
Malam harinya di tempat lain,
Ken baru saja masuk kedalam rumah ketika tiba-tiba sepasang tangan mencengkram kerah baju Ken, dan mendorongnya dengan kasar ke dinding tanpa melepaskan tangannya.
'BRRUUGHH,,,,,!!!!'
'Ukh,,,, siapa ini?' batin Ke meringis merasakan tenaga yang mendorongnya cukup kuat.
"Apa maksudmu menyimpan obat ITU di kamarmu, Ken?"
Suara bentakan terdengar berat dan penuh penekanan keluar dari mulut Charlie yang mencengkram kerah baju adiknya.
Ken tercekat dengan pertanyaan sang kakak seolah telah ketahuan melakukan hal ilegal.
'Dari mana dia tau tentang obat?' batin Ken gelisah.
"JAWAB,,,!!" bentak Charlie.
"Apakah kau mengunakan obat itu?" tanya Charlie lagi.
"Kenapa kau harus peduli tentang apa yang aku lakukan?" jawab Ken datar.
"Kau,,," desis Charlie melebarkan matanya menahan amarah.
"Karena kau adikku," jawab Charlie.
"Kita bahkan tak mengenal satu sama lain tahun lalu," dengus Ken menepis tangan Charlie.
"CUKUP,,,!!!" hardik Charlie kembali mencengkram kerah baju Ken.
"Kau bertingkah sok dewasa dengan sikap datarmu. Hal itu hanya menunjukan lebih banyak sisi kekanakan dalam dirimu. Kau pikir bertingkah sok dewasa seperti itu mampu membuatmu mengatasi masalah yang kau hadapi? apa kau juga sadar, sikapmu justru menyakiti orang-orang yang berada disekitarmu dimana dia selalu berada di pihakmu," cecar Charlie.
"Mabuk? Obat? Lalu apa? Apa kau juga berniat menjadi seorang baji*ngan dengan memberikan obat itu kepada targetmu?" bentak Charlie lagi.
Untuk pertama kalinya Ken melihat amarah besar di mata sang kakak, mata yang selama ini menatap hangat padanya berubah seratus delapan puluh derajat.
Mata itu sedikitpun tidak bisa ia kenali. Amarah yang tapak jelas dimatanya, dan setiap kata yang diucapkan Charlie menembus jantungnya. Dalam hatinya ia mengakui semua yang dikatakan Charlie padanya, namun lidahnya terasa kelu.
"Jika aku mendengar kasus tentangmu yang berhubungan dengan obat itu, aku tidak akan membelamu. Itu kesalahanmu dan kaulah yang harus menanggungnya sendiri. Meski kau adikku sekalipun, aku tidak akan mengabaikan apa itu sikap adil,"
Setelah mengatakan hal itu, Charlie melepaskan tangannya dengan kasar dan masuk kedalam kamarnya.
'BAAMM,,,,,!!!!'
Suara pintu di tutup dengan kasar terdengar setelah Charlie masuk. Tubuhnya merosot dan bersimpuh di lantai, bersandar pada pintu.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" gumam Charlie menelungkupkan wajah di lututnya.
Air matanya mulai merembes keluar.
"Ariel,,, bagaimana bisa? Kenapa harus seperti ini? Apa yang sudah Ken lakukan padamu?"
Charlie kembali mengingat saat ia masuk kedalam kamar Ken.
Awalnya ia merasa heran karena Ken belum di rumah, dan ingin mengecek kamarnya. Namun, kamar Ken kosong.
Saat ia hendak keluar, sesuatu di balik bantal menarik perhatiannya, hingga ia akhirnya memutuskan untuk melihat apa yang ada di baliknya.
"Ariel,,," desis Charlie ketika melihat foto Ariel bersama Ken.
Foto itu jelas di acara musik, dan ia tidak begitu memikirkannya karena berpikir mungkin saja Ariel yang melatihnya dan Ken mengaguminya.
Di dorong rasa penasaran, Charlie mencari apapun yang bisa membantu untuk menjawab pertanyaan yang ada didalam pikirannya. Hingga, ketika ia menemukan obat di laci meja Ken, amarahnya meluap.
Obat yang mengandung Afrodisiak dosis tinggi ada didalamnya. Hal itu membuatnya teringat tentang Joel yang mengatakan Ariel terlibat masalah yang berhubungan dengan obat itu.
Joel juga menjelaskan tentang bagaimana Ariel bisa sampai terlibat. Dan itu adalah karena Ariel membantu murid yang ia latih.
Charlie menghembuskan nafas dengan kasar, kepalanya bersandar pada pintu.
"Aku harap itu tidak seperti dugaanku, aku harap alasan foto Ariel ada di sana hanya karena Ken kagum padanya," gumam Charlie.
Berapa kalipun Charlie mencoba untuk menepis tentang itu, tetap saja ia tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ia pun meraih ponselnya dan menghubungi Ariel, memutuskan untuk mengambil langkah yang tentu saja sangat beresiko dengan meminta Ariel bekunjung ke rumahnya.
Sementara itu, Ken berjalan menuju kamarnya dengan langkah gontai, semua yang diucapkan Charlie terus berputar di pikirannya.
Menghempaskan tubuhnya ditempat tidur, Ken menghembuskan nafas berat sembari melirik meja, lalu tersenyum getir.
"Tck,,, dia sudah melihatnya," decak Ken menyadari foto Ariel telah berpindah tempat, dimana sebelumnya berada di bawah bantalnya, kini sudah berada di meja.
