I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
17. Bersama Bram



KRRIIGGGGG.......!!!!


Lagi...


Lagi...


Dan Lagi....


Bukan hanya ponsel, namun telepon apartemen terus berdering dengan penelepon yang sama.


"BRAAMMMMM,,,,,,!!!!!"


Ariel mengeram kesal di apartemennya saat malam karena Bram terus menghubunginya dari sang hari.


Menggunakan satu alasan yang justru membuat kekesalan Ariel bertambah.


'Kencan'


KKRRIINNGGGG.......!!!!


Sekali lagi bunyi telepon terdengar membuat Ariel tidak memiliki pilihan lain selain mengangkat teleponnya


"Bram,,,!!!" sentak Ariel. "Caramu benar-benar menjengkelkan, apakah kau tau itu?" sambungnya setelah meletakkan gagang telepon di telinganya.


"Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan menggunakan cara apapun untuk mendapatkanmu lagi?" balas Bram.


BRAKKKK,,,,!!!


Ariel mambanting gagang telepon dan memutus panggilan. Tangannya segera mencabut kabel dan mematikan ponselnya.


"Bagaimana dia bisa begitu percaya diri bahwa aku akan kembali padanya? Dia pikir, dia siapa?" geram Ariel.


Ariel membiarkan ponselnya dimeja dan pergi ke ruangan pianonya. Duduk bersandar pada kursi yang menghadap ke balkon lalu pandangannya menerawang ke saat dimana dirinya melihat Bram tengah bersama sahabatnya.


Mereka berjalan dengan bergandengan dan terlihat begitu mesra. Tangan Bram yang melingkar di pinggangnya, saat-saat dimana Bram berbisik ke telinganya dengan memperlihatkan keintiman mereka.


Bahkan saat dirinya memergoki Bram tengah bersamanya, dia hanya tersenyum sinis dan mencibir.


"Bersama denganmu itu memboosankan,Ariel. Kau hanya punya sedikit waktu untukku. Waktumu selalu kau habiskan untuk musik," ucap Bram dingin.


"Aku memang menikmati waktu saat bersamamu, saat kita bisa menghabiskan waktu bersama, dan bersenang-senang dengan hobiku. Tapi itu tidak cukup untukku," papar Bram.


"Dan sekarang aku bosan jika harus terus-terusan seperti ini," ucapnya.


"Bukankah kamu sudah berjanji akan terus bersamaku disaat jadwalku sangat padat?" sanggah Ariel dengan mata berkaca-kaca.


"Dewasalah, Ariel. Kamu hanya fokus dengan pekerjaanmu, kamu mengabaikanku," ucap Bram.


"Apa maksudmu aku mengabaikanmu?' protes Ariel. " Aku selalu mengutamakan kepentinganmu disela jam sibukku," sambungnya.


"Mungkin kau benar, tapi aku bosan denganmu," terang Bram. "Dan ituah satu-satunya alasanku," sambungnya.


Air matanya bergulir begitu saja. Bram berbalik meninggalkan Ariel dengan mengandeng sahabatnya sendiri. Sahabat yang ia anggap sabagai saudara namun telah menusuknya dari belakang.


Sejak saat itu, Ariel hanya menyibukkan diri bermain musik, selalu menerima tawaran untuk tampil hingga namanya dikenal banyak orang.


Namun, hal itu tetap tidak mengisi kekosongan hatinya. Di saat-saat seperti itu, Ariel menerima tawaran untuk melatih para jenior yang akan tampil di panggung dan menunjuk Ariel sebagai pelatih khusus mereka.


Tanpa pikir panjang, Ariel menerimanya begitu saja dan begitulah hal itu terjadi begitu saja hingga dia di kota tempatnya berada saat ini.


Hal tak terduga yang terjadi adalah Bram kembali muncul setelah kejadian beberapa tahun lalu dan sempat meghilang.


Ariel telah berhasil bangkit dan menghilangkan semua perasaanya terhadap Bram, namun kini Bram kembali menganggunya.


"Haahhhh,,,,," Ariel mendesah panjang saat mengingat kembali saat-saat bersama Bram yang terasa sangat singkat dan berakhir begitu saja.


TEETTT,,,,!


Suara bel pintu apartemennya berbunyi membuat Ariel mengalihkan perhatiannya.


