I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
124. Janji Suci.



Altar pernikahan yang berada ditempat terbuka dihias dengan bunga mawar warna coral dan kain lembut yang menjuntai ketanah dengan warna senanda. Langit biru dan hamparan rumput hijau seolah menjadi pelengkap untuk menambah keindahannya.


Kursi putih berjajar rapi yang berada di depan altar disiapkan untuk para tamu. Puluhan lampu gantung menghiasi tiap sudut dan langit-langit tenda yang menaungi tempat diselengarakannya prosesi pernikahan.


Di sudut lain, meja dan kursi dengan beraneka macam pilihan makanan dan minuman tersaji untuk para tamu yang hadir di acara itu.


Dalam sebuah ruangan, Joel baru saja selesai mengenakan setelan tuxedo berwarna hitam dengan Bram dan Ken yang menemaninya disana dengan setelan jas mereka yang berwarna senada.


"Siapa sangka, hari besarmu akan di laksanakan hari ini," ucap Bram memecah keheningan sembari menatap Joel dari atas sampai bawah, lalu tersenyum puas.


"Dan sekarang aku gugup," sambut Joel meringis mengusap dadanya sendiri.


"Tentu saja," jawab Bram tertawa. "Bernafas saja seperti biasa," imbuhnya tanpa beban.


"Dan, aku punya kesempatan untuk melihatnya lebih dulu dibandingkan dengan kalian berdua," sela Ken dengan seringai lebar di wajahnya.


"Anggap saja kau beruntung," sambut Joel mengerucutkan bibirnya.


"Kak Joel tidak akan membunuhku begitu acara ini selesi kan?" tanya Ken seenaknya.


"Itu ide yang sangat bagus, kurasa aku harus memikirkannya," sambut Joel menyeringai.


"Sekarang aku tidak lagi terkejut dengan jawaban kakak," sambut Ken.


"Pemain Cello ini bukan lagi seorang bocah.," ujar Bram mengacak-acak rambut Ken.


Mereka tertawa ringan bersama, hingga tiba saatnya bagi Joel untuk keluar. Bram berada dideretan kursi bersama para tamu yang lain, sementara Ken berjalan kearah ruang rias.


"Kamu sungguh cantik, Ariel. Pengantin tercantik yang pernah aku temui," puji Charlie.


"Aku tak akan seperti ini tanpa bantuan dari Jessi," sambut Ariel tersenyum.


"Aku tidak ada hubungannya dengan penampilanmu," jawab Jesica.


"Bukankah dia sedikit menyebalkan? Dia tidak sadar bagaimana dia terlihat seperti apa saat ini," gerundel Jesica pada Charlie.


Charlie terbahak selama beberapa saat, namun mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Jesica.


"Sudah waktunya bagi kami untuk pergi," ucap Jesica.


"Benar, mungkin Ken sudah menunggu didepan," timpal Charlie sembari melihat jam tangannya.


"Aku sangat berterima kasih tentang itu, Charlie," ucap Ariel.


"Maksudmu, Ken?" tanya Charlie yang disambut anggukan kecil.


"Dia hanya berperan sebagai seorang adik yang baik karena kamu adalah kakak baginya, bukankah itu artinya kita bersaudara?"


"Jika kamu menganggap dia seorang adik. Bagaimana mungkin dia tidak menganggapmu sebagai kakak?" sambut Charlie.


Ariel tersenyum haru. Teman dan sahabat, pertemuan yang tidak pernah ia duga, semua hubungan yang terjalin secara alami dan menjadi lebih kuat seiring berjalannya waktu.


Jesica dan Charlie keluar lebih dulu meninggalakan Ariel sendirian, membiarkan Ariel menggunakan waktu yang tersisa untuk menenangkan hatinya sebelum ia keluar dari ruang rias. Ketika ia membuka pintu, Ariel di sambut Ken yang sudah menunggunya.


Ken tidak bisa menyembunyikan wajah terpananya ketika melihat Ariel keluar dengan gaun pengantinnya.


"Rasanya,,, aku menjadi ingin bertukar posisi dengan kak Joel sekarang," ucap Ken terang-terangan.


"Dan menjadi mayat keesokan harinya?" sambung Ariel.


"Haiss,,, kak Ariel benar, jika kak Joel bisa menyelamatkan nyawa seseorang, dia juga bisa melenyapkan nyawa seseorang dengan mudah," jawab Ken blak-blakkan.


"Keenn,,," Ariel terkekeh pelan melihat tingkah Ken yang sekarang berani menggatai Joel atau Bram bahkan didepan wajah mereka.


"Aku bercanda," ujar Ken mengangakat kedua tangannya.


"Apakah kakak sudah siap?" tanya Ken.


"Aku menjadi lebih gugup karena kamu bertanya," sambut Ariel.


"Kakak pengantin tercantik yang pernah ku temui, dan percayalah hari ini akan menjadi hari sempurna untuk kakak," ucap Ken menenangkan.


"Aku lupa kamu sekarang menjadi sebijak ini," jawab Ariel.


"Kakak hanya perlu tersenyum, dan semua akan baik-baik saja," hibur Ken menepuk lembut tangan Ariel.


Ariel menarik nafas panjang dan menghembuskanya perlahan, menoleh kearah Ken sejenak dan kembali memusatkan perhatiannya pada jalan di depannya.


