I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
9.Berteman



Tinggalkan jejak kalian dengan koment, saran dan kritik kalian untuk menciptakan alur yang lebih baik.~~~


Mobil yang di kendarai Ariel berhenti di sebuah tempat parkir yang tampak ramai. Tangannya meraih ponsel yang telah berdering untuk kesekian kali. Merasa terganggu, Ariel akhirnya meraih ponsel dan menerima panggilan dari Joel yang telah menghubunginya berkali-kali.


"Ada apa, Joel?" tanya Ariel datar.


"Kemana kamu pergi? Kenapa apartemenmu kosong?" cecar Joel.


" Aku di Venice Beach Boardwalk," jawab Ariel tenang.


"Apa yang kamu lakukan disana?" seru Joel.


"Kamu tau bukan? Disini adalah tempat untuk bersenang-senang. Aku mendaftar untuk mengikuti skate," papar Ariel.


"Apa kamu sudah gila? Kamu belum sepenuhnya pulih, dan kamu mau melakukan skate?" geram Joel.


"Berhenti membentakku,!" tukas Ariel. " Kamu bukan lagi dokterku, dan aku bebas melakukan apa yang ingin kulakukan," sambungnya.


"Aku berbicara bukan sebagai dokter, Ariel," balas joel. "Tapi aku berbicara sebagai temanmu," sambungnya.


"Kalau begitu datanglah kesini dan lihatlah sendiri jika memang kau sekhawatir itu," jawab Ariel.


"Baik,,,aku akan datang. Tapi, jangan lakukan apapun sebelum aku datang,!" pinta Joel.


"Ya,, ya,, Baiklah, aku akan melakukannya hanya jika kau datang lebih cepat," sambut Ariel segera menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban Joel.


"Aku sudah terkurung selama beberapa hari, aku bahkan tidak memiliki kelas karena kecelakaan itu, dan sekarang aku ingin bersenang-senang.," ucap Ariel pada diri sendiri sebelum keluar dari mobil


Ariel merenggangkan badannya sebelum mulai melangkah menyusuri jalan yang telah di penuhi dengan orang-orang yag akan melakukan skate.


Menghabiskan waktu hingga Joel tiba, Ariel berkeliling melihat kios yang menjual bermacam-macam aksesoris


Matanya menatap kagum pada aksesoris yang berjajar rapi. Pandangaannya terhenti pada sebuah gelang dangan model rantai dan mata gelang berbentuk papan selancar.


Ariel meraih gelang itu, lalu tersenyum dan memutuskan untuk membelinya. Setelah puas berkeliling, Ariel melihat jam pada pergelaangan tangannya.


"Kenapa dia lama sekali? Apakah aku mendaftar dulu untuk menyewa quad skate? Dia bilang akan membawa miliknya sendiri, jadi aku lebih baik menyewa untuk diriku sendiri terlebih dulu," gumam Ariel.


Memutuskan untuk memulai tanpa Joel, Ariel mendaftar untuk menyewa sepasang quad skate untuk dirinya sendiri.


Dipandu oleh orang yang berperan sebagai pelatih, Ariel mulai memakai quad skate dikakinya dan berdiri dengan berpegangan pada orang yang akan melatihnya.


"Biarkan aku yang mengambil alih,"


Suara serak dan rendah terdengar familiar dari belakang Ariel. Saat berbalik, Ariel melebarkan matanya setelah tau siapa pemilik suara itu.


"Apa yang sedang kau lakukan disini, Bram?" tanya Ariel kaget.


"Aku melatih disini," jawabnya tersenyum.


"Dan aku juga tinggal tak jauh dari sini kalau-kalau kamu ingin tau," lanjutnya dengan seringai menghiasi wajahnya.


"Kau tak perlu menjelaskan apapun padaku," tukas Ariel.


"Kamu mengenalnya?" tanya pria yang akan melatih Ariel.


"Ya, aku mengenalnya dengn sangat baik, jadi biarkan aku yang melatihnya," sambut Bram.


"Dan aku menolak," sela Ariel.


"Kakimu baru saja terluka, Ariel. Dan dia tidak tau tentang lukamu, bagaimana jika dia melakukan kesalahaan karena dia tidak tau?" kilah Bram.


"Kaki anda terluka, Nona? Keapa anda tidak mengatakannya?" tanyannya.


"Aku sudah sembuh," tukas Ariel.


"Akan lebih baik jika Bram yang melatih anda, terlepas dari dia sudah mengenal anda, dia juga tau dengan baik tentang luka anda," sarannya.


