
####Beberapa saat sebelumnya.
Empat sahabat itu kembali berhenti di sebuah tenda yang menjual aksesoris. Mereka terpisah menjadi dua dimana Joel Ariel di deretan topi sementara Bram Jesica berada di deretan gelang.
Bram mengikuti Jesica dibelakangnya saat dia sibuk memilih gelang. Dari arah lain, satu pasangan juga tengah memilih gelang dengan seorang pria dibelakangnya.
Keadaan yang menjadi lebih ramai membuat ruang gerak mereka sedikit terbatas, hingga terjad hal tak terduga dimana seorang pria yang membawa kopi panas ditangannya sedikit terdorong oleh orang lain dan terhuyung kearah dimana Jesica berada.
Tangan Bram refleks bergerak cepat menarik Jesica kearahnya dan memutar badannya, membuat pria yang membawa kopi menumpahkan kopi panasnya di punggung Bram.
Gerakan tiba-tiba Bram membuat Jesica seketika berada di pelukan Bram. Terkejut dengan apa yang terjadi.
"A-Ada apa?" tanya Jesica terkejut.
'"Ukh,,,"
Bram meringis saat merasakan air panas menembus ke kulitnya.
"Astaga,,, maaf tuan, maafkan saya," sesal pria yang membawa kopi.
"Ya tuhan,,,, saya benar-benar tidak sengaja," sambungnya. "Maafkan saya,"
Saat itulah Jesica menyadarinya, punggung Bram tersiram air panas dengan noda kopi pada pakaian Bram.
"Bram,, punggung_,,,,"
Sebelum Jesica menyelesaikan kalimatnya, Bram lebih dulu berbalik dan memberikan tatapan tajam pada pria itu.
"Ada baiknya ketika anda membawa minuman panas, anda menunggu di luar. Bukankah berbahaya membawa minuman panas dalam keadaan ramai seperti ini? Bagaimana jika ada anak-anak yang tersiram air panas anda?" tegur Bram sedikit kesal.
"M-Maaf, saya tidak akan mengulanginya," sambutnya dengan wajah penuh penyesalan.
Bram mengabaikan orang itu dan segera berbalik, meraih tangan Jesica untuk meninggalakan tempat itu. Ia memilih menunggu Joel dan Ariel selesai didepan tenda.
"Apakah kamu terluka?" tanya Bram dengan wajah khawatir yang tulus.
"Aku baik-baik saja, tapi punggungmu_,,," Jesica melirik punggung Bram dengan cemas.
"Itu bukan apa-apa, pakaianku hanya kotor, itu saja," jawab Bram.
"Tidak, biarkan aku melihatnya untuk memastikan apakah kamu benar baik-baik saja atau tidak," sanggah Jesica.
"Kemari,!" pinta Jesica.
Jesica menarik tangan Bram menuju kursi yang berada tidak jauh dari tenda, dan meminta Bram duduk.
"Turunkan jaketmu!" perintah Jesica.
"Sisi nona besarmu sungguh tidak hilang, kau masih saja suka memerintah," sambut Bram.
"Diam dan lakukan saja, keras kepala," sungut Jesica.
"Pft,,, ha ha ha,,, hei,, ada apa dengan wajahmu? Seharusnya kamu melihat wajahmu," balas Bram tertawa.
"BRAMM,,," ulang Jesica meletakkan tangan di pinggangnya.
"Baik,, Baik,, aku akan bersikap menjadi anak baik, kau senang?" grutu Bram sembari menurunkan jaketnya.
Jesica berjongkok seraya menyingkap t-sirt yang dikenakan Bram dan melihat kulit Bram sedikit melepuh.
"Apa ini yang kau sebut baik-baik saja? Menyebalkan," gerutu Jesica.
"Tunggu disini," pintanya.
"Kau mau keman_,,, hey,,, Jess,,,!"
Sebelum Bram selesai dengan pertanyaannya, Jesica sudah berlari lebih dulu, mengabaikan teriakannya.
Jesica kembali setelah beberapa menit dengan nafas terengah-engah. Tangannya merogoh tas miliknya dan mengeluarkan plester kompres dingin dan juga beberapa kapas yang telah direndam air.
Dengah hati-hati, Jesica mulai membersikhan luka menggunakan kapas, setelah merasa bagian itu bersih, Jesica menempelkan kompres dingin dan kembali menurunkan t-sirt yang dipakainya.
"Ingin membeli pakian bersih?" tawar Jesica.
Bram tertegun, selama beberapa saat ia tidak bisa mencerna apapun ketika Jesica dengan sangat hati-hati merawat lukanya.
