
"Celaka,,,!!!" desis Bram menepuk dahinya.
"Ternyata akulah yang merebut payung wanita itu. Sakarang bagaimana?" gumam Bram merasa bersalah.
Bram menimbang-nimbang apakah ia harus kembali ke kedai kopi atau mencarinya nanti. Tapi, ia terus merasa bersalah jika menundanya dan berniat untuk kembali ke kedai kopi saat itu juga.
Sebelum Bram menjalankan niatnya, dari kejauhan ia melihat wanita itu tengah berlari kecil bersama temannya dengan satu payung menuju galeri seni yang sama dengannya.
"Jadi, dia juga datang kesini?" gumam Bram pelan.
Dengan hati-hati, Bram mendekati Ariel dan Jesica, berniat untuk meminta maaf atas kesalahannya saat mereka telah berada dibawah naungan gedung galeri.
"Sebelum masuk, aku obati lukamu dulu," ucap Jesica.
Ucapan Jesica yang terdengar oleh Bram membuat ia menghentikan langkahnya, sedikit tersentak dangan apa yang baru saja Jesica katakan.
"Aku tidak apa-apa," jawab Ariel mengusap tubuhnya yang sedikit basah.
"Apanya yang tidak apa-apa? Wajahmu merah seperti baru saja ditampar seseorang," tukas Jesica. "Dan kau masih sempat-sempatnya melindungiku dari hujan dan berakhir kamulah yang paling basah sekarang," imbuhnya.
"Oh,, Ayolah,, nanti akan kering dengan sendirinya," kilah Ariel.
"Dan demam setelahnya?" sambung Jesica melipat tangannya.
"Aku tidak menerima alasan, sekarang kau ikut aku. Kita obati dulu lukamu, dan ganti pakaianmu. Baru kita masuk," ucap Jesica dangan nada tidak bisa di bantah.
"Tapi, acaranya sebentar lagi dimulai, Jessi," kelit Ariel.
"Jangan lupakan siapa aku, aku pastikan kamu tidak akan melewatkan acaranya," janji Jesica.
Ariel mendesah pelan lalu mengangguk pasrah. Memilih menuruti perkataan Jesica.
Sementara Bram masih terpaku ditempatnya tanpa disadari Ariel ataupun Jesica.
'Apakah dia terluka saat aku merebut payungnya tadi? Ya tuhan,,, aku sudah merampas payungnya dan ditambah melukainya? Dasar bodoh!!' rutuk Bram dalam hati.
Seperti yang di katakan Jesica seblumnya, acara galeri seni itu entah bagaimana di undur selama beberapa menit hingga Ariel kembali setelah mengobati lukanya dan menganti pakaiannya dengan pakaian yang disiapkan Jesica.
Acara pembukaan galeri seni dibuka sepuluh menit setelah Ariel dan Jesica kembali. Hal itu tentu saja membuat Ariel bertanya-tanya bagaimana bisa acara yang dihadiri orang penting bisa terlambat.
Bram yang saat itu kembali melihat Ariel, perlahan mendekati mereka berdua, berdiri tak jauh dari mereka hingga cukup baginya mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Apakah kau yang melakukannya, Jessi?" tanya Ariel memelankan suaranya.
" Apa?" sambut Jesica menaikkan alisnya.
"Acara sepenting ini tidak mungkin mengulur waktu, tapi mereka menunda pembukaan selama beberapa menit, bahkan belum di buka saat kita kembali. Bukankah seharusnya kita terlambat kurang lebih sepuluh menit?" ucap Ariel.
"Bukankah itu membuatmu senang?" jawab Jesica balas bertanya.
"Kau tau? Terkadang menyebalkan ketika pertanyaan dijawab dengan pertanyaan," cibir Ariel.
"Apa-apaan wajah ini," sambut Jesica tertawa sembari menarik hidung Ariel.
"Aahh,, lepaskan,!" pekik Ariel menepis tangan Jesica.
"Bukankah aku sudah bilang kau tidak akan terlambat?" balas Jesica tersenyum geli melihat Ariel mengusap hidungnya yang baru saja ia tarik.
"Tapi bagaimana?" tanya Ariel tidak puas.
"Kau tidak lupa siapa investor terbesar acara ini bukan? Dannn,,, siapa pemilik gedung ini," ucap Jesica santai mengangkat satu tangannya dengan telapak tangan menghadap keatas.
