
Tubuh Ariel merosot dan bersimpuh dilantai. Air matanya mengalir deras, nafasnya terengah-engah dan matanya menatap nanar kearah Bram yang tidak sadarkan diri dengan darah mengalir dari dahinya.
Meski tubuhnya yang masih gemetar, ia tau pasti, luka di dahi Bram tidaklah fatal. Alasan Bram tak sadarkan diri menurut tebakan Ariel adalah karena sebelumnya ia memukul sisi leher Bram.
Ariel mengusap lalu menagkup wajahnya. Mulai terisak mengingat hal yang hampir saja akan menimpanya. Menekan perasaannya dan menghapus air mata yang mengalir, Ariel mendekati tubuh Bram dan berusaha memindahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Kenapa hal seperti ini terjadi?" gumam Ariel lesu.
Ariel berbalik untuk mencari pakaian milik Bram saat menyadari pakaiannya benar-benar tidak bisa digunakan lagi. Dan sekali lagi Ariel tercekat dengan apa yang dilihatnya.
Dikamar Bram, penuh dengan foto dirinya, bahkan foto kebersamaan mereka dimasa lalu dibingkai indah di dinding kamar Bram.
Ariel juga melihat payung miliknya yang pernah ia pinjamkan kepada Bram saat mereka kembali bertemu ditempat lain setelah digelery seni saat itu. Dan sebuah gitar akustik yang pernah ia incar di perlelangan.
"Kenapa kau menyiksa dirimu sendiri, Bram?" ucap Ariel lirih.
Tatapan Ariel kembali pada Bram dan bergegas mengganti pakaiannya, memakai kemeja milik Bram yang ia dapatkan dari lemari.
Selesai mengenakan pakaian, Ariel mengambil air bersih dan kotak obat untuk mengobati luka di dahi Bram. Ariel tidak mungkin pergi meninggalkan Bram begitu saja dengan keadaannya yang sekarang, dirinya hanya percaya bahwa Bram tidak akan melakukan hal seperti yang dilakukan malam ini jika dalam keadaan sadar.
Dengan hati-hati, Ariel merawat luka Bram dan membersihkan pecahan gelas yang ada dilantai, lalu duduk disamping tempat tidur Bram hingga tanpa sadar Ariel jatuh tertidur.
...>>>>>>>--<<<<<<<...
#Keesokan harinya di rumah Joel.
Joel dikejutkan dengan kehadiran Christina pagi itu ketika ia akan berangkat bekerja.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Joel datar.
"Aku tau kau sangat mencintai Ariel, dan aku datang bukan untuk menganggumu," ucap Christina lembut.
"Aku hanya tidak bisa menerima jika dia mempermainkanmu," imbuhnya.
"Omong kosong," sergah Joel.
"Jika kau terus saja menjelekkannya seperti itu, lebih baik kau tidak pernah menemuiku lagi," dengus Joel.
"Kau marah hanya karena aku mengatakan ini sementara dia bersenang-senang bersama Bram di apartemennya,?" sambut Christina.
"Pulanglah! Aku tidak memiliki banyak waktu hanya untuk omong kosongmu," jawab Joel kesal.
Joel melewati Christina dan pergi meninggalkannya. Tepat saat Joel akan masuk kedalam mobilnya, Christina berteriak kepadanya.
"Jika kau tidak percaya, aku bisa membuktikannya," teriak Christina.
Gerakan Joel terhenti dan kembali menatap Christina yang menghampirinya, memberikan sebuah amplop coklat kepada Joel.
"Jika kau masih tidak percaya, selidiki sendiri di apartemen Bram, aku sudah menuliskan alamatnya didalam. Disana selalu ada cctv, dan lihatlah sendiri," ucap Christina.
"Aku mengatakan ini karena aku tidak sengaja melihatnya," imbuhnya.
Selesai mengatakan hal itu, Christina pergi begitu saja meninggalkan Joel yang masih mematung.
Joel masuk kedalam mobil dan membuka amplop yang diberikan Christina padanya. Seketika Joel melebarkan matanya melihat foto di tangannya.
Foto Ariel bersama Bram dimana Ariel tengah memapah Bram keluar dari sebuah nightclub. Juga foto ketika Ariel masuk kedalam aparteman Bram.
"Kapan foto ini diambil?" gumam Joel.
"Kemarin Ariel pulang sudah cukup malam, dan masih sempat berkirim pesan denganku, jadi kapan foto ini di ambil?" gumam Joel.
Joel mengelengkan kepalanya, mencoba untuk tetap berpikir jernih.
