
"Haruskah saya menemui nona Jesica, tuan?" tanya Sam.
"Saya tau, nona Jesica dulu bersahabat dengan nona Ariel. Tapi nona Jesica juga memiliki koneksi dalam bisnis apapun. Saya yakin nona Jesica bisa dengan mudah mengendalikan masalah ini,"
"Mungkin akan berdampak pada apa yang sedang tuan kerjakan saat ini, dan bisnis tuan akan tersendat. Namun sisi baiknya bisnis tuan akan tetap berjalan meskipun perlu tenaga lebih,"
"Bagaimana jika semua ini justru ulahnya, Sam?" jawab Bram balas bertanya.
"Kau tau jelas bahwa dulu aku berhubungan dengannya, dan satu hal lagi, Joel juga menjalin hubungan dengannya," ungkap Bram.
Mata Sam membulat mendengar apa yang katakan tuannya. Semua seolah terjebak dalam satu lingkaran yang sama, dimana tuannya, Ariel, Joel dan Jesica berada dalam genggaman satu orang. Dan orang itu bisa dengan mudah memilih siapapun yang ia inginkan untuk dijadikan bonekanya.
Bukan tidak mungkin orang itu adalah Jesica sendiri yang menutupi permainan dengan mengorbankan diri untuk masuk kedalamnya sebagai alibi.
"Jesica masih menginginkan Joel, namun dia memilih Ariel. Apa kau pikir seorang Jesica mau menerima kekalahan seperti itu?" tanya Bram.
"Jika nona Jesica memiliki campur tangan dengan menimbulkan masalah ini, kita akan kesulitan untuk menghadapinya," keluh Sam. "Kecuali ada seseorang dengan posisi lebih tinggi dari tuan besar membantu nona Ariel," imbuhnya.
Bram pun menyadari akan hal itu, dan jika ia tidak bisa membuat Joel percaya semua ini adalah palsu, hal itu hanya akan membuat Ariel terseret lebih jauh bersamanya.
"Bar,,," gumam Bram seolah teringat sesuatu.
"Sam, coba periksa sekali lagi nightclub terakhir yang aku kunjungi, disana tentu ada cctv yang berguna. Tanyakan juga pada bartender, siapa yang telah mengambil ponselku dan meminta dia untuk menghubungi Ariel," perintah Bram.
"Saya bisa meretas kameranya," ucap Sam.
Bram mengangguk setuju, mengijinkan Sam untuk meretas cctv nightclub yang ia kunjungi.
Dalam rekaman, wanita yang mendekti Bram duduk berada di titik buta kamera, membuat wajahnya tidak terdetksi sama sekali.
Bram hanya melihat wanita itu mengambil ponsel dari saku celananya, namun wajahnya tetap tidak tersorot kamera.
"Tanyakan tentang wanita yang mengobrol denganku pada bartender itu," titah Bram.
"Baik," sambut Sam.
...>>>>>>>--<<<<<<<...
Hari itu, entah darimana awalnya, berita tentang Ariel menyebar luas tanpa diinginkan oleh pemilik nama itu sendiri.
Nama, foto serta informasi tentang dirinya sebagai pemusik tercetak disebuah majalah. Kedekatan hubungan dengan putra seorang pebisnis ternama membuat Ariel seketika dikenal banyak orang dari wajahnya.
Hal yang dulu selalu Ariel hindari justru menjadi hal yang kini harus ia hadapi tanpa ia ketahui bagaimana bisa hal itu terjadi.
Siang itu, Ariel tengah duduk disebuah cafe menikmati secangkir kopi dengan Pretzel sebagai kudapan. Ditangannya, sebuah majalah yang memperlihatkan wajah dirinya tidak membuat Ariel panik sedikitpun.
Ariel menatap majalah itu dengan tatapan lelah, lalu menutupnya dan meletakkan majalah itu disamping kursi yang ia duduki. Tangannya mengulir ponsel tanpa benar-benar melihat apa yang muncul diponselnya sembari menopang dagunya.
"Permisi,"
Suara ramah seorang pria menyapa didepan Ariel membuat ia mengangkat wajahnya menatap orang itu.
"Ya?" sambut Ariel datar.