"Astaga,,, aku berharap aku melupakannya," jawab Ariel memasang wajah polos sembari menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Duniamu yang tidak akan bisa aku masuki," imbuhnya sembari mengelengkan kepalanya.
"Ah,, lupakan tentang itu, ayo masuk!" ucap Jesica sambil mengandeng tangan Ariel.
Acara pameran seni akhirnya dibuka. Mereka berdua segera masuk kedalam gedung yang dipenuhi oleh lukisan dan karya seni lainnya.
"Perlelangan akan dimulai satu jam lagi," papar Jesica.
"Itu satu-satunya yang kau nantikan bukan?" tanya Jesica.
"Uhm,," Ariel hanya mengangguk sebagai jawaban.
Namun, pandanganya tak lepas dari lukisan yang ada didepannya. Mengagumi karya seni yang tercipta.
Tanpa mereka berdua sadari, Bram terus berada didekat mereka dengan berpura-pura menikmati tiap lukisan yang ia lewati. Memikirkan cara untuk meminta maaf pada wanita yang tidak sengaja ia lukai. Namun, gerakannya kembali tertahan saat Jesica terus berbicara pada Ariel.
"Apa kau yakin wajahmu baik-baik saja?" tanya Jesica cemas.
"Yah, aku baik-baik saja setidaknya. Tapi_,,," Ariel mengantung kalimatnya.
"Apa?" tanya Jesica tidak sabar.
"Orang itu membawa payungku," jawab Ariel lesu.
"Payung?" Jesica mengerutkan keningnya.
"Apakah itu satu-satunya hal yang kau khawatirkan?" tanya Jesica sedikit kesal.
"Katakan padaku! apa dia juga yang menyakitimu?" tambahnya.
"Bukan payungnya, tapi gantungan piano yang aku pasang di payung itu," ralat Ariel.
"Dan wajahku terluka karena membentur pintu kaca, bukan karena seseorang," kilah Ariel.
"Kau juga tau kan? Gantungan itu sulit untuk didapatkan karena ukirannya," jawab Ariel.
"Aku akan mencarikannya lagi untukmu, oke? Jadi lupakan saja yang satu itu," pinta Jesica.
"Hei, acaranya lelang akan dimulai. Ayo kesana," ucap Jesica segera menarik Ariel agar mengikutinya.
Bram mengikuti mereka dari belakang dengan menjaga jarak.
Saat mereka telah berada didalam ruang lelang, mereka duduk dengan tenang, menanti barang incaran mereka masing-masing.
Bram yang semula mengincar sebuah lukisan Van Gogh mebiarkan kesempatan untuk menawar lewat begitu saja. Ia justru lebih tertarik dengan apa yang diinginkan Ariel diacara pelelangan itu, karena sejak barang pertama keluar, Ariel satupun tidak mengangkat papan penawarannya.
Namun ketika barang selanjutnya keluar, sebuah gitar akustik putih yang tidak ia mengerti. Bram menjadi lebih terkejut lagi lantaran harga awal penawaran untuk gitar itu cukup tinggi. Yang di mulai dengan harga awal $500 ribu dollar.
Persaingan meningkat saat Ariel menawar tanpa pikir panjang dengan harga dua kali lipat lebih.
"$1,2 juta,"
Seorang pria tidak mau kalah dan meningkatkan harganya.
"$1,5 juta"
Bram melongo saat Ariel kembali menaikkan harga penawaran dan terus bersaing dengan pria berbadan gemuk yang terlihat mengincar gitar itu juga.
"$2 juta" Ariel kembali menawar
Sejujurnya Bram bisa dengan mudah mendapatkan gitar itu, harga itu bahkan tidak mencapai setengah dari harga lukisan yang ia incar, namun dalam hatinya ia bertanya-tanya kenapa wanita seperti Ariel menginginkan gitar.
"$2,7 juta" tawar pria gemuk.
Saat pria gemuk itu seolah berhasil mendapatkan gitar dengan diamnya Ariel di harga terakhir, pria gemuk itu tersenyum puas, sementara Ariel hanya menggeleng pada teman disampingnya dengan wajah lesu.
"Aku bisa menawar harganya untukmu," ucap Jesica saat hendak mengangkat tangannnya namun dicegah.
