
Dress Gown Night bahu terbuka Chic Halter dengan warna White Parchment sepanjang menutupi mata kaki sengaja Ariel pilih ketika suaminya memilih mengenakan setelan jas Dark Brown.
Ariel hampir selesai ketika tangannya tidak bisa mengapai resleting di punggungnya tepat ketika Joel masuk ke kamar.
"Uhm,,, Bunny, bisa bantu aku sebentar?' pinta Ariel.
"Ada apa?" tanya Joel seraya menghampiri Ariel yang masih membelakanginya.
"Bantu aku menarik ini," ujar Ariel menunjuk resleting di punggungnya yang masih terbuka.
"Tanganku kesulitan untuk menariknya," imbuhnya masih terus mencoba menarik resleting.
"Oh, baiklah," jawab Joel. "Turunkan tanganmu," imbuhnya memberi perintah.
Joel melangkah mendekat, mengulurkan tangannya meraih resleting yang masih dipunggung bawah istrinya, membuat punggung belakangnya terekspos sempurna di depan mata Joel.
Dengan jahil, Joel justru menarik kebawah resleting dress Ariel, membuat ia terkesiap.
"Eei,,, Bunny, jangan main-main,"tegur Ariel segera membalikan badannya.
Mereka saling berhadapan dengan tatapan saling terkunci satu sama lain.
"Apa?" tanya Ariel mengerakkan alisnya.
"Rasanya aku tidak pernah merasa puas untuk memandangimu, kamu masih saja cantik seperti aku baru pertama kali melihatmu," tutur Joel.
"Jika kita tidak bergegas, kita akan kehabisan waktu," tegur Ariel mengingatkan.
"Kamu benar, berbaliklah, aku selesaikan ini," pinta Joel.
Ariel kembali berbalik, dengan hati-hati, Joel menarik keatas resleting hingga tertutup sepenuhnya, lalu mendaratkan kecupan lembut di bahu istrinya, membuat Ariel bergidik.
"Bagaimana?" tanya Ariel meminta pendapat suaminya mengenai penampilannya.
"Heemmm,,,," Joel mundur dua langkah, meletakkan dua jari didagunya sembari memandangi penampilan istrinya dari atas sampai bawah.
"Tunggu sebentar," ujar Joel.
Joel kembali mendekati Ariel, melepaskan kalung daun semanggi yang tak pernah ia lepaskan.
"Kenapa dilepas?" protes Ariel.
"Kalung itu kurang cocok untuk penampilanmu malam ini dan terlalu mencolok," jawab Joel.
"Sebagai gantinya_,,,"
Joel tidak melanjutkan kalimatnya, melainkan merogoh saku celananya, dan mengeluarkan sesuatu yang segera di tunjukan pada Ariel.
Kalung emas dengan mata kalung berbentuk kerang beserta mutiara didalamnya tampak berkilau terkena pantulan cahaya lampu. Mata kalung yang bahkan senada dengan anting dan hiasan rambut yang saat ini Ariel kenakan.
"Pakai yang ini saja," ujar Joel.
"Kapan kamu membelinya?" tanya Ariel dengan wajah terkejut.
"Sebenarnya kemarin, tapi aku tidak memberikan ini karena ingin membungkusnya," jelas Joel seraya memasangkan kalung di leher Ariel.
"Melihatmu sekarang, kurasa aku tak perlu lagi membungkusnya," imbuhnya.
"Kenapa kamu memberiku hadiah? Hari ini bahkan tidak ada perayaan apapun," selidik Ariel.
"Aku tidak harus memberimu hadiah ketika ada perayaan, bukan? Aku membelinya karena kurasa ini akan ccok untukmu," papar Joel.
Joel menarik diri untuk melihat kembali penampilan Ariel, dan tersenyum puas setelahnya.
"Aku bahkan tak tau ini akan senada dengan anting yang kamu pakai," ucap Joel.
Joel kembali memperhatikan penampilan Ariel.
"Sempurna," puji Joel.