"Bolehkah saya duduk satu meja dengan anda?" tanyanya ramah.
"Silahkan," jawab Ariel.
Ariel kembali menundukkan kepalanya menatap ponsel. Gerakan tangannya terhenti ketika Ariel membuka sebuah foto bersama Joel di pantai Belharra ketika mereka berlibur bersama beberapa minggu lalu.
"Waktu berjalan begitu cepat," gumam Ariel lirih.
"Tampaknya, banyak hal yang tengah anda pikirkan, nona," tegurnya dengan suara lembut, namun cukup untuk menarik Ariel kembali ke kenyataan.
Ariel mengangkat wajahnya, detik berikutnya keningnya berkerut tajam mencoba untuk mengingat hal yang ia lupakan saat melihat wajah pria didepannya.
"Anda,,,,"
"Ya tuhan,,, maaf,,, saya hampir melupakan anda," ucap Ariel canggung.
"Meski sedikit terlambat,,, senang bertemu anda lagi tuan Darcie Adonis," sapa Ariel.
Ariel merubah raut wajahnya menjadi senyum ramah.
"Senang bertemu lagi," jawab Darcie.
"Saya minta maaf telah bersikap tidak seharusnya, pikiran saya teralihkan hingga terlambat menyadari anda," sesal Ariel.
"Bukan masalah, saya bisa mengerti," sambut Darcie.
"Namun, saya memiliki satu permintaan sederhana sebagai balasannya," ucap Darcie tersenyum.
"Maaf,?" sambut ariel mengerutkan keningnya.
"Permisi, ini pesanan anda,"
Seorang pelayan menyela mereka berdua dengan memberikan pesanan milik Darcie dan berlalu pergi setelah selesai dengan tugasnya.
"Bukan hal besar," jawab Darcie setelah pelayan itu pergi.
"Baiklah, silahkan lanjutkan," sambut Ariel mengerakkan telapak tangannya.
"Bisakah anda tidak bersikap formal kepada saya?" harap Darcie.
"Sejujurnya, usia kita tidaklah terpaut terlalu jauh jadi aku ingin kita bersikap layaknya teman," pinta Darcie tulus.
Ariel terdiam sejenak sembari berpikir. Sebagaian besar orang mengenal Darcie sebagai pebisnis muda juga termasuk pemilik dari beberapa perusahaan yang tersebar dibeberapa kota dan negara.
Usia muda, tampan dan bahkan bisa menciptakan aroma parfum yang meledak dikalangan sosialita. Sosok sepenting dia kini mengulurkan tangannya hanya untuk berteman?
"Banyak orang mengatakan, diam seorang wanita berarti iya, namun aku tidak setuju ketika wajahmu justru mengatakan tidak," ucap Darcie.
"Baiklah," jawab Ariel pada akhirnya.
"Ahh,,, akhirnya,," desahnya lega.
"Jadi, apa yang membuamu merenung disini?" tanya Darcie tampak santai.
"Kekasih?" selidik Darcie.
"Bukan," Ariel menggeleng. "Salah satu yang aku latih bermain alat musik," jelas Ariel.
"Ahh,, begitu rupanya," sambut Darcie.
"Membicarakan tentang musik, aku terkejut berita tentang kamu dimuat dimajalah," ucap Darcie.
"Yah,,, kurasa,,," jawab Ariel sekenanya.
"Terlihat jelas kamu tidak menyukainya, apakah itu artinya berita itu dimuat tanpa persetujuanmu?" tanya Daecie.
"Benar," jawab Ariel tersenyum tipis.
"Kenapa kamu tidak menuntut saja pihak yang menyebarkan beritamu?" tanya Darcie tidak rela.
Darcie melihat Ariel tampak tertekan, namun menyembunyikan semuanya dengan tersenyum.
"Tidak perlu, itu hanya akan berakhir sia-sia," jawab Ariel putus asa.
"Hei,,, jangan berkata seolah semua sudah berakhir. Kau tau? Pertama kali aku melihatmu, aku melihat api percaya diri yang cukup kuat dimatamu, dan kini api itu padam,"
"Selalu ada jalan untuk menyalakan api itu lagi," ucap Darcie memberi dukungannya.
"Aku bersedia membantumu," imbuhnya.
