
"Sweety,,,," seru Joel dengan suara panik.
Joel berseru panik ketika istrinya tiba-tiba berhenti melangkah, detik berikutnya memegangi perutnya hingga tubuhnya merosot dan berlutut.
"Aakkhh,,,,," rintih Ariel terus memegangi perutnya.
Satu tangannya mencengkram kuat lengan suaminya seolah ingin melampiaskan rasa sakit yang ia rasakan.
"Kita ke rumah sakit," ujar Joel.
Joel segera membantu Ariel kembali berdiri, melangkah sedikit lagi untuk mencapai mobil mereka.
Charlie menghampiri mereka lebih cepat sebelum Joel berhasil membantu Ariel berdiri, termasuk Ken dan Alice.
"Kakak yang mengemudi, aku yang akan membantu disini," ujar Ken menghentikan gerakan Charlie yang akan membantu Joel.
Charlie mengagguk dan bergegas menuju mobil Joel yang terletak tidak jauh dari mereka. Sementara Ken dan Joel mengangkat Ariel bersama-sama dan membawa ke mobil.
Alice dengan sigap membukkan pintu mobil bagian belakang, membantu apa saja yang bisa ia lakukan.
"Ikutlah bersama mereka, aku akan mengikuti dari belakang," saran Ken pada Alice.
Alice mengangguk mengerti dan segera masuk kedalam mobil, duduk dikursi penumpang didepan sementara Charlie yang mengemudi.
Ken menutup pintu mobil dengan hati-hati setelah memastikan Joel dan Ariel aman di dalam. Dalam hitungan detik, mobil itu melesat menuju rumah sakit diikuti mobil lain di belakangnya yang dikemudikan Ken.
"Aakkhh,,,,"
Rintihan Ariel kembali terdengar, tangannya semakin kuat mencengkaram tangan suaminya.
"Sshh,,, kita dalam perjalanan," ucap Joel menenangkan istrinya.
Joel mengeluarkan ponselnya, mengulir layar ponsel untuk menghubungi seseorang.
"Lakukan persiapannya, kami sedang dalam perjalanan!" titah Joel pada seseorang melalui ponselnya.
"Sweety,,, bertahanlah sebentar lagi. Kita hampir sampai," ucap Joel sembari menyeka keringat yang mulai membasahi wajah istrinya.
"Ini,,,,sa-kit,,, ugh,,,," rintih Ariel lagi terus memegangi perutnya.
Kepalanya bersandar pada suaminya, sementara Joel hanya bisa memberikan tangannya sendiri pada Ariel sebagai pelampiasan. Satu tangan Joel yang lain mengusap lembut perut sang istri, berharap bisa mengurangi sakit yang dirasakan istrinya.
Detik yang berjalan terasa bagaikan jam bagi Ariel. Ia terus merintih kesakitan ketika perjalanan terasa begitu lama baginya. Merasakan rasa sakit yang amat sangat yang tak pernah ia rasakan.
"Tolong lebih cepat, Charlie. Kumohon," pinta Joel tak tega melihat istrinya kesakitan.
Dalam diam, Charlie hanya mengemudi dengan terus membunyikan klakson seperti orang gila, memacu mobilnya secepat yang mungkin sekaligus menghindari mobil lain didepannya bak seorang pembalap profesioanal. Mungkin begitu juga caranya ia mengejar penjahat yang selalu berhasil ia tangkap hingga membuatnya naik pangkat.
Mereka tiba di rumah sakit dimana beberapa perawat telah menunggu kedatangan mereka dengan brankar dorong.
Begitu melihat kedatangan mereka, dengan sigap mereka memindahkan Ariel keatas brankar dan mendorongnya menuju ruang persalinan.
Mereka membawa Ariel masuk kdalam ruangan dengan Joel ikut masuk kedalam ketika Ariel tidak melepaskan tangan suaminya. Sementara yang lain menunggu diluar ruangan.
Semua persiapan telah selesai sebelum Ariel tiba, bahkan Joel memang sengaja menyiapkan semuanya jauh sebelum Ariel melahirkan.
Mereka menganti pakaian yang Ariel kenakan, termasuk meminta Joel untuk mengenakan pakaian khusus selama proses persalainan berlangsung.
Selama proses persalinan berlangsung, mereka memberikan intruksi agar Ariel menarik nafas dan mengejan. Disampingnya, Joel trus mendampingi sang istri dengan tangan yang terus mengenggamnya.
Keringat dan airmata keluar membasahi seluruh wajahnya, sesekali Joel mengusap lembut puncak kepala Ariel untuk memberikan dukungan.
Hingga,,,,
Suara tangisan bayi pertama terdengar memenuhi ruangan setelah usaha yang tidak tau selama berapa jam mereka lakukan.
Ariel terkulai lemas ketika ia berhasil melahirkan anak mereka, sementara Joel tersenyum dengan airmata yang telah membasahi pipinya. Tersenyum penuh kasih melihat perjuangan istrinya untuk melahirkan anak mereka.