"Berjanjilah untuk tidak membuatku terjatuh," harap Ariel.


"Tidak akan pernah," janji Ken.


Ariel mengatur nafasnya lagi, lalu mengangguk pelan.


Mereka mulai melangkah pelan menuju altar. Pada awalnya, tiap langkah terasa berat bagi Ariel, tangannya beberapa kali mencengkram kuat saat perasaan gugup kembali muncul.


Namun, Ken masih tetap melangkah dengan tenang, menunjukan bahwa semua memang akan berjalan dengan baik. Para tamu berdiri dan mengarahkan pandangan mereka pada pengantin wanita yang tengah berjalan menuju altar. Semua mata memberikan pandangan takjub yang sama ketika mereka melihat lebih dekat pengantin wanitanya.


Hal itu justru membuat kegugupan yang dirasakan Ariel kian bertambah. Hingga pandangannya betemu dengan Joel yang telah menunggu di ujung antar. Senyum lembut yang diberikan Joel untuk Ariel seolah menular padanya, membuat Ariel membalas senyumannya.


Ketika mereka berdua telah sampai di ujung altar, Ken mengulurkan tangan Ariel kepada Joel yang segera menyambutnya. Tatapan mereka bertemu sejenak sampai Joel menuntun Ariel melangkah dan berdiri di depan imam.


Acara dimulai dengan khidmat. Tak seorangpun mengeluarkan suara saat imam mulai membacakan doa. Hingga tiba bagi mereka berdua untuk menyatakan janji pernikahan yang di mulai dari sang imam.


"Saya, Joel Graciano,,,"


Sang imam mulai berkata yang diikuti oleh Joel dimana mereka telah berdiri berhadapan dan saling memandang satu sama lain dengan tangan yang saling bertautan.


"Saya, Joel Graciano,, menerimamu Ariel Esther, sebagai istri. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang dan selamanya. Berjanji untuk mencntaimu apa adanya dan apa adanya kamu di masa mendatang. Berada disisimu dalam kesedihan dan kebahagiaan, kaya dan miskin, sehat dan sakit. Dan aku bersumpah akan mencintaimu diatas segalanya, dan seumur hidupku,"


Suara janji yang diucapkan penuh kesungguhan membuat siapapun yang mendengarnya tersentuh dengan janji yang diucapkan Joel.


Janji pernikahan di teruskan dengan Ariel yang mengungkapkan janjinya setelah Joel.


"Saya, Ariel Esther, menerimamu Joel Graciano, sebagai suami, untuk saling mengasihi dan menghargai. Berjanji untuk setia dan mencintaimu hari ini dan setiap hari. Selalu bersamamu dalam suka dan duka, dalam kelimpahan dan kekurangan, dalam sehat dan sakit. Dan aku bersumpah akan mencintaimu seumur hidupku hingga maut memisahkan kita,"


Setelah mengucapkan janji mereka, Joel menyematkan cincin di jari manis Ariel, bergantian dengan Ariel yang juga menyematkan cincin di jari manis Joel.


Sang imam menutup proses pernikahan dengan doa yang dilakukan dengan khidmat. Di akhir pembacaan doa, mereka berdua kembali berhadapan, melangkah maju dan berciuman.


Ada jeda keheningan selama beberapa saat sampai suara gemuruh tepuk tangan dan sorakan para tamu yang manjadi saksi pernikahan mereka terdengar. Turut berbahagia atas pernikahan mereka.


Joel memandangi wajah Ariel dengan tatapan penuh cinta dimatanya, tak pernah jemu melihat wajah pengantin wanita didepannya yang telah resmi menjadi isterinya.


Mereka berdua berbalik menghadap para tamu, menyampaiakan rasa terima kasih mereka sebelum mereka bergabung bersama para tamu.


Beberapa teman Joel dan Ariel bergantian maju kedepan untuk memberikan ucapan selamat dan mengungkapkan rasa bahagia mereka sebagai seorang teman di depan para tamu.


Hal itu tak berlangsung lama sampai Joel dan Ariel berbaur dengan para tamu. Mengobrol ringan, bersenda gurau dan memberikan ucapan selamat.


"Selamat untuk pernikahan kalian,"


"Tak kusangka, dia justru akan menikah secepat ini. Kau tau? Dia bahkan tak pernah banyak bicara dengan wanita manapun," ucapnya.


"Benarkah?" sambut Ariel tertawa ringan.


"Diam kau, Seth!" sahut Joel.


"Itu artinya, kak Ariel pasangan yang cocok mengingat kakak selalu galak kepada pria manapun yang mendekat termasuk coach Gerry," timpal Ken.


"Kenn,,, sepertinya kamu sudah bosan bekerja," sambut Ariel merona.


"Tak masalah jika kakak memecatku, itu artinya kakak akan mengurus tiga puluh orang itu sendirian," balas Ken enteng.


"Ukh,,,"


Ariel mengerutu kalah. Mereka hanya tertawa dan terus mengoda pasangan yang baru saja menikah itu.


Tanpa terasa, hari telah berubah gelap. Beberapa tamu berpamitan untuk pulang, namun banyak tamu yang masih memilih bertahan menikmati pesta yang ada.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


.......


To be Continued...