I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
27. Dilema.



Bram menghebuskan nafasnya setelah menceritakan kisahnya. Tatapannya kembali tertuju pada Ariel.


"Jadi, saat kau datang kerumah sakit saat itu, kamu juga melihat Jesica disana?" tanya Ariel datar.


"Ya,,,Aku hanya berpikir kamu tidak harus bertemu dengannya hanya karena aku ada di sana," papar Bram.


"Aku mulai berpikir, apa sebenarnya yang membuatmu begitu percaya diri?" sindir Ariel.


"Aku bahkan tak peduli jika aku bertemu lagi dengannya. Dia ada dimana juga bukan lagi urusanku," ucap Ariel mulai melemah.


"Tapi aku tetap berteima kasih atas apa yang kamu lakukan, aku menghargainya. Minus dengan sikap menyebalkanmu yang memaksaku saat itu," sambungnya dengan melipat kedua tangannya.


"Aku tau aku telah bersikap sangat buruk, aku bersumpah tidak akan melakukannya lagi. Jadi beri aku kesempatan untuk memperbaiki apa yang telah kurusak," harap Bram sembari meraih kedua tangan Ariel dan meremasnya dengan lembut.


"Rasa sakit dan rasa bersalah yang aku rasakan saat itu hingga kini, hanya kurasakan saat aku mengingatmu," ungkap Bram.


"Aku tidak bisa menjanjikanmu apapun padamu, Bram. Tapi aku bisa memaafkanmu dengan syarat tidak lagi memaksaku untuk kembali padamu. Aku tidak lagi memiliki perasaan apapun padamu," terang Ariel melepaskan tangannya dari Bram.


"Karena, Joel?" tebak Bram.


"Entahlah," jawab Ariel manaikan bahunya.


"Aku akan mendukungmu jika memang Joel adalah pilihanmu," tegas Bram mulai menyunggingkan senyum tulus.


"Dan hal terpenting adalah, aku sangat berterima kasih kamu bersedia memaafkan aku," sambung Bram.


Ariel tertegun dengan perubahan tiba-tiba pada Bram. Sosok Bram yang sempat dirindukan olehnya dimasa lalu kini berdiri didepannya.


"Ayo kita kedalam, aku tidak mau kamu sakit jika terlalu lama di luar dan aku yang menjadi alasannya," ajak Bram.


Bram mengulurkan tangannya, tanpa perlawanan apapun, Ariel menerimanya begitu saja.


"Kalian dari mana saja?" sambut Joel saat Ariel kembali bersama Bram.


"Apakah kau mengkhawatirkanku? Manis sekali," celetuk Bram.


"Cih, aku memiliki hal yang lebih penting dari sekedar mengkhawarirkanmu," cibir Joel.


Ariel meletakkan telapak tangan didahinya melihat perdebatan yang terjadi antara Bram dan Joel.


"Kalian benar-benar pasangan serasi. Kalian bahkan saling mengkhawatirkan satu sama lain," sindir Ariel melepaskan tangannya dari Bram.


"Aku?" ucap Joel menunjuk hidungnya sendiri.


"Khawatir padanya?" lanjut Joel.


"Tidak sudi,!"


"Najis,!"


Mereka menjawab bersamaan, membuat Ariel menekankan ibu jari dan telunjuk diantara matanya. Sementara Gina dan Charlie yang kebetulan berada di sana terbahak mendengar pertengkaran antara Joel dan Bram.


"Apa yang dikatakan Ariel benar. Kalian serasi," ucap Charlie disela tawanya.


"Berisik,,,!!"


Mereka berdua kembali mengucapkan kata secara bersamaan. Membuat Gina dan Charlie kembali tertawa.


"Apa sih? Kau terus mengikuti ucapaku," ucap Bram ketus.


"Maaf saja, kau tidak masuk kedalam daftar orang penting yang harus kuikuti," balas Joel.


"Apakah kau sadar ucapanmu itu terlalu sombong," cetus Bram lagi.


"Oh, terima kasih. Dari ucapanmu sepertinya kau mengakui ucapanku," sambut Joel tersenyum lebar.


"Kau terlalu percaya diri," jawab Bram tidak mau kalah.


"Karena aku memang percaya di--,," balas Joel.


"Cukup,,!!!" hardik Ariel mulai kesal.


Mereka berdua segera terdiam dengan menundukkan kepala mereka.


"Tidak bisakah kalian tidak bertengkar setiap kalian bertemu,?" tanya Ariel geram.


Ariel menatap dua pria didepannya dengan kesal. Sementara mereka hanya menunduk tidak berani mengangkat wajah mereka.


Ariel kembali meletakkan telapak tangan didahinya lalu mendesah panjang. Tidak tau bagaimana harus mangatasi hal ini.


Namun dirinya juga menagkap sebuah hubungan akrap yang mulai terjalin diantara keduanya. Ariel mengibaskan tangannya dan meninggalkan mereka.


"Eehh,, Ariel,, tunggu!" seru Bram hendak mengejar Ariel. Namun tangannya ditarik oleh Joel.


"Eehh,," Bram protes saat tangannya di tarik kebelakang, mambuatnya mundur beberapa langkah.


"Kau tadi sudah bersamanya, sekarang giliranku!" ucap Joel seenaknya.


"Tidak ada aturan siapa yang harus bersamanya," sambut Bram tidak mau kalah.


"Ada. Dan aku baru saja membuatnya," tegas Joel.


