I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
78. Bram sebagai Penengah



Bram menyimpan ponsel disaku celananya setelah mengirim pesan pada Joel, dan beralih mendekati Ariel dengan segelas air ditangannya, lalu menyodorkan pada Ariel yang tengah duduk di sofa menenangkan hatinya.


"Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu menangis?" tanya Bram lembut.


"Bukan apa-apa, maaf membuatmu terkejut, dan juga, aku minta maaf sudah membentakmu," jawab Ariel tersenyum seraya meneguk air dari gelas ditangannya.


"Kamu bisa menceritakannya padaku, Ariel. Jangan memberiku jawaban konyol dengan mengatakan tidak ada apa-apa disaat aku sudah melihatnya," sambut Bram.


Ariel hanya tersenyum kecut, dan tertawa sumbang. Namun tidak cukup untuk menghentikan air matanya yang kembali bergulir.


"Kamu bertengkar dengannya?" tanya Bram seraya memberikan sapu tangan yang segera diterima Ariel .


"Kuharap tidak, aku ingin mencernanya, tapi terasa sulit setelah melihatnya, aku hanya perlu waktu untuk memikirkan ulang apa yang sudah aku lihat," ucap Ariel sembari menghapus air matanya menggunakan sapu tangan dari Bram.


"Apa yang kau lihat?" tanya Bram.


"Dia_,,,,"


"Bersama wanita lain?" potong Bram.


Ariel menoleh cepat kearah Bram yang menyunginggkan senyuman, merasakan dari keterkejutan Ariel bahwa dugaannya benar.


"Apa yang sudut pandangmu katakan?" tanya Bram lagi.


"Aku_,,,"


"Bahwa dia mengkhianatimu?" Bram memotong kalimat yang akan diucapkan Ariel lagi. Membuat Ariel kembali terkejut.


"Joel bukan orang breng*sek sepertiku, Ariel. Itulah satu-satunya hal yang harus kamu ingat," ucap Bram seraya duduk disamping Ariel.


"Dia selalu memiliki alasan disetiap tindakannya, dan penjelasannya selalu masuk akal,"


"Alasan kenapa kamu seperti ini adalah, kamu menganggap dia seperti aku yang dulu," ucap Bram hati-hati.


"Tapi, yang aku lihat berbeda," sanggah Ariel.


"Apa yang membuatnya berbeda? Dia dan aku jelas diposisi sama disaat kamu melihat kami bersama wanita lain. Satu-satunya yang berbeda adalah dia mengejarmu hanya untuk memberimu penjelasan," jawab Bram.


"Lalu, kenapa dia harus berbohong dalam beberapa hari terakhir?" balas Ariel.


"Apa yang membuatmu yakin dia berbohong?" tanya Bram kembali melempar pertanyaan.


"Dia berkata berada di rumah saat aku menghubunginya di depan rumahnya yang terkunci, dia berkata sedang bekerja ketika aku baru saja dari sana dan dia tidak terlihat karena minta cuti," papar Ariel di sela isak tangisnya.


"Aku yakin dia memiliki alasan untuk itu, dan apapun alasannya, dia tidak ingin membuatmu khawatir," jawab Bram. "Alasan dia membohongimu karena dia tidak ingin kamu mengkhawatirkan apa yang dia lakukan," imbuhnya.


Perlahan Bram mengangkat tangannya, mengusap lembut puncak kepala Ariel.


"Kesalahan yang kulakukan padamu di masa lalu membuatmu berpikir bahwa dia sama sepertiku, tapi aku percaya padanya dia tidak akan melakukan hal rendah yang aku lakukan padamu dulu," tutur Bram.


"Jika aku mencari tau apa yang terjadi sebenarnya, apakah kamu mengijinkannya?" tanya Bram.


"Maksudmu, berbicara dengannya?" tanya Ariel.


"Itu terlalu sederhana, Ariel," sambut Bram.


"Tentu saja aku mencari tau semua hal yang berkaitan hingga bagian terkecil sekalipun, namun aku mencari dengan diam-diam, termasuk mencari tau tentang Christina," ungkap Bram.


"Christina?" ulang Ariel mengerutkan keningnya.


"Kenapa dia?" tanya Ariel bingung.