"Itu tidak mungkin Bram kan?" gumam Ariel.


Ariel bangun dari duduknya dan menghampiri pintu. Mengintip pada lubang yang ada dipintu namun tidak memperlihatkan siapapun.


TEETTT,,,,!


Bel pintu kembali terdengar.


"Siapa??" Ariel mengeraskan suaranya untuk bertanya.


"Ini aku Ariel," jawabnya.


Ariel tersenyum lega setelah mengenali pemilik suara, Ariel segera membuka pintu dan tersenyum lega.


"Syukurlah, itu dirimu Joel." ucap Ariel lega.


"Apapkah sesuatu yang buruk terjadi?" tanya Joel.


"Tidak, hanya penganggu yang suka membuat onar," jawab Ariel. "masuk," tawar Ariel.


"Bram??" tebak Joel dengan alis terangkat.


Ariel tersenyum dengan megangkat sedikit bahunya. Tangannya bergerak mempersilahkan Joel duduk.


"Jadi itu alasan kenapa kamu tidak bisa di hubungi? " tanya Joel setelah duduk di sofa.


"Apakah kamu memerlukan sesuatu?" tanya Ariel mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku khawatir padamu karena kamu tidak bisa dihubungi," jawab Joel.


"Maaf membuatmu khawatir, tapi aku baik-baik saja," sambut Ariel.


"Kalau begitu, bagaimana jika kita keluar?" ajak Joel.


"Sekalian saja, aku juga akan mengajak wanita itu untuk bergabung," ungkap Joel.


"Bisa dikatakan, dia hampir sama sepertiku, dia baru di kota ini dan tidak memiliki teman. Kupikir, akan bagus untuknya jika kalau bersama orang yang telah dia kenal. Jadi apakah kau mau ikut bergabung?" ajak Joel.


"Apakah tidak masalah jika aku ikut? Bukankah hal itu justru akan membuatnya di posisi yang tidak nyaman?" tanya Ariel.


"Tidak sama sekali,dia bahkan menyarankanku untuk mengajakmu bertemu dengannya. Dia ingin mengenalmu," ungkap Joel.


"Kenapa?" tanya Ariel.


"Baiklah, aku ikut," sambut Ariel.


"Ayo berangkat, ada festival yang sedang di gelar dipusat kota. Kita bisa kesana bersama. Aku akan menghubunginya," papar Joel.


"Baiklah, beri aku waktu untuk bersiap," ucap Ariel.


"Selama yang kamu perlukan, Ariel," sambut Joel tersenyum.


Ariel bangun dari duduknya menuju kamar untuk berganti pakaian, sementara Joel menghubungi Christina untuk bertemu di festival yang diadakan di pusat kota.


Tak lama kemudian, Ariel keluar dari kamar dengan penampilan berbeda. Dengan style casual dan rambut terikat kebelakang justu memperlihatkan sisi manis dari penampilannya.


Tanpa sadar Joel membuka mulutnya saat melihat penampilan Ariel.


"Apakah penampilanku aneh?" tanya Ariel ragu melihat kembali dirinya sendiri.


"Cantik," ucap Joel masih terus menatap Ariel.


"Tapi reaksimu seolah mengatakan hal berbeda," sanggah Ariel.


"Aku hanya tidak menyangka kamu bisa terlihat sangat manis hanya dengan penampilan seperti ini," sanjung Joel.


"Apakah itu sebuah sanjungan?" goda Ariel menyipitkan matanya.


"Ha ha ha,,, baiklah, baiklah. Itu adalah sanjungan tulus, Ariel. Disamping itu, aku mengatakannya karena memang itulah yang aku lihat," papar Joel.


Ariel tersenyum senang. Hanya dengan kalimat yang dilontarkan oleh Joel padanya, hatinya kembali menghangat.


"Ayo pergi," ajak Joel.


Joel mengulurkan tangannya yang segera di sambut Ariel.


Mereka meninggalkan apartemen Ariel dengan senyum yang menghiasi wajah mereka.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


Festival kuliner yang diselenggarakan dipusat kota telah dipadati pengunjung dari berbagai kalangan usia.


Puluhan stand berdiri dengan mengibarkan bendera dari negara mereka masing-masing. Menjual makanan khas negara mereka. Menyebarkan aroma sedap yang mengugah selera.


