I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
91. Di Palais



'Kenapa rasanya tuan Bram kembali murung? Apakah terjadi sesuatu disaat aku pergi membeli tiket?"' batin Sam.


"Ayo, masuk," ajak Bram.


"Baik," jawab Sam.


Sam berjalan mengiringi langkah Bram. Ia terus melangkah tanpa benar-benar menikmati apa yang ada didepannya. Seolah pikirannya sedang tidak bersamannya.


Tepat saat ia melintasi lukisan Van Gogh, ia menghentikan langkahnya. Matanya terlihat menerawang saat melihat lukisan didepannya.


'Jika diingat lagi, dulu aku bertemu Ariel pertama kali adalah saat aku ingin membeli lukisan van Gogh. Dan berakhir dengan pertengkaran karena salah paham dan aku juga gagal mendapatkan lukisannya. Aku justru membeli gitar yang sekarang tergletak karena aku tidak mungkin menggunakannya,'


Bram mendesah pelan, lalu tersenyum untuk menutupi kekosongan hatinya. Ia kembali melangkah untuk melihat lukisan yang dipajang didinding.


Banyaknya lukisan karya para seniman yang di paparkan di museum itu sedikit mengalihkan pikirannya.


Salah satu yang ia kagumi adalah lukisan Van Gogh. Saat Bram akan melanjutkan langkahnya, tiba-tiba tubuhnya tertarik kebelakang.


"Ada apa kau menarikku, Sam?" tanya Bram mengerutkan keningnya.


"Maaf, tuan. Tapi, bisakah kita keluar dari sini?" harap Sam.


"Kenapa?" tanya Bram bingung.


"Saya,,," Sam berpikir cepat tentang alasan yang akan membuat Bram tidak terlalu banyak bertanya, ia hanya ingin Bram segera keluar dari museum itu.


"Saya melihat mantan kekasih saya," jawab Sam menundukkan kepalanya.


"Dan kau takut bertemu dengannya?" tanya Bram.


"Saya, malu karena sayalah yang meninggalkan dia," jawab Sam.


Bram menatap Sam dengan tatapan tak percaya. Sementara Sam berusaha menghindari tatapan matanya.


"Baiklah, ayo keluar," ajak Bram pada akhirnya.


"Terima kasih, tuan," sambut Sam senang.


"Kita kembali ke hotel saja, besok malam aku ingin menghadiri acara musik di Palais Garnier karena mereka mengundangku. Tapi, kau bisa tidak perlu ikut bersamaku," ujar Bram.


"Baik," jawab Sam patuh.


Tanpa rasa curiga apapun, Bram berjalan keluar bersama Sam. Sesekali Sam menengok kebelakang, seolah ingin memastikan sesuatu.


'Apakah yang aku lihat itu benar?' batin Sam.


Sam yang saat itu tidak sengaja melihat Ariel tengah bergandengan tangan bersama seorang pria terkejut, namun dengan cepat menutupi keterkejutannya dan mengalihkan perhatian Bram.


Ia merasa khawatir atasannya akan melihat hal itu. Jadi, memutuskan untuk berbohong agar Bram tidak melihat Ariel, tanpa mengetahui sebenarnya Bram justru sering bertemu Ariel ketika tidak bersamanya.


Ariel berkeliling mengamanti lukisan dan patung yang ada di museum. Beberapa kali Joel menyipitkan matanya untuk melihat lukisan itu, namun tetap saja , dimatanya itu hanya garis abstrak yang tidak beraturan baginya.


"Apa yang membuat lukisan ini di minati?" tanya Joel sedikit berbisik.


"Aku bahkan tak mengerti kenapa mereka memasang lukisan seorang wanita yang tidak mengenakan apapun," ucap Joel memberikan tatapan ngeri


"Itu adalah lukisan karya Alexandre Cabanel. Errm,, kalau tentang kenapa lukisannya seperti itu, aku pernah membaca untuk menciptakan sensasi di salon tahun 1863, yang dijuluki Salon of the Venuses," jelas Ariel.


"Lalu, ini?" Joel kembali bertanya sembari menunjuk lukisan yang menurut penilaiannya adalah hanya coretan abstrak.


"Lukisan yang di kenal dengan sebutan Starry Night, malam berbintang di atas Rhône. Lukisan yang di lukis di tepi sungai Rhone yang hanya berjarak satu atau dua menit berjalan kali dari rumah kuning di Place Lamartine yang disewa oleh Van Gogh,"


"Lukisan ini memiliki pesan yang ingin dia sampaikan kepada siapapun yang melihatnya, bahwa ia percaya jika ada harapan dan akan berusaha menerima realita yang ada," papar Ariel.


"Mengesankan," puji Joel tulus.


"Rasanya aku jadi ingin memiikinya," ucapnya dengan suara pelan.


"Aku yakin kau akan berpikir dua kali jika ingin membeli lukisan itu," celetuk Ariel


"Kenapa?" tanya Joel mengerutkan keningnya.


"Harga lukisan Van Gogh yang terkenal mencapai $82,5juta. Sayangnya lukisan itu tidak berada disini," ungkap Ariel.


"EEEHHHH,,,????" seru Joel luar biasa kaget.


"Sshhh,,, Joel , pelankan suaramu," rutuk Ariel langsung membekap mulut Joel.


Ariel melihat sekeliling dimana beberapa orang sempat melirik mereka berdua sebentar lalu mengabaikannya.


