I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
131. Apa yang di dengar Ken?



Pagi ini, Ken tampak lebih sibuk dari biasanya. Tumpukan kertas dengan data diri beberapa orang dan beberapa coretan merah menandai beberapa nama orang yang disertai tulisan kecil di bawahnya sebagai keterangan.


Ken meletakkan kepalanya di atas meja, tampak frustasi. Sang kakak yang semula ia pikir pergi meninggalkannya dengan acuh kembali datang dengan dua cangkir kopi di tangannya, dan meletakkan satu di depan Ken.


"Minum dulu," tawar Charlie.


"Kakak yang terbaik," sambut Ken tersenyum lebar.


"Dasar,,, setelah tadi mengumpatku, sekarang memujiku?" sindir Charlie.


"Uhm,,,, aku tidak sengaja," sanggah Ken tersenyum malu.


"Kenapa kamu tidak menghubungi Ariel saja untuk menanyakan bagian yang tidak bisa kamu selesaikan?" saran Charlie.


"Aku takut itu justru akan menganggu kak Ariel," keluh Ken.


"Dalam hal ini aku tidak bisa membantu. Jangankan Bram atau Jesica, orang yang selalu kau sebut dengan nama Gerry itu saja tidak bisa membantumu, jadi hanya dia yang bisa kau hubungi,"


"Daripada kau bertingkah seperti orang gila, lebih mudah jika kamu menghubunginya sebentar untuk bertanya,"


"Setidaknya itu juga akan menghindarkanmu dari kesalahan lebih besar nantinya,"


Ken termenung, mencoba untuk merenungi saran kakaknya. Apa yang di katakan memang benar, hanya Ariel yang bisa membantunya dengan mudah dan bisa membantunya untuk menemukan jalan keluar tentang orang yang ingin bergabung dalam latihan lanjutan.


"Apakah tidak apa-apa jika aku menghubungi kak Ariel sekarang?" tanya Ken meminta pendapat sang kakak.


Charlie melirik jam dinding yang tanpa mereka sadari telah menunjukan waktu di pertengahan hari.


"Kurasa tidak apa-apa, ini sudah jam makan siang," ujar Charlie.


"Baiklah, aku akan coba," jawab Ken.


Ken meraih ponselnya, mengeser nama Ariel dan menghubunginya. Nada sambung terdengar cukup lama, membuat Ken berniat untuk mengurungkan niatnya hingga terdengar suara Ariel menjawab.


"Ya, Ken? Ada apa?" sambut Ariel.


"Uhm,,, maaf kak, aku menganggu kakak," ucap Ken merasa tidak enak setelah dengan percaya dirinya meminta Ariel menikmati liburan.


"Tidak apa-apa, apakah ada masalah?" tanya Ariel.


"Aku bingung dengan aransmen dari lagu yang kakak buat, dan seleksi yang mereka jalani masih tetap membuat mereka lolos. Aku tidak tau lagi bagaimana caranya agar aku bisa menyeleksi mereka lagi," terang Ken.


"Sederhana saja, sepertinya kamu terlalu berpikir keras dalam hal ini," sambut Ariel.


"Untuk aransmen, cobalah kamu mainkan Cello dengan tempo cepat selama satu menit, dan berpindah tanpa jeda memainkan biola dengan tempo sama selama satu menit, kamu akan menemukan jawabannya,"


"Eei,,, hentikan,,!" seru Ariel sedikit panik.


Ken mengerutkan keningnya, merasa kalimat itu bukan di tujukan untuk dirinya.


"Uhm,, kak??" Ken mengeluarkan suara ragu sembari menatap wajah sang kakak yang duduk di dekatnya.


"Ah,, maaf,, bukan untukmu, Ken," ucap Ariel dengan nada suara sedikit berubah.


"Apa kakak baik-baik saja? Apakah kak Joel ada disana?" tanya Ken ragu.


"Aku baik-baik saja, Joel juga ada disini. Oh ya, kau tidak memiliki biola bukan?" tanya Ariel.


"Tidak, tapi aku bisa ke studio_,,,"


"Tidak, jangan di studio, melakukan aransmen memerlukan suasana tenang dimana kamu tidak terganggu suara lain," jelas Ariel.


"Begini saja, aku memiliki kunci cadangan dan itu ada di tangan Jessi. Minta tolong saja pada kakakmu untuk meminta kunci pada Jessi dan itu atas ijin dariku," ucap Ariel.


"Kau bisa bermain di apartemen," imbuhnya.