Seorang wanita tengah berjalan perlahan sembari melihat stand yang menjual beraneka macam makanan.


"Hai, sayang? Apakah kamu sendirian?"


Suara genit terdengar disertai dengan tangan yang mecolek wajah wanita itu. Dua pria itu mendekati wanita yang tengah sendirian.


"Jauhkan tanganmu,!" sentaknya.


"Wooo,,, dia galak," ejeknya.


Mereka tertawa dan kembali mengoda wanita itu dengan tawa mengejeknya. Tangannya kembali mencolek wajah wanita itu yang kini beringsut ketakutan.


"Sungguh menyedihkan, apakah di negara ini, kalian tidak tau bagaimana cara bersikap kepada orang lain? Terlebih orang yang berasal dari negara lain?"


Suara sarkasme dari wanita lain terdengar hingga menghentikan aksi dua pria yang menganggu wanita itu.


Kedua pira itu lantas menoleh marah kearah sumber suara, lalu tersenyum nakal saat melihat wajah wanita yang telah menyela mereka.


"Kami tidak keberatan jika kamu bergabung bersama kami, manis," sambunya tersenyum.


"Cih,,, siapa yang sudi bersama dengan kalian?" cibirnya.


"Oh, benarkah?" sambutnya tertawa.


Salah satu dari mereka mendekati wanita itu yang tidak lain adalah Ariel, dengan tatapan mesum. Tangannya terulur untuk mencolek wajahnya. Namun Ariel hanya bergeming dengan senyum tersungging di bibirnya.


Sebelum tangan pria itu berhasil menyentuh wajah Ariel, tangan lain berhasil menghentikannya lebih dulu.


Sebuah tangan yang muncul dari balik punggung Ariel yang tidak lain adalah Joel, mencengkram kuat pergelangan tangan pria itu dan menghempaskannya dengan kasar.


"Sedikit saja kau menyentuhnya, aku akan pastikan tangan ini tidak akan lagi berfugsi sebagaimana mestinya,!" ancam Joel.


"Ohoo.. Mau jadi pahlawan? Cih,," cibirnya.


"Pahlawan? Ha,,, sama sekali tidak. Dia hanya tau bagaimana cara menggunakan tangannya dengan baik," ucap Ariel santai.


Ariel melangkah maju, menantang mereka dengan tatapan tajam yang tidak goyah sedikitpun. Hal itu justru membuat kedua pria itu beringsut dan melangkah mundur.


"Kalian sudah menganggu teman kami, jadi dengan cara apa ini akan di selesaikan?" tantang Ariel.


Joel tiba-tiba menncengkram tangan Ariel, namun tatapannya tidak terlepas dari mereka berdua.


"Kalian tau? Kami bahkan bisa membuat kematian kalian tidak akan di ketahui oleh siapapun," Ariel terus mengertak mereka berdua hingga mereka berubah ketakutan.


Pria itu kemudian membungkuk meminta maaf dan berlalu pergi.


Ariel terbahak dengan mereka yang berlari tungang langang karena termakan gertakan ringannya.


Ariel terus terkikik sembari memegangi perutnya.


"Apakah itu terasa lucu bagimu?" ucap Joel sembari menarik tangan Ariel kearahnya.


"Bagaimana jika mereka melukaimu?" sambung Joel menatap Ariel khawatir.


"Aku yakin kamu tidak akan membiarkannya," sambut Ariel enteng.


"Bagimana jika aku tidak bersamamu?" balas Joel mulai terdengar kesal.


"Ayolah, Joel. Aku tau cara menghadapi mereka." sanggah Ariel. "Mereka sama seperti anak yang ku didik. Dimana dia hanya bersikap sok tanpa kemampuan apapun dalam dirinya. Dan sangat mudah termakan gerakan ringan seperti tadi. Namun, harus ku akui dia akan berubah ketika kemampuannya di asah dengan baik," jelasnya.


"Oh,,benar,, wanita itu," Ariel mengabaikan Joel dan menoleh kearah wanita yang melangkah menghampirinya.


"Terima kasih telah ,menolongku," ucapnya pada Ariel.


"Terima kasih telah menolongku, lagi Joel," ucapnya seraya menatap Joel dengan binar dimatanya.


"Eehh,,,!! Kamu mengenalnya Joel,,?" seru Ariel terkejut.


...>>>>>>>--<<<<<<<...