I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
143. Mencintai siapa?



"Jika aku mencintai orang lain, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ariel dengan wajah datar.


Gerakan tangan Joel saat menyuapi Ariel makanan terhenti diudara. Rahangnya mengeras, matanya mengelap mencoba cara terbaik untuk menahan emosinya meski hal itu tidak berguna ketika melihat wajahnya.


Bibirnya bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu, namun diurungkan begitu saja. Hingga pada akhirnya ia hanya bisa menanyakan satu kata pada Ariel dengan ragu.


"Kenapa?" tanya Joel lirih.


"Karena aku tidak bisa mencegah hatiku untuk mencintainya," jawab Ariel tanpa mengalihkan pandangannya.


"Dan aku,,," menelan ludah dengan kasar. "Aku bukan lagi cinta dihatimu?" tanya Joel.


"Aku mencintaimu, itu hal yang tidak akan berubah, tapi aku juga mencintainya," jawab Ariel.


"Apakah karena aku melakukan kesalahan hari ini dan itu membuatmu mengambil keputusan sepihak?" tebak Joel.


"Aku bahkan tidak menghitung hari ini sebagai kesalahanmu," jawab Ariel.


"LALU KENAPA,,??" tanya Joel menaikan intonasi pada suaranya seraya berdiri.


"Apakah yang kamu maksudkan adalah, kamu membagi cintamu, dan kamu ingin aku menerimanya?" tanya Joel dengan tangan gemetar menahan amarahnya.


Ariel hanya menatapnya, seolah menunggu suaminya kembali duduk.


Joel kembali duduk di samping Ariel dan meletakkan makanan disisi lain tempat tidur. Ia meraih kedua tangan Ariel dan mengenggamnya.


"Kamu sedang bercanda kan, Sweety? Benar bukan? Kamu bercanda seperti ini karena aku mengodamu dengan cara sama waktu itu," cecar Joel.


"Katakan bahwa ini hanya lelucon konyolmu yang lain," ujar Joel lagi sembari meletakan kedua tangannya di bahu Ariel.


Melihat reaksi suaminya, dalam hatinya Ariel tersenyum senang.


"Jawab aku!" pinta Ariel.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ariel mengulang pertanyaannya.


"Apa dia juga mencintaimu?" tanya Joel memalingkan wajahnya, mengangkat tangannya dari bahu Ariel.


"Kurasa,,, ya," jawab Ariel.


"Heh,,, kau bahkan tidak tau dia mencintaimu atau tidak, dan kau sudah mencintainya," cibir Joel.


"Jika kamu bertanya apa yang akan kulakukan, bukankah jawabannya sudah jelas?"


"Aku tidak akan menerimanya, dan aku akan mencari cara agar dia pergi dari hidupmu," tegas Joel.


"Tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi," jawab Ariel.


"Karena kamu mencintainya?" tanya Joel kembali menatap lekat wajah istrinya.


Joel menelisik manik mata Ariel, berharap apa yang baru saja ia dengar adalah kebohongan. Namun, ia hanya melihat keseriusan dimata istrinya.


Sebisa mungkin ia tidak ingin meluapkan emosinya lagi, namun keseriusan diwajah Ariel seolah menarik paksa semua emosi yang ada di hatinya.


"Apakah kamu akan lebih memilihnya dibandingkan memilihku?" tanya Joel lagi.


Intonasi suaranya melemah, seolah ia merasa telah kalah.


"Aku tidak bisa memilih diantara keduanya," jawab Ariel. "Karena aku menginginkan keduanya," imbuhnya.


Joel menghembuskan nafas kasar. Berusaha untuk menenangkan hatinya


"Aku mencintainya, dan aku ingin kamu menerimanya," ucap Ariel.


Joel menoleh dengan gerakan cepat, menunjukan raut wajah keberatan yang sangat jelas.


"Jangan bercanda!" tukas Joel.


"Maksudmu, kamu ingin aku menerimanya tinggal satu atap dengan kita?" tanya Joel.


"Benar," jawab Ariel tanpa ragu.


"Tidak masuk akal," dengus Joel kembali membuang wajahnya.


