
Jesica tersentak dan menoleh kebelakang. Terkejut Joel telah berdiri dibelakang mereka berdua.
'Sial,,, Kenapa kau harus muncul sekarang, Joel,' keluh hati Charlie.
'Aku bahkan belum bisa mencerna apa yang terjadi sebenarnya. Bagaimana Jesica bisa mengenal Ariel dan aku tidak tau?' pikirnya.
"JOELLL,,," pekik Jesica girang.
"Aku tidak percaya kamu berada disini. Aku selalu ke rumah sakit dan tidak bisa menemukanmu," ungkap Jesica.
Ariel menatap nanar ke arah Joel dan Jesica. Kemudian mundur selangkah hingga menabrak Bram dengan punggungnya. Entah sejak kapan Bram telah berdiri dibelakangnya.
'Mereka saling mengenal? Apakah mereka juga menjalin hubungan? Kenapa reaksi Jessi sama seperti saat dia bersama Br_,,,' batin Ariel.
Ariel memejamkan matanya selama beberapa saat, tidak bisa menyelesaikan kalimat yang terlitas dipikirannya.
'Kacau,,, semua benar-benar kacau,' rutuk hati Bram, sembari meletakkan tangannya dikedua bahu Ariel.
Jesica menghampiri Joel dan berniat memeluknya, namun dengan cepat Joel menghindar dan menghampiri Ariel. Mengabaikan Jesica.
"Joel,,,!!" teriak Jesica.
"Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini?" rajuk Jesica.
Joel menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap Jesica dengan alis berkerut. Ia berhenti tepat diantara Jesica dan Ariel.
"Aku akan mengembalikan pertanyaan itu padamu,!" balas Joel.
"Aku sudah minta maaf, apalagi yang kau inginkan?" ratap Jesica.
"Yang ku inginkan sudah jelas! Jika kamu tidak mengingatnya, maka aku akan mengulanginya. Jangan muncul lagi dihadapanku!" jawab Joel.
Joel meneruskan langkahnya dan berdiri didepan Ariel. Memandang wajah Ariel dengan cemas.
'Aku tidak pernah melihat dia semarah ini, dan berkata sedingin itu sebelumnya,' batin Ariel. 'Kenapa Joel memasang raut wajah seperti ini?' imbuhnya.
"Apa-apaan ini?" desis Jesica ketika melihat Joel lebih memperdulikan Ariel dari pada dirinya.
"Kau sudah terlalu banyak bicara disini, aku akan sangat berterima kasih jika kamu segera pergi dari sini," ucap Joel dingin.
"Kamu mengenalnya? Kamu mengenal wanita naif itu?" ucap Jesica menunjuk Ariel dengan telunjuknya.
"Kuharap, kau bisa lebih menjaga mulutmu, Jes," sambut Joel dengan tegas.
"Jes, sudah, cukup. Kita pergi dari sini," sela Charlie maraih tangan Jesica.
"Diam kau!!" hardik Jesica menepis tangan Charlie dengan kasar.
"Apakah kau sudah tau semua ini? Dan kau bersekongkol dengannya?" sergah Jesica terus menujuk Ariel dengan marah.
"Apa yang kamu bicarakan?" sanggah Charlie. "Aku bahkan tidak tau kalian saling mengenal," imbuhnya.
Jesica kembali menatap Ariel. Dimana Bram dan Joel berdiri disisi Ariel, seolah melindunginya.
"Apakah kau sedang balas dendam padaku, Ariel? Dengan merebut Joel dariku?" tuduh Jesica.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu," jawab Ariel datar.
"Jangan berdalih!" sentak Jesica.
Jesica memasang wajah memelas, menatap Joel dengan penuh harap.
"Bagaimana kamu bisa bersamanya, Joel? Bagaimana kamu bisa mengenalnya? Apakah dia adalah alasan kamu tidak lagi peduli padaku?" ratap Jesica.
"Apakah karena dia juga kamu tidak mau kembali padaku? Aku masih mencintaimu, Joel. Aku ingin kita seperti dulu," harap Jesica.
"Ariel tidak ada sangkut pautnya dengan aku tidak mau kembali padamu, dan kau tau jelas apa alasanku. Jika alasan itu tidak cukup untukmu, maka aku akan memberikan alasan lain," ucap Joel.
"Karena aku mencintainya," ungkap Joel.
Hening. . . .
Ariel segera menoleh memandang Joel yang masih menatap Jesica dengan amarah diwajahnya.
"Tidak mungkin! Itu tidak mungkin terjadi," ucap Jesica mengelengkan kepalanya.
Jesica melagkah mundur, terus mengelengkan kepalanya dan menatap Ariel penuh kebencian.
Beberapa detik kemudian, Jesica berbalik dan pergi meninggalkan mereka begitu saja termasuk Charlie dengan berlari dan mengusap air mata yang membasahi wajahnya.
"Jesica,,,!!" panggil Charlie.
Charlie bingung dengan apa yang harus dilakukan. Sesaat, ia memandang Ariel, detik berikutnya menatap kepergian Jesica.
"Ariel,, maaf,, aku_,,,"
"Pergilah Charlie! Biar bagaimanapun dia adalah sahabatmu," potong Ariel.
