I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
142. Kabar baik atau buruk



## Beberapa hari kemudian.


Diruang latihan studio, suara tuts piano dimainkan dengan sedikit kasar, melodi yang dihasilkan sukses membuat siapapun yang mendengarnya menutup telinga mereka.


Ken yang baru saja tiba segera masuk setelah mendengar dari mereka yang sudah datang bahwa yang berada didalam adalah Ariel, dan tak satupun dari mereka berani masuk ketika mendengar suara tuts piano yang terdengar kacau.


"Kak,,," panggil Ken pelan.


"Apa yang sedang kakak lakukan?" tanya Ken hati-hati sembari mendekati Ariel.


Ariel duduk didepan piano dengan jari tangan yang berada diatas tuts piano. Namun sesekali tangannya mencengkram kepalanya.


"Menyebalkan, semua tuts ini rasanya seperti berpindah-pindah," ucap Ariel sedikit kesal sembari menutup mata dan mengelengkan kepalanya.


"Dan sekarang mereka berjumlah ganda," ucap Ariel lagi ketika membuka matanya.


"Aku antar kak Ariel pulang atau aku menghubungi kak Joel untuk menjemput kak Ariel?" ujar Ken memberi pilihan.


"Aku tidak memilih keduanya," tolak Ariel.


"Kenapa kakak selalu keras kepala? Kenapa kakak sangat suka membuat orang lain khawatir? Sebenarnya apa yang kakak inginkan?" cecar Ken menaikan intonasi suaranya.


Ariel mendongak, menatap Ken dari posisi duduknya dengan kerutan tajam di keningnya.


"Satu kali saja, tolong, bisakah kakak tidak keras kepala? Kakak bahkan tidak bisa melihat seberapa mengerikan wajah kakak sekarang," keluh Ken dengan nada khawatir.


"Aku tak bermaksud begitu," sanggah Ariel kembali mencengkram kepalanya.


Beberapa hari ini ia merasakan sangat sering sakit kepala, dan sakitnya selalu datang dengan cara tiba-tiba, hingga terkadang terasa sangat mengesalkan baginya.


"Katakan pada mereka untuk masuk, aku tau mereka berada diluar sejak tadi," perintah Ariel.


Ken menghela nafas panjang, namun menuruti perintah Ariel dan kembali menghampiri Ariel untuk membantunya duduk di kursi yang ada di sisi ruangan.


Mereka akhirnya tau apa penyebab dari permainan kacau yang baru saja mereka dengar setelah melihat Ariel yang berjalan dengan dibantu Ken.


"Apakah kakak ingin makan atau minum sesuatu?" tanya Ken.


"Entahlah," jawab Ariel asal.


"Saya membawa smoothies, apakah kak Ariel mungkin mau minum itu?" tawar Alice menyela.


"Kamu sengaja membawanya untuk kamu nikmati disini saat istirahat bukan?" sambut Ariel tersenyum tipis.


"Saya tidak keberatan memberikan itu untuk kak Ariel," jawab Alice.


"Mungkin kakak sakit kepala karena gula darah menurun atau sejenisnya. Saya mempunyai teman yang kadang-kadang sama seperti kakak," terang Alice.


"Tunggu sebentar," ujar Alice lagi tanpa menunggu jawaban Ariel.


Alice setengah berlari menuju tas miliknya yang ia letakkan disudut ruangan, mengambil sebuah botol dari dalam tasnya dan kembali menghampiri Ariel.


"Ini buat kak Ariel saja," ucap Alice menyodorkan botol berisi smoothies.


"Kau yakin memberikan ini untukku?" tanya Ariel memastikan.


"Tentu saja, saya justru khawatir terjadi sesuatu pada kakak," jawab Alice. "Bahkan, sekarang kakak sudah terlihat pucat," imbuhnya.


"Terima kasih," sambut Ariel menerima botol yang disodorkan padanya.


Ariel meminumnya perlahan, merasakan cairan lembut dan kental serta rasa asam dari buah yang di campur yogurt memenuhi mulutnya.


"Ini enak," ucap Ariel tersenyum.


"Ugh,,,"


Detik berikutnya, dah Ariel mengernyit tajam, merasakan ada yang tidak beres dengan perutnya.