"Bramm,,?"
Secara perlahan, hatinya kembali berdesir setiap kali dirinya berada di dekat Jesica.
'Apa? Kenapa seperti ini?' batin Bram.
"BRAMM,,!!!!" panggil Jesica menaikan intonasi suaranya sembari menguncang bahu Bram.
"Eh,,, Ya,, Apa?" sambut Bram terbata.
"Ada apa denganmu? Kepalamu bahkan tidak terbentur, tapi kau bersikap aneh," ucap Jesica menatap heran.
"Bukan apa-apa," kilah Bram.
Kerutan didahi Jesica semakin tajam saat Bram mengalihkan pandangan darinya. Ia baru akan mangeluarkan suaranya lagi ketika suara Ariel lebih dulu menyela mereka.
"Kenapa kalian disini?" tanya Ariel.
"Lho,, apa yang terjadi dengan pakaianmu, Bram?" tanya Ariel lagi.
"Ada orang bodoh yang menumpahkan kopi kepunggungnya," jawab Jesica menyela.
"Bagaimana bisa?" tanya Ariel lagi dengan kerutan makin tajam.
"Jangan ditanya! Orang itu sungguh ceroboh," dengus Jesica.
"Kalau begitu, antar saja dia mengganti pakaiannya, kami menunggu disini," saran Joel.
"Aku sependapat, akan tidak nyaman jika kamu memaksakan diri memakai pakaian basah, Bram," saran Ariel.
"Baiklah," jawab Bram.
'Kalau Ariel yang meminta, dia selalu saja jinak,' gerundel Jesica.
Bram pergi ditemani Jesica, sementara Ariel menunggu bersama Joel. Selama menunggu, Ariel mengamati tiap tenda yang berdiri memeriahkan festival yang tengah berlangsung.
Beberapa orang mulai menyalakan kembang api, menandakan acara hampir dimulai. Menambah keindahan langit malam.
"Apakah kamu pernah melihat festival lentera sebelum ini?" tanya Joel.
"Uhem,,," menggelengkan kepalanya. "Ini pertama kalinya, dan ini sungguh menakjubkan. Aku tak pernah tau ada festival seperti ini, dan itu akan di mulai tengah malam," sambut Ariel antusias.
"Itu artinya, keputusanku untuk tidak membatalkan hari ini sangat benar bukan?" tanya Joel tersenyum.
"Sangat,,," sambut Ariel tersenyum senang.
Suara Bram kembali terdengar setelah mereka menghilang selama beberapa menit. Mereka bersama menuju tempat dimana akan dilangsungkan puncak acara dari festival.
Mereka tiba diarea luas yang jauh dari pohon ataupun tiang listrik dan kabel yang memungkinkan akan membuat lentera tersangkut dan terbakar. Area itu pun telah dipenuhi oleh orang-orang yang akan menerbangkan lentera atapun sekedar melihat.
Joel membawa Ariel memilih satu lentera untuk mereka terbangkan bersama. Tanpa di duga, Bram juga mengajak Jesica memilih satu lentera.
Mereka mulai menyalakan lentera mengunakan korek api yang telah di sediakan. Selama menyalakan api, satu orang menjaga sisi lentera agar tetap berdiri.
Selesai dengan hal itu, Joel dan Ariel menunggu waktu kapan mereka harus melepaskan lentera di tangan mereka masing-masing sembari menjaga api agar tetap stabil.
"Ini," ujar Joel memberikan satu pena kepada Ariel.
"Mereka percaya, jika kita menuliskan harapan kita di lentera ini, harapan itu akan terus terjaga hingga harapan itu terkabul," terang Joel.
"Apakah kamu juga akan menuliskan harapanmu?" tanya Ariel.
"Tentu saja, bahkan kucing dan anjing itu juga menuliskan harapan mereka," ucap Joel sembari menunjuk Jesica dan Bram mengunakan dagunya.
Ariel tersenyum, menyadari hubungan dua sahabatnya kembali dekat. Bram dan Jesica tampak bersungguh-sungguh menuliskan harapan mereka masing-masing. Memikirkan hal itu membuat Ariel tergerak untuk menuliskan harapannya juga.
'Aku sangat berharap, masa tenang dan damai ini akan terus terjaga. Hubungan kami yang terjalin tidak akan memiliki akhir, dan jagalah senyum dari pria didepanku ini tetap utuh,'
Ariel tersenyum ketika telah selesai menulis, Joel juga telah selesai menulis harapannya, hingga suara puluit terdengar nyaring, sebagai tanda untuk bersiap melepaskan lentera.
