
Waktu terus berjalan tanpa bisa di cegah, hingga tanpa terasa menit dan jam terus berjalan, hari telah berganti dan minggu telah terlewati dengan begitu cepat.
Aktivitas dan pekerjaan berjalan seperti biasanya. Hal yang berbeda hanyalah, Ariel tidak lagi tinggal di apartemen seorang diri, melainkan bersama suaminya.
Mereka memilih untuk tinggal di apartemen dan menempati rumah di pantai ketika akhir pekan atau ketika mereka tidak perlu bekerja. Menjadikan rumah Joel sebagai tempat pelepas lelah, adakalanya digunakan untuk berkumpul bersama teman-teman mereka, atau mengadakan pesta kecil untuk menikmati waktu bersama semua teman mereka.
Siang itu, Ken masih mengawasi beberapa orang yang menjadi murid Ariel di studio. Cara yang disarankan Ariel pada Ken waktu itu benar-benar berhasil menyisakan hanya sembilan orang dari dua puluh lima orang.
"Jarimu seharusnya berada disini, meski itu terdengar sama, namun itu akan menjadi aneh jika kamu bermain dengan tempo lambat,"
Ken menjelaskan sembari membenarkan posisi jari seorang gadis yang memainkan Cello dari belakang badan gadis itu.
"Ah,, baik,, maaf kak," sambut gadis itu sedikit gugup saat Ken menyentuh jari tangannya.
"Melakukan kesalahan memang wajar, tapi untuk kedepannya perhatikan lagi dimana jarimu berada," ujar Ken lagi.
"Saya mengerti," jawabnya.
"Santai saja," balas Ken tersenyum hangat.
Ken kembali memperhatikan Ariel yang terlihat duduk diam tanpa melakukan apapun, namun beberapa kali jari tanganya menunjuk kearah satu per satu orang yang salah dalam memainkan alat musik dan ia bertugas untuk membetulkan posisi yang salah ke posisi yang seharusnya.
"Cukup,,,!" ucap Ariel sembari mengangkat satu tangannya, membuat semua aktivitas mereka terhenti seketika.
"Kalian bisa istirahat, kembali lagi setelah dua jam," imbuhnya.
Ariel menekan dua jari diantara matanya, lalu duduk bersandar. Ken baru akan menghampiri Ariel ketika seorang gadis menghampirinya sebelum ia keluar dari ruang latihan.
"Uhm,, maaf kak, apakah saya bisa meminta latihan tambahan setelah sesi latihan hari ini berakhir?" tanyanya.
"Saya sering sekali melakukan kesalahan, entah bagaimana saya juga sering sekali kehilangan fokus," ujarnya.
"Kau tau itu bukan wewenang yang kumiliki disini bukan?" sambut Ken.
"Itu,,," tertunduk.
"Alice? Apakah aku salah?" tanya Ken.
"Tidak, itu benar nama saya," sambutnya mengangkat wajahnya.
"Baiklah, pertama, tolong jangan bersikap formal padaku, sama seperti yang kak Ariel minta untuk tidak bersikap formal, kamu bisa menghormati seseorang dengan cara lain, jika itu yang kamu khawatirkan"
"Kedua, aku akan menyampaikan permintaanmu pada kak Ariel, apakah itu aku yang akan melatihmu atau kak Ariel sendiri yang akan melatihmu nanti, itu tergantung dengan keputusan kak Ariel,"
"Apakah kau bisa menerimanya?" tanya Ken dengan nada datar.
"Baik, terima kasih banyak," sambut Alice tersenyum puas.
"Saya_ehm,, aku keluar dulu," ujarnya dengan wajah memerah dan pergi begitu saja.
Ken menghembuskan nafas panjang setelah pintu tertutup, merasa lega akhirnya di ruangan itu hanya ada dirinya dan Ariel. Ia segera berbalik dan menghampiri Ariel.
"Apakah kak Ariel sakit?" tanya Ken cemas.
"Tidak, aku hanya sedikit pusing, tapi nanti akan hilang seperti biasanya," jelas Ariel.
"Apakah kak Joel tau tentang ini?" tanya Ken.
"Tidak," jawab Ariel mengelengkan kepalanya.
"Belakangan ini dia lembur, dan pulang dengan wajah lelah, jadi aku tidak ingin waktu istirahatnya terganggu," sambungnya.
"Tapi, ini menyangkut kesehatan kakak, bagaimana jika terjadi sesuatu? Kak Joel harus tau," sanggah Ken.
" Aku baik-baik saja, dan tolong jangan katakan apapun pada, Joel," pinta Ariel.
"Baiklah, aku mengerti," sambut Ken
"Ah,, ya,, ada satu orang yang meminta latihan tambahan setelah sesi latihan hari ini berakhir. Bagaimana menurut kakak?" tanya Ken.
"Tak masalah, katakan saja jika ia ingin latihan tambahan sore ini untuk tidak pulang setelah jam latihan berakhir," ucap Ariel.