"Karena dialah yang melakukan sabotase dipertunjukan anak didikmu saat itu," ungkap Bram.


"Bagaimana mungkin?" sanggah Ariel membelalakan mata.


"Itulah hal yang sebenarnya, dan aku sudah menyelidikinya. Aku menebak, orang yang kamu lihat bersama Joel tadi adalah dia, apakah aku salah?" tebak Bram.


"Itu,,, memang dia, tapi_,,,,"


 Ariel tidak bisa melanjutkan kalimatnya, merasa berat untuk mempercayai bahwa Christina dengan sengaja ingin mempermalukan dirinya.


"Tapi kenapa?" Ariel kembali bertanya, masih terasa sulit untuk mencerna apa yang baru ia dengar.


"Setelah mendengar hal ini, tentu kamu bisa menebak bukan? Kenapa dia berada di sana bersama Joel?" tanya Bram.


"Sulit dipercaya, bagaimana bisa dia melakukan ini?" desis Ariel.


"Seseorang yang memilki ambisi bisa melakukan apa saja, Ariel. Dan kamu lebih tau tentang itu. Jika kamu menghadapinya dengan amarah, itu sama saja kamu membiarkan dia menang, karena aku yakin inilah tujuannya melakukan itu,"


"Aku berasumsi, dia tau kamu akan datang, dan dengan sengaja membuatmu meliihat apa yang dilakukan Joel bersamanya, meskipun aku tetap tidak tau apa yang dilakukan mereka,"


Ariel menatap manik mata amber milik Bram, merasakan perubahan besar yang ada didalam diri Bram, sikap lembutnya bahkan menjadi lebih baik dari terakhir kali ia mengenal sosok Bram. Sisi bijaksananya menghangatkan hatinya. Ia seolah memiliki sosok yang bisa melindunginya seperti seorang kakak.


Sosok kakak yang mampu mendinginkan amarah didalam hatinya, semua ambisi yang dulu ada dimatanya seolah lenyap tanpa bekas.


Seutas senyum tipis menghiasi bibir Ariel, ia merasa jauh lebih baik berkat bantuan Bram yang membuatnya bisa melihat masalah dari berbagai sudut, dan menarik kesimpulan tanpa emosi didalamnya.


Ariel kembali meneguk minumannya den meletakkan gelasnya dimeja, lalu kembali menatap Bram yang masih memandaginya.


"Terima kasih, Bram," ucap Ariel dengan nada tulus.


"Tidak perlu berterima kasih, kamu hanya perlu berbaikan saja dengannya, dan lanjutkan kisah cinta kalian," seloroh Bram tertawa ringan.


"Kamu sudah tau?" Ariel kembali melempar pertanyaan dengan mata melebar.


"Aku menyadarinya saat kita berkumpul bersama Charlie di rumah Joel, dan aku menghargainya saat Joel memutuskan untuk tidak mengatakan hubungan kalian berdua," papar Bram.


"Coba kau pikirkan, dia,, ugh,,, jujur saja aku sebenarnya malas jika harus mengatakan hal baik tentangnya," gerutu Bram.


"Herrrr,,,," Bram bergidik. " Aku merinding mendengar ucapanku sendiri, pasikan saja dia tidak mendengar hal ini, atau aku akan mencekik nya,"


Semua gerutuan Bram sontak membuat Ariel gagal menahan tawa. Ariel tertawa lepas menyadari Bram juga peduli pada Joel meskipun mereka selalu bertengkar setiap kali bertemu.


"Akhirnya,,, senyuman ini kembali," desah Bram menyentuh pipi Ariel, dan tersenyum lembut.


"Aku merasa jauh lebih baik, dan itu berkatmu," ucap Ariel.


"Itu sudah seharusnya aku lakukan," jawab Bram menghapus sisa air mata Ariel dengan ibu jarinya.


"Kuharap, aku tidak melihat air mata seperti tadi setelah ini," harap Bram.


"Apakah aku diijinkan menginap disini?" goda Bram.


Ariel melebarkan matanya dan meninju main-main bahunya, membuat Bram kembali tertawa.


"Apakah itu tujuanmu sejak awal?" sambut Ariel.


"Hei,,, aku hanya bertanya. Mungkin saja kamu mengijinkannya, maka itu bonus untukku," jawab Bram percaya diri.


