I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
41. Yang tidak diharapkan



"Sekarang apa? Bukankah kau lebih memilih teman barumu itu dari pada aku?" cetus Jesica kesal melalui ponselnya.


"Hei,,, dengarkan aku dulu," ucap Charlie lembut.


"Aku minta maaf telah membentakmu, tapi aku sungguh tidak bisa menemanimu belanja kali ini," jelas Charlie.


"Aku tidak mungkin meninggalkan acara ulang tahunnya," papar Charlie.


"Apakah dia mengadakan pesta besar? Hingga kau harus ada disana?" sambut Jesica.


"Tidak, justru sebaliknya. Ini sangat sederhana. Dan kami hanya berempat," terang Charlie.


"Dengan serius,,???" seru Jesica. "Kau berada disana yang kau sebut acara ulang tahun, dan itu hanya berempat?" sambung Jesica.


"Dia mengijinkan kau untuk bergabung jika kau mau," papar Charlie.


"Cih,,, baik. Hanya karena kau ada disana, aku akan datang," sambut Jesica.


"Tapi tolong bersikaplah disini," pinta Charlie.


"Jangan beritau aku apa yang harus dan tidak harus aku lakukan," tukas Jesica.


"Sampai jumpa," ucap Jesica sebelum menutup teleponnya.


"Hahhh,,,," desah Charlie. " Dia semakin merepotkan saja," keluhnya.


Charlie berbalik dan melihat Ariel duduk dibangku piano. Disampinya Bram memainkan gitarnya, sementara Joel hanya duduk tidak melakukan apa-apa.


Langkah Charlie terhenti ketika melihat Joel saling berebut untuk bermain gitar saat lagu yang dimainkan Bram berakhir.


Wajahnya memucat saat menyadari kesalahan besar yang telah dilakukan olehnya.


"Astaga,,, Ya Tuhan,,," desah Charlie. " Bagaimana aku bisa melupakan ini?" decak Charlie pada dirinya sendiri.


"Ada Joel disini, jika dia bertemu Jesica, apa yang akan terjadi nanti?" keluh Charlie mengusap wajahnya.


"Bodoh!" rutuknya.


"Aku harus mencari cara agar Joel dan Jesica tidak bertemu," gumam Charlie meletakkan telapak tangan diwajahnya.


"Aku akan mengalihkan perhatian Joel, saat Jesica datang, dan segera menyeretnya pergi dari sini," gumam Charlie lagi.


"Atau aku pergi saja sekarang dan menghubungi Jesica lagi agar dia tidak kesini? Tapi, bagaiaman dengan Ariel? Dia akan kecewa padaku," sambungnya.


"Apa semua baik-baik saja?" tanya Joel tiba-tiba.


Charlie tersentak saat Joel menghampirinya. Namun dengan cepat mengendalikan perasaan bersalahnya.


"Kamu terlihat serius sekali," ucap Joel lagi.


Charlie menatap Joel, merasa bersalah atas apa yang baru saja dilakukan olehnya.


'Bukan saatnya untuk banyak berpikir, aku harus pergi sekarang dan mecegah Jesica bertemu dengannya,' batin Charlie.


"Maafkan aku, Joel," tutur Charlie.


"Maaf?" Joel mengerutkan kening. " Kenapa kamu meminta maaf?" tanya Joel bingung.


Charlie menghindari tatapan Joel, dan melangkah meninggalkan Joel begitu saja. Menghampiri Ariel yang tengah bermain piano diiringi permaianan gitar dari Bram.


Charlie terpana dengan apa yang dilihatnya. Dilihat dari sudut manapun, Bram dan Ariel sangatlah serasi.


Permainan mereka juga terlihat kompak dan selaras dengan melodi yang mereka mainkan. Seolah Bram sangat mudah menyelaraskan permaianannya bersama Ariel.


Wajah Ariel bahkan terlihat berbeda ketika memainkan piano. Terlihat sangat menikmati tiap detik yang berjalan.


Charlie mengelengkan kepalanya. Menghilangkan semua yang mengalihkan pikirannya dan kembali fokus.


"Ariel,,," panggil Charlie.


"Uhm,,," Ariel menghentikan permainannya dan menoleh.


"Apakah semua baik-baik saja? Kamu terlihat aneh?" tanya Ariel cemas.


Ariel bangun dari duduknya dan menghampiri Charlie.


"Aku tidak ingin merusak suasana, tapi aku benar-benar harus pergi. Maafkan aku tidak bisa berada disini lebih lama," ungkap Charlie.


"Tapi kenapa? Apakah itu tetang temanmu?" tanya Ariel lagi sedikit kecewa.


"Tidak,,, Bukan itu. Tapi ini tentang pekerjaan," kilah Charlie.


"Lalu, apakah temanmu akan datang?" tanya Ariel lagi.


"Kurasa tidak. Dia tidak mungkin mau berada disini sementara aku justru pergi meninggalkannya," jawab Charlie.


"Begitu, aku mengerti. Terima kasih untuk semuanya, Charlie. Ini sangat berkesan untukku," tutur Ariel.


"Akulah yang seharusnya berkata seperti itu padamu, kau adalah teman terbaik yang kutemui setelah beberapa tahun," ungkap Charlie.


