I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
10. Terbuka



Tinggalkan jejak kalian dengan koment, saran dan kritik kalian untuk menciptakan alur yang lebih baik.~~~


 


Hari telah sepenuhnya gelap. Joel mengemudikan mobilnya menuju pusat perbelanjaan yang memiliki tempat untuk bermain dan juga sebuah restoran.


Ariel mengedarkan pandangannya dan menatap Joel binggung.


"Kenapa pusat perbelanjaan?" tanya Ariel.


"Kita bisa melakukan banyak hal disini. Makan, nonton atau sekedar mengikuti permainan untuk mendapatkan hadiah," papar Joel. "Kita juga bisa mengunjungi toko musik jika kamu setuju untuk kesana," imbuhnya.


"Baiklah," jawab Ariel.


Joel segera keluar dari mobil diikuti Ariel yang melakukan hal yang sama. Begitu di luar mobil, Joel mengulurkan tangannya pada Ariel yang justru tertegun dengan tindakannya.


"Aku janji tidak akan menarik tanganmu lagi," sambut Joel saat melihat Ariel diam saja.


Akhirnya Ariel menerima uluran tangan Joel yang segera mengengamnya dengan lembut. Jari-jari tangannya terjalin dengan jari tangan Ariel. Mereka mulai berjalan bersama mengelilingi pusat perbelanjaan.


"Bolehkah aku menanyakan sesuatu yang agak pribadi padamu, Ariel?" tanya Joel memecah keheningan.


"Tentu, apa itu?" balas Ariel.


'Apakah kamu masih mencintainya?' tanya Joel dalam hati.


"Joel,,,?" panggil Ariel saat melihat Joel hanya diam.


"Eh,, ya,, apa,?" jawab Joel tergagap.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Ariel.


"Tidak ada," jawab Joel cepat.


"Kalalu begitu beri tau aku apa yang aku tanyakan padamu,!" pinta Ariel.


"Eh,, itu,,, aku,,, apakah kamu bertanya sesuatu padaku?" tanya Joel gugup.


Ariel menatap lekat mata Joel dengan sedikit memiringkan kepalanya.


"Kamu berada disini dan ditempat lain pada waktu yang sama," sindir Ariel


"Aku minta maaf, pikiranku teralihkan untuk sementara waktu. Jadi, apa yang tadi kamu tanyakan? Bisakah kamu mengulangnya?" tanya Joel.


"Kamulah yang ingin bertanya padaku, bukan aku," jawab Ariel.


"Apakah kamu mau berjanji tidak akan marah jika aku bertanya?" tanya Joel ragu.


"Baiklah,,, aku janji," ucap Ariel.


"Aku hanya ingin tau, apakah kamu masih mencintainya?" tanya Joel.


"Siapa?" balas Ariel.


"Orang yang kamu sebut sebagai mantan kekasihmu," jawab Joel liriih.


"Tidak," jawab Ariel cepat.


Joel menatap mata Ariel yang saat itu tengah menatapnya.


"Kamu yakin?" tanya Joel tidak percaya.


"Ah,, aku mengerti," desah Ariel menatap lurus kedepan dan kembali melanjutkan kalimatnya tanpa menghentikan langkah kakinya.


"Kamu menganggap jawabanku adalah sebuah kebohongan," tebak Ariel membuat Joel tersenyum malu.


"Tapi, fakta bahwa aku tidak lagi mencintainya itu adalah benar, hal itu sudah berlalu lama sekali, Joel. Aku tidak lagi memiliki sisa perasaan yang bisa kuberikan padanya. Yahh,,, selain teman dan hanya sebatas teman," terang Ariel


"Lalu apa hubungannya kamu menanyakan itu padaku?" sambung Ariel.


"Hanya untuk memenuhi rasa penasaranku," elak Joel. "Terlepas dari dia yang kembali muncul di kehidupnmu lagi, aku hanya berpikir kau mungkin masih mencintainya, dan mungkin kembali lagi padanya, dia terlihat baik," sambungnya.


"Apakah yang kau maksudkan adalah, dia terlihat ber*ngs*k?" goda Ariel.


"Tidak,, bukan itu maksudku," sanggah Joel.


"Ayolah, Joel, wajahmu justru mengatakan hal yang sebenarnya saat kamu berusaha mengelak," sambut Ariel menahan tawa.


"Sejujurnya, aku tidak lagi berharap apapun padanya, rasa sakit yang pernah dia berikan padaku sudah lebih dari cukup. Aku tidak mungkin kembali padanya," terang Ariel.


"Mungkin kamu hanya perlu jatuh cinta pada orang yang tepat," sambut Joel.


"Entahlah," jawab Ariel manaikkan bahunya. "Definisi orang yang tepat terasa buram bagiku," lanjutnya.


"Apakah kamu menganggap bahwa tidak mungkin jatuh cinta lagi?" tanya Joel.


