
Sore itu, sebuah mobil berhenti didepan sebuah gedung musik dimana Ariel biasa melatih disana.
Dari mobil itu, Bram dan joel turun dan melangkah masuk kedalam gedung menuju ruangan diamana Ariel melatih.
Mereka tercengang saat mendapati Ariel tidak ada disana.
"Tadi Ariel bilang dia pulang jam empat sore kan?" gumam Joel.
Bram segera memeriksa ponselnya dan melihat kembali pesan yang dikirim Ariel padanya.
"Benar, aku tidak salah membaca, dia pulang jam empat sore. Tapi kenapa dia tidak ada disini?" sambut Bram.
Didalam ruangan hanya ada empat orang tengah bermain alat musik tanpa Ariel yang biasa melatih mereka.
Disaat mereka bingung dengan situasi, salah satu dari mereka berhenti bermain dan menghampiri Bram dan Joel.
"Apakah anda berdua memerlukan sesuatu atau mencari seseorang?" tanyanya ramah.
"Apakah Ariel sudah pulang?" tanya Joel.
"Ah,, kak Ariel ya? Apakan anda berdua temannya?" tanyanya lagi penuh selidik.
"Ya, kami temannya, dan kebetulan kami memiliki urusan dengannya," jawab Bram.
"Kak Ariel keluar saat jam makan siang," terangnya.
"Jam makan siang?" Joel mengerutkan keningnya.
"Apakah terjadi sesuatu?" tanya Bram.
"Uhm,,, kak Ariel_,,,"
"Apakah dia mengatakan akan pergi kemana?" potong Bram.
"Tidak," jawabnya mengelengkan kepalanya.
"Baiklah, terima kasih," ucap Bram lalu berbalik sembari menarik Joel pergi.
"Ehh,, kita belum tau dimana Ariel," protes Joel.
"Aku tau dimana dia sekarang," jawab Bram.
Bram menghentikan langkahnya dan menoleh, menatap kearah pria yang lebih muda darinya yang masih berdiri binggung menatapnya.
"Siapa namamu?" tanya Bram.
"Alex," jawabnya.
Bram mengangguk dan berbalik lagi. Pergi begitu saja meninggalkan Alex yang masih berdiri bingung dengan kepergian mereka.
"Orang aneh," gumam Alex, lalu berbalik ketika Bram dan joel menghilang dari pandangannya.
"Bagaimana kau bisa tau Ariel ada dimana?" tanya Joel ketika mereka telah berada didalam mobil.
"Jika melihat Alex yang seperti itu, kurasa Ariel sedang kesal pada mereka. Dan dia pergi meninggalkan mereka di jam yang seharusnya dia tidak bisa pergi. Ariel hanya akan pergi ke satu tempat ketika dia kesal dengan muridnya," papar Bram.
"Lalu, kemana dia pergi?" tanya Joel.
"Menurutmu, kemana dia akan pergi? Bukankah kau sudah cukup mengenalnya?" Bram balas bertanya.
Joel terdiam dan berpikir.
'Aku tau dia mengenal Ariel dengan baik, tapi tidak perlu menunjukan semuanya padaku. Dan lagi, bagaimana aku bisa tau Ariel dimana?' gerutu Joel dalam hati.
'Tempat yang mungkin dikunjungi Ariel,,,,' batin Joel berpikir.
Joel berpikir keras, sementara Bram telah menjalankan mobilnya. Tersenyum tipis saat melihat Joel tengah berpikir keras.
"Apakah mungkin dia_,,," Joel bergumam ketika mengingat hal yang sangat disukai Ariel.
Perkataan Ariel terngiang dalam pikirannya. Sebuah tempat yang memberinya ketenangan.
"Ya, dia pasti disana," potong Bram.
"Tapi, tempat mana yang mungkin dia tuju?" tanya Joel lagi.
"Bukankah kau tinggal tak jauh dari tempat itu? Hanya tempat itu yang menjadi kemungkinan paling besar sekarang," jawab Bram.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Kita kesana," balas Joel yang disambut dengan anggukan kepala Bram tanda setuju.
#Di pantai#
Sementara itu, Ariel masih duduk dibawah pohon palem. Mendengarkan cerita Ken tanpa menyela. Membiarkan Ken menumpahkan keluh kesahnya.
"Pada dasarnya aku sangat menyukai musik, hingga aku bermimpi untuk menjadi seorang musisi," ungkap Ken.
