I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
112. Menyesal



Joel merasakan semua beban berat jatuh menimpa tepat diatas kepalanya. Hatinya terguncang hebat setelah mendengar apa yang baru saja Bram katakan. Sebuah penyesalan yang besar perlahan memenuhi hatinya.


"Jika kau tau apa itu peretasan, kenapa kau tak gunakan kemampuanmu untuk mencari tau? Apakah kau sebegitu bangganya dengan semua pemikiranmu?"


"Kau justru hanya menggunakan kemampuanmu untuk meretas cctv apartemen dan berpikir tentang apa yang sebenarnya tidak pernah terjadi,"


"Kau hanya terlalu takut Ariel akan sama seperti orang yang pernah menyakitimu hingga kau melupakan fakta bahwa Ariel juga merasakan hal yang sama denganmu,"


"Satu-satunya yang berbeda adalah dia sepenuhnya keluar dari zona nyamannya, membuka hati sepenuhnya untuk menerimamu, sedangkan kau masih saja terikat dengan rasa takutmu,"


"Pengecut,"


Joel tak bisa membalas satu katapun untuk pembelaan. Semua yang dikatakan Bram terasa menusuk hatinya sangat dalam dan itu semua adalah kebenaran yang selalu ia sangkal.


"Apa kau juga tau? Dia terlihat seperti boneka hidup dalam beberapa hari terakhir? Tapi dia masih bisa berkata tidak terjadi apa-apa dengan senyum diwajahnya,"


Hening,,,,


"Sekarang, katakan dimana dia?" tanya Bram.


"D-Dia sudah pergi,,, a-a-aku akan ke apartemennya," jawab Joel.


"Tidak," Bram menggeleng kuat.


"Dia belum meninggalkan pantai ini," ucap Bram membuat Joel menatap bingung.


"Mobilnya masih ada di tempat biasa," lanjutnya.


"A-Apa??" sambut Joel terkejut.


"Tapi,,, dia pergi lebih dari setengah jam yang lalu," ucap Joel terbata.


Hatinya mulai dipenuhi rasa khawatir. Semua perkataan yang pernah ia lontarkan seolah berdengung ditelinganya. Berputar ulang dalam benaknya.


"Dimana tempat yang sangat dia sukai disekitar sini?" tanya Bram.


"Haa,,,???" Joel mengerjap bingung, pikirannya seolah menjadi buntu.


"Pikirkan sesuatu bodoh!!" hardik Bram kesal.


"Dia pasti memiliki satu tempat yang sangat dia sukai disini, dan dia pasti pergi kesana," sambung Bram tidak sabar.


Berpikir sejenak, Joel terdiam selama beberapa saat, memikirkan satu tempat yang menjadi tempat yang sangat disukai Ariel untuk menghabiskan waktu.


"Tebing,,," desis Joel.


"Apa? Tebing apa maksudmu?" tanya Bram.


"Ada tebing batu yang mengarah ke laut dan sebagian berada diatas laut, ketika air mulai pasang, hampir setengah dari batu akan tertutup air laut," jawab Joel menjelaskan.


"Kita kesana," ucap Bram yang dijawab dengan anggukan cepat.


Joel menunjukan arah dimana tempat tebing itu, dan mereka mulai berlari menuju tempat itu, dengan terus berharap agar tidak terjadi sesuatu yang tidak mereka harapkan.


"Kenapa kau melakukan ini, Bram?" tanya Joel ditengah lari mereka.


"Aku tau apa yang kau pikirkan, ini mungkin situasi dimana aku bisa membuat dia kembali padaku, tapi dia mencintaimu bukan mencintaiku,"


"Aku hanya tidak ingin orang bodoh yang ku kenal merasakan rasa penyesalan yang aku rasakan," sindir Bram.


"Jika sampai terjadi sesuatu padanya,,,"


"Aku akan membunuhmu," ucap Bram tanpa menoleh.


Joel melirik sekilas, lalu kembali fokus pada jalan didepannya masih terus berlari.


"Disana," ucap Joel menunjuk tebing.


Bram menatap tebing yang cukup tinggi. Diatas tebing siluet seseorang terlihat sedang menatap laut yang terbentang didepannya.


Hal yang membuat mereka terkejut saat itu adalah ketika seseorang juga berada disana dan mendekatinya, tak lama satu orang lagi juga mendekati siluet yang mereka yakini itu adalah Ariel. Tanpa aba-aba, mereka menambah kecepatan lari mereka, berusaha secepat mungkin untuk mencapai atas tebing.


...>>>>>>>>--<<<<<<<<...


Ariel melangkah perlahan untuk mencapai tepi tebing yang pernah Joel tunjukan padanya dan menjadi tempat favoritnya sejak saat itu. Ia menarik nafas panjang dengan memejamkan mata, lalu kembali membuka matanya.


Hembusan angin kencang yang menerpa wajahnya bahkan tidak bisa membantu untuk menghapus air matanya yang telah bergulir.


Tersenyum getir manatap laut yang ada didepannya, seolah ia menanyakan sesuatu yang tidak kunjung dijawab.


'Semua akan baik-baik saja, aku hanya perlu menutup lagi semuanya dan bersumpah untuk tidak lagi membuka hatiku untuk siapapun,' batin Ariel.


