I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
53. Jangan Pergi!



Ariel terdiam selama beberapa saat, matanya melirik kearah Joel yang menunggunya tanpa menyela.


"Sebuah kehormatan bagi saya mendapatkan penawaran ini, akan tetapi, tolong maafkan saya. Saya harus menolaknya," ucap Ariel sopan.


"Kenapa? kami bisa membayar anda jika itu yang anda maksudkan," sambut Darrel.


"Bukan. Tapi saya memiliki pekerjaan dan tanggung jawab yang tidak bisa saya abaikan," jelas Ariel.


"Jika itu masalahnya, bagaimana jika anda ikut bersama kami, hanya di pertunjukan itu saja?" tawar Albert.


"Jika pertunjukan ini berhasil, kami mungkin bisa bermain di Venesia," bujuk Darrel.


"Saya sangat berterima kasih, namun saya minta maaf kepada anda berdua, saya tidak bisa menerimnanya," tolak Ariel dengan halus.


"Baiklah, kami tidak akan memaksa. Tapi," Albert mengeluarkan kartu nama dan memberiknnya kepada Ariel.


"Jika mungkin anda berubah pikiran, anda bisa menghubungi saya," ucapnya.


"Baiklah, terima kasih, saya akan menyimpannya," sambut Ariel menerima kartu nama Albert.


" Merci beaucoup, mademoiselle," ucap Albert.


"Je vous en prie, passe une bonne journée, " balas Ariel tersenyum.


Mereka berdua menganggukan kepala dan tersenyum ramah. Menatap Joel sebentar lalu pergi meninggalkan Ariel dan Joel.


Ariel menatap kepergian mereka, lalu dengan langkah gontai kembali melangkahkan kakinya, entah kemana ia akan pergi, Ariel hanya merasa ingin berjalan


"Ariel, tunggu!" seru Joel mengulurkan tangan menahan langkah kaki Ariel.


"Apa yang mereka katakan? Jika aku tidak salah menebak, itu bahasa prancis bukan?" tanya Joel.


"Ya," jawab Ariel singkat.


'Jika ku pikir ulang, sepertinya pergi kesana bisa mengalihkan pikiranku saat ini,' pikir Ariel.


Ariel kembali melangkah setelah menepis dengan pelan tangan Joel yang mengenggam pergelangan tangannya. Entah kenapa, ia merasa lelah dengan semua hal yang terjadi hari ini.


"Apakah kamu akan pergi ketempat dimana ada Arcade seperti yang kamu katakan sebelumnya?" tanya Joel.


"Tidak, bukankah kau sendiri tak menyukainya?" balas Ariel tanpa menoleh.


"Ariel,," panggil Joel sembari menarik tangan Ariel lagi.


Ariel yang tidak siap dengan Joel yang menarik tangannya, membuatnya kehilangan keseimbangan dan menabrak Joel. Dengan gerakan halus, Joel meletakkan dua jari didagu Ariel, dan mengangkat wajahnya, memintanya untuk menatapnya.


"Ada apa? Kamu menjadi pendiam sejak mereka berdua pergi. Apa yang mereka katakan? Kenapa itu seperti membebani pikiranmu?" tanya Joel lembut.


"Aku hanya berpikir untuk mempertimbangkan penawaran mereka," jawab Ariel pelan.


"Penawaran?" kening Joel berkerut. "Penawaran apa yang mereka berikan?" tanya Joel.


"Bermain bersama grup orkestra mereka di Paris. Mereka juga mengatakan bisa bermain di Venesia," papar Ariel.


"Paris???" seru Joel dengan mata melebar. "Dan Venesia? Maksudmu Italia?" imbuhnya.


Joel menurunkan tangannya, yang lebih terlihat seperti terjatuh saat melihat Ariel mengangguk. Matanya menatap lekat kedalam mata Ariel.


"Bukankah mereka pemain orkestra jalanan? Dan kamu memiliki posisi lebih tinggi dari mereka. Kenapa kamu tidak menyebutkan namamu? Dengan begitu mereka tidak akan berani mengambil langkah untuk menawarkan hal seperti itu padamu," ucap Joel gusar.


"Apakah kau memintaku untuk bertindak implusif, Joel?" sambut Ariel balas menatap Joel.


"Jika itu diperlukan, mengapa tidak? Ada saat dimana sikap implusif diperlukan bukan?" balas Joel.


"Memang benar, tapi situasiku tidak mengharuskan aku untuk bertindak implusif," jawab Ariel.


"Lalu, mengapa kau tidak mengatakan pada mereka siapa kamu? Jika mereka mendengar namamu, aku yakin mereka akan mengenalinya," tanya Joel mencengkram bahu Ariel.


"Kenapa kamu harus bermain alat musik disana yang membuat mereka menjadi tertarik padamu?" tanya Joel lagi.


"Kamu bahkan bermain dalam orkestra besar dan permainanmu juga diakui oleh musisi ternama, kenapa kamu harus bergabung bersama mereka yang hanya orkestra jalanan?" ucap Joel mulai meninggikan suaranya.


"Joel, apa kau sadar bahwa kata-katamu itu kasar?" sergah Ariel.