"Jika di sederhanakan mungkin akan terdengar seperti itu," sambut Ariel.


Joel tersenyum kecut mendengar penjelasan Ariel. Hatinya terasa menyusut dan tidak ingin mundur pada saat yang sama.


Harapan untuk mendekati Ariel seolah terhalang oleh dinding batu yang begitu kokoh.


"Sudah cukup cerita tentangku, sekarang ceritakan tentangmu!" pinta Ariel.


"Aku,,??" sambut Joel menunjuk dirinya sendiri.


"Ya, kamu mengatakan baru di kota ini, apa yang membuatmu pindah ke kota ini?" tanya Ariel.


"Mungkin ini terdengar agak klise, tapi alsanku berada di kota ini hanya satu,,, pantai," terang Joel.


"Benarkah? Hanya itu?" sambut Ariel dengan wajah tak percaya.


"Aku menyukai pantai, hanya saja aku selalu kesulitan jika harus berhadapan dengan orang baru," ungkap Joel.


"Alasan itu terdengar seperti kamu mengada-ada, karena kamu bersikap sangat santai padaku," sangkal Ariel.


"Baiklah,,, aku bahkan tidak tau aku harus bagaimana menjelaskan hal ini," balas Joel.


"Tapi aku memiliki kemungkinan yang mungkin bisa menjelaskan situasi ini" terang Joel.


"Apa itu,?" tanya Ariel penasaran.


"Aku juga merasakan apa yang pernah kamu rasakan," ungkap Joel.


Ariel menghentikan langkahnya dan menatap mata Joel. Mencari adakah kebohongan yang tersembunyi dibalik matanya, namun tidak di temukan olehnya.


'Apakah yang dia maksud adalah, dia juga pernah di sakiti sebelumnya?' batin Ariel.


Mereka kembali melanjutkan langkah mereka menyusuri pusat perbelanjaan dengan keheningan.


Setelah puas menghabiskan waktu bersama, Joel mangantar Ariel kembali ke apartemennya.


...>>>>>--<<<<<<<...


Disuatu tempat yang terlihat begitu ramai dengan di penuhi pria dan wanita. Mereka yang ingin menikmati pertujukan musik di sebuah festival musik yang tengah diadakan.


"Kak,, gimana nih? Tanganku gemetar. Apa nanti aku bisa bermain dengan baik?" ucap seorang gadis yang empat tahun lebih muda dari Ariel.


"Tenanglah, Gina. Semua akan baik-baik saja. Kamu hanya perlu bermain dengan baik," tutur Ariel menenangkan anak didiknya.


"Aku juga takut mengacaukan pertunjukan ini, kak," keluh pria di samping Gina.


"Aku percaya, kamu tiidak akan melakukan itu Oliver," sambut Ariel tersenyum


"Sekarang, kalian ikuti intruksiku," pinta Ariel. "Tarik nafas kaliaan dalam-dalam lalu hembuskan. Tutup mata kalian, dan pikirkan hal menyenangkan apa yang kalian rasakan saat bermain alat musik," saran Ariel.


Baik Gina dan Oliver pun menuruti intruksi Ariel, menutup mata mereka. Mengingat kembali saat-saat mereka berlatih lalu terkekeh pelan.


Ariel mengerutkan keningnya dan meletakkan tangannya di pinggang.


"Apa yang sedang kalian bayangkan? Hem?" tanya Ariel pura-pura marah.


"Entah kenapa, aku ingat saat pertama kali kakak mengajar kami, dan julukan yang teman-teman gunakan untuk menyebut sosok kak Ariel di mata mereka," jawab Gina terkikik.


"Bagaimna kita bisa memikirkan hal yang sama?" sambut Oliver tertawa.


"Maksud kalian, monster? Karena aku bersikap tegas pada kalian?" balas Ariel berkacak pinggang.


"Jangan marah kak, kami kan bercanda," sambut Gina dan Oliver bersamaan.


"Bagus, setidaknya hal itu bisa menghilangkan kegugupan kalian," jawab Ariel. "Sekarang tunjukan kemampuan kalian" dorong Ariel.


Mereka berdua mengangguk dan tersenyum tulus. Sebelum mereka menaiki panggung, mereka memeluk Ariel dan membisikan kata terima kasih.


Ariel tersenyum mendengar bisikan mereka, dan beranjak dari tempatnya menuju depan panggung untuk melihat penampilan mereka.


"Kamu hebat seperti biasanya,"


Sebuah bisikan di telinga Ariel, sontak membuat Ariel berbalik untuk mencari tau siapa pemilik suara.


"Bram,,?" pekik Ariel kaget.


"Bagaimana kamu bisa berada disini?" tanya Ariel setengah berteriak karena suara riuh disekeliling mereka.


Bram tersenyum dan mencondongkan tubuhnya. Membungkukkan badan dan mendekatkan bibirnya di dekat telinga Ariel.