"Tidak, aku tidak mau kamu melakukan itu, lupakan saja," ucap Ariel pelan.
Entah bagaimana, Bram merasa tidak bisa diam begitu saja saat melihat Ariel berwajah lesu, seolah tidak menyadari apa yang ia lakukan, Bram langsung menawar gitar itu sebelum hitung mundur berakhir.
"$5juta"
Penawaran yang disebut Bram membungkam pria gemuk itu seketika. Bahkan Ariel turut terkejut dan segera menoleh untuk melihat siapa yang telah menawar dengan harga itu.
Raut wajah Ariel berubah kesal saat matanya bertemu Bram yang tersenyum kearahnya. Dengan cepat, Ariel memalingkan wajahnya.
"Haha,, setidaknya bukan si gemuk itu yang mendapatkannya," ucap Jesica puas.
"Ayo keluar," ajak Ariel.
Ariel keluar dari ruangan lelang itu begitu acaranya selesai. Namun, saat Ariel akan pergi bersama Jesica, seseorang menahan tangannya.
"Tunggu,!" ucapnya menahan tangan Ariel.
Ariel menoleh dan kembali bertemu Bram yang kini menahan tangannya.
"Ya?" Ariel menaikan alisnya. "Apakah anda memerlukan sesuatu, tuan?" tanya Ariel datar.
"Tapi, sebelumnya tolong lepaskan tangan saya," pinta Ariel melirik tangan Bram yang mencengkram tangannya.
"Ah,, maaf," seru Bram langsung melepaskan tangan Ariel.
"Aku hanya ingin meminta maaf padamu," ucap Bram.
"Meminta maaf?" ulang Ariel mengerutkan keningnya.
"Kamu mengenalnya?" sela Jesica.
"Tidak," jawab Ariel datar.
"Maaf tuan, sepertinya anda salah mengenali seseorang. Saya permisi," ucap Ariel seraya berbalik pergi sembari mengandeng Jesica.
"Hei,, tunggu!" cegah Bram.
Bram berniat mengejar, namun seseorang dari perlelangan lebih dulu memanggilnya untuk pengambilan barang yang telah ia beli.
'Jelas saja dia marah, karena memang akulah yang salah. Jika itu aku, mungkin aku akan bersikap lebih buruk lagi, tapi dia masih bisa berbicara sopan padaku,' rutuk Bram dalam hati.
Bram lebih merutuk dirinya sendiri saat melihat wajah Ariel dari dekat, ia melihat wajahnya yang sedikit memerah. Meski itu ditutupi dengan riasan, namun tetap terlihat saat menatapnya dari dekat.
Bram mengacak-acak rambutnya, merasa kesal pada dirinya sendiri. Ia mencoba untuk mengalihkan perhatiannya, namun selalu gagal.
Ketika Bram menyelesaikan pembayaran, ia menatap bingung dengan gitar di tangannya. Dirinya bahkan tidak bisa memainkan gitar.
"Sekarang apa yang harus kulakukan dengan gitar ini? Aku bahkan tidak tau apapun tentang gitar. Dasar bodoh!" gerutu Bram pelan.
Bram segera keluar dari galeri seni dengan gitar ditangannya, yang ia sendiri tidak tau apa yang akan ia lakukan dengan gitar itu. Namun saat ia hendak menuju ketempat dimana ia memarkir mobilnya, ia kembali melihat Ariel.
Ariel yang saat itu sudah tidak bersama teman yang tadi dilihat Bram tengah menikmati pertunjukan musik keliling yang dilakukan tiga pria dengan alat musik Akordeon, gitar dan Saxophone.
Beberapa orang juga ikut menonton dan memasukan beberapa koin kedalam kotak yang ada didekat mereka. Namun, setelah beberapa lama, orang yang menonton pertunjukan mereka tidak bertambah.
Beberapa saat kemudian, Ariel terlihat mendekati salah satu pria itu, dan dalam penglihatan Bram, dia mengambil alih gitar dari tangan pria itu setelah mengatakan sesuatu.
Bram melebarkan matanya dan menatap heran pada Ariel, berpikir jika Ariel hanya ingin belajar bagaimana cara memainkan gitar. Hal itu membuat Bram penasaran dan perlahan mendekati mereka.
...>>>>>>>--<<<<<<<...