Pria itu pun pergi meninggalkan Ariel dan Bram. Mengabaikan teriakan Ariel yang memanggilnya.


"Ayolah, Ariel. Aku tidak akan melukaimu," desah Bram. "Aku hanya akan melatihmu. Aku janji akan bersikap profesional disini," bujuk Bram.


"Beri aku kesempatan setidaknya bersikap sebagai teman terhadapmu," harap Bram.


"Baik,,,hanya jika kamu tidak akan membiarkanku jatuh," sambut Ariel.


"Tidak akan," balas Bram sembari mengulurkan tangan.


"Kamu tau dengan jelas kemampuanku berskate," imbuhnya.


Ariel menerima uluran tangan Bram dalam diam. Dalam hatinya dirinya tidak bisa menyangkal bahwa apa yang dikatakan Bram memang benar adanya.


Selama mereka bersama, Ariel tau dengan jelas apa yang menjadi kesukaan Bram,dan skate adalah salah satunya. Dan kemampuan berskate Bram sangatlah baik.


Dirinya yang saat itu hingga kini masih payah bermain skate terkadang bermain bersama dengan Bram yang melatihnya di saat libur bekerja.


Bram dengn hati-hati memandu Ariel agar berdiri tegak dengan tangan mereka yang saling berpegangan.


Bram meluncur mundur dengan perlahan, meminta Ariel mengerakkan kakinya dengan langkah ringan. Mengatur agar tidak hilang keseimbangan dan meluncur tanpa kendali.


"Kita pernah melakukan ini, jadi ingatlah untuk tetap berhati-hati ketika melangkah. Bungkukkan sedikit punggungmu agar kamu_,,,"


"Tidak meluncur dengan wajah yang lebih dulu mendarat,?" potong Ariel


Bram menatap Ariel lalu tertawa terbahak mendengar Ariel masih mengingat ucapannya saat mereka bermain skate bersama.


"Tepat," jawab Bram setelah tawanya mereda.


Ariel tersenyum, mulai menikmati kegiatannya.


Bram mulai melepas pegangan tangannya namun tetap dengan posisi berjalan mundur. Membiarkan Ariel meluncur tanpa bantuannya.


Ariel mengerakkan kakinya dengan baik dan sesuai dengan arahan, tapi kakinya tiba-tiba terasa sakit hingga membuatnya kehilangan keseimbangan.


Tepat saat dirinya akan jatuh, tangan kokoh Bram bergerak lebih cepat menangkap Ariel, menjadikan mereka pada posisi saling memeluk satu sama lain.Tanpa Ariel sadari, sepasang mata telah melihat mereka untuk beberapa saat.


"Hati-hati Ariel, apakah kamu baik-baik saja? atau kakimu sakit lagi?" tanya Bram khawatir.


"Bukankah aku sudah bilang tidak akan membiarkanmu jatuh?" balas Bram.


Ariel tersenyum tipis, sembari tangannya bergerak melepaskan diri dari pelukan Bram yang masih menjaga tubuhnya.


Saat itulah Ariel menyadari keberadaan Joel yang tengah menatapnya. Wajahnya memerah memancarkan kemarahan yang tidak bisa di jelaskan. Bahkan Ariel tidak tau kenapa Joel menatap marah padanya.


"Ada apa?" tanya Bram mengikuti arah pandanagan Ariel.


"Oh,,, sepertinya kekasihmu telah datang," ucap Bram kecewa.


Ariel melambai pada Joel dan tersennyum padanya, memberinya isyarat agar Joel mendekat.


"Kenapa kamu diam saja di sana?" tanya Ariel saat Joel berada di dekatnya.


Mata Joel menatap tajam pada tangan Bram yang masih setengah memeluk Ariel. Lalu beralih menatap Ariel yang menatapnya dengan pandangan heran.


"Kenapa kamu tidak menungguku?" tanya Joel dingin.


"Kamu sangat lama,aku tidak tahan lagi saat melihat orang-orang bermain skate, jadi aku memulai lebih dulu," jawab Ariel beralasan.


"Jangan berdalih, Ariel! kamu terlihat sangat menikmati waktumu bersamanya," tukas Joel.


Bram melepaskan tangannya saat Joel kembali menatap tajam padanya.


"Baiklah,,, Baiklah,,, aku akan pergi sekarang. Kamu bisa melanjutkan latihanmu bersamanya, Ariel. Aku pergi dulu," saran Bram dan melangkah pergi meninggalkan Ariel.