"Tidak," tolak Ariel mengelengkan kepalanya.
"Aku sangat berterima kasih dan aku juga menghargainya, tapi maaf, aku tidak bisa menerimanya," sambung Ariel.
"Alasannya?" tanya Darcie mengerutkan keningnya.
"Aku tidak menginginkannya," jawab Ariel asal.
"Bagaimana denganmu? Apa yang sedang kamu lakukan disini? Aku pernah mendengar seorang pebisnis selalu sibuk," tanya Ariel mengalihkan pembicaraan.
Darcie tersenyum, bisa mengerti kenapa Ariel mengalihkan topik pembicaraan, itu adalah hal pribadi dan bersifat sensitif baginya.
"Hanya mengontrol perusahaan yang berada disini," jawab Darcie menaikan bahunya.
"Apakah ada masalah yang terjadi?" tanya Ariel lagi.
"Haruskah aku mengatakan lebih dari ada?" sambut Darcie tertawa ringan.
"Banyak dari mereka mengelapkan dana hanya untuk kepentingan pribadi mereka, dan entah bagaimana cara mengatasinya tanpa menutup perusahaan yang sudah kacau seperti ini," papar Darcie.
"Terdengar cukup berat," sambut Ariel turut prihatin.
"Awalnya ya, tapi aku menemukan jalan lain tanpa menutup perusahaanku," ungkap Darcie.
"Mereka yang memiliki otak bisnis sungguh menakjubkan," puji Ariel.
"Dan kau memiliki teman seorang pebisnis?" tanya Darcie.
"Begitulah," jawab Ariel menaikan bahunya.
"Hei,,, jika memang begitu, bukankah dia bisa membantumu menyelesaikan masalahmu?" tanya Darcie.
Ariel hanya mengangkat bahunya disertai gelengan lemah. Darcie bahkan bisa melihat pancaran mata lelahnya, seolah Ariel tidak lagi peduli dangan apa yang akan terjadi.
"Kau tau?" ucapnya berhasil menarik perhatian Ariel untuk menatapnya.
"Aku memutuskan untuk tetap mempertahankan perusahanku disini, itu berkat dirimu," paparnya.
"Aku?" ulang Ariel menunjuk dirinya sendiri.
"Saat kita bertemu pertama kali, aku melihat sebuah semangat yang tak aku temukan pada siapapun, rasa ingin melindungi yang kuat dan percaya pada diri sendiri bahwa kamu bisa mengatasi apapun masalah yang datang padamu,"
"Hal itu membuatku mengerti satu hal, bahwa yang menentukan langkah kita selanjutnya adalah diri kita sendiri,"
"Aku menebak kamu pernah menghadapi situasi ini, tengelam dan kembali bangkit, lalu sekarang kamu kembali menghadapi hal yang sama,"
"Aku tau, kejam jika aku mengatakan kamu hanya perlu bangkit lagi karena itu adalah hal yang perlu kamu ulang, dan aku tau itu tidak mudah. Tapi semua akan menjadi lebih kejam jika kamu hanya diam,"
Ada jeda keheningan setelah Darcie menyelesaikan kalimatnya sampai Ariel kembali membuka suara tanpa menghilangkan senyum dibibirnya.
"Aku tau, aku sudah memikirkan hal itu. Aku hanya lelah karena kurang tidur," kilah Ariel tersenyum lebar.
"Begitukah?" sambut Darcie yang di jawab dengan anggukan kecil.
"Hei,,, kau juga menyukai Pretzel?" tanya Darcie.
"Aku menyukainya," jawab Ariel.
"Sungguh kebetulan," sambut Darcie tersenyum.
Darcie menyesap kopinya, begitu juga dengan Ariel.
"Bersama orang baru lagi? Apakah itu sungguh menyenangkan?"
Suara sarkasnya menusuk hati Ariel saat itu juga, membuat ia hampir tersedak. Bahkan tanpa menoleh ia tau siapa pemilik suara itu.
.....
.....
.
.
To be Continued.
Penjelasan singkat
-Pretzel\=> adalah sejenis kue berasal dari eropa, kemungkinan besar Jerman berupa tiga simpul atau belitan, memiliki rasa asin dan sedikit manis