanyaanku sebagai balasan karena sudah merepotkan malam ini," gumam Ariel.


Ariel berbalik untuk pergi dari apartemen Bram, namun tiba-tiba tangan Bram mencengkram pergelangan tangan Ariel dan menariknya, membuat Ariel terjatuh diatas tubuh Bram.


"Aahh,, hei,, Bram,apa yang kau lakukan?"


Ariel terkejut ketika Bram tiba-tiba menarik tubuhnya, dan mencoba untuk bangun dari atas tubuh Bram.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi dariku," ucap Bram dengan suara serak, melingkarkan kedua tangannya dipinggang Ariel.


"Bram, lepaskan aku," ucap Ariel sedikit kesal.


Ariel terus mengeliat, berusaha melepaskan diri dari Bram. Namun sikap berontak Ariel justru membuat Bram semakin ingin melakukan hal lebih. Kesadarannya telah diambil sepenuhnya oleh hasrat yang telah ia tahan.


"Lepaskan aku, Bram," tegas Ariel berusaha melepaskan tangan Bram dari tubuhnya dan berusaha bangun.


Bram membalikkan tubuh Ariel hingga kini Ariel berada di bawah kungkungannya. Kedua tangan Bram mencengkram tangan Ariel disisi kepala Ariel, dan perlahan membuka kedua matanya.


'DEG,,,!'


Ariel tercekat. Hawa panik mulai menjalar disekujur tubuhnya, ia mulai berkeringat dan menelan ludahnya.


'Matanya,,, ini bukan tatapan Bram yang ku kenal,' batin Ariel mulai panik.


"Bram,,, sadarlah,,!!" ucap Ariel meninggikan suaranya.


"Ini bukan kamu," imbuhnya sambil terus mengeliat berusaha melepaskan diri.


"Kamu sungguh sangat cantik Ariel, bahkan jauh lebih cantik dibandingkan dengan ketika aku terakhir kali melihatmu waktu itu," rancau Bram.


Mata Bram terus menatap Ariel dengan intens. pandangannya tertuju pada bibir Ariel dan berpindah ke tubuh Ariel hingga kembali keamata Ariel yang sudah tampak berkaca-kaca. Menatap Ariel dengan tatapan lapar yang membuat Ariel bergidik.


"Aku tidak akan membiarknmu pergi lagi, kamu milikku," ucap Bram penuh penekanan.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambilmu dariku," imbuhnya.


"Bangun, Bram,,,!! Sadarlah,, ini bukan kamu,," ucap Ariel dengan suara bergetar.


"Ini aku, Ariel. Aku tetaplah aku, dan aku tetap mencintaimu, aku ingin mengklaim bahwa kamu adalah milikku, dan kamu harus menjadi milikku seutuhnya," tegas Bram.


"Tidak,! Jangan! Lepaskan aku, Bram! Atau aku akan membencimu seumur hidupku," teriak Ariel.


"Lepaskan,,!"


Ariel terus memberontak, namun tenaganya kalah jauh dengan tenaga Bram. Meski dalam keadaan tidak sadar, tenaga Bram justru meningkat dua kali lipat.


"Bram,,, kumohon,, lepaskan aku," pinta Ariel momohon.


"Bram,, Lepask_,,, Hemph,"


Bram membungkam Ariel menggunakan bibirnya. Meraup bibir Ariel dengan kasar, dan berusaha membuka bibir Ariel dengan lidahnya.


Ariel mengatup rapat bibirnya, dan terus mengeliat untuk melepaskan diri. Bram mengangkat kedua tangan Ariel dan menahannya diatas kepala Ariel dengan satu tangan.


Satu tangannya yang lain mulai menjelajahi tubuh Ariel, hingga Ariel melebarkan matanya ketika merasakan tangan Bram mulai meraba begian depan bajunya, lalu menariknya dengan kasar.


'SREEKK,,!'


Hanya dengan satu tarikan, pakaian yang dikenakan Ariel robek begitu saja, Bram mengangkat wajahnya, menjauh sesaat dan mulai melepas kemejanya dengan satu tangan yang bebas.


"Bram,, Hentikan,, jangan lakukan ini," pinta Ariel.


Air matanya telah mengalir deras membasahi sisi wajahnya. Bram terpana selama beberapa saat ketika melihat pemandangan indah didepan matanya.