"Aku tau kamu pasti ada disini jika ada pertunjukan musik yang sedang berlangsung," bisik Bram.


"Kamu tidak pernah tidak hadir walaupun itu bukan pertunjukanmu," sambungnya.


Ariel tersenyum tipis dan mendorong Bram menjauh.


"Alasan macam apa itu," sambut Ariel tertawa.


"Aku hanya memanfaatkan tiket yang sudah ada," jawab Bram pada akhirnya.


"Ahh,,, begitukah? Atau kau memang sengaja membelinya?" sindir Ariel.


"Apakah terlihat begitu jelas?" balas Bram.


"Aku tidak tau jika kamu memiliki peningkatan dalam hal mengelak," jawab Ariel.


Bram terbahak mendengar jawaban yang di lontarkan Ariel padanya.


'Senyuman ini yang aku rindukan? Bagaimana bisa dulu aku menyakitinya? Aku tidak ingin menyakitinya lagi. Apakah dia bisa memberiku kesempatan satu kali lagi?' batin Bram.


Ariel mengarahkan pandangannya kearah panggung. Memperhatikan Gina dan Oliver yang tengah tampil.


Untuk sesaat mereka mengedarkan pandangannya dan terhenti saat mata mereka bertemu dengan mata Ariel yang mengawasi mereka di bawah panggung, di antara kerumunan penonton lain.


Ariel tersenyum dan mengangguk pada mereka yang segera di balas dengan anggukan lembut.


Ariel terus fokus pada mereka hingga ia mengalihkan pandanganya ke arah Bram yang berada di sampingnya saat tangannya merasakan tangan Bram.


Tatapan matanya melembut, sama seperti saat mereka masih bersama. Tangannya mengenggam tangan Ariel lalu meremas lembut.


"Apa yang sedang kau lakukan, Bram?" sambut Ariel mulai merasa tidak nyaman.


"Aku tau kamu berbohong soal pria itu, yang menjadi kekasihmu," bisik Bram mendekatkan bibirnya di telinga Ariel.


"Tolong jaga sikapmu," tegas Ariel mendorong tubuh Bram dan berusaha melepaskan tangannya.


"Lepaskan tanganku," perintah Ariel.


"Apa yang ku katakan benar bukan? Kamu berbohong. Aku mengenalmu dengan baik, Ariel. Dan aku tau dengan baik saat kamu berbohong," cecar Bram.


"Kau tak tau apapun tentang hubunganku dengannya, jadi jangan bersikap seolah kamu tau semuanya," tukas Ariel.


Ariel kembali menepis tangan Bram. Namun, Bran tetap tidak melepaskan tangan Ariel begitu saja.


"Bram,,,!" pekik Ariel. "Lepaskan tanganku!" sentaknya.


"Katakan padaku! Apakah kau mencintainya?" tanya Bram.


"Itu bukan urusanmu," sambut Ariel.


"Aku tau kamu tidak mencintainya. Aku juga tau kamu hanya berpura-pura saat di rumah sakit tempo hari," balas Bram.


Bram mengeratkan cengkramannya, hal itu membuat Ariel meringis kesakitan.


"Lepaskan tanganku, Bram. Kau menyakitiku!" hardik Ariel.


Bram segera melongarkan cengramannya begitu mendengar keluhan Ariel. Nafasnya tercekat menyadari sikapnya justru akan membuat Ariel kian menjauh darinya.


"Maafkan aku," sesalnya seraya melepaskan tangan Ariel.


"Apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Bram? Kau bukan orang seperti ini terakhir kali ku ingat," tanya Ariel.


"Apakah kamu bahkan akan tetap mendengar ceritaku setelah sikapku barusan?"tanya Bram.


"Aku hanya percaya padamu, tapi hal itu juga tidak mentolelir apa yang telah kau lakukan padaku dulu,"sambut Ariel.


"Aku sungguh-sungguh menyesali keputusanku saat itu,Ariel. Aku sungguh menyesal," ungkap Bram.


"Jika aku menghubungimu lagi, akankah kamu menerimanya?" harap Bram.


"Hanya jika kamu berjanji tidak lagi membahas tentang hubungan kita, maka jawabanku adalah ya, kamu bisa menghubungiku," sambut Ariel.


"Bahkan jika aku mengajakmu keluar? dan menceritakan semua yang aku alami padamu?" tanya Bram berharap.


"Aku bisa menerima ajakannmu. Tapi, aku tidak bisa menjanjikannya" jawab Ariel.


" Itu sudah lebih dari cukup. Terima kasih banyak, Ariel," ucap Bram lega.


Saat mereka terus berbicara, Ariel merasakan sebuah sentuhan dibahunya. Matanya melebar saat melihat siapa yang telah meletakkan tangan di bahunya.


"Joel,,,!" desis Ariel.


......>>>>>--<<<<<<......