Dalam jeda empat menit, Ariel kembali merintih kesakitan. Mereka kembali bergerak menyadari itu waktunya untuk melahirkan anak kedua Ariel.
Beberapa menit berlalu dan kembali terdengar suara tangisan bayi. Sekali lagi Ariel terkulai, merasakan tidak memiliki tenaga lagi meski hanya untuk bangun dari tempatnya.
"Kamu hebat, Sweety, kamu luar biasa," ujar Joel tersenyum seraya mengecup kening istrinya.
"Selamat, kamu menjadi seorang ibu," tutur Joel. "Terima kasih atas perjuangan yang kamu lakukan," imbuhnya.
Ariel memandangi wajah suaminya yang meneteskan airmata bahagia, lalu tersenyum lemah.
"Selamat untuk anda, nyonya. Kedua anak anda sehat," ucap dokter yang membantu proses persalinan.
Ariel mengangguk lemah dan tersenyum. Membiarkan mereka melanjutkan tugas mereka membersihkan kedua anaknya. Mereka juga memindahkan Ariel keruang perawatan.
Sementara itu, mereka yang masih menunggu diluar dengan gelisah berubah tersenyum bahagia ketika mendengar dokter bahwa persalinan berjalan lancar dan mereka bisa menemui Ariel setelah dipindahkan.
Mereka segera mendatangi ruangan dimana Ariel berada dan melihat Joel telah berada disana.
"Selamat utukmu, Ariel," ucap Charlie memeluk Ariel dengan hati-hati.
"Selamat, kak," ucap Alice.
"Selamat, kak," timpal Ken sembari mengulurkan tangannya pada Joel.
"Terima kasih, kalian sangat banyak membantu," ucap Ariel.
TOK,,,
TOK,,,
TOk,,,
Suara ketukan pintu menyela mereka, membuat mereka segera menoleh dan mendapati dokter dan perawat masuk keruangan mereka dengan dua bayi ditangan mereka.
Dua bayi itu diletakkan disamping Ariel yang segera menyambutnya dengan ciuman penuh kasih di wajah kedua bayi itu. Memberi kesempatan kepada ibu kedua bayi itu untuk melihat mereka sebelum kembali di pindahkan ke box bayi.
"Ya tuhan,,, mereka terlihat sangat manis," pekik Charlie dengan wajah berbinar.
"Kondisi anda normal, dan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Anda hanya perlu istirahat," tutur Dokter.
"Terima kasih, dok," jawab Ariel.
"Itu sudah menjadi tugas saya," balas dokter tersenyum simpul.
"Baiklah, saya akan meninggalkan kalian, dan saya yakin anda tau apa yang seharusnya di lakukan, dokter Joel, meskipun ini adalah hari kebahagiaan bagi anda," ujarnya pada Joel.
"Saya sangat mengerti hal itu," sambut Joel tersenyum.
"Baiklah, saya pamit," ucapnya lagi sebelum melenggang pergi.
Dokter dan perawat itu pergi meninggalkan ruangan, membuat mereka kembali dengan suka cita mereka sembari menatap dua sosok mungil yang baru saja hadir didepan mereka.
"Mereka sangat menggemaskan," ujar Alice tersenyum.
"Apakah kakak sudah menyiapkan nama untuk mereka?" timpal Ken.
"Tentu saja," jawab Joel tersenyum lebar.
"Meskipun dia lebih berperan banyak dalam memikirkan nama dibandingkan denganku, tapi aku setuju dengan nama itu dibandingkan dengan yang lain, termasuk dengan ideku sendiri," ujar Joel seraya mengusap lembut puncak kepala istrinya.
"Joie dan Jordan," jawab Ariel terus memandangi wajah kedua anaknya yang terlelap.
"Kenapa?" sambut Ken dengan kening berkerut.
"Maksudku, aku hanya berpikir kakak akan memberi mereka nama yang serupa, seperti Alex dan Alexa mungkin," imbuh Ken.
"Itu nama yang pernah aku sarankan, tapi di tolak," sela Joel.
"Joie memiliki arti kebahagiaan, dan Jordan memiliki arti mengalir. Aku berharap kebahagiaan akan terus mengalir untuk mereka bagaikan sungai," terang Ariel.
"Itu mengesankan," sambut Charlie. "Bagaimana kamu bisa memikirkan nama itu?" imbuhnya.
"Entahlah," jawab Ariel menaikan bahunya.
"Hanya saja, aku memikirkan satu nama orang yang selalu menjaga mereka siang dan malam," ujar Ariel melirik suaminya yang tengah mengusap lembut kepala kedua anaknya.
"Haiss,,, kenapa kak Joel bisa seberuntung ini coba," celetuk Ken seolah tak rela.
"Sshhh,,," desis Joel dengan jari di bibirnya.
"Pelankan suaramu, atau mereka akan terbangun," tegur Joel.
Ken terkekeh tanpa suara melihat apa yang ada didepannya. Mereka bertiga menatap haru dengan keluarga kecil yang ada didepan mata mereka, betapa mereka belajar banyak hal dari dua orang yang saling mengasihi satu sama lain, namun sama-sama memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan.