Menghembuskan nafas kasar, Bram melempar asal kemeja yang telah berhasil ia lepaskan, kembali menatap Ariel dibawahnya.


"Kamu milikku," ucap Bram dengan suara berat.


"Tidak,,! Hentikan,! Berhent_,, humph,"


Bram kembali membungkam Ariel dengan bibirnya, menciumnya dengan lapar dan lebih mendesak hingga berhasil membuka bibir Ariel dan menjelajahi bagian dalam menggunakan lidahnya.


Ariel memejamkan matanya dengan frustasi, perlawanan yang ia lakukan semuanya sia-sia. Bram jauh lebih kuat dibandingkan dengan dirinya. Terus merutuk dirinya sendiri karena memilih membantu Bram yang sudah ia ketahui dalam keadaan mabuk, namun tetap datang menjemputnya.


Ariel juga sadar, Bram berada dalam pengaruh obat ketika melihat matanya jauh berbeda dengan yang ia kenal. Tubuhnya juga terasa lebih panas dari biasanya.


'Obat,' batin Ariel.


Seketika, ditengah keadaannya yang tengah terpojok, Ariel teringat pembicaraannya dengan Joel ketika dirinya yang tidak sengaja meminum obat yang sama dengan Bram.


##Flasback on##


Saat itu Ariel tengah duduk diofa dengan joel disampingnya yang melingkarkan lengan dibahunya.


"Uhmm,,, Joel, bisakah aku bertanya tentang sesuatu?" tanya Ariel.


"Tentu, tanyakan saja," jawab Joel.


"Namun jika dalam keadaan semalam, bagaimana caranya agar efek obat itu hilang? Maksudku_,,"


"Menghilangkan efek obat dengan mengandalkan diri kita sendiri?" Joel meneruskan kalimat Ariel yang dijawab dengan anggukan.


"Hemmm,,," Jeol bergumam sembari meletakkan dua jari didagunya.


"Kamu sudah tau seperti apa reaksi dari obat itu bukan?" tanya Joel yang di jawab anggukan kecil.


"Ketika kamu merasakan sensasi itu, dan masih cukup sadar, kamu bisa minum air putih sebanyak yang kamu bisa,"


"Kopi atau susu bisa menetralkan efek obat itu, namun jika kamu berada dalam situasi dimana tidak ada keduanya, kamu bisa menggunakan air biasa,"


"Misalnya saja pergi ke toilet dan mencelupkan wajahmu didalam genangan air selama beberapa detik, dan turus ulangi sampai merasakan efek obat itu berkurang,"


"Hanya saja kamu harus tetap sendirian sampai efek obat itu benar-benar hilang dengan sendirinya," terang Joel.


"Obat itu juga memiliki dosis yang berbeda, selama dosis itu tidak terlalu tinggi, kamu bisa menghilangkan efek obat itu dengan tanganmu sendiri, namun berbeda dengan dosis tinggi yang harus,, hemm,,, yah,, kau tau apa maksudku bukan? Menyalurkannya," jelas Joel.


"Lalu, bagaimana jika keadaannya terbalik?" tanya Ariel lagi.


"Maksudmu jika kamu yang di serang?" tanya Joel menaikkan alisnya dengan senyum nakal.


"Ish,, Aku serius," sungut Ariel memukul main-main lengan Joel.


"Ha ha ha,,, aku tau, hanya saja aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengodamu," sambut Joel tertawa renyah.


"Hemm baiklah,,, dalam keadaan terbalik. Akan mudah jika kamu memiliki tenaga lebih besar darinya, dan itu bisa membuatmu dengan mudah mengendalikannya. Tapi jika dia lebih kuat darimu,,,,"


"Jangan melakukan perlawanan terlalu banyak padanya, itu hanya akan membuat efek obat didalam tubuhnya semakin kuat, dan yang terkena obat akan menjadi lebih gila,"


"Cara lain, kamu bisa membuatnya tidak sadarkan diri atau membuatnya sedikit kehilangan keseimbangan untuk melepaskan diri,"


"Bagaimana cranya? Sedangkan dia jelas lebih kuat dariku?" tanya Ariel.


"Kau tau?" ucap Joel merubah posisi duduknya menjadi saling berhadapan dengan Ariel.