Satu kata itu berhasil menghadirkan senyum manis diwajah Ariel. Ia mendekati suaminya, berjinjit dan mengecup lembut pipi suaminya.
"Terima kasih, aku menyukai hadiahnya," ujar Ariel tersenyum.
"Haisss,,,," desah Joel mencengkram pinggang Ariel, lalu menariknya mendekat.
"Haruskah kita batalkan saja untuk datang?" tanya Joel mendaratkan dahinya di dahi Ariel.
"Dan Darcie akan kecewa padamu," sambut Ariel tekekeh pelan.
"Haahhh,, kau benar," desah Joel lagi. "Ayo berangkat!" sambungnya mengulurkan tangannya.
Ariel mengangguk dan menyambut tangan Joel, melangkah bersama meninggalkan apartemen untuk menghadiri acara yang di adakan Darcie.
Tidak sampai duapuluh menit mereka tiba di lokasi dimana acara itu diselenggarakan. Sebuah Hotel yang terkenal dengan kemewahannya, memiliki beberapa lantai dan salah satu tempat yang dijadikan pilihan beberapa orang untuk mengadakan perjamuan.
Joel membukakan pintu mobil untuk istrinya sembari mengulurkan tangannya.
"Kamu yakin acaranya disini?" tanya Ariel.
"Dia memberiku alamat ini, itu artinya disini," jawab Joel.
Ariel mengedarkan pandangannya, beberapa orang datang dengan pakaian serba mewah mereka, memasuki hotel yang dijaga beberapa pria berbadan besar dan berpakaian serba hitam didepan pintu masuk.
Beberapa dari pria berpakaian hitam terlihat meminta sesuatu kepada setiap tamu yang datang, dan para tamu mengulurkan sebuah undangan dan dibiarkan masuk.
"Apakah kita memiliki undangan yang sama seperti mereka?" tanya Ariel berbisik.
"Tidak," jawab Joel terdengar cemas.
"Kalau begitu, kita coba saja," ucap Ariel.
Joel mengangguk setuju, mulai berjalan kearah pintu masuk. Sementara Ariel melingkarkan tangannya di lengan Joel. Ketika mereka sampai didepan pintu masuk, pria berpakaian serba hitam itu menyapa dengan suara datar.
"Selamat malam, tuan dan nyonya. Mohon tunjukan undangan anda," pintanya dengan raut wajah tidak terbaca.
"Maaf sebelumnya, tapi kami di undang tanpa undangan," jawab Joel sopan.
"Kalau begitu, anda tidak bisa masuk," jawabnya.
"Hanya mereka yang memiliki undangan yang diperbolehkan masuk," imbuhnya dengan nada tegas.
Beberapa tamu mulai memandangi Joel dan Ariel dengan tatapan intimidasi, sampai sebuah suara membuat semua mata tertuju padanya dengan tatapan terkejut.
"Mereka tamu istimewaku," ujarnya.
Joel dan Ariel mengarahkan pandangan mereka ke sumber suara, mengenali siapa pemilik suara itu.
"Aku sudah menunggu kalian sejak tadi," sambutnya memeluk hangat Joel yang membuat semua orang kehilangan kata-kata mereka.
"Maafkan aku, aku benar-benar lupa memberitahu mereka tentang kalian," sesalnya.
"Maafkan saya, tuan Adonis, saya tidak tahu jika mereka tamu khusus anda," sesal pria yang melarang Joel masuk.
"Aku maafkan, karena kalian hanya menjalankan tugas," jawab Darcie datar.
"Maaf atas hal tidak nyaman ini," sesal Darcie.
"Aku sempat berpikir untuk pergi jika tidak diperbolehkan masuk, jadi kami bisa menghabiskan waktu bersama lebih banyak," jawab Joel tersenyum.
"Jangan harap kalian bisa pergi begitu saja setelah tiba disini," sambut Darcie seraya mendekati Joel.
"Sebagai gantinya, aku bisa siapkan kamar untuk kalian menginap malam ini," bisik Darcie mengedipkan sebelah matanya.