"Tidak, lebih baik aku tanyakan saja nanti, aku tidak ingin kembali salah paham dan itu akan mempengaruhi hubunganku dengan Ariel," ucap Joel menyimpan foto itu dilaci mobil.
Joel menarik tuas kemudi dan mulai menjalankan mobilnya menuju rumah sakit untuk bekerja. Dalam perjalanan, foto itu kembali mengusik hatinya, membuat Joel mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Ariel setelah menepikan mobilnya.
Lama menunggu, panggilannya masih juga belum diangkat, hingga membuat Joel mengulanginya untuk ketiga kalinya.
"Hai, Bunny," sapa Ariel. "Maaf, aku baru saja dari toilet," sambungnya.
Suara sapaan Ariel memang sedikit menenagkan hatinya, namun Joel masih ingin memastikan tentang foto yang ia lihat beberapa saat lalu.
"Dimana kamu sekarang?" tanya Joel.
"Hei,,, ada apa? Apakah terjadi sesuatu?" jawab Ariel balas bertanya.
"Jawab saja," ucap Joel.
"Kenapa suaramu tegang begitu?" sambut Ariel.
"Ariell,,?"
"Iya,, iya,, baik, aku akan jawab. Aku sedang tidak diapartemen, karena aku mendapatkan panggilan mendadak," jawab Ariel.
"Dimana?" tanya Joel.
"Pertanyaanmu justru terdengar kamu sudah tau aku berada dimana," sambut Ariel.
"Dan apakah dugaanku benar?" tanya Joel mulai terdengar kesal.
"Aku tidak ingin menjawab pertanyaan orang yang sedang marah," sambut Ariel.
"Ariell,,,!" geram Joel.
"Apa?" jawab Ariel.
Joel mendengar Ariel menghembuskan nafas panjang sebelum kembali berbicara.
"Dengar! Aku akan menceritakan detailnya nanti, akan lebih mudah mengatakannya jika aku berhadapan langsung denganmu dibandingkan saling berteriak melalui ponsel," ucap Ariel tenang.
"Aku akan menemuimu nanti setelah kamu selesai bekerja, oke?" bujuk Ariel.
"Dimana aku harus menjemputmu?" tanya Joel.
"Aku akan menemuimu di rumah sakit," jawab Ariel.
"Sudah lebih tenang sekarang?" tanya Ariel.
"Yah,,, maafkan aku, aku hanya_,,,"
"Apa?" tanya Ariel.
"Sampai bertemu lagi nanti," ucap Joel segera mengakhiri panggilannya.
"Aku hanya takut kamu pergi dariku, aku takut kamu meninggalkanku, aku takut kamu berpaling dariku dan kembali padanya," gumam Joel lirih sembari menatap ponsel ditangannya.
"Aku selalu takut kamu akan kembali padanya, pada dia yang pernah kamu cintai, dia yang memiliki segalanya, dia yang memiliki apapun lebih dariku,"
Joel meletakkan kepalanya dikemudi selama beberapa saat, mencoba untuk menangkan hatinya yang selalu bergejolak hanya dengan melihat Ariel bersama Bram.
Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan, Joel kembali menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.
Sementara itu, di sisi lain.
Ariel menatap ponselnya ketika Joel mengakhiri panggilan dengan tiba-tiba. Merasa Joel tau sesuatu dan tidak mengatakan apapun padanya.
"Aku mulai merasa ada yang janggal sekarang," gumam Ariel.
"Menyebutnya kebetulan, tapi ini kebetulan yang terlalu sempurna," ucapnya lagi sambil berpikir.
Pandangannya beralih pada Bram yang masih tertidur pulas, namun detik berikutnya perhatian Ariel teralihkan oleh suara bel pintu.
Ariel berjalan menuju pintu, lalu mengintip melalui lubang pintu untuk melihat siapa yang datang untuk berjaga-jaga.
"Sam,?" desis Ariel.
"Dia salah satu orang yang sangat dipercaya, Bram, bukan?" gumamnya pelan.
Dengan gerakan perlahan, Ariel membuka pintu, tidak memperdulikan reaksi terkejut Sam saat itu, Ariel hanya mengatakan satu kata tegas yang tidak bisa di tolak Sam.
"Masuk!" tegas Ariel.
Sam yang sangat terkejut melihat Ariel berada didalam aparteman tuannya hanya menurut, namun begitu ia sudah berada didalam, Sam menatap Ariel dengan tatapan bingung.
"N-Nona Ariel? Ini benar-benar anda? Bagaimana anda bisa ada disini? Sejak kapan? Bagaimana anda bisa tau dimana tuan tinggal?" cecar Sam begitu Ariel menutup pintu.
