
Suara sarkasnya menusuk hati Ariel saat itu juga. Bahkan tanpa menolehpun Ia tau jelas siapa pemilik suara itu.
Joel berdiri disisi meja dimana Ariel duduk, tengah menatapnya, sesekali melirik Darcie dengan tatapan tidak suka.
Ariel mengangkat wajahnya dan mendongak, membalas tatapan yang diberikan joel padanya.
'DEG,,,!'
Joel tercekat saat Ariel menatapnya. Ariel menatap Joel dengan tatapan yang tidak bisa dikenali lagi olehnya, menyungingkan senyum tipis padanya yang justru terasa menusuknya.
"Apakah kamu mengenalnya, Ariel?" tanya Darcie.
"Ya," jawab Ariel singkat.
"Kalau begitu, aku akan pindah dan memberimu ruang bersamanya, sepertinya ada yang ingin dia bicarakan denganmu," ucap Darcie.
"Tidak perlu, Darcie. Lagipula, aku pernah menceritakan tentangmu padanya saat kita bertemu diacara waktu itu, jadi dia tau sedikit tentangmu," jawab Ariel tenang. "Prihal dia mengingatnya atau tidak, itu adalah masalahnya," imbuhnya.
"Apakah kau ingin bergabung, Joel? Kursi ini masih kosong," tawar Ariel datar.
"Tidak, terima kasih. Aku tidak ingin menjadi penganggu," sindir Joel.
"Ahh,, begitu," sambut Ariel. "Baiklah, semoga harimu menyenangkan," imbuhnya.
Ariel kembali menyesap kopinya dalam diam. Tidak lagi menatap Joel yang masih berdiri didekatnya.
'Aku sungguh ingin memeluknya, tapi aku juga tidak ingin dia semakin membenciku,' batin Ariel.
"Selamat bersenang-senang," ucap Joel dingin.
Joel pergi meninggalkan Ariel bersama Darcie dengan rasa kesal yang menyelimuti hatinya, namun rasa sakit juga terselip diantaranya.
Saat Joel melangkah pergi, ia sempat mendengar beberapa orang membicarakan tentang Ariel dan Darcie yang kebetulan sedang bersama, menambah kekesalan yang tengah ia rasakan.
"Hei,, bukankah itu nona Ariel Esther? Aku mengenali wajahnya setelah berita tentang nona Ariel di muat dimajalah," terangnya. "Dia bersama tuan Adonis? Ya ampun," pekiknya.
"Ingin minta foto bersama?" tawar teman satu mejanya.
"Tidak, tuan Adonis terkenal dingin dan sedikit arogan, kita hanya akan di bentak jika mendekat," jawabnya.
"Tapi, dia terlihat tenang dan ramah kepada nona Ariel," sanggah temanya.
"Entahlah, aku juga penasaran apa alasannya"
"Ada kemungkinan tuan Adonis tertarik pada nona Ariel,"
"Dari apa yang diberitakan melalui majalah, nona Ariel sudah menjalin hubungan dengan putra tuan Evrad, dan itu sudah berlangsung beberapa tahun,"
"Dengan serius? Tuan Evrad yang memiliki banyak perusahaan?"
"Benar, tapi jika ingin dibandingkan, tuan Evrad masih berada satu tingkat dibawah tuan Adonis, mereka juga terlihat akrab,"
"Ahh,, kita tak pernah tau dengan kisah cinta mereka, tapi siapapun yang akan menjadi pasangan nona Ariel, aku akan mendukungnya, aku pengemar beratnya,"
"Aku juga,"
'Majalah' batin Joel dengan wajah bertanya-tanya.
Joel mengelengkan kepalanya, dan melanjutkan langkahnya pergi dari tempat itu.
"Apa kau yakin ini baik-baik saja?" tanya Darcie khawatir.
"Dia tampak salah paham padamu," imbuhnya.
"Dia sudah salah paham sejak awal, menjelaskan apa yang terjadi dalam keadaan marah tidak akan berguna," jawab Ariel tenang.
"Aku sungguh minta maaf karena tanpa sengaja membuat kamu terseret kedalamnya," sesal Ariel.
"Aku tak memikirkan itu, tapi aku justru memikirkanmu," sanggah Darcie. "Akan lebih baik jika kamu mengejarnya dan menjelaskan apa yang dia lihat," imbuhnya.
"Tak perlu dipikirkan, aku akan berbicara dengannya nanti," jawab Ariel kembali tersenyum.
Sebanyak apapun senyuman itu diperlihatkan, Darcie bisa melihat luka dibalik senyuman itu. Rasa ingin tau memenuhi hatinya, namun ia memilih untuk tidak menanyakan apapun.
Ia khawatir apa yang ia tanyakan justru membuka luka itu semakin dalam.
'Apakah dia kekasih atau semacamnya? Pria tadi terlihat marah saat melihatku,' batin Darcie.
"Hei, omong-omong, tawaranku masih berlaku," ujar Darcie memecah keheningan.
Ariel mengangkat wajahnya, manatap Darcie dengan alis terangkat.
"Jika kamu ingin menghentikan berita yang beredar dimajalah, aku bisa membantumu. Aku tak bermaksud sombong, hanya saja aku merasa posisiku bisa ku gunakan jika hanya untuk membungkam media,"
"Dan yang membuat berita itu, dia masih berada dibawahku," ucap Darcie dengan seringai percaya diri.