Joel tertawa pelan sembari mendorong Darcie menjauh.
"Aku tak pernah menyangka kau memiliki sisi konyol,"
Banyak orang-orang penting hadir dalam acara itu. Semua mata tertuju pada pasangan yang disambut secara langsung dipintu depan oleh tuan rumah dengan tatapan kagum. Beberapa bertanya-tanya tentang siapa orang yang memiliki hubungan sangat dekat dengan tuan rumah.
"Ariel,,,"
Suara terkejut dari wanita berhasil menarik perhatian beberapa orang yang tidak sengaja mendengarnya, hingga mereka mulai berbisik-bisik satu sama lain. Sementara sang pemilik nama segera menoleh kesumber suara dan terkejut mengetahui siapa yang telah memanggilnya.
"Jessi,,?" balas Ariel tidak kalah terkejut.
"Dan, kau bersama Bram?" sambung Ariel.
"Ehh,, kak Ariel juga diundang?"
Sekali lagi, suara dari sisi lain membuat Ariel kembali terkejut. Ken hadir dalam acara itu bersama,,, Alice,,?
"Sepertinya tanpa sengaja aku membuat acara reuni untuk kalian?" sela Darcie tertawa ringan.
"Maaf sebelumnya, tuan Adonis. Jadi, anda mengenal Ariel?" tanya Bram dengan raut wajah tak percaya.
"Tentu saja, mereka berdua teman baikku," sambut Darcie.
"APAA,,,,??" seru Bram dan Jesica serentak.
"Aku tidak tau jika kalian saling mengenal, hanya saja Ariel memang pernah mengatakan memiliki sahabat yang berkecimpung di dunia bisnis, apakah itu artinya mereka yang kamu maksud Ariel?" sambung Darcie bertanya.
"Benar," jawab Ariel.
"Kebetulan yang sangat menyenangkan," sambut Darcie.
"Ah,,, tunggu sebentar. Aku akan segera kembali," ucap Darcie.
Darcie pergi meninggalkan mereka, menghampiri asistennya yang tengah menunggunya.
"Jadi, sejak kapan kalian menjadi lebih dekat?" tanya Ariel memecah keheningan, menatap dua sahabatnya secara bergantian.
"Bukankah kau sudah tau sejak kapan kami berhubungan dekat?" sambut Jesica.
"Ayolah, kau tau persis apa yang ku maksud," jawab Ariel.
"Kalau begitu, katakan padaku! Sejak kapan kau kenal tuan Adonis?" sela Bram.
"Uhm,,, aku lupa kapan tepatnya, itu sudah agak lama," jawab Ariel dengan nada santai.
"Satu hal lagi,,," ucap Ariel beralih ke arah Ken.
"Ada yang ingin kau katakan, Ken?" tanya Ariel sembari melirik kearah Alice yang tertunduk malu.
'Ya ampun,,, kak Ariel cantik sekali, dan kakak itu sungguh tampan. Dia yang datang ke studio tadi kan? Mereka sangat serasi,' batin Alice.
"Aku juga diundang karena kami pernah melakukan transaksi," jawab Ken.
"Datang bersama Alice?" goda Ariel.
"Itu,,, akan canggung kalau aku datang sendiri," kilah Ken. "Itu sebabnya aku mengajaknya," sambungnya.
"Jika aku meminta kak Ariel untuk menemaniku, yang ada aku akan menjadi mayat keesokan harinya," ujar Ken seenaknya.
Ariel hanya tersenyum sembari mengelengkan kepalanya, sementara Joel hanya tersenyum tipis, tidak merasa tersinggung dengan apa yang baru saja Ken ucapkan.
"Apakah Charlie juga datang?" tanya Ariel.
"Tidak, kakak ada tugas malam ini, jadi tidak bisa datang," jawab Ken.
"Begitukah?" sambut Ariel yang di jawab anggukan.
"Kamu terlihat cantik malam ini, Alice," puji Ariel.