"Bram,,," seru Ariel merasa permintaan Bram sangat konyol.


Ariel memukulkan bantal sofa diwajah Bram yang segera menangkapnya dan merebutnya dari Ariel, ingin menyelamatkan wajahnya dari pukulan bantal. Membuat mereka kembali tertawa.


"Sepertinya aku harus pulang sekarang," ucap Bram setelah melihat jam di pergelangan tangannya.


"Aku tidak akan mencegahmu," sambut Ariel.


"Tck,,, padahal aku berharap kau mencegahku," decak Bram.


"Dan menginap setelahnya?" sambung Ariel dengan alis terangkat.


"Tepat," jawab Bram mengedipkan matanya.


"Dasar, kau sangat pandai memanfaakan kesempatan," sambut Ariel.


"Aku hanya memanfaatkan apa yang aku dapatkan," jawab Bram percaya diri.


"Rasa percaya dirimu kelewat tinggi," cibir Ariel.


"Akan menjadi masalah jika rasa percaya diriku tidak tinggi, bukankah begitu?" balas Bram.


"Ugh,, kenapa sekarang kau begitu pandai membalas ucapanku," gerutu Ariel.


"Karena kaulah yang mengajariku seperti itu," jawab Bram seenaknya.


"Heii,,,"


Bram tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Ariel, dan satu hal yang membuatnya senang adalah, ia kembali melihat senyumannya setelah beberapa saat lalu melihatnya menangis.


"Kau yakin tidak apa-apa jika aku meninggalkanmu sendiri?" tanya Bram memastikan.


"Aku baik-baik saja, Bram," jawab Ariel.


"Kamu tidak berencana untuk bunuh diri kan?" tanya Bram lagi.


"Aduhh,,," keluh Bram ketika Ariel mencubit pinggangnya.


"Iya, iya,, aku mengerti," ucapnya disertai meringis sembari mengusap pinggangnya.


"Aku pulang dulu, hubungi aku kapanpun jika kamu memerlukan bantuan apapun dariku, aku pasti akan datang membantumu," ucap Bram.


"Terima kasih banyak, Bram, itu sangat berarti," sambut Ariel.


Ariel mengantar Bram mencapai pintu, dan segera menutupnya setelah Bram menghilang dari pandangannya.


"Hats-chi,," suara bersin Ariel terdengar tepat saat ia berbalik setelah menutup pintu.


"Ugh,,, kenapa badanku terasa tidak enak?" keluh Ariel mengusap hidungnya yang tiba-tiba kehilangan fungsinya.


"Argh,,, hidungku benar-benar tersumbat, aku tak bisa mencium bau apapun," rutuknya sembari terus mengosok hidungnya.


"Hats-chi,,,"


Ariel kembali bersin beberapa kali saat berjalan menuju kamarnya. Ia membersihkan dirinya sebelum naik ketempat tidur untuk istirahat.


Sebelum tidur, ia menyiapkan segelas air dan sekotak tissu di meja samping tepat tidurnya, lalu menutupi dirinya sendiri menggunakan selimut.


Namun, ketika ia hampir terlelap, suara bel pintua artemennya berbunyi, membuat ia menendang selimut dari badannya dan melangkah keluar kamar dengan malas.


"Ariell,,,"


Suara panggilan lembut dibalik pintu seketika menghentikan gerakan tangan Ariel saat akan membuka pintu.


"Joel,,?" desis Ariel pelan.


"Kenapa dia datang malam-malam seperti ini?" gumamnya pelan.


Ariel mengintip dari lubang pintu dan melihat Joel berdiri didepan pintu dengan wajah bersalah.


"Aku tidak bisa menemuinya sekarang, aku biarkan saja, dia akan pulang jika aku mengabaikannya," ucap ariel pelan dan berbalik untuk kembali kekamarnya.


Ariel kembali menarik selimut setelah mematikan ponselnya, mengabaikan Joel yang masih menunggu karena berpikir Joel akan pergi jika ia tidak keluar.


Rasa mengigil dan kepalanya yang sedikit berputar membantunya untuk tidur lebih cepat, hingga tanpa ia sadari, dirinya telah terlelap.


...>>>>>>>--<<<<<<<...