"Puluhan juta dollar hanya untuk sebuah lukisan? Itu gila," celetuk Joel memelankan suaranya.


"Itulah nilai seni yang sebenarnya, Joel," sambut Ariel terkikik melihat reaksi Joel diluar perkiraannya.


"Apakah selama ini kau hanya mengurung diri di rumah sakit hingga kamu seterkejut ini mendengar harga lukisan?" ledek Ariel menutup mulutnya berusaha menahan tawa.


"Ha ha,, kau bisa mengolokku sepuasmu," cetus Joel pura-pura kesal.


"Hoo,, apakah kamu marah?" goda Ariel.


"Cara yang bagus untuk menganti topik," cibir Ariel.


Joel tertawa dan melingkarkan lengannya di pinggang Ariel, lalu membawanya-lebih tepatnya memaksa pergi meninggalkan museum.


Mereka berdua hanya terpisah ketika malam hari diwaktu tidur. Menginap di Hotel dengan kamar yang saling berhadapan, membuat mereka lebih mudah menentukan waktu dan kemana mereka akan pergi.


Seperti halnya ketika hari berganti, dan malam telah tiba, Joel berdiri didepan kamarnya menunggu Ariel keluar. Setelan jas berwarna hitam yang melekat ditubuhnya membuat ia terlihat seperti seorang model.


Tak lama kemudian pintu kamar Ariel terbuka, memperlihatkan sosok Ariel dengan balutan gaun malam dengan warna coklat terang. Gaun dengan hiasan sederhana namun tampak elegan dengan lengan diatas siku. Rambutnya yang panjang ia sanggul dengan menyisakan sedikit helaian rambut digaris pipi membuat Ariel terlihat lebih mempesona.


"Apakah ada yang aneh dengan penampilanku?"


Ariel bertanya tatkala menyadari Joel memandanginya dari atas sampai bawah tanpa suara.


"Tidak ada sama sekali, hanya saja angin malam terasa dingin, kuharap kita tidak kembali terlalu larut," ucap Joel.


"Ayo berangkat!" ajak Joel mengulurkan tangannya.


Ariel tersenyum dan menyambut uluran tangan Joel, meletakkan tangan Ariel di lengannya dan mulai melangkah meninggalkan hotel menuju tempat pertunjukan akan di adakan.


Sementara itu, teman-teman Albert telah tiba lebih dulu dari Ariel. Mereka memutuskan menunggu di luar daripada didalam dengan hati gelisah.


Sesekali Albert melirik jam tangannya, lalu mengedarkan pandangannya, mencari sosok Ariel yang belum terlihat.


"Aku sempat mengira dia akan datang lebih dulu dari kita, ternyata espektasiku terlalu tinggi," dengus Marc.


"Jika dia tidak datang, kita hanya perlu tampil tanpa dia," timpal Marius.


"Mereka datang," ucap Dennis menunjuk satu titik dengan telunjuknya.


Mereka serentak mengarahkan pandangan mereka ke arah Ariel, terpana dengan penampilan Ariel yang sangat jauh berbeda, dan Joel yang berada disampingnya membuat siapapun yang melihatnya akan mengatakan hal yang sama.


"Mereka pasangan serasi,"


Sebuah kalimat yag sempat di dengar Joel, namun tidak didengar Ariel.


"Apakah aku terlambat?" tanya Ariel ketika telah berdiri didepan mereka.


"T-Tidak," jawab John terbata.


"Kita masuk sekarang, setidaknya kita harus menunggu di ruang tunggu," ucap Albert setelah bisa mengembalikan kesadarannya.


"Tentu," sambut Ariel tersenyum.


'Tak kusangka dia akan secantik ini,' batin Marc.


'Pantas saja John terlihat tertarik dengannya, ternyata dia secantik ini,' batin Marius.


Marc mengelengkan kepalanya dengan cepat, kembali dengan sikap arogannya. Namun kini ia menjadi kesulitan untuk bicara seperti sebelumnya. Hal serupa juga dirasakan oleh Marius.


Ariel merasakan cengkraman tangan Joel di pinggangnya menguat, membuat ia menoleh menatap Joel.


Tatapan mata Joel berubah tajam saat melihat Marc dan Marius didepan mereka berdua, membuat Ariel tidak bisa menyembunyikan senyum gelinya.


"Siapa yang ingin kau bunuh?" bisik Ariel terkikik.


"Dia menatapmu seolah ingin menelanmu bulat-bulat," dengus Joel tidak suka.


Ariel mengulurkan tangannya, meletakkan jari didagu Joel dan memaksa Joel untuk menatapnya.


"Kalau begitu, jangan melihatnya, lihat aku saja," ucap Ariel mengedipkan sebelah matanya.


Senyum lembut akhirnya tumbuh di bibirnya, membuat Ariel kembali tersenyum.


"Aku ingin kamu menikmati permainanku, dan aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu," ucap Ariel pelan.


"Apa itu?" tanya Joel.


"Akan ku katakan melalui lagu yang ku buat," jawab Ariel.


"Kamu membuat lagu?" tanya Joel melebarkan matanya. "Kapan?" imbuhnya.


Ariel hanya tersenyum misterus tanpa menjawab. Mereka berkumpul di belakang panggung. Menunggu dipanggil untuk bermain.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


....


...


.


.


To be continued