"Tapi tidak sebanding dengan kak Ariel," balas Alice.
"Baiklah, aku tidak tau siapa gadis manis ini," sela Jesica.
"Dia salah satu yang berlatih dibawah bimbinganku," jelas Ariel.
"Heee,,, dan dia datang bersama orang yang dulu juga menjadi muridmu? Menarik," sambut Jesica melirik Alice.
"Ha ha,, sepertinya akan lebih baik jika aku pergi, aku akan di serang tiga orang jika tidak segera pergi dari sini," jawab Ken meringis.
"Ayo, Alice," ajak Ken sembari mengulurkan tangannya.
"Apakah bocah Cello itu menyukai gadis yang di bawanya?" celetuk Bram sebelum Ken beranjak dari tempatnya.
"Kenapa kak Bram masih saja menyebutku bocah Cello? Padahal aku sudah bisa memainkan biola," gerundel Ken.
"Dan caramu memainkan biola masih terdengar buruk," timpal Joel.
"Stop,,," ujar Ken mengangkat kedua tangannya.
"Jika kak Joel sudah membuka suara, aku tidak mau dengar apapun, selamat menikmati double date kalian" ujar Ken blak-blakan.
"Ayo, Alice," ujar Ken lagi sembari mengandeng Alice menjauh.
"Ehh,, tapi,,, apa tidak apa-apa kita menjauhi kak Ariel seperti ini?" tanya Alice ragu.
"Mereka sudah bersama pasangan masing-masing, mereka juga bersahabat. biarkan saja mereka mengisi waktu mereka," jawab Ken.
Alice mengangguk pelan, sesekali menoleh kebelakang dimana Ariel masih terlihat mengobrol dengan sahabatnya. Hingga suara dari pembawa acara terdengar menyebutkan nama Ariel untuk maju kedepan dan mempersembahkan lagu untuk para tamu.
Mendengar suara itu, langkah Ken terhenti seketika, raut wajahnya berubah cemas. Bayangan ketika melihat Ariel terkulai mulai menghantuinya, membuat ia berbalik untuk kembali menemui Ariel.
Suara pembawa acara itu menarik perhatian semua tamu, beberapa orang bahkan mereka mulai berbisik miring tentangnya, dan hanya sedikit yang menilai Ariel dari sudut pandang berbeda.
Ketika Ariel akan melangkah maju, tangan Jesica bergerak lebih cepat untuk mencegahnya.
"Apakah kau datang kemari karena diminta untuk melakukan pertunjukan?" tanya Jesica dengan wajah menahan amarah.
"Ya, sebagian benar," jawab Ariel tenang.
"Apa kau sudah gila?" sergah Jesica.
"Acara ini bukan acara sembarangan, satu tindakanmu saja yang berhasil membuat mereka mengeluarkan cemoohan mereka, maka dimanapun kamu berada, kamu hanya akan mendapat pandangan buruk," jelas Jesica.
'Tidak,, aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Aku tidak bisa melawan jika Adonis melakukan ini dengan sengaja, meskipun aku melewannya bersama Bram, itu akan sia-sia. Koneksi yang di miliki Adonis dua, bahkan tiga kali lipat dari koneksi yang kumiliki,' batin Jesica panik.
'Adonis akan sangat membantu jika menjadi teman, tapi jika menjadi lawan,,,,' batin Bram menelan ludahnya.
"Apakah tuan Adonis yang memintamu untuk melakukan ini?" tanya Jesica lagi.
"Ya, dan aku menerimanya," jawab Ariel.
"Lebih baik kalian berdua pergi dari sini sementara aku dan Jesica akan mengalihkan perhatian mereka," sela Bram.
"Kenapa? Apa yang salah?" tanya Ariel.
"Aku khawatir ini sudah direncanakan sejak awal," jawab Jesica.
Reaksi wajah Bram dan Jesica berubah cemas. Mereka saling pandang dan mengucapkan kalimat yang memiliki arah yang sama
"Ayah,,,"
"Tuan Evrad,,,"
.......
To be Continued...