I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
105. Cerita dibalik sikap



"Benar_tunggu, dari mana anda tau tentang luka tuan?" tanya Sam terkejut.


"Jadi Bram tidak menceritakan apapun padamu?" tanya Ariel.


"Maksud anda?" tanya Sam tak mengerti.


"Aku bertemu Bram setelah aku beberapa bulan tinggal di kota ini," ungkap Ariel.


"Jadi, sejak awal tuan berada disini untuk mencari anda?" tanya Sam.


"Pertanyaan itu hanya dia yang bisa menjawabnya," jawab Ariel. "Lanjutkan!" pinta Ariel.


"Ah,, baik," sambut Sam.


"Saat melihat tuan memilih menerima semua pukulan dari tuan besar dari pada melawannya, tuan besar membuat surat kontrak dimana tuan akan menikah dengan anda,"


"Tuan muda menolak hal itu, lalu tuan muda berasumsi tuan besar akan membuat surat palsu dimana anda dan tuan muda telah menikah, hingga membuat tuan muda mencari jalan keluarnya tanpa melibatkan anda," terang Sam.


"Kenapa?" tanya Ariel kehabisan kata-kata.


Ia sungguh tidak menyangka Bram akan bertindak dengan sangat hati-hati hanya karena memikirkan dirinya.


"Karena nama anda dikenal oleh seluruh rekan bisnis tuan besar, dan ketika tuan besar mengatakan anda adalah kekasih dari putranya, semua rekan bisnis tuan besar bersedia untuk menanam saham mereka," jelas Sam hati-hati.


"Hah,,, menjadikanku sebagai batu loncatan yang sempurna. Setelah memeras otak dan tenaga Bram, dia juga menjadikanku sebagai sasaran berikutnya," sambut Ariel tertawa mencemooh.


"Beberapa hari ini, tuan terus mencari celah kelemahan tuan besar, namun tetap bersikap tidak tau apapun rencana tuan besar, dan tetap berperan sebagai boneka,"


"Saya sudah berusaha membantu dengan cara apapun, namun tetap saja hal itu tetap memerlukan peran tuan untuk terus berpura-pura menurut dengan semua yang diinginkan tuan besar,"


"Jika tuan besar sudah sampai menemui anda, saya tidak tau bagaimana dengan rencana tuan yang sudah direncanakan sampai sejauh ini,"


Sam menundukkan kepalanya dengan frustasi. Namun dengan cepat kembali mengangkat wajahnya, menatap Ariel dengan tatapan khawatir.


"Apakah anda baik-baik saja nona?" tanya Sam.


"Bisakah kamu membelikan sesuatu untuk penghilang mabuk, Sam?" tanya Ariel


Pertanyaan yang mereka lontarkan secara bersamaan membuat Ariel terkekeh pelan. Sam pun akhirnya tersenyum.


"Saya akan mencarinya sebentar," jawab Sam.


"Jadi, tuan masih belum bangun?" tanyanya.


Ariel mengaruk kepalanya lalu menatap Sam dengan senyum canggung.


"Sebenarnya, aku tak sengaja memukul kepalanya hingga berdarah_tapi tenang saja, dia baik-baik saja, dan hanya pingsan," jelas Ariel sedikit panik.


"Anda seolah berubah menjadi sosok yang baru, nona," sambut Sam tertawa kecil.


"Kuharap itu dalam hal baik," jawab Ariel.


"Bahkah sangat baik," ucap Sam. "Jika itu bukan anda, mungkin dia akan meninggalkan tuan begitu saja tanpa peduli dengan luka yang tuan alami, tapi anda?" Sam berkata dengan rasa hormat yang tinggi.


"Sungguh, anda masih peduli pada tuan setelah apa yang sudah tuan lakukan kepada anda," tutur Sam.


"Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan, tak terkecuali untuk Bram. Jika hubungan persahabatan bisa terjalin, aku bisa mengakuinya sebagai sahabat," ungkap Ariel.


"Apakah tuan_,,,"


"Terasa tidak adil baginya?" potong Ariel dengan melempar pertanyaan,


"Sayangnya hubungan kami tidak bisa lebih dari itu, Sam," lanjutnya.


"Tuan yang sekarang jauh berbeda dengan yang dulu," ucap Sam seolah ingin menyampaikan harapan hatinya agar Ariel kembali bersama Bram.


"Aku memiliki seseorang dihatiku, Sam, dan dia tau hal ini," papar Ariel.