"Apakah menurutmu posisiku itu adalah hal terpenting saat ini? Aku tidak mengenali sifatmu yang seperti ini," lanjutnya sembari menepis tangan Joel.


"Dan itu juga berarti kamu pergi meninggalkanku?" imbuhnya dengan suara bergetar.


Ariel tertegun selama bebeapa saat, memandangi wajah Joel yang lebih terlihat panik dibandingkan dengan marah. Entah kenapa, melihat Joel yang seperti itu justru membuat hatinya turut merasakan sakit yang Ariel sendiri tidak tau dari mana asalnya.


'Jangan menatapku seperti itu, Joel. Aku tak menyukainya, kenapa rasanya sesak melihat tatapanmu yang seperti ini?' ratap hati Ariel.


Ariel menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Berusaha tetap tenang sebelum kembali berkata.


"Bukankah tadi aku bilang mempertimbangkan? Itu artinya aku belum menerima tawaran mereka, kenapa kau sepanik ini?"tanya Ariel.


"Justru itu yang aku takutkan, kamu mengatakan mempertimbangkan sama saja kamu memiliki pikiran untuk menerimanya," sambut Joel.


"Haaa,,," desah Ariel. "kita ke apartemenku, aku akan menunjukkan sesuatu," ajak Ariel.


Joel menurut meski dihatinya masih diliputi kegelisahan, berpikir bahwa Ariel akan pergi dari kota ini, pergi meninggalkannya.


Begitu mereka telah berada didalm apartemen, Ariel menunjukan pratitur miliknya pada Joel.


Joel menerima pratitur itu dengan kening berkerut. Banyaknya coretean di pratitur itu membuat Joel mengerutkan keningnya.


"Kertas apa ini?" tanya Joel.


"Aku sedang melakukan aransemen instrumen pagi ini ketika Bram tiba-tiba datang. Aku beberapa kali kehilangan fokusku, dan dia mengajakku keluar," ada jeda sesaat sebelum Ariel kembali melanjutkan.


"Berpikir untuk mencari inspirasi, aku menerima ajakannya, dan saat itulah aku melihat orkestra jalanan ditaman, dan kebetulan kamu juga berada disana bersama Christina," terang Ariel.


"Aku tertarik untuk mencoba alat musik yang sejenis dengan piano namun memiliki nada berbeda, itulah sebabnya aku mencobanya, dan aku tidak menyangka itu terjadi begitu mudah," jelasnya.


"Jadi kamu mempertimbangkan penawaran mereka?" tanya Joel.


"Ya, mereka pemain orkestra jalanan selalu memiliki sisi unik tersendiri yang tidak akan bisa ditemukan di orkestra musik sebenarnya," jelas Ariel.


Joel mendekati Ariel. Dengan gerakan tiba-tiba, ia memeluk Ariel dengan erat, enggan untuk melepaskannya.


"Ukh,,, Joel,,, aku kesulitan bernafas," keluh Ariel berusaha mendorong Joel.


Alih-alih melepaskan Ariel, Joel justru mengeratkan pelukannya, dan mulai berbisik ditelinga Arel.


"Jangan pergi!" bisiknya dengan suara bergetar.


"Aku mohon, jangan pergi!" bisiknya lagi.


"Joel, aku_,,,"


"Aku tau ini egois. Jika dengan menjadi egois bisa membuatmu tetap tinggal, maka aku memilih untuk terus bersikap egois," ungkap Joel.


Pengungkapan Joel membuat Ariel berhenti memberontak, dan membiarkan Joel memeluknya.


"Joel,,," panggil Ariel dengan lembut.


"Aku tidak akan pergi," ucap Ariel.


"Bohong!" jawa Joel.


"Aku serius, Joel. Aku tidak akan pergi, aku tidak bilang akan bergabung grup mereka, aku hanya mempertimbangkan bermain bersama mereka di Paris," tutur Arel


"Itu bahkan terdengar sama saja," jawab Joel enggan melepaskan Ariel.


"Aku belum selesai bicara, Joel," balas Ariel membuat Joel kembali diam.


"Aku hanya beberapa hari disana, dan kamu bisa ikut jika kamu mau. Aku tertarik dengan Venesia. Dan jika kamu ingin mencari pantai dengan ombak besar dimana kamu bisa surfing sepuasnya, kita bisa kesana," papar Ariel.


Joel mulai melonggarkan pelukannya, perlahan menarik dirii dan menatap Ariel. Mencari tau apakah itu hanya untuk membujuknya atau memang itu yang direncanakan Ariel untuknya.


"Jadi, kamu tidak akan pergi dari kota ini untuk seterusnya? Dan hanya sebentar?" tanya Joel memastikan.


"Bahkan aku tidak memiliki pikiran itu sedikitpun," sambut Ariel tersenyum.


Joel kembali memeluk Ariel, namun keli ini berbeda. Joel memeluk hangat. Dan untuk pertama kalinya bagi Ariel, ia merasakan sebuah kenyamanan yang suad sekian lama tak pernah lagi ia rasakan. Rasa nyaman dan aman di saat yang sama, hingga tnpa ia sadari, Ariel telah membalas pelukan Joel.


...>>>>>>>--<<<<<<<...