"Baik kak, terima kasih," sambut Ken.


"Masalah seleksinya, gunakan cara sederhana saja! tiga hari pun cukup untuk membuat lebih dari setengahnya gagal," ucap Ariel.


"Cara apa yang kak Ariel maksudkan?" tanya Ken.


Ken kembali mengerutkan keningnya ketika mendengar suara aneh di ponselnya, dan ia yakin itu berasal dari tempat dimana Ariel berada.


"Tunggu sebentar saja, aku hanya akan menjelaskan padanya sebentar,"


Suara Ariel terdengar samar, namun Ken masih bisa menangkap apa yang Ariel katakan. Dengan sengaja, Ken menghidupkan pengeras suara agar Charlie juga bisa mendengar.


"Kamu bisa menghubunginya lagi nanti, kemarin kita sudah menghabiskan waktu di perjalanan, dan sekarang kamu sibuk dengan ponselmu,"


Ken dan Charlie saling pandang, berusaha menahan tawa mereka. Suara rengekan manja dari seseorang yang sangat mereka kenal.


"Bukan begitu," sanggah Ariel.


"Aku hanya menjelaskan sebentar, dan itu tidak memakan waktu lama," jelasnya.


"Kenapa tidak di matikan saja ponselnya?" sambut Joel.


"Hey,,, ayolah,, jangan seperti ini, beri aku sepuluh menit saja, okey?" pinta Ariel.


"Itu terlalu lama," keluh Joel.


Ken dan Charlie tertawa tanpa suara, tidak menyangka Joel yang mereka kenal memiliki sisi manja yang melebihi anak kecil.


Sementara itu, disisi yang lain, Ariel masih mengenggam ponsel dengan satu tangan, sedikit menjauhkan ponsel ketika Joel berbicara agar orang yang berada di seberang telepon sana tidak mendengarnya meskipun itu sia-sia tanpa ia sadari.


"Joel,,, jangan! Lepaskan dulu!" pinta Ariel ketika Joel berusaha menarik handuk yang ia lilitkan di tubuhnya.


"Aku bahkan mematikan ponselku, kenapa ponselmu tidak?" gerundel Joel.


"Jadi, matikan saja sekarang dan hubungi lagi nanti," rengeknya.


"Diamlah!" pinta Ariel mengangkat jari telunjuknya.


Joel mengerucutkan bibrnya, sementara Ariel berbalik memunggungi Joel, kembali menempelkan ponsel di telinganya.


"Maaf, Ken. Ada sedikit gangguan disini," kilah Ariel.


"Bukan apa-apa," kilah Ariel.


"Ehm,,, masih ingat ketika ada masalah di studio dimana mereka semua salah paham padamu?"tanya Ariel.


"Ehm,,, aku ingat, kak Ariel, aku dan mereka semua bermain bersama, dan mereka melakukan kesalahan yang sama," jawab Ken.


"Tepat," sambut Ariel cepat.


"Kamu bisa menggunakan cara itu, bagi mereka menjadi tiga kelompok. Minta mereka datang di hari dan jam yang berbeda, dan juga memainkan musik dengan cara berbeda,"


"Beri sedikit tekanan tidak akan menimbulkan masalah, katakan saja, salah satu kali saja, mereka keluar,"


"Aku sudah melihat cara mereka berlatih bersamamu, dan yang aku lihat memiliki kesungguhan yang tulus tidak mencapai sepuluh orang," papar Ariel.


"Kak Ariel benar, aku bahkan tidak terpikirkan cara itu sama sekali," sambut Ken senang sekaligus lega.


"Ada lagi yang membuatmu terbebani, Ken?" tanya Ariel.


"Umm,,, sebenarnya tidak ada, tapi aku penasaran dimana kakak sekarang?" tanya Ken.


"Kami sedang di Karibia, dan akan di sini beberapa hari. Adakah sesuatu yang mungkin kamu inginkan_,,,?"


"Ugh,,, Joel,,,,"


Ariel tidak menyelesaian kalimatnya ketika tiba-tiba Joel kembali memeluknya dari belakang. Meninggalkan banyak jejak kepemilikannya di bahu Ariel yang terbuka. Tangannya mulai menelisik dibawah handuk yang Ariel lilitkan di tubuhnya.


Beberapa menit sebelumnya, Joel menganggu ritual mandinya, dan ia berhasiil menghindar ketika mendengar suara dering ponsel dengan nama Ken di layar ponselnya.