"Kak,,? Kenapa?" tanya Ken cemas.


"Hmph,,,,"


Ariel memberikan botol di tangnnya pada Ken sembari membekap mulutnya sendiri dan segera berlari menuju toilet. Meninggalkan tatapan bingung di wajah semua muridnya.


Ia menuju toilet dengan tergesa-gesa, membuka penutup closet dan segera mengeluarkan isi perutnya.


"Ugh,,, perutku rasanya seperti diaduk-aduk," keluh Ariel kembali mengeluakan isi perutnya.


"Kenapa rasanya mual sekali? Apa yag salah dengan smoothies tadi?" gumamnya pelan.


Ia membasuh tangan dan wajahnya, merasakan tubuhnya semakin terasa tidak enak.


"Kak,,?" panggil Alice.


"Ah,, ya? Kenapa?" tanya Ariel menoleh.


"Apa kakak baik-baik saja?" tanya Alice cemas.


"Aku tidak apa-apa," jawab Ariel.


Ariel menoleh dan melihat hanya Alice yang masuk kedalam toilet untuk menyusul dirinya.


"Ayo keluar," ajak Ariel.


Alice mengangguk pelan, membantu Ariel berjalan keluar dari toilet. Namun, lagi-lagi rasa mual kembali menyerangnya membuat ia berbalik dan masuk kedalam bilik toilet lagi.


Beberapa menit kemudian, Ariel memilih pulang saat merasakan tubuhnya semakin terasa tidak nyaman dengan diantarkan Ken ke aparteman.


"Kakak yakin tidak ke rumah sakit saja untuk memeriksa kondisi kakak?" tanya Ken. "Setidaknya, disana kak Joel bisa menjaga kakak," imbuhnya.


"Tidak perlu, terima kasih sudah mengantarku pulang,Ken," sambut Ariel.


"Aku akan menghubungi Joel saja untuk membawakan obat," imbuhnya beralasan.


"Baiklah, kalau begitu aku kembali ke studio," ujar Ken. "Kak Ariel tidak perlu datang ke studio jika keadaan kakak belum membaik," saran Ken.


"Pasti, kak," jawab Ken.


Setelah mobil yang dikendarai Ken menghilang dari pandangannya, Ariel segera naik ke apartemennya. Menuju kamar dan segera berbaring hingga tanpa ia sadari, kedua matanya terpejam.


...>>>>>>>>--<<<<<<<...


Joel menunggu didalam mobil dengan sabar. Sesekali matanya melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya, lalu mengerutkan keningnya.


"Aneh, seharunya dia keluar setengah jam lalu, tapi kenapa belum keluar juga? Ken juga belum terlihat keluar dari studio," gumamnya.


Joel mengeluarkan ponselnya, mengulir layar ponsel dan menekan satu nama untuk di hubungi.


"Ayolah,,,Sweety, kenapa tidak diangkat?" gumam Joel pelan.


Saat rasa cemas mulai menjalar memenuhi hatinya, Joel melihat Ken baru saja keluar bersama gadis yang berusia lebih muda darinya, dan gadis yang sama dengan yang ia lihat di acara Darcie malam itu.


Tanpa berpikir dua kali, Joel keluar dari mobil dan menghampiri Ken. ingin menanyakan apakah Ariel masih berada didalam. Namun Ken justru terkejut karena Joel datang ke studio.


"Lho,, apakah kak Ariel tidak menghubungi kak Joel?" tanya Ken bingung.


"Menghubungiku? Kenapa menghubungiku?" sambut Joel balas bertanya. "Apakah Ariel tidak didalam?" imbuhnya.


"Kak Ariel agak kurang sehat pagi ini, jadi pulang sebelum jam makan siang," papar Ken.


"APA,,???" seru Joel terkejut.


"Kak Ariel bilang akan menghubungi kak Joel, jadi aku tidak terlalu khawatir," sahut Ken.


"Tapi,,," Joel tidak menyelesaikan kalimatnya dan segera memeriksa ponselnya.


"Oh,,, sial,,, kenapa aku tidak melihatnya,?" umpatnya setelah melihat ponselnya sekali lagi.