"Tapi keluargaku yang seorang pebisnis, menginginkan aku mengikuti jejak mereka. Memaksaku agar aku mendalami bisnis," tutur Ken.
"Aku tidak masalah tentang itu, selama aku masih bisa bermain alat musik yang sangat aku sukai, aku menuruti mereka. Kuliah, pelajaran tambahan, ikut mereka dalam acara bisnis mereka, dan semua yang mereka inginkan, aku melakukan semuanya,"
"Tapi, saat aku kembali dari perjalanan bisnis bersama ayahku, Cello yang biasa aku mainkan telah dibakar oleh mereka. Mereka berkata musik hanya menghambatku dalam berbisnis, dan tidak menghasilkan apapun,"
"Sejak saat itu, mereka selalu menekanku agar aku hanya fokus dalam bisnis mereka. Namun saat itu, Nenek berada dipihakku, membelaku dan meminta mereka memberiku sedikit kebebasan. Dan yah,,, mereka terpaksa menyetujui apa yang nenek inginkan, dan nenek membelikanku sebuah Cello yang baru,"
"Hingga sesuatu yang mengerikan terjadi. Rumah kami terbakar, saat itu aku masih dalam urusan bisnis karena ayah mengirimku untuk mengurusnya, dan saat aku tiba di rumah, mereka menatapku dengan penuh kebencian,"
"Saat aku tau nenek tidak tertolong karena masuk kedalam kobaran api hanya untuk mengambil Cello milikku, hingga menyebabkan nenek kehabisan oksigen_,,,," Ken menjeda sesaat sebelum melanjutkan.
"Mengetahui hal itu, aku mengerti kenapa mereka membenciku. Dan membuatku membenci diriku sendiri,"
Ken menghembuskan nafas panjang, lalu tersenyum getir.
"Satu-satunya orang yang selalu mendukungku justru pergi karena diriku," tutur Ken.
Ken terdiam, kepalanya menengadah lalu tersenyum mencemooh dirinya sendiri.
"Bukankah aku sepertii pecundang yang hanya bertahan hidup?" ucap Ken.
"Jika kau ingin aku jujur, maka jawabannya adalah ya," jawab Ariel datar.
Ken menoleh dan tersenyum. Merasa mendapatkan pukulan telak diwajahnya. Ariel menatap laut didepannya.
"Karena kau menyia-nyiakan apa yang telah nenekmu korbankan," sambung Ariel.
"Aku tidak_,,,"
"Bermaksud seperti itu?" Ariel meneruskan kalimat Ken, membuatnya terdiam.
"Jawabanmu justru terdengar kau hanya mengelak untuk disalahkan saat semua terlihat jelas bahwa itu memang salah," sambung Ariel.
"Tidakah kamu berpikir apa yang ingin nenekmu sampaikan padamu melalui Cello yang beliau selamatkan hingga mengorbankan nyawanya sendiri?" tanya Ariel perlahan menoleh dan menatap Ken yang tengah menatapnya.
Ken termenung, mencerna apa yang baru saja Ariel katakan padanya.
"Nenekmu percaya bahwa kau bisa menyatukan keluargamu dengan menghagatkan hati mereka melalui musik yang kamu mainkan," tutur Ariel.
"Aku tidak menyalahkanmu atas sikap yang terbentuk didalam dirimu. Kamu memiliki kehidupan sulit, itu sudah jelas. Bahkan kau dipaksa melakukan semua itu di saat itu adalah usia dimana orang-orang seusia itu bisa bebas melakukan semua yang mereka sukai," ucap Ariel.
"Tapi, bukan berarti hal itu juga dibenarkan, ada cara lain jika kamu ingin melampiaskan amarah yang ada didalam dirimu," imbuhnya.
"Aku tau, dan aku menyadari itu setelah aku bertemu kakak," jawab Ken.
"Kenapa? Bukankah diawal kau tak menyukaiku?" sambut Ariel.
"Pada awalnya memang iya, karena aku pikir, kakak sama saja seperti mereka yang melatih disana," jawab Ken.
"Tapi pikiranku ternyata salah besar. Kakak sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan mereka. Kakak lebih mementingkan suasana hati kami dibandingkan memainkan alat musik dengan sebuah paksaan," terang Ken.
"Itukah yang membuatmu dikenal sebagai pemberontak dan sulit diatur?" ucap Ariel menyipitkan matanya.