"Baiklah, akan kukatakan padanya," jawab Ken.
"Apakah kau yang akan melatihnya Ken?" tawar Ariel.
"Sepertinya aku tidak sebaik itu dalam hal mendidik seseorang," sambut Ken.
"Kau meragukan dirimu sendiri?" tanya Ariel.
"Bukan begitu," sanggah Ken. "Hanya saja, aku masih perlu belajar lagi jika ingin melatih orang lain, aku bahkan tidak bisa membedakan melodi salah dan benar ketika dimainkan bersama," jawab Ken.
"Tapi kamu bisa melakukannya jika itu alat musik yang kamu sukai, bukankah begitu?" sambut Ariel.
"Terkadang ya. Itupun masih perlu bantuan dari kak Ariel," jawab Ken jujur.
"Kamu bisa melakukannya karena dirimu sendiri, dan aku tidak ada sangkut pautnya dalam hal itu," balas Ariel.
"Oh, ya, siapa yang meminta latihan tambahan?" tanya Ariel.
"Dia bernama Alice," jawab Ken.
"Ah,,, gadis pemain Cello?" tanya Ariel.
Ken menganggukan kepalanya perlahan sebagai jawaban. Ia tidak ingin membicarakan hal itu lebih jauh. Namun, dengan Ariel menyetujui permintaan itu, membuatnya harus mencari gadis tadi untuk menyampaikan jawaban Ariel padanya.
Sementara itu, gadis yang bernama Alice tengah bersama teman-temannya yang berbeda ruangan dalam mengikuti latihan.
"Kamu beruntung sekali bisa berlatih bersama coach Ariel," ujar temannya yang belatih di bawag bimbingan Gerry.
"Aku beruntung karena disana juga ada coach Ken yang bisa sedikit menenangkan suasana ketika coach Ariel dalam mode serius," jawab Alice.
"Tapi, tidak bisa di pungkiri coach Ariel memang luar biasa. Bayangkan saja, kami bermain bersama, dengan alat berbeda namun coach Ariel bisa tau siapa saja yang melakukan kesalahan,"
"Bahkan tempo yang sedikit terlambat saja bisa di ketahui dengan cepat," ujar Alice penuh kekaguman.
"Aku sering dengar tentang itu, kupikir itu hanya di lebih-lebihkan saja, ternyata itu benar?" sabut teman Alice terkejut.
"Lebih dari kata benar," jawab Alice dengan wajah bangga kerena bisa berlatih di bawah bimbingan Ariel.
"Maaf menganggu waktu kalian,"
Suara sapaan seorang pria membuat mereka menoleh dan segera terkejut hingga mereka serentak berdiri.
"Hei,,, hei,, santai saja, kenapa kalian seterkejut itu?" ucapnya dengan senyum ramah diwajahnya.
"Kak Ken,,, ada apa kemari?" sambut Alice berubah canggung.
"Tentu, lagipula saya tidak ada kegiatan lain," jawab Alice.
Ken tersenyum dan meminta Alice untuk sedikit menjauh dari teman-temannya.
"Aku hanya ingin menyampaikan, kak Ariel setuju untuk latihan tambahan sore ini, jadi setelah jam latihan nanti selesai, kamu diminta untuk tetap tinggal," papar Ken.
"Sungguh?" sambut Alice tersenyum senang.
"Ya," jawab Ken singkat.
"Terima kasih banyak, kak," sahut Alice.
"Baiklah, kamu bisa meneruskan waktu istirahatmu," ucap Ken.
"Ah, baik, sekali lagi terima kasih banyak," ucap Alice lagi.
Ken hanya mengangguk tipis dan berlalu meninggalkan Alice yang segera kembali bersama teman-temannya.
Mereka serentak mengerutkan kening mereka kala melihat Alice kembali dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya.
"Kau terlihat senang hanya karena berbicara dengannya? Errr,,, siapa sih,, ehm,, yang menjadi asisten coach Ariel," ujar sang teman mencoba mengingat.
"Bukan apa-apa," sanggah Alice.
"Bilang saja kalau kau menyukainya, benar bukan?" goda teman lainnya.
"Diamlah!" sahut Alice dengan wajah memerah.
Mereka hanya menertawakan tingkah Alice yang tidak seperti biasanya, dan kembali mengodanya. Sementara Ken yang sedang mereka bicarakan hanya bersikap datar seperti biasanya. Bahkan ketika latihan selesai, Ken tidak banyak bicara.
Alice tidak pergi meninggalkan ruang latihan ketika jam latihan berakhir. Menyisakan mereka bertiga yang berada dalam ruangan dimana Ken, Alice dan Ariel berada didepan alat musik mereka masing-masing.
Ken mengalah menggunakan Biola, sementara Alice yang memainkan Cello dan Ariel tetap di Piano.
"Rasanya tidak adil, kenapa setiap kali aku melatih, selalu piano yang tidak dikuasai?" gerutu Ariel.