"Lalu, kenapa anda_,,,,"
Sam tidak meneruskan kalimatnya, namun matanya dengan jelas menatap Ariel dari atas sampai bawah.
Kerutan diwajahnya tampak jelas penuh dengan pertanyaan yang ingin segera mendapatkan jawabannya.
"Duduklah dulu sebelum kamu bertanya, Sam," ucap Ariel dengan suara tenang.
"M-Maaf," sambut Sam gugup.
Sam menurut duduk di sofa yang berhadapan dengan Ariel. Kepalanya tertunduk ketika kembali bertemu Ariel setelah beberapa tahun lalu ketika Ariel dan Bram masih menjalin hubungan.
"Aku akan menjawab pertanyaanmu, tapi sebelum itu, bisakah kau menjawab pertanyaanku?" pinta Ariel.
"T-Tentu nona," sambut Sam masih gugup.
'Apakah ini benar nona Ariel yang sama? Nona berubah sangat jauh dibandingkan sebelumnya, sekarang nona jauh lebih cantik dan mempesona, bahkan hanya memakai kemeja-tunggu, apakah itu kemeja tuan?' batin Sam.
"Apakah sejak awal Bram disini bersamamu?" tanya Ariel.
"Tidak, nona," jawab Sam sopan.
"Tuan menghubungi saya setelah beberapa minggu pergi, dan meminta saya untuk menyusulnya," terang Sam.
"Apakah Mr.Evrad tau Bram disini?" tanya Ariel lagi.
"Sama sekali tidak," jawab Sam pasti.
"Saya menyusul tuan dengan diam-diam, dan tuan besar tidak begitu peduli dimana tuan muda berada," jelas Sam.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Bram_,,,"
Ariel menghembuskan nafas kasar, berusaha meredakan amarahnya yang tiba-tiba terbentuk dihatinya.
"Ceritakan semuanya padaku, Sam!" pinta Ariel.
"Tapi nona, ini bukan wewenang saya untuk mengatakan semuanya tanpa ijin tuan," jawab Sam beralasan.
Ariel mendesah pelan, sangat mengerti dengan posisi Sam saat ini. Namun ia juga tidak memiliki cara lain selain meminta penjelasan pada Sam, satu-satunya orang yang sangat tau tentang dirinya, Bram dan ayah Bram.
"Mr.Evrad menemuiku beberapa hari lalu, mengatakan banyak omong kosong padaku," ungkap Ariel.
"Apa,,???" seru Sam reflek bangun dari duduknya karena terkejut.
"Di lihat dari reaksimu, itu sudah jelas kamu tau sesuatu," sambut Ariel datar.
"Bram berada disebuah nightclub semalam dan dalam keadaan mabuk," ungkap Ariel.
"Entah seberapa mabuk dia hingga tidak menyadari seseorang memasukan obat kedalam minumannya dan saat itu juga bartender yang bertugas disana menghubungiku,"
"Aku tidak memiliki pilihan lain selain menjemput, Bram dan mengantarnya pulang, pada akhirnya aku yang terjebak disini," papar Ariel.
"Apa-a-apaka tuan sudah_,,,," Sam mengantung kalimatnya dan terduduk disofa.
"Tidak," jawab Ariel. "Hampir," ucap Ariel mulai merasakan sesak dihatinya.
Namun dengan cepat Ariel segera mengontrol hatinya sendiri.
Melihat hal itu, Sam mengerti alasan Ariel berada disana dan mengnakan kemeja tuannya.
"Saya mengerti, nona. Anda tidak perlu mengatakannya, tolong maafkan saya," sesal Sam.
"Saya akan mengatakan semuanya," imbuhnya.
Sam menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
"Semua berawal saat tuan menentang keinginan tuan besar hingga membuat tuan besar kehilangan kendali dan menghajar tuan tanpa ampun,"
"Tidak ada satupun dari kami yang melihatnya berani untuk menghentikannya. Tuan bahkan hanya pasrah ketika tuan besar memukulinya,"
"Tuan berpikir jika saat itu tuan melawan, maka tuan akan memposisikan anda dalam situasi sulit,"
Bagaikan disambar petir, Ariel membelalakan matanya ketika mendengar penuturan dari Sam.
"Jadi, luka robek di bibirnya saat itu karena Mr.Evrad?" tanya Ariel memastikan.
"Benar,- tunggu, dari mana anda tau tentang luka tuan?" tanya Sam terkejut.
....
....
.
.
To be Continue