Charlie memeluk Ariel dan berbisik.


"Semoga dihari ulang tahunmu, kedepannya kehidupan baik selalu menyapamu," ucap Charlie tulus.


Charlie melepas pelukannya dan mengarahkan pandangnnya pada Joel dan Bram yang masih menatapnya bingung.


"Hei,,Hei,, serius kau pergi begitu saja? Tidak menunggu makan malam? Sebentar lagi makanannya datang," ucap Bram kecewa.


"Benar, kau tadi bilang libur bekerja bukan? Kenapa tiba-tiba kamu memiliki panggilan pekerjaan?" sambung Joel.


"Karena kejahatan terjadi tiap detik," jawab Charlie santai. "Kalian tentu tau dengan ungkapan ' Akan selalu ada orang jahat diluar sana' bukan?" sambungnya tesenyum.


"Ya,,, Ya,,,Ya,,, aku tidak bisa menyangkal akan hal itu," gerundel Joel.


"Pastikan saja kalian tidak menambah pekerjaan Ariel dengan pertengkaran konyol kalian," sindir Charlie.


"Hei,,," protes Bram.


Charlie tergelak dan mengambil jaketnya yang ia letakkan disandaran dikursi, lalu kembali menghampiri Ariel. Mengeluarkan kotak kecil dari saku jaketnya dan menyodorkan kearah Areil.


"Untukmu," ucap Charlie tersenyum.


"Selamat ulang tahun, Ariel," tambahnya setelah Ariel menerima kotak darinya.


"Kau yang terbaik, Charlie. Terima kasih," sambut Ariel.


Charlie kembali memeluk Ariel sebelum pergi.


"Aku menikmati waktuku bersama kalian, kuharap kita bisa seperti ini lagi dilain waktu," tutur Charlie.


"Tentu saja kita akan melakukannya lagi," cetus Bram.


Charlie tersenyum, lalu pergi meninggalkan mereka sembari melambaikan tangannya.


"Sayang sekali dia harus pergi," desah Ariel kecewa.


"Dia sedikit aneh," celetuk Joel.


"Karena dia pergi begitu saja?" terka Bram.


"Ya, dia mengatakan hari ini tidak ada pekerjaan, dan sudah ada yang menggantikan dirinya jika ada tugas mendadak," ungkap Joel.


"Mungkin saja orang yang mengantikannya itulah yang memerlukan bantuannya," sela Ariel.


"Kemungkinan itu memang ada, tapi tetap saja terasa aneh bagiku," jawab Joel.


"Secara tidak langsung, kau telah mengakui memiliki hubungan baik dengannya," celetuk Ariel.


Joel terdiam beberapa saat, tidak begitu memperhatikan apa yang Ariel katakan. Pikirannya kembali kesaat Charli tiba-tiba meminta maaf padanya.


'Kenapa dia tiba-tiba meminta maaf padaku? Sejauh yang ku ingat, dia tidak akan mengatakan kata maaf jika tidak melakukan kesalahan. Tapi, kesalahan apa yang sudah dia lakukan?' pikir Joel.


"Kita lupakan saja untuk saat ini," ucap Bram memutus lamunan Joel.


"Mau lanjut bermain, atau tidak?" tanyanya lagi menunjuk piano dengan ibu jarinya.


Ariel dan Joel saling pandang selama beberapa saat, lalu tersenyum dan mengangguk setuju.


"Bisakah kau mengajariku bermain gitar, Ariel?" harap Joel.


"Dengan senang hati," jawab Ariel tersenyum.


Joel tersenyum senang, ia segera meraih gitar yang semula dimainkan oleh Bram.


"Kalau begitu, aku akan bermain piano," sela Bram.


"Tidak, jangan,!" cegah Ariel.


"Kenapa kau sepanik itu?" sambut Bram.


"Kamu memang sangat pandai dalam berbisnis, dan mahir memainkan gitar. Tapi kamu tidak cocok jika bermain piano," ucap Ariel sembai merentangkan tangannya menahan Bram agar tidak duduk dibagku piano.


"Jangan meremehkanku,!" sambut Bram. " Aku sudah berlatih cukup lama," terangnya.


"Ha-ha, aku meragukan itu," cibir Ariel.


"Baik, lihat dan dengarkan," ucap Bram mengeser Ariel agar menyingkir.


Bram duduk dibangku piano dan melakukan pemanasan singkat. Ia menoleh menatap Ariel dan tersenyum percaya diri.


'Pemanasan yang baik,' batin Ariel.


Ariel hanya menaikan bahunya menanggapi senyum percaya diri dari Bram, sementara Joel berdiri disampingnya mempehatikan Bram.


'Dia mahir memainkan gitar, dan sekarang piano? Kenapa aku jadi merasa semakin kalah darinya dari segala hal?' keluh Joel dalam hati.


"Sepertinya dia mahir memainkan pian_,,,"


" JEENG. . . JEENG. . . JEENG. . . !!!!"


Kalimat Joel terputus bersamaan dengan terdengarnya suara melengking dari piano. Sontak saja Joel menutup telinganya dan melirik Ariel yang melakukan hal yang sama.


"HENTIKANNNN,,,,,!!!!!!"


...>>>>>>>--<<<<<<<...