"Apakah kakak pura-pura tidak tau atau kakak memang tidak tau bahwa piano itu adalah bidang tersulit?" sambut Ken terkekeh pelan.
"Hei,,,itu tidak akan sulit kalau dipelajari dengan benar," sambut Ariel.
"Dan kakak masih saja tidak sadar bahwa kakak salah satu orang yang berbeda," balas Ken.
"Apapun,,," sambut Ariel menyerah.
Ken tertawa puas, menghadirkan raut wajah bingung pada Alice yang melihat tingkah mereka jauh berbeda disaat berada diluar jam latihan.
'Mereka seperti kakak beradik, tapi bukan. Juga terlihat seperti kak Ken menyukai kak Ariel, tapi kak Ariel kan sudah memiliki suami, meskipun aku belum pernah melihatnya,' batin Alice.
Ariel mulai memberi intruksi ringan pada Alice dengan cara ia juga turut memainkan piano bersama Ken.
Perubaan permainan dimulai dengan jeda singkat, mulai dari tempo cepat, lebih cepat dan berganti ke lambat secara tiba-tiba membuat Alice sedikit kesulitan dalam mengimbangi permaian Ariel dan Ken yang terdengar selaras.
Alice bahkan mengagumi permainan biola yang dimaninkan Ken untuk mengimbangi irama piano, namun ketika permaian berakhir Ariel justru menatap Ken dengan tatapan heran. Memberikan pertanyaan yang membuat Alice terkejut.
"Ada apa dengan permainanmu, Ken? Kau terlambat masuk setiap kali perubahan tempo," tanya Ariel.
"Jika aku mengatakan aku sediri tidak tau, apa kakak akan percaya?" tanya Ken ragu.
Ariel mengerutkan keningnya, dan segera menghampiri Ken yang masih memandangi biola ditangannya.
Ia segera mengambil alih biola di tangan Ken dan mulai memainkannya. membuat Alice sekali lagi terkejut sekaligus takjub, ia menyadari Ariel memang bukanlah orang yang bisa di anggap remeh.
"Ada yang merubah setelannya," ucap Ariel.
"Aku selalu mengeceknya setiap kali sebelum di gunakan, jadi bagaimana bisa berubah?" ucap Arie lagi dengan wajah bingung.
"Aku akan mencari tau tentang itu, kak Ariel tidak perlu memikirkan ini," tutur Ken.
Ariel menghembuskan nafas panjang, lalu mengangguk. Ia baru akan memulai latihannya lagi ketika tiba-tiba pandangannya mengabur disertai sakit kepala yang menyerangnya membuat ia terhuyung.
Kedua tangan Ken berhasil menagkapnya sebelum Ariel sempat terjatuh, menatapnya dengan wajah khawatir.
"Kenapa kakak masih saja keras kepala?" ujar Ken dengan nada kesal.
"Aku hanya perlu duduk, dan akan segera membaik," jawab Ariel sembari menekan pelipisnya.
"Kak Ariel pulang saja, latihannya selesai," sambut Ken menuntun Ariel duduk.
"Benar, lebih baik kak Ariel istirahat saja, kak Ariel bahkan terlihat pucat sekarang," timpal Alice yang sejak tadi diam.
"Saya minta maaf karena tidak menyadari kesehatan kakak, malah meminta latihan tambahan," sesal Alice.
"Bukan salahmu, aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan keinginan yang tumbuh di hatimu, itu akan memicu untuk menari keluar semua bakat yang kamu miliki," jawab Ariel tersenyum.
'Mereka yang mengatakan kak Ariel sadis dan kejam dalam latihan hanya membual,' batin Alice kesal, tidak terima Ariel di sebut pelatih kejam.
"Aku akan menghubungi, kak Joel untuk menjemput kakak," ucap Ken seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Tidak,!" cegah Ariel.
"Jangan menghubunginya, aku bisa pulang sendiri," sambungnya.
"Tapi_,,,"
"Aku sudah tidak apa-apa," potong Ariel.
"Kamu bisa pulang, Alice. Latihan cukup untuk hari ini," ujar Ken.
"Saya mengerti, kalau kak Ariel tidak keberatan, saya bisa mengantar kakak pulang," tawar Alice dengan wajah khawatir.
"Aku menghargainya, terima kasih. Tapi, maaf sekali aku harus menolaknya," jawab Ariel.
Ariel memakasa mereka berdua pulang lebih dulu sebelum dirinya. Setelah merasa sakit kepalanya berkurang, ia pulang dengan mengemudikan mobilnya sendiri.
Sebelumnya, Ariel berangkat dan pulang bersama suaminya, namun ketika Joel sering lembur membuat Ariel tidak bisa lagi pulang bersama, dan memilih menunggu kepulangan suaminya di apartemen.
...>>>>>>>>--<<<<<<<<<...
#Di rumah sakit, tengah malam.
Joel menjatuhkan tubuhnya di kursi yang berada di ruangannya, menyandarkan kepalanya sembari mengatur nafasnya. Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan menghela nafas panjang.
.......
To be Continued....