"Tubuh manusia memiliki beberapa titik lemah dimana jika kita memukulnya, sekuat apapun orang itu, dia akan hilang kesadaran atau kehilangan keseimbangan tubuhnya sebentar, dan itu akan memberi kita sedikit waktu untuk melakukan perlawanan, entah itu kabur atau apa saja yang berguna untuk melindungi diri kita sendiri," terang Joel.


"Dibagian mana saja tepatnya?" tanya Ariel.


"Disini," ucap Joel menunjuk uluh hati Ariel.


"Disini," menunjuk hidung.


"Disini," menunjuk dagu.


"Disini," menunjuk tepi leher.


"Disini," menunjuk lehernya sendiri tepat di jakun miliknya.


"Dan_,,,," Joel mengaruk kepalanya, ragu untuk mengatakan hal terakhir.


"Dan,?" tanya Ariel tidak sabar.


"Dan,,, yah,, di bagian bawah," jawab Joel segera memalingkan wajahnya.


"Pft,,, Ha ha ha,,,," Ariel gagal menahan tawanya saat melihat reaksi Joel ketika menjawab pertanyaannya.


"Haruskah kita mencobanya untuk bagian bawah?" goda Ariel dengan terbahak.


"Oh,,, ingin mencobanya? Mari kita lihat apakah kau bisa mencobanya," ucap Joel.


Joel mengangkap kedua tangan Ariel dan mengunci dengan satu tangannya. Satu tangannya yang lain mulai mengelitik Ariel dengan gemas.


"Sudah,,, cukup,,, baik,,baik,, maaf,, aku hanya bercanda,,, Ahhh,,, ampun,,,"


Ariel terus tertawa saat Joel tidak melepasknnya begitu saja. Terus mengelitik Ariel hingga gerakannya terhenti ketika tatapan mereka bertemu.


"Menyebalkan,,," gerutu Joel. "Bagaimana bisa kamu membuatku semakin mencintaimu setiap harinya?" tutur Joel tulus.


"Haruskah aku mengatakan, itu adalah bakat alami?" ucap Ariel mengerakkan alisnya, membuat Joel tertawa.


"Kamu mungkin gila, tapi aku mencintaimu," ucap Joel mencondongkan tubuhnya dan mengecup lembut kening Ariel.


##Flashback off##


Ariel perlahan membuka matanya dan mengatur nafas.


"Akh,,," erang Ariel saat Bram menekannya.


Ariel mulai melemahkan kedua tangannya, berhenti memberontak ketika Bram masih terus menciumnya dengan menuntut. Tangannya dengan sengaja sedikit bergerak, dan saat itu juga Bram kembali menguatkan cengkramannya.


Memikirkan hal lain dalam benaknya, Ariel merespon sedikit tindakan Bram padanya, mencari celah untuk melepaskan diri. Perlahan, Ariel membalas ciuman Bram, membuat Bram lengah dan melepaskan cengkraman tangannya pada Ariel.


Ariel melingkarkan tangannya di leher Bram, sesaat kemudian Bram mengangkat wajahnya, tersenyum lembut dengan tatapan penuh hasrat.


"Aku mencintaimu, Ariel, aku menginginkanmu," ucap Bram.


'BUUKK,,,!!'


Tepat saat Bram akan menciumnya lagi, Ariel melayangkan pukulan disisi leher Bram dengan sisi telapak tangannya, membuat tubuh Bram roboh diatas tubuh Ariel.


Ariel menyingkirkan tubuh Bram kesamping dan segera bangun. Tangannya berusaha menutup tubuhnya yang terbuka, namun sia-sia.


Baru saja Ariel akan berjalan meninggalkan kamar Bram, tangan Bram kembali menagkapnya, membuat Ariel terkejut dan memberontak dengan sisa tenaganya. Dari sudut matanya, Ariel melihat gelas di atas nakas.


Harapan terakhirnya adalah dengan gelas yang ia lihat, tangannya menjangkau gelas itu.


'SREEKK,,!!!'


Bram kembali merobek baju Ariel dari bahunya, hingga tanpa sadar Ariel memukulkan gelas yang berhasil ia dapatkan dan mendarat tepat di dahi Bram hingga gelas itu pecah. Membuatnya terhuyung dan terkapar dilantai.


Tubuh Ariel merosot, dan bersimpuh dilantai. Airmatanya mengalir deras, nafasnya terengah-engah, dan tatapannya tertuju pada Bram yang tidak sadarkan diri dengan darah didahinya.


....


....


.


.


To be Continued.