Ariel meminta agar Joel melepaskan pakaian basahnya, dan mengantinya dengan yang kering sementara ia menerima pangilan sebentar, namun Joel tidak melepaskannya begitu saja. Ketika ia tengah berbicara dengan Ken, tangannya terus berusaha menarik handuk yang ia lilitkan di tubuhnya.


"Waktumu habis," tegas Joel.


Tagannya mengambil alih ponsel di tangan Ariel dan memasukkannya kedalam laci meja yang berada di samping tempat tidur. Mengangkat tubuh kecilnya dan membawanya ke tempat tidur setelah berhasil menyingkirkan handuk yang menjadi penghalangnya.


Disisi lain, ken dan Charlie tertawa terbahak-bahak mendengar suara yang seharusnya tidak mereka dengar. Mereka berdua tertawa sampai memegangi perut mereka.


"Hahhahaha,,,"


"Apakah kak Joel memang orang seperti ini?" ucap Ken di sela tawanya.


"Husshh,,, sudah, matikan ponselnya!" pinta Charlie masih tertawa.


"Sisi dokter yang mengejutkan," ucap Ken dengan spontan.


Charlie kembali tertawa keras, sampai mengeluarkan air mata.


"Astaga,,, sepertinya ini bisa di gunakan untuk menggodanya nanti ketika mereka kembali," ujar Charlie.


"Haahh,, ya tuhan,,," desah Charlie.


"Tapi, harus ku akui dia memang luar biasa, dia bahkan menyelesaikan masalahmu dengan mudah," tutur Charlie.


"Kakak benar, bahkan di sana kak Ariel masih saja menjadi penolongku," ucap Ken penuh kekaguman.


"Tapi, kenapa mereka di Karibia?" tanya Ken mengerutkan keningnya menghadap sang kakak.


"Entahlah," sambut Charlie menaikan bahunya.


"Mungkin ini rencananya setelah Ariel pernah tengelam yang hampir saja_,, kau tau bukan?, dan dia ingin menghilangkan trauma yang Ariel rasakan," duga Charlie.


"Meskipun Ariel diam saja tentang hal ini, Joel sepertinya bisa merasakan trauma yang Ariel pendam," imbuhnya.


"Itu satu-satunya penjelasan yang masuk akal," sambut Ken. "Kak Ariel juga bisa meraskan ketika kak Joel gelisah karena hal sederhana, dan begitu pula sebaliknya," imbuhnya.


"Tunggu sebentar," ucap Ken seolah baru saja tersadar akan sesuatu.


"Jika mereka di Karibia sekarang, meski tidak tau dibagian mana tepatnya, bukankah di sana memiliki perbedaan waktu?" tanya Ken.


"Itu benar, dan aku tidak tau pasti jam berapa saat ini, yang aku tau hanyalah perbedaannya tidak terlalu jauh, hanya saja perjalanan kesana membutuhkan waktu penerbangan cukup lama," papar Charlie.


Ken hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.


"Baiklah, sekarang sudah cukup membicarakan mereka. Aku akan siapkan makan siang. Bereskan mejanya, dan kita makan bersama," titah Charlie.


"Baiklah, aku mengerti, tapi,,, bisakah kakak membuatkan makanan faoritku?" harap Ken sembari mengerjapkan matanya.


"Karena kamu sudah bekerja keras, anggaplah ini sebagai hadiah untukmu," sambut Charlie tersenyum.


"Asikk,,kakak yang terbaik!" sambut Ken senang.


Charlie hanya mengelengkan kepalanya, dan melangkah ke dapur sementara Ken merapikan meja yang akan mereka gunakan untuk makan siang bersama.


...>>>>>>>--<<<<<<<<...


Waktu berjalan cepat dan sudah memasuki malam hari. Charlie mendapatkan kunci apartemen Ariel dan Ken berencana kesana keesokan harinya. Sementara malam itu, ia duduk termenung di dalam kamarnya.


Beberapa kali ia menyandarkan punggungnya dengan gelisah. Entah kenapa, pikirannya justru melayang ketika ia menghubungi Ariel siang itu.


"Haahhh,,,," desah Ken sembari menghembuskan nafas panjang.


"Pikiran ini benar-benar membuatku gila," rutuknya dengan suara pelan.


Ken merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan melipat tangannya dan menjadikannya sebagai bantal. Pandangannya menerawang menatap langit-langit kamarnya.


Sesekali melirik kesamping tempat tidur dimana foto yang ia letakkan di atas nakas.


Foto bersama dihari pernikahan Ariel,,,


....


...


To be Continued...