Selama beberapa saat Sam melebarkan matanya, namun segera mengendalikan perasaannya.


"Begitu rupanya, saya mengerti," ucap Sam dengan wajah sedih.


'Meski aku sangat ingin agar nona kembali bersama tuan, tapi sepertinya itu mustahil, batin Sam.


"Ah,,, saya akan keluar sebentar dan kembali membawakan sesuatu untuk tuan dan anda," ucap Sam sembari berdiri.


"Baiklah," sambut Ariel.


Sam pergi meninggalkan Ariel, menjanjikan akan kembali secepatnya sebelum menutup pintu. Seiring dengan pintu yang tertutup, keheningan kembali memenuhi ruangan itu.


"Kosong, tempat ini terasa sangat kosong," gumam Ariel pelan.


Kakinya melangkah menuju dapur untuk mengambil air dan membawanya kekamar Bram.


Didalam kamar, Bram mengeliat dan mulai membuka matanya. Ia mengedarkan pandangannya dengan kerutan didahinya.


"Aku sudah disini"


"Akh,,, Eh,,?" Bram mengerang sesaat, lalu merasa bingung dengan dahinya yang telah diperban seolah dirinya baru saja terluka dan ada yang merawat lukanya.


"Apa yang sudah terjadi?" ucapnya bingung.


Bram menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, lalu tertegun saat melihat dirinya hanya mengenakan celana pendek saja.


"Sekarang apa?" keluhnya.


Bram mencengkram kepalanya yang terasa berdenyut, berusaha mengingat malam dimana ia masih di nightclub. Hal terakhir yang ia ingat adalah saat seseorang menjemputnya dan ia merasa seperti mendengar suara Ariel.


"Arghh,,, aku benar-benar tidak ingat siapa dia? Dan aku yakin dialah yang mamasukan obat_,,"


"Obat,,, lalu apa yang terjadi? Bagaimana aku bisa kembali?"


Bram bertanya-tanya pada dirinya sendiri, tepat saat dirinya akan turun dari tempat tidur, pintu kamarnya terbuka, membuat Bram secara terang-terangan membuka rahangnya.


Ariel berjalan kearahnya hanya memakai kemeja miliknya tanpa memakai bawahan. Kemeja itu mencapai diatas lutut, memperlihatkan kaki putih bersih milik Ariel. Satu tangan Ariel membawa segelas air, dan ketika Ariel telah berada tepat didepan Bram, tangan itu terulur memberikan segelas air itu pada Bram.


"Apakah aku bermimpi?" gumamnya.


"Jika ini mimpi, aku tidak ingin bangun," gumamnya lagi.


"Aaaww,,,," rintih Bram saat Ariel mencubit lengan Bram.


"Aahh,,, ini bukan mimpi?" tanya Bram dengan wajah bingung.


Bram segera menerima gelas dan meneguk isinya hingga hampir habis, lalu meletakkan gelas di atas nakas. Matanya kembali tertuju pada Ariel yang kini duduk dikursi berada tepat didepannya.


Seolah teringat akan sesuatu, Bram segera berdiri dan meraih lengan Ariel, menariknya agar berdiri.


"Keluar!" pinta Bram.


"Aku sudah melihat seluruh isi kamarmu jika itu yang kau khawatirkan," jawab Ariel tenang.


Mendengar hal itu membuat Bram melepaskan tangannya dan terduduk lemas.


"Bagaimana kamu bisa berada disini? Kenapa? Dan kenapa kau memakai kemejaku?" cecar Bram.


Ariel yang sejak melihat Bram telah bangun menahan emosinya, kini emosi itu seolah meluap mendengar pertanyaan konyol Bram. Ariel sedikit membungkuk untuk mengambil pakaiannya yang telah robek dan melemparkannya tepat diwajah Bram.


'PLUK,,!!'


"Apa kau memintaku untuk memakai pakaian itu didepanmu?" sentak Ariel sengit.


Bram terkejut mendengar sentakan Ariel yang tiba-tiba. segera ia menurunkan kain yang menutupi wajahnya dan melihat kain itu.


Seketika Bram tercekat melihat kain di tangannya adalah sebuah dress yang telah robek. Robekan kainnya sama sekali tidak bisa di gunakan untuk menutupi tubuh pemakainya.


"A-Apa aku yang melakukannya?" tanya Bram terbata.


Ariel hanya menatapnya tanpa menjawab, namun hal itu cukup baginya untuk mengetahui apa jawabannya.