Joel menatap kepergian Bram dengan tatapan yang tidak bisa Ariel mengerti. Tangannya perlahan meraih lengan Joel.


"Kamu kenapa? Kamu tidak harus bersandiwara setiap di depannya, jika itu akan membuatmu terbebani," ucap Ariel lembut.


" Aku juga tidak ingin memposisikan dirimu di situasi yang tidak kamu inginkan," lanjutnya.


"Kamulah yang kenapa? Apa yang salah denganmu? Kenapa kamu masih bersikap manis padanya jika kamu memang tidak lagi memiliki perasaan terhadapnya?" cecar Joel.


"Apa lagi yang membuatmu semarah ini, Joel?" tanya Ariel heran.


Joel diam dan menarik Ariel untuk duduk. Tangannya melepas quad skate yang ada di kaki Ariel begitu saja.


Setelah terlepas, Joel manarik tangannya agar mengikuti langkahnya.


"Kita pergi dari sini," tegas Joel.


"Apa??? Tapi aku baru saja mulai!" protes Ariel.


Joel mengabaikan protesan Ariel dan menarik tangannya, meninggalkan area bermain skate dan menuju dimana dia memarkirkan mobilnya.


Ariel tertatih mengikuti langkah cepat Joel. Kakinya kembali merasakan sakit saat Joel terus memaksanya berjalan.


"Joel,,,!" panggil Ariel.


Joel tetap diam dalam langkahnya. Amarah di wajahnya kian terlihat.


"Joel,,,!" panggil Ariel lagi mulai meringis. Namun Joel tetap bergeming.


"JOELLL,,,!!!" sentak Ariel.


"Apa lagi yang kau inginkan? Apa kau masih ingin bersamanya?" hardik Joel menghentikan langkahnya sembari berbalik.


"Kakiku sakit. Kamu berjalan terlalu cepat," keluh Ariel sambil meringis.


Wajah Joel yang semula terlihat marah, berubah melembut begitu saja. Wajahnya kini penuh dengan rasa bersalah.


Joel berlutut dan memeriksa kondisi kaki Ariel dan mendesah pelan.


"kita ke rumah sakit sebentar, apakah kamu keberatan?" tanya Joel mendongak menatap mata Ariel.


"Bangun, Joel ! Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin duduk sebentar," tolak Ariel.


"Maafkan aku," sesal Joel.


" Bisakah kita duduk di bawah pohon yang ada di sana? Dan belikan aku es krim. Maka aku akan memaafkan mu," sambut Ariel.


Joel mengangguk setuju dan menuntun Ariel dengan hati-hati menuju kursi panjang yang terbuat dari bambu dan membantunya duduk.


"Aku akan membelikan sesuatu untukmu," ucap Joel sebelum pergi.


Ariel mengangguk dan meluruskan kakinya. Sedikit memijit kakinya yang terasa nyeri.


" Kenapa terasa sesakit ini?" gumam Ariel.


Tak berselang lama, Joel kembali dengan dua gelas air minum dan dua cup es krim vanila.


Joel menyodorkan cup es krim pada ariel dan meletakkan gelas air di sampingnya. Sementara Joel kembali berlutut dan mengoleskan obat pada kaki Ariel.


Tangannya dengan lembut memijit kaki Ariel dan meastikan Ariel baik-baik saja.


"Apakah masih sakit?" tanya Joel belum melepaskan kaki Ariel daari tangannya.


'Terkadang dia bersikap malu dan pendiam. Tapi terkadang dia juga menjadi pemarah. Bagaimana dia bisa merubah sikap pemarahnya menjadi sosok lembut dalam waktu singkat?' batin Ariel.


"Ariel,,,!" panggil Joel cemas karena tidak mendapatkan respon.


"Kita ke rumah sakit saja, oke?" bujuk Joel khawatir.


"Aku tidak apa-apa. Sekarang sudah jauh lebih baik," jawab Ariel.


"Apakah kamu mau pulang sekarang?" tanya Joel lagi.


"Bisakah kita pergi ke suatu tempat saja? Aku bosan jika harus diam di apartemen tanpa melakukan apapun," terang Ariel.


"Baiklah," sambut Joel.


Mereka beranjak dari dudukya dan meninggalkan Boardwalk. Joel meminta seseorang untuk mengirim mobil Ariel ke apartemen miliknya sementara Ariel naik ke mobilnya.


...>>>>>>-<<<<<<<<<...