Ken menatap kosong langit-langit kamarnya. Semua yang dikatakan Ariel padanya seolah terputar ulang dipikirannya.
[[Hanya karena dia tidak mencintaimu, bukan berarti kamu tidak baik untuknya, atau kamu tidak layak untuknya,]]
[[Mungkin akan terdengar kejam, tapi kita sendiri tidak bisa memaksa hati untuk mencintai orang yang kita tunjuk, begitu juga sebaliknya, kita juga tidak bisa memakasa hati orang lain untuk mencintai kita,]]
[[Jika kamu merubah dirimu demi orang lain, itu tidak bisa dibenarkan sepenuhnya, namun juga bukan berarti itu salah. Hanya saja, kamu harus bisa memilah antara alasan atau obsesi,]]
[[Akan lebih baik jika kamu merubah dirimu demi dirimu sendiri, bukan demi orang lain. Jika itu memang tetap demi orang lain, jadikanlah alasan itu sebagai motivasimu, bukan tujunmu,]]
Hal yang pernah di ceritakan Ariel padanya pun kembali terngiang di telinganya.
[[Aku perlu makan untuk bertahan hidup.]]
[[keluarga... Mereka meninggalkanku__ lebih tepatnya mereka membuangku saat aku berusia lima tahun.]]
"Arrghhh,,,,,!" geram Ken kesal sembari mengacak-acak rambutnya.
"Kenapa aku melupakan hal itu dan bertingkah bodoh," rutuk Ken.
Ken membalikkan badannya, memunggungi foto Ariel yang berada di meja. Dilubuk hatinya mulai tumbuh rasa bersalahnya terhadap Charlie.
Orang yang menegakkan punggungnya demi dirinya, dan apa yang sudah ia lakukan sangat mengecewakan Charlie. Hingga tanpa ia sadari, Ken memejamkan matanya, terlelap dalam tidurnya.
\=\=\=Keesokan harinya.
Charlie menyiapkan sarapan seperti biasanya. Saat Ken turun dari kamarnya, Charlie hanya meliriknya sekilas, lalu mengabaikannya. Ia hanya menyiapkan sarapan bagian Ken dan membungkus sarapan untuk dirinya sendiri
Tanpa mengatakan sepatah katapun, Charlie melangkah pergi saat Ken duduk, terlihat sangat jelas bahwa Charlie menghindari Ken pagi itu.
Charlie bahkan tidak lagi sarapan bersama. Hal itu membuat selera makan Ken hilang begitu saja. Entah kenapa ia sudah terbiasa makan bersama dengan sang kakak, tapi pagi ini kursi itu kosong.
"Hari ini juga tidak latihan, dan akhir pekan kak Ariel libur. Kalau aku minta latihan disini, kak Ariel bahkan masih belum sembuh total," gumamnya pelan.
Charlie masih bersikap sama ketika pulang. Bahkan saat makan malam, Charlie hanya menikmati makan malamnya dalam diam. Tidak ada lagi sapaan hangat yang Ken dapatkan seperti malam sebelumnya.
Dihari berikutnya, sikap Charlie masih belum berubah. Dia hanya akan bersuara jika itu di perlukan. Dan hal itu terus berlangsung beberapa hari setelahnya.
Hingga suatu hari, pagi ini Charlie sarapan di rumah, dia juga tidak mengenakan seragam seperti biasanya.
Ketika pertanyaan itu terus berputar dalam benak Ken, suara bel pintu rumah terdengar, merubah raut wajah Charlie seketika.
Ia bergegas menuju pintu dan menyambut orang yang berkunjung.
"Ahh,,, senang sekali kamu sungguh datang pagi ini," sambut Charlie memeluk tamu yang baru datang.
Awalnya Ken berniat akan langsung menuju kamar, akan tetapi suara tamu yang datang membuat Ken menghentikan langkahnya. Suara yang sangat Ken kenal.
"Aku tidak mungkin mengabaikan undangan temanku," sambutnya tersenyum.
"Kau yang terbaik," jawab Chrlie tersenyum.
"Ayo masuk," ajaknya.
"Mau sarapan bersama?" tawar Charlie.
"Sejujurnya aku penasaran dengan apa yang kamu buat. Seorang polisi sepertimu, yang selalu sibuk, bisa memasak, Wooww,,, itu luar biasa," pujinya dengan tulus.
"Ha ha ha,, apa maksudnya itu? Bukankah kaulah yang lebih sibuk? Seorang pemusik sepertimu bahkan bisa membuat coktail yang luar biasa," sambut Charlie.
"Ah,, aku sedang bersama adikku, aku akan kenalkan kau dengannya," ucap Charlie.
"Kak,,, Ariell,,," desis Ken saat keluar dari balik dinding pembatas ruang tamu dan ruang makan.
Wajah Ken memucat, sangat terkejut melihat Ariel didepannya, dan itu bersama Charlie.
'Mereka saling mengenal?' batin Ken
"Lho,,,, Ken?" balas Ariel.
"Hooo,,, kalian sudah saling mengenal? Bagaimana bisa?" tanya Charlie pura-pura terkejut.
"Justru aku yang seharusnya bertanya. Kenapa kau tidak mengatakannya bahwa Ken adalah adikmu?" balas Ariel terkejut.
"Ehh,,,? Apa maksudmu?" balas Charlie bingung.
"Kalian pernah bertemu, dan kalian diam saja? Jahat sekali," ucap Ariel.
"Eehhh,,, ????"
.....
.....
...>>>>>>>--<<<<<<<...