Siang ini Ariel menghubungi dirinya sempai sepuluh kali, dan diakhir ada satu pesan singkat.


[[ @Sweety. Sore nanti tidak perlu menjemputku, aku sudah pulang. Sebelum kamu pulang, bisakah kamu membawakan obat demam untukku? ]]


Setelah membaca pesan itu, Joel pergi begitu saja dengan mengabaikan kebingungan Ken dan gadis disampingnya.


"Apakah suami kak Ariel memang seperti itu?" tanyanya.


"Kenapa?" sambut Ken.


"Sebelumnya terlihat begitu tenang, tapi setelah melihat ponselnya dia berubah seperti kebakaran jengot sendiri," ujarnya.


"Yah,,, kak Joel pernah hampir kehilangan, jadi rasa khawatirnya selalu tinggi jika itu menyangkut kak Ariel," ungkap Ken.


"Hampir kehilangan?" ulang Alice mengerutkan keningnya.


"Pernah terjadi insiden dan itu sempat membuat kak Ariel tidak bernafas, sejak saat itu kak Joel berubah," ungkap Ken.


"Begitu rupanya," sambutnya.


"Meski terkadang kak Joel bisa melakukan kesalahan seperti ini, biasanya kak Joel selalu memiliki alasannya," jelas Ken.


Mereka masih mengarahkan pandangan mereka kearah dimana Joel menghilang dengan mobilnya.


Joel mengemudikan mobilnya kembali ke rumah sakit untuk mengambil obat sebelum pulang ke apartemen. Ia membuka pintu kamar dengan hati-hati, dan melihat Ariel dalam keadaan tidur.


Tangannya bergerak pelan untuk mengecek suhu tubuh Ariel dengan menempelkan telapak tangan didahi istrinya. Namun, gerakan itu justru membuat Ariel terbangun.


"Mhmm,,, sudah pulang?" ujarnya segera bangun dari berbaringnya.


"Berbaring saja!" cegah Joel menahan Ariel.


"Aku sudah merasa lebih baik," jawab Ariel seraya duduk bersandar.


"Kenapa tidak mengatakan apapun pagi ini jika kamu sakit?" tanya Joel meletakkan tangannya di dahi Ariel sekali lagi.


"Aku bersyukur demammu tidak tinggi, tapi tetap saja. Jika kamu mengatakannya pagi ini, aku bisa menemanimu," keluh Joel.


"Maaf," sesal Joel menundukan kepalanya.


"Maaf?" ulang Ariel mengerutkan keningnya.


"Kesalahan apa yang kamu perbuat?" tanya Ariel tak mengerti.


"Aku terlambat melihat ponselku, bahkan tidak menyadarinya jika kamu menghubungiku," jawabnya.


Ariel hanya tersenyum tipis sebelum menjawab. "Sepertinya kamu sangat sibuk," sahut Ariel.


"Seharusnya tidak," jawab Joel tanpa mengangkat wajahnya.


"Angkat wajahmu!" perintah Ariel. "Apa kamu akan terus berbicara tanpa menatapku?" tanya Ariel.


Joel mengangat wajahnya hingga pandangan mereka saling bertemu.


"Aku lapar, bisakah buatkan aku sesuatu?" pinta Ariel.


Joel terdiam selama beberapa saat, dalam hatinya berpikir bahwa ia justru akan merasa lebih baik jika Ariel marah padanya, namun yang terjadi justru sebaliknya.


"Baiklah," jawab Joel.


Joel bangun dari duduknya, meletakkan obat beserta ponselnya diatas nakas sebelum pergi meninggalkan Ariel ke dapur.


Setelah beberapa menit, Joel kembali lagi dengan nampan ditanganya. Ia duduk ditepi tempat tidur, mengulung lengan kemejanya dan mulai menyuapi istrinya, menolak keinginan Ariel yang ingin makan sendiri.


Entah kenapa ia merasa gelisah sejak ia kembali, bahkan setelah melihat istrinya, ia merasakan ada yang disembunyikan sang istri darinya. Hingga satu pertanyaan yang tak pernah ia duga keluar dari bibirnya.


"Jika aku mencintai orang lain, apa yang akan kau lakukan?" tanya Ariel dengan wajah datar.


.....


To be Continued