Semua lampu yang berada di area itu dipadamkan, menyisakan cahaya puluhan lentera ditangan tiap pasangan, hingga terdengar suara orang menghitung mundur.
10
9
8
7
6
5
Pandangan Joel terkunci pada Ariel yang juga tengah menatapnya, tersenyum.
4
3
Mereka berdua ikut serta menghitung bersama dengan yang lainnya.
2
1
Perlahan mereka melepaskan lentera secara bersamaan. Puluhan cahaya lentera menghiasi langit yang semula gelap. Membuat cahaya lentera semakin jelas dan menciptakan pemandangan yang luar biasa.
Saat lentera itu terbang semakin tinggi, Ariel merasakan genggaman lembut pada tangannya, seolah memintanya untuk menoleh.
"Ariel,,,"
Suara Joel yang memanggilnya membuat Ariel semakin tidak memiliki alasan untuk tidak menoleh.
"Ya,,?"
Ariel menoleh hanya untuk melihat Joel telah berlutut dengan satu kaki, dan kotak beludru abu dengan sebuah cincin didalamnya.
Ariel melebarkan matanya, terkejut dengan tindakan Joel yang tiba-tiba. Bertepatan dengan hal itu, lampu di area itu perlahan mulai menyala, namun tidak menghilangkan keindahan langit dengan puluhan lentera yang semakin terbang tinggi.
"Joel,, apa yang kamu lakukan?" desis Ariel sedikit panik sembari mengedarkan pandangannya dimana semua mata telah tertuju pada mereka berdua.
"Ya ampun,," pekik seorang wanita terlihat girang.
"Aku ingin bertukar posisi dengan wanita cantik itu," pekik wanita lain.
"Astaga,,,, dia pria idaman. Tampan dan gentle, aku mau juga,"
Beberapa wanita menjadi riuh dengan keinginan mereka saat melihat apa yang di lakukan Joel di depan mereka.
"Tolong berdiri, Joel," pinta Ariel sedikit berbisik.
Namun Joel hanya tersenyum. Tetap mempertahankan semuanya seolah banyaknya orang yang melihat aksinya tidak terlihat.
"Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakannya aku memerlukan banyak waktu dan memperhitungkan segalanya,"
"Setiap kali aku melihatmu, kupikir aku tidak bisa lebih mencintaimu dari yang aku lakukan saat itu. Namun setiap hari yang aku lalui bersamamu, kamu selalu membuktikan bahwa aku salah. Aku menjadi semakin mencintaimu dengan setiap hari yang kita lalui,"
"Aku tidak pernah membayangkan akan memiliki orang yang begitu istimewa dalam hidupku. Kamu adalah segalanya bagiku,"
"Kamu satu-satunya yang bisa memahamiku bahkan lebih dari diriku sendiri. Aku ingin selalu bersamamu, dan aku tidak pernah ingin berpisah denganmu,"
"Jadilah milikku, Ariel Esther, bersediakah kamu menikah denganku?"
Sebuah pernyataan yang belum terpikirkan oleh Ariel sebelumnya, malam ini, di hadapan semua orang ini, Ariel mendengarnya dengan sangat jelas.
Sorakan tiap orang seolah menjadi bukti bahwa itu adalah nyata. Tanpa ia sadari, air mata lolos dari kedua matanya. Ariel menutupi mulutnya dengan telapak tangannya, masih merasa bahwa itu tidak nyata. Namun tangan Joel yang masih mengenggam tangannya adalah hal yang tidak bisa ia sangkal.
"Terima,,"
"Katakan YA,"
Teriakan semua orang membujuk Ariel untuk menerima, sementara Ariel masih menatap lekat kedalam manik mata Joel yang masih berlutut didepannya dengan wajah penuh harap.
"Aku_,,,,,"
"Katakan YA," teriak mereka lagi.
"Aku,,,, bersedia,,,"
Jawaban yang awalnya tersangkut di tenggorokannya, akhirnya bisa ia keluarkan, menghadirkan senyum bahagia di wajah Joel yang segera menyematkan cincin itu di jari manis Ariel.
Joel berdiri, lalu menarik Ariel kedalam pelukannya, mengangakat tubuhnya, lalu memutarnya dengan rasa bahagia dihatinya.
Mereka yang melihat adegan romantis tak tarduga malam itu ikut bersorak senang disertai tepuk tangan seolah turut bahagia untuk pasangan yang melamar pujaan hatinya dibawah cahaya lautan lentera diatas kepala mereka.
...>>>>>>>--<<<<<<<<...
....
....
To be Continued..