"Entah kenapa sekarang aku merasa puas,"


Suara skeptis dari seseorang yang sangat dikenalnya terdengar dari balik punggungnya, membuat ia menolah dan menatap seseorang yang berdiri tak jauh darinya, tersenyum angkuh dan penuh kemenangan.


"Lakukan apapun yang ingin kau lakukan, Christina," sambut Ariel lesu.


"Dengan kamu tidak menyakiti hatinya saja, sudah cukup bagiku," imbuhnya.


"Cih,,, sifat naifmu terdengar sangat menyebalkan," dengus Christina.


Christina melangkah mendekati Ariel yang telah kembali berbalik membelakanginya, menatap laut di depan mereka.


"Apa kau ingin tau sesuatu?" ucap Christina tersenyum.


Ariel hanya bergeming, tampak tidak tertarik dengan apa yang di katakan Christina.


"Kau dan Bram adalah bagian dari rencanaku," ungkap Christina dengan seringai di wajahnya.


"Apa???" Ariel berseru kaget, dengan cepat menoleh kearah Christina.


"Haruskah aku menceritakan semuanya dari awal?" ucapnya.


"Darimana aku harus memulainya?" tanyanya lagi sembari meletakkan dua jari didagunya, menatap Ariel dengan senyum penuh kemenangan.


"Aku yakin kau sudah tau tentang sabotase itu, lalu apakah kau juga tau aku yang membujuk anak didikmu itu untuk memancingmu meminum Afrodisiak?"


"Hanya saja si pria pengusaha itu datang secara tidak sengaja, namun menambah sempurna, sialnya_,,,"


"Rencana itu gagal total karena dia juga sama naifnya denganmu. Lalu, penculikan itu? Itu juga gagal karena anak didikmu yang entah bagaimana datang tepat waktu. Dan alat musik di studio? Itu juga gagal karena Joel membantumu, dan akhirnya aku menggunakan Bram sebagai pion terakhir, dan,,, Voilaaa,,,"


"Itu berhasil, sekarang Joel bahkan tidak mendengarkanmu sama sekali meskipun kau menunggu didepan rumahnya hingga pagi,"


"Aku tak lagi khawatir kau akan mengatakan kebenaran ini pada Joel, dia tak akan mempercayai apapun yang yang kau katakan," ungkap Christina.


"Kenapa? Kesalahan apa yang kulakukan padamu?" tanya Ariel.


"Karena aku mencintai Joel, dan dia mencintaimu," jawab Christina angkuh.


"Itu bukan cinta, melainkan hanya ambisimu," sambut Ariel tidak terima.


"Aku tidak akan pernah rela jika kau mendekati Joel hanya berdasarkan ambisi dihatimu," imbuhnya.


"Benarkah? Dan kau akan mengatakan kebenarannya yang justru berakibat dia akan lebih membencimu," jawab Christina sinis.


Christina tertawa puas, mengatakan semuanya dengan wajah tanpa dosa. Sementara Ariel melebarkan matanya dengan wajah tak percaya. Ia bahkan tak menyangka sedikitpun bahwa semua yang terjadi sudah direncanakan, meski ia sempat merasa aneh dengan rentetan kebetulan yang terjadi.


Tetap saja ia terkejut jika itu terjadi karena Christina yang melakukannya


'PROK,,,!!!


'PROK,,,!!!


'PROK,,,!!!


"Hebat,,,,!!!!"


Suara tepuk tangan disertai nada suara mencemooh menyela mereka membuat mereka berdua serentak menoleh.


"Kau melakukannya dengan sangat baik," tambahnya.


"Jessi,,,?" desis Ariel.


Mata Ariel melebar tak percaya melihat Jesica tersenyum kearahnya. Langkahnya semakin dekat kearah Ariel, dan berheti saat jarak mereka hanya beberapa senti.


Tepat saat Jesica berada didepan Ariel, tiba-tiba Ariel merasakan sebuah dorongan kuat terhadapnya. Dalam waktu sepersekian detik Ariel merasakan tubuhnya melayang dan terus meluncur kebawah, membuatnya tersadar seseorang mendorongnya dari tebing.


Tubuh Ariel melayang, hingga pada akhirnya tubuhnya ditangkap oleh lautan dibawahnya. Kepanikan menjalar diseluruh tubuhnya saat ombak terasa menarik tubuhnya kebagian laut yang lebih dalam.


"Hupf,,,"


Tangannya berusaha untuk naik kepermukaan, kakinya terus menendang dengan putus asa, namun gerakannya justru membuat tubuhnya semakin tertarik kebawah.


Entah sudah berapa banyak air yang tertelan, Ariel mulai meraskan paru-parunya dipenuhi air, tangan dan kakinya mulai lemas, hingga akhirnya berhenti bergerak tepat terdengar sesuatu menghantam permukaan laut seolah seseorang ikut jatuh ke laut bersamanya.


'Andai saja aku bisa berenang meski itu hanya sedikit saja. Setidaknya aku bisa terapung di permukaan air. Aku sungguh payah,' batin Ariel.


Kesadarannya mulai memudar seiring dengan tubuhnya yang terus semakin kebawah dan didorong oleh gelombang. Hingga kegelapan memeluk tubuh Ariel sepenuhnya


.....


....


.


.


To be Continued