"Apa kamu yakin dengan jawaban itu?" tanya Ariel.


"Apa maksudmu sebenarnya, Sweety?" tanya Joel mengerutkan keningnya.


"Hahhh,, sudahlah. Lakukan sesukamu," desah Joel putus asa.


"Dengarkan dulu!" pinta Ariel.


"Apa?" tanya Joel mulai merasa kekesalannya memuncak dan tidak ingin membicarakan hal itu lagi.


"Kau tau? Aku masih berharap kamu berbohong dan hanya ingin membuatku kesal untuk membalas apa yang kulakukan tempo hari," ucap Joel datar.


"Aku sudah bilang aku tidak berbohong," tegas Ariel.


Ariel meraih tangan Joel, menggunakan satu tangan lainnya di wajah Joel dan membimbingnya untuk kembali menatapnya.


"Kenapa sekarang kamu berwajah masam seperti ini?" tanya Ariel menahan tawanya.


"Apa kamu serius bertanya padaku, Sweety?" balas Joel.


"Yang aku maksudkan adalah,,," Ariel tidak menyelesaikan kalimatnya.


Namun ia menuntun tangan Joel dengan tangannya dan meletakkan tangan Joel diatas perutnya.


"Dia, kamu yakin tidak ingin menerima kehadirannya?" tanya Ariel.


Joel membelalak kaget. Ia menatap istrinya, lalu beralih ke perut dibawah tangannya, dan kembali lagi menatap wajah istrinya. Berita yang baru saja ia dengar terasa seperti mimpi. Semua amarah yang semula memenuhi hatinya padam seketika


"A-A-Apa,,, K-kamu,,, K-K-Kamu,,,, Bagaimana,,,?" Joel tergagap dan gagal menyelesaikan kalimat yang ingin ia ucapkan.


"Ini,,,, Nyata,,,? Ini,,, benar-benar nyata,,?" ucap Joel masih menatap benda itu dengan tatapan tak percaya.


Joel segera memeluk istrinya, menciumi wajahnya dengan penuh kasih.


"Terima kasih,,, terima kasih, Sweety, terima kasih," ucap Joel mendekap erat istrinya dengan perasaan bahagia.


"Kemana perginya wajah penuh amarah tadi?" sindir Ariel terkekeh pelan.


"Kamu memiliki bakat dalam menaikkan tekanan darah seseorang,"


"Tapi, disatu sisi aku tidak bisa benar-benar marah padamu," ungkap Joel.


"Dan lebih memilih menahannya dengan cara merubah wajahmu menjadi semerah tomat?" sindir Ariel terkikik geli.


"Jangan memancingku lagi!" ucap Joel mengeram gemas.


"Kenapa kamu sangat usil dan terus mengodaku?" gerutu Joel.


"Karena aku menikmatinya," jawab Ariel enteng.


"Terima kasih, aku bahagia, lebih dari apapun aku bahagia memilikimu, dan kamu menambah kebahagianku," tutur Joel mengecup puncak kepala Ariel.


"Tapi,,," Joel menarik diri, memandangi wajah istrinya.


"Kenapa kamu memintaku membawa obat demam?" tanya Joel.


"Dan sejak kapan? Aku tidak menyadarinya sama sekali karena kamu terlihat biasa saja," ujar Joel mengerutkan keningnya.


"Ehhemm,,, pada awalnya aku juga tidak tau, tapi aku memang sudah beberapa hari ini sering merasa tidak enak dengan badanku sendiri," papar Ariel.


"Dan kamu diam saja?" tanya Joel tak suka.


"Aku tak bermaksud begitu," sanggah Ariel.


"Tapi aku merasa tidak enak hanya ketika aku di studio, dan saat aku bersamamu, aku tidak merasakan keanehan apapun," terang Ariel.


"Dan saat kamu mengirimiku pesan?" tanya Joel lagi.


"Begini,,,," ujar Ariel memulai menceritakan hal yang terjadi saat ia tiba di apartemen.


###Flashback On


Ariel membaringkan tubuhnya ditempat tidur, mencoba untuk tidur ketika sakit kepala kembali menyerangnya.