Joel meninggalkan Bram dan mengejar Ariel. Seolah melakukan kesepakatan, Bram tidak mengejar mereka dan hanya berdecak ditempatnya.


"Tck,,, seenaknya saja," decak Bram.


>>>>>>>>>>>>


Dering ponsel Ariel mengalihkan perhatiannya saat Ia tengah menyeruput kopinya dipagi hari.


Ariel melirik ponselnya dan melihat nama Bram muncul di layar ponselnya. Meski merasa engan, Ariel tetap menerima panggilan dari Bram.


"Ya?" sambut Ariel malas.


"Hai,,," sapa Bram. " Bagaimana pagimu?" sapa Bram.


" Semua baik sejak dua menit yang lalu," jawab Ariel.


"Astaga,,, kejam sekali," sambut Bram tergelak sesaat. " Apakah aku benar-benar menganggumu?" tanya Bram.


"Bagaimana jika itu Ya?" balas Ariel.


"Maka aku akan mematikan ponselku dan tidak meneruskan panggilanku. Kau juga bisa mengabaikan panggilan berikutnya jika itu dariku," jawab Bram.


"Begitu terdengar baik," sambut Ariel.


"Ahh,,, begitu," jawab Bram lesu. "Baiklah. Akan ku matikan. Semoga harimu menyenangkan,!" ucap Bram lesu.


"Aku bercanda, Bram," ralat Ariel.


"Baiklah, katakan apa yang ingin coba kamu sampaikan padaku!" pinta Arie.


"Bukan hal penting sebenarnya. Hanya ingin mengajakmu makan siang," ucap Bram kembali bersemangat.


"Oh.. Tenang saja, kali ini Charlie akan bergabung. Dan kau bisa mengajak Joel jika kamu mau," tawar Bram.


"Dan kau memintaku untuk mendengarkan pertengkaran kalian lagi? Tidak. Terima kasih!" sambut Ariel.


"Hei,,, Aku tidak bermaksud begitu. Dialah yang mencari gara-gara denganku," balas Bram.


"Terserah,!" jawab Ariel. " Aku menolak," sambungnya.


"Ayolah, ini tidak seburuk itu, aku juga janji tidak akan bertengkar dengannya," bujuk Bram.


"Aku memiliki janji lain hari ini, jadi maaf aku tidak bisa menerima ajakanmu," tolak Ariel.


"Apakah janji bersama, Joel?" selidik Bram.


"Sejujurnya kau tak berhak untuk tau, tapi jawabnku adalah tidak. Aku memiliki janji dengan orang lain," terang Ariel.


"Ah,, Begitu,. Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu aku tutup teleponnya," ucap Bram terdengar lesu.


"Bye, Bram" ucap Ariel lalu memutuskan panggilannya dengan Bram sebelum Bram sempat menjawab.


"Hhaahhh,,," Bram mendesah panjang sembari menatap ponselnya.


"Sulit sekali mengajaknya keluar," keluhnya.


"Aku memang bertekad melepaskannya jika dia mencintai orang lain. Tapi, tetap saja sangat sulit melepaskannya begitu saja," ucapnya pada diri sendiri.


"Sepertinya dia juga belum menyadarinya kalau dia mulai mencintai Joel. Dan sekarang aku akan menjadi teman yang baik untuknya," sambungnya.


Bram menghembuskan nafas panjang dan bangun dari duduknya. Merasakan sedikit rasa sesak di hatinya sedikit terangkat saat dirinya memutuskan untuk menjadi teman Ariel setelah menceritakan masa lalunya.


Ariel bersedia membuka tangannya dan memaafkan semua kesalahannya dimasa lalu. Dengan hal itu, cukup bagi Bram untuk membuktikan bahwa dirinya berusaha berubah. Dan tidak akan menyakiti Ariel untuk kedua kalinya. Bahkan tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Ariel.


Bram menghidupkan komputernya dan mulai melakukan pekerjaannya. Posisinya yang mengantikan kedudukan ayahnya sebagai pemilik perusahaan real estate membuatnya bisa melakukan pekerjaan diamanapun ia suka.


Bram fokus pada pekerjaannya hingga suara geraman perutnya membuatnya berhenti. Ia melihat jam dinding yang telah menunjukkan waktu makan siang, baru kemudian mematikan komputernya.


Menganti pakaiannya, Bram pergi meninggalkan apartemennya menuju bistrot untuk makan siang.


Matanya menangkap wajah seseorang yang sangat dikenalnya ketika ia memasuki bistrot yang cukup ramai. Tengah duduk sendiri mengaduk-aduk pasta yang ada didepannya tanpa memakannya sementara matanya menatap keluar jendela dimana ada sebuah toko coklat berada di seberang bistrot itu.


Menatap dua orang yang berada didalam toko itu dengan gelisah. Bram menghampiri dengan senyum tesungging di bibirnya.


"Permisi, apakah saya boleh duduk bersama anda, nona?" sapa Bram lembut.


"Tidak, carilah kursi kosong lain," jawabnya datar tanpa menoleh.


Bram tersenyum sebelum kembali berkata.


"Apakah Joel yang bersama wanita lain menganggu pikiranmu, Ariel?" tanya Bram tanpa merubah suara lembutnya.


Ariel menoleh dengan tatapan kaget. Menatap Bram dengan mata melebar.


"A-A-apa yang kau lakukan disini?" tanya Ariel tergagap.


" Bukankah itu pertanyaan yang sudah jelas jawabannya?"sambut Bram menahan tawa.


...>>>>>>>--<<<<<<<...