Mata Bram melebar sempurna, beberapa kali ia mengarahkan pandangannya pada Ariel dan beralih pada dress robek ditangannya, menunggu jawaban yang ia tau mustahil untuk tidak mendengarnya.


"A-A-Aku,,,," kepala Bram tertunduk penuh dengan rasa penyesalan.


"Maafkan aku," sesal Bram dengan kepala tertunduk.


"A-Aku,,, sedikitpun tidak pernah berpikir untuk melakukan hal itu padamu, A-Aku sungguh tidak ingin hal ini terjadi," ratap Bram.


Bram tertunduk semakin dalam, tangannya terkepal, hatinya merasa seolah ia telah kehilangan sekali lagi, dan itu karena kecerobohannya. Tubuhnya merosot dan berlutut tepat didepan Ariel.


"Maafkan aku," sesal Bram.


"Lihat aku, Bram!" ucap Ariel lembut.


"Tolong jangan bersikap baik padaku, aku tak pantas menerimanya" ucap Bram mengelengkan kepalanya.


"Tampar aku, pukul aku menggunakan apapun, aku akan menerima semuanya," ratap Bram putus asa.


"Menerima semuanya tanpa melawan seperti yang kau lakukan ketika Mr.Evrad melakukannya?" tanya Ariel.


Pertanyaan Ariel berhasil membuat Bram mengangkat wajahnya, terkejut.


"K-Kamu,,," Bram sangat terkejut Ariel mengetahui hal itu, dan segera menangkap kemana arah yang Ariel bicarakan.


"Sam,,, Apakah dia mengatakannya padamu?"tanya Bram menyembunyikan amarahnya.


"Ya," jawab Ariel singkat.


Bram kembali tertunduk, jika semula ia merasa kesal lantaran Sam telah membuka mulutnya, kini hal itu seolah berubah menjadi tidak begitu penting baginya.


"Bram,,," panggil Ariel.


Meski Ariel memanggilnya, Bram kembali menolak mengangkat wajahnya.


"Kamu belum melakukannya sampai sejauh itu, kau tau?" ucap Ariel.


Perlahan Bram mengangkat wajahnya, memberanikan diri untuk kembali menatap manik mata Ariel yang tengah menatapnya. Memberikan tatapan lembut padanya.


"Itulah alasan kenapa kau memiliki luka didahimu, dan aku minta maaf karenannya," ucap Ariel.


"A-Aku,,, belum melakukannya?" ulang Bram penuh harap.


Ariel mengelengkan kepalanya. "Hampir," jawab Ariel. "Tapi, aku justru membuatmu terluka tanpa kusadari," imbuhnya.


"Dan merawat lukaku?" sambung Bram tersenyum getir.


"Kenapa kamu tidak membiarkanku saja dan meninggalkanku?" tanya Bram sedih.


"Dengan keadaan seperti ini?" Ariel balas bertanya.


Bram menunduk lagi, membuat Ariel mengulurkan tangannya menyentuh bahu Bram.


"Aku tau kamu tidak akan melakukannya, Bram. Dan aku percaya padamu," ucap Ariel.


"Sekarang kau harus menceritakan semuanya padaku!" pinta Ariel.


"Aku,,, tidak bisa,," jawab Bram lirih.


"Meskipun Mr.Evrad telah menemuiku?" tanya Ariel.


"Dia,,, sudah menemuimu?" tanya Bram lagi-lagi terkejut.


"Haahh,,," desah Ariel. "Pergilah ke kamar mandi dan besihkan dirimu!" pinta Ariel.


"Kau membutuhkan air untuk bangun," imbuhnya.


Ariel membantu Bram berdiri dan menuntunnya ke kamar mandi tanpa perlawanan.


Selama Bram berada didalam kamar mandi, Ariel menunggu di ruang tamu. Duduk termenung memikirkan berbagai hal yang terjadi secara bersamaan.


Kebetulan? Ariel berpikir keras apakah ada kebetulan seperti hal yang baru saja ia alami? Namun tidak bisa membuktikan pemikirannya.


Ketika Ariel sibuk dengan pikirannya, ditempat lain, tepatnya didepan apartemen Bram, mobil Joel berhenti dengan mulus disana. Tanpa diduga, Joel mulai meretas cctv yang berada diapartemen tempat tinggal Bram dan melihat tiap rekaman dengan seksama.


....


....


.


.


To be Continued