Namun, saat ia hampir tertidur, matanya kembali terbuka dan ia segera berlari menuju kamar mandi. Rasa mual yang ia rasakan kembali muncul sampai beberapa kali harus menuju kamar mandi karena rasa mual yang ia rasakan.


Tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga lagi membuat Ariel kembali berbaring. Tangannya mengeluarkan ponsel dan mencoba untuk menghubungi suaminya. Namun beberapa kali ia mencoba, suaminya tidak menjawab panggilan darinya.


"Apakah dia sedang ada jadwal operasi?" gumam Ariel.


Merasa panggilannya tidak akan diangkat, Ariel mengetik pesan yang segera dikirim ke suaminya, meminta suaminya untuk membawakan obat.


Ariel memaksa tubuhnya untuk bangun, berniat untuk menganti pakaiannya. Namun ketika ia membuka lemari, tangannya justru tak sengaj membuka laci penyimpanan persediaan pem*balut miliknya.


Keningnya berkerut tajam saat menyadari benda pribadinya masih utuh sejak terakhir kali ia membelinya. Dan sekarang sudah melewati tanggal dimana seharusnya tamunya datang.


"Tunggu dulu," gumam Ariel.


"Aku tidak salah melihat tanggal, bukan?" gumamnya.


Ia segera berbalik dan mengecek ponselnya. Wajahnya tertegun kala melihat tanggal dari ponsel yang menunjukan tamunya seharusnya sudah datang, namun hingga kini masih belum.


"Aku tidak pernah terlambat sampai sejauh ini," gumam Ariel lagi.


"Seharusnya tamu rutinku datang dua minggu lalu, tapi kenapa_,,,," Ariel tidak menyelesaikan kalimatnya.


"Sebantar,, sebentar,, pusing, mual dan_,,, terlambat,,"


"Tidak,,, tidak,,, tidak. Aku tidak mau berekspektasi terlalu tinggi, meski aku sangat berharap itu benar, tapi, aku cek dulu saja," ucapnya pada diri sendiri


Ariel memaksa kakinya untuk pergi ke apotek terdekat. Membeli alat tes kehamilan dan beberapa vitamin.


Ia segera mencoba untuk mengetesnya di kamar mandi, menunggu dengan harap-harap cemas. Tangannya gemetar saat ia akan melihat hasilnya. Mencoba untuk mengatur nafasnya dan melihat alat tes menunjukan positif.


Rasa bahagia tak terkira dirasakan hingga tubuhnya merost dan terduduk dilantai. Air mata bahagia membasahi pipinya sembari mengenggam erat alat tes itu ditangannya. Tak sabar untuk memeberitahukan berita ini pada suaminya.


Hingga tanpa sadar ia menunggu kepulangan suaminya sampai tertidur.


###Flashback Off.


"Tapi, Uhm,,, bisakah kita periksa sekali lagi?" pinta Ariel setelah menyelesaikan ceritanya.


"Aku hanya khawatir menggunakan alat ini tidak memberikan hasil yang sebenarnya," ujar Ariel ragu.


"Dan khawatir membuatku kecewa?" tebak Joel.


Ariel mengangguk pelan. Seharusnya memang ia mengatakan hal itu setelah cek ke dokter, namun Ariel berpikir jika ia datang ke rumah sakit dan suaminya mengetahui hal itu, itu hanya akan membuat suaminya merasa dirinya tidak berguna.


Terlebih lagi profesi suaminya adalah seorang dokter. Meskipun dokter spesialis bedah, namun posisi itu sangat cukup jika hanya untuk mengetahui kondisi tubuhnya.


"Kita akan cek besok, akan kuatur janji temu dengan dokter kandungan untukmu, bagaimana?" tawar Joel.


"Tentu saja aku akan menemanimu besok," imbuhnya.


Ariel mengangguk setuju. Malam itu di lanjutkan dengan drama panjang dimana Ariel menolak untuk meneruskan makannya, namun Joel tidak berhenti membujuknya hingga Ariel benar-benar menghabiskan makanannya.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


To be Continued...