"Baiklah, sekarang aku akan biarkan kalian istirahat," ujar Charlie.
"Benar, kita harus pul-ang, astaga,," Ken berseru panik seolah baru saja tersadar akan sesuatu dan segera beralih menatap Alice.
"Alice,,, maaf, seharusnya aku mengantarmu pulang sejak tadi," sesal Ken.
"Aku akan menyesal jika pulang lebih cepat," jawab Alice tersenyum.
"Terima kasih karena tetap disini, Alice. Itu sangat berarti bagiku," ucap Ariel.
"Jika aku mengatakan pada mereka aku disini, mereka pasti akan iri semua," ujar Alice tersenyum bangga.
"Yah,, aku tak meragukan itu. Mereka hanya ingin melihat dokter disampingku," jawab Ariel.
"Sweety,,," protes Joel.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, mereka semua sekarang menjadi pengemarmu," jawab Ariel.
"Kak Ariel benar, bahkan mereka sering berharap kak Joel datang ke ruang latihan lebih sering hanya karena ingin melihat kakak," papar Alice.
Alice terkekeh pelan, merasa untuk pertama kalinya melihat cinta yang begitu murni dengan matanya sendiri.
"Kalau begitu, aku pamit mengantar Alice pulang. Besok aku kemari lagi, kak Ariel tidak keberatan, bukan?" tanya Ken.
"Lakukan sesukamu, Ken," sambut Ariel.
Charlie mengenggam erat tangan Joel dan memeluk singkat Ariel yang tengah setengah berbaring dengan menaikan posisi sandaran tempat tidur yang ia tempati.
"Sampai nanti, Ariel. Aku juga akan datang lagi untuk mengunjungimu," ucap Charlie.
"Terima kasih," jawab Ariel.
Mereka akhirnya meninggalakan Ariel dan Joel dengan membawa serta kabar baik yang mereka miliki.
"Sweety,,," panggil Joel.
"Uhm,,," jawab Ariel menatap sang suami.
"Ah,,, tidak, besok saja. Sekarang istirahatlah," ujar Joel.
"Apakah sesuatu membuatmu gelisah?" tanya Ariel.
"Tidak persis begitu, kita bicarakan besok saja," jawab Joel.
"Michela Joie Graciano dan Michael Jordan Graciano," ucap Ariel tiba-tiba.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Ariel.
"Ehh,,, jadi,,, kamu,,,sudah memikirkan itu?" sambut Joel memandangi wajah istrinya dengan mata melebar.
"Apa?" sambut Ariel tersenyum.
"Bukankah mereka anakmu? Tentu saja memakai namamu," sambungnya.
"Bukankah itu yang ingin kamu dengar?" goda Ariel.
"Dasar,," desis Joel. "Selalu saja kamu memikirkan lebih banyak hal, dan tetap memikirkanku," sambung Joel.
"Seperti kamu juga selalu memikirkanku diatas keinginanmu sendiri," balas Ariel.
"Dannn,,,,"
"Apa?" Joel bertanya dengan antisipasi mendengar Ariel mengantung kalimatnya.
"Jika kau berencana untuk merenovasi rumah, lakukan saja. Dan kita tetap tinggal diapartemen sementara menunggu rumah selesai direnovasi," ujar Ariel.
"Sepertinya aku memiliki istri yang mengerikan sekarang," sambut Joel bergidik.
"Karena kepalamu transparan," celetuk Ariel.
Joel tersenyum sembari mengelengkan kepalanya, ia mencondongkan tubuhnya dan meletakkan dahinya didahi Ariel.
"Aku tak tau bagaimana caranya untuk mengatakannya. Andai ada cara terbaik untuk melakukan sesuatu selain mengucapkan terima kasih padamu, aku dengan senang hati akan melakukannya. Terima kasih, aku akan mengatakannya hingga seribu kali jika itu cukup,"
"Tapi, apa yang kamu lakukan jauh lebih berarti dari itu, terima kasih, My Love,"
Joel mengecup kening Ariel dan kedua anaknya, tersenyum bahagia atas kelahiran mereka, dan betapa beruntungnya dirinya memiliki keluarga sempurna yang ia dapatkan sekarang.
"Aku janji akan menjaga keluarga ini tetap utuh- tidak, bukan janji, tapi itu adalah sumpahku,"
Joel mengucapkan sumpahnya dalam hatinya sembari memandangi istri dan anak-anaknya dengan tanpa henti mengucapkan rasa terima kasihnya.
...>>>>>>>-THE AND-<<<<<<<...
See you next to bonus chapter.....
.. .. ..
.. .. ..
.. .. ..
Terima kasih untuk para reders yang telah setia membaca karya berjudul I'll Always Love You..
Semua dukungan dari para readers merupakan penghargaan untuk author yang menuangkan imajinasi author dalam bentuk karya yang bisa dinikmati..
Tinggalkan jejak kalian degan like komen dan subcribe yaa,, kritik dan saran kalian juga author jadikan sebagai pembelajaran untuk karya selanjutnya..
Salam hangat dari author...