Ariel tersenyum lembut dan menganggukan kepalanya perlahan. Memberi dorongan untuk Charlie agar mengejar Jesica.
Keheningan kembali merayap diantara mereka.
Ariel melangkah gontai meninggalkan mereka tanpa berbalik dan mengatakan apapun.
"Ariel, tunggu!" cegah Joel menahan tangan Ariel.
"Tolong biarkan aku sendiri, aku tidak ingin mendengar apapun lagi," ucap Ariel melepaskan tangannya dari Joel.
"Beri aku kesempatan untuk menjelaskannya, Ariel," harap Joel.
"Aku perlu waktu. Kuharap kamu mengerti," jawab Ariel datar.
"Ariel, tolong dengarkan dulu," sela Bram.
"Aku lelah, Bram. Dan aku ingin istirahat," ucap Ariel. "Aku sangat berterima kasih untuk malam ini. Aku menikmatinya dan tidak akan melupakannya, malam Joel, Bram," sambungnya.
Ariel berbicara tanpa menoleh pada mereka, dan kembali melangkahkan kakinya menuju apartemennya.
"Arrgh,, Sial," umpat Bram.
Joel mengusap wajahnya, lalu terduduk dilantai. Tangannya mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Sementara Bram berdiri dengan berkacak pinggang.
Tak lama kemudian Charlie kembali menemui mereka berdua. Ia terengah-engah sembari meletakkan kedua tangan dilututnya.
"Dimana Ariel?" tanya Charlie masih mengatur nafasnya.
Tidak seorangpun dari mereka yang menjawab pertanyaannya, membuat ia mengerti tanpa mendengar jawabannya.
"Ini salahku," rutuk Charlie.
"Saat Ariel mengatakan untuk mengundang temanku, tanpa sadar aku menyampaikan itu pada Jesica," terang Charlie.
"Aku bersumpah, itu bukan niatku, Joel. Aku benar-benar lupa kau ada disini. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk mencegahnya bertemu kamu disini," paparnya.
"Aku terlalu ceroboh, maafkan aku. Aku tidak menyangka Jesica mengenal Ariel," imbuhnya.
"Itukah alasanmu mengatakan maaf padaku sebelum pergi?" tanya Joel.
"Benar," jawab Charlie tertunduk.
"Aku tidak menyalahkanmu, Charlie. Terima kasih telah memikirkanku," sambut Joel.
"Aku bahkan tidak lagi khawatir jika bertemu Jesica kapan saja. Sekarang, yang menjadi permasalahan adalah,,,,"
"Menjelaskan semuanya kepada Ariel," Joel dan Bram berkata serentak.
"Tunggu sebentar," Charlie mengangkat satu tangannya.
"Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka? Bagaimana mereka bisa saling mengenal? Lalu bagaimana dia juga bisa mengenalmu, Bram?" cecar Charlie.
Bram terdiam,tidak tau bagaimana cara untuk menjelaskannya. Disamping itu, ia merasa malu pada dirinya sendiri.
"Bisakah kau menjelaskan semunya padaku, Bram?" tanya Charlie lagi setelah menunggu namun tidak mendapatkan jawabannya
"Dimana Jesica sekarang, Charlie?" sela Joel berusaha mengalihkan perhatian Charlie.
"Caramu menganti topik pembicaraan tidak akan berguna, Joel," sindir Charlie.
"Jesica pergi bahkan sebelum aku berhasil mengejarnya," jawabnya. " Itu sebabnya aku kemari," imbuhnya.
Charlie kembali menatap Bram yang masih membisu. Tetap menunggu jawabannya. Hingga akhirnya Bram menceritakan semuanya.
"Apakah kau ingat saat kita di pertunjukan Ariel malam itu?" tanya Bram memulai.
"Tentu saja aku ingat," jawab Charlie
"Jesica, aku dan Ariel, kami semua terhubung di kisah yang aku ceritakan padamu," ungkap Bram.
"Maksudmu?" tanya Charlie.
"Jesica dan Ariel bersahabat, setidaknya itulah yang dianggap Ariel. Namun tidak bagi Jesica. Bagi Jesica, Ariel hanya batu loncatan baginya," terang Bram.
"Jadi maksudmu, Jesica juga menjalin hubungan denganmu?" sambut Charlie terkejut dengan pernyataan Bram.
Bram mengangguk pelan. Dengan kepala tertunduk, Bram menceritakan semuanya kepada Charlie.
Charlie mendengarkan tanpa menyela. Sesekali bram menarik nafas panjang, kemudian melanjutkan caritanya.
Setelah Bram mengakhiri ceritanya, keheningan menyelimuti mereka.
"Sekarang aku mengerti dengan situasinya. Aku mengerti jika Ariel ingin sendiri untuk saat ini, jadi untuk sementara kita jangan menganggunya dulu," tutur Charlie.
Bram dan Joel mengangguk setuju. Walau jelas wajah mereka menolak usul Charlie. Namun, mengingat kejadian tak terduga malam ini,membuat mereka tidak memiliki pilihan lain.
...>>>>>>>--<<<<<<<...