"Ukh,, iya,, iya,, aku tau aku keras kepala saat itu," keluh Ken dengan wajah memerah. "Karena aku muak dengan mereka yang memiliki posisi lebih tinggi dari kami yang hanya seorang murid untuk menuruti mereka yang menjadi pelatih kami," sambungnya.
"Tapi, kehadiran kakak benar-benar merubah sudut pandangku. Kakak mengutamakan suasana hati kami, bahkan saat aku dengan terang-terangan menolak permintaan kakak saat itu untuk memainkan Cello, kakak hanya tersenyum dan mengatakan aku bisa melakukan semuanya sesuai dengan keinginan hatiku," papar Ken.
"Hal itu membuatku teringat dengan nenek yang juga selalu mengatakan hal yang sama," imbuhnya.
"Maksudmu aku seperti nenek-nenek?" cetus Ariel menyipitkan matanya.
"Tidak,, Tidak,, Tidak,, bukan begitu,," sambut Ken mengibas-ngibaskan tangannya panik.
"Pft,,,, aku bercanda Ken," jawab Ariel terkekeh pelan sembari mengacak-acak rambut Ken.
"Ukh,,, kakak,,, berhentilah memperlakukanku seperti anak kecil," sungut Ken.
"Apakah sekarang kamu merasa lebih baik?" tanya Ariel menurunkan tangannya.
Ken termenung untuk sesaat, dan benar memang rasa sesak dihatinya seolah telah terangkat sebagian, setelah ia menceritakan beban dihatinya.
'Apakah sejak awal kak Ariel memang sengaja melakukan ini? Hanya ingin membuatku merasa lebih baik?' batin Ken.
"Jauh lebih baik," jawab Ken tersenyum. "Entah kenapa, kak Ariel selalu memiliki cara untuk membuatku merasa lebih baik," sambungnya.
Ariel tesenyum simpul, dan kembali mengarahkan pandangannya kearah laut.
"Sebenarnya aku penasaran dengan satu hal," ucap Ken.
"Apa itu?" tanya Ariel tanpa menoleh.
"Berapa alat musik yang kakak kuasai? Aku ingat di apartemen kakak ada piano, gitar, cello dan kalau tidak salah ada koper biola juga disana," papar Ken.
"Hemm,,," Ariel bergumam sembari mengadahkan kepalanya. " Untuk saat ini, aku bisa memainkan enam jenis alat musik," ungkap Ariel.
"ENAM???" seru Ken. " Dan kakak bilang untuk saat ini? Itu berarti kakak juga masih mempelajari alat musik lain?" lanjutnya melebarkan matanya.
"Yah,,, hanya saja aku selalu kehabisan waktu untuk mempelajarinya," jawabnya santai.
"Kakak mengatakan hal seperti itu dengan sesantai itu?" sambut Ken tak percaya.
"Bukankah itu juga alasannya aku bisa berada di posisiku sekarang?" Ariel balas bertanya dan menoleh kearah Ken dengan alis terangkat.
"Ha-ha,, yah kakak benar," jawab Ken tertawa kaku. "Aku hampir melupakan siapa kakak sebenarnya ketika kakak berada diluar pekerjaan," sambungnya.
"Hei,,, jangan membuatnya terdengar seperti aku telah melakukan kejahatan," sambut Ariel.
"Itu justru membuatku penasaran dengan bagaimana kakak bisa mencapai titik ini diusia kakak yang masih terbilang muda,"' sambung Ken.
Ariel menaikan bahunya, lalu memalingkan wajahnya.
"Itu bukan kisah yang ingin di dengar oleh siapapun," ucap Ariel dengan tatapan menerawang.
'Ugh,,, apakah aku sudah membuat kakak mengingat hal yang tidak ingin kak Ariel ingat?' pikir Ken.
"Oh,, aku hampir melupakannya," seru Ken tiba-tiba.
Ariel kembali menoleh menghadap Ken yang sedang merogoh saku celananya. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang terbungkus kertas berwarna emas dengan pita coklat diatasnya.
"Aku berniat memberikan ini setelah latihan, tapi kurasa keberikan sekarang pun tidak masalah kan?" ucap Ken menyodokan kotak itu kepada Ariel.
"Untukku?" tanya Ariel mengerutkan keningnya.
"Selamat ulang tahun, kak," ucap Ken tersenyum
...****************...