"Kau memiliki kepercayaan diri yang mengerikan, Darcie," sambut Ariel tertawa.
"Haruskah ku katakan aku percaya diri karena aku bisa membuatmu tertawa?" jawab Darcie terkekeh pelan.
"Tolong, jangan," jawab Ariel cepat. "Aku tidak ingin membuat pengemrmu cemburu dengan jatuh cinta padamu," sambungnya.
"Ya tuhan,, aku bahkan hampir melupakan siapa dirimu sebenarnya, berapa banyak pria di luar sana yang akan sangat bahagia hanya dengan kamu bersedia keluar bersama mereka," ucap Darcie blak-blakkan.
'PLUkK,,,!'
Serbet yang berada di dekat Ariel mendarat tepat diwajahnya. Alih-alih tersinggung dengan sikap Ariel, ia justru tertawa terbahak hanya karena meihat reaksi wajah Ariel yang mulai memerah.
"Aku sugguh berharap tidak akan pernah berada di posisi itu," sambut Ariel dengan ekspresi ngeri.
"Hei,,, bukankah itu bagus? Jika kesempatan itu terbuka, aku akan berada di barisan pertama," ucap Darcie tersenyum lebar.
"Kau memiliki sisi yang mengejutkan," ucap Ariel tersenyum sembari mengelengkan kepalanya.
"Aku sendiri bahkan terkejut, aku tak ingat kapan terakhir kalinya aku bisa tertawa lepas seperti sekarang, kamu sungguh orang yang menyenangkan," puji Darcie.
"Terimakasih, aku menikmati pujiannya," jawab Ariel yang di sambut tawa renyah Darcie.
"Uhm,,, bolehkah aku menanyakan hal yang agak pribadi padamu?" tanya Darcie.
"Tanyakan saja," jawab Ariel.
"Kamu janji tidak akan marah padaku, bukan?" harap Darcie.
"Aku janji tak akan marah, katakanlah!" jawab Ariel.
"Uhm,,, apakah kamu memiliki kekasi_,,,"
"Kak,,, maaf aku lama,"
Pertanyaan Darcie terpotong oleh suara yang menyela mereka. Ken tiba-tiba muncul dengan nafas tersengal sembari membungkukkan badannya, meletakkan kedua tangan dilututnya sendiri sembari mengatur nafas.
"Apa yang membuatmu berlari, Ken?" tanya Ariel heran.
"Aku khawatir sudah meninggalkan kakak terlalu lama," jawab Ken mulai menegakkan badannya.
"Eh,,, kakak bersama teman?" tanya Ken baru menyadari kehadiran Darcie.
"Seperti tidak asing," ucap Ken pelan sembari memiringkan kepalanya.
Darcie tersenyum ramah disertai anggukan tipis kepalanya.
"Ahh,,, tuan Adonis," seru Ken.
"Sungguh mengejutkan melihat anda berada disini," ucap Ken mengulurkan tangannya.
"Bagaimana kabar anda, tuan Adonis?" tanya Ken.
"Sangat baik, bagaimana dengan anda?" balas Darcie menyambut uluran tangan Ken.
"Seperti yang anda lihat," jawab Ken tersenyum lebar.
"Sepertinya bukan hal aneh jika kalian saling mengenal," sela Ariel tersenyum.
"Duduklah, Ken," pinta Ariel.
"Bagaimana kalian bisa bersama?" tanya Darcie bingung.
"Bahasa sederhananya, kak Ariel pelatih saya dalam bermain musik," jawab Ken seraya duduk di kursi kosong.
Ah,, begitu rupanya," sambut Darcie tersenyum.
'Kenapa aku merasa senang setelah tau mereka bukan pasangan?' batin Darcie.
Ariel melihat jam yang , melingkar dipergelangan tangannya, lalu kembali menatap Darcie.
"Sayang sekali, sepertinya sudah waktunya bagi kami untuk pergi, tapi aku tak masalah jika kamu masih ingin disini untuk berbincang, Ken," ucap Ariel.
"Tidak, aku akan bersama kakak saja," sambut Ken.
"Baiklah, kelihatannya aku juga harus pergi," ucap Darcie.
Ariel tersenyum ramah, lalu berdiri diikuti Darcie yang ikut berdiri seraya mengulurkan tangannya.
"Senang bertemu denganmu lagi," ucap Darcie lalu beralih pada Ken dan melakukan hal yang sama. "Ku harap ada kata lain kali untuk bertemu," imbuhnya lirih hingga Ariel tidak mendengarnya.
"Senang bertemu denganmu, sampai jumpa," balas Ariel.
Ariel pergi lebih dulu bersama Ken, sementara Darcie menatap punggung Ariel yang semakin menjauh.
"Tuan, kita sudah ditunggu untuk rapat," ucap seorang pria yang mendampingi Darcie.
"Baiklah," jawab Darcie.
Darcie beranjak dari tempatnya pergi meninggalkan cafe yang membuatnya bertemu lagi dengan Ariel. Ia sejenak berhenti, menoleh kebelakang untuk melihat terakhir kali Ariel semakin jauh sebelum meneruskan langkahnya.
...>>>>>>>--<<<<<<<...
To be Continued