I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
137. Siapa dia?



Beberapa pasang mata mengarahkan pandangan mereka pada Ariel yang baru saja datang dengan diantarkan oleh seorang pria yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.


Beberapa dari mereka memang pernah melihat Ariel diantar dan di jemput seseorang, namun tidak pernah benar-benar melihat siapa orang yang mengantarnya.


"Dia yang melatih di ruangan yang ada di ujung, bukan?"


"Benar, kalau tidak salah, ehm,, coach Ariel, ya itu namanya,"


"Yang memiliki satu asisten?"


"Benar,"


"Aku tidak tau dia orang seperti apa, tapi banyak yang bilang ada lebih dari tiga puluh orang yang ingin berlatih dibawah bimbingannya, namun dia hanya menerima sembilan orang hanya karena mereka tidak lulus seleksi,"


"Sombong sekali,"


Beberapa dari mereka mulai saling berbisik dan menimpali, memberikan tatapan menghakimi pada Ariel yang baru saja berlalu di depan mereka yang hanya memberikan senyum tipis.


"Jangan menilai sembarangan dulu," satu dari mereka mulai menengahi.


"Aku pernah mendengar, dia memang memiliki cara berbeda ketika melatih seseorang, namun siapapun yang berlatih bersamanya, langsung di terima di grup orkestra yang cukup baik,"


"Aku bahkan memiliki kenalan yang pernah berlatih bersamanya padahal pelatihnya bukan dia, tapi dia mau melatih,"


"Ketika di tanya alasan, dia hanya menjawab, dia akan melatih jika orang yang dia latih memiliki niat murni untuk berlatih, bukan hanya untuk berbangga diri, dan dia di kenal bisa mengetahui hal itu hanya dengan mendengar seseorang memainkan musik dengan tangannya"


Kalimat terakhir yang di ucapkan satu orang yang membela Ariel cukup untuk membungkam mereka yang berbicara miring tentang Ariel.


"Tapi lihat saja dia yang diantar pria asing," ucapnya tidak mau kalah.


"Asing bagi kita yang tidak mengenalnya, tapi bagaimana jika orang tadi adalah suaminya sendiri? Bukankah berita itu tersebar bahwa dia sudah menikah?"


"Aku pernah membaca di majalah, dia sudah memiliki kekasih, dan bukan pria tadi yang tercetak dimajalah, disana juga tertulis mereka akan menikah,"


"Akan? Baru akan? Bukan berarti sudah, lagi pula, kenapa kau harus mencampuri urusannya? Biarkan saja, kau bahkan tidak berlatih di bawah bimbingannya,"


"Atau jangan-jangan, kau juga di tolak oleh coach Ariel karena gagal seleksi?"


Sekali lagi, orang yang terus menyudutkan Ariel kembali kalah telak dalam berbicara bersama temannya yang selalu membela Ariel.


"Aku tak bermaksud untuk tidak membelamu, aku hanya berpikir logis," ujarnya dengan nada santai.


Mereka akhirya berhenti berdebat dan bergegas menuju ruang latihan mereka saat melihat pelatih mereka datang.


Sementara mereka yang berada di bawah bimbingan Ariel telah selesai dengan pemanasan mereka ketika Ariel membuka pintu.


"Jam berapa sebenarnya kalian datang? Kalian bahkan telah selesai pemanasan," ucap Ariel merasa terkesan dengan cara mereka berlatih.


"Mereka semua sudah disini tiga puluh menit sebelum jam seharusnya," ungkap Ken.


"Wwow,,, semangat yang bagus," puji Ariel, menghadirkan senyum senang diwajah mereka.


"Baiklah,,,sekarang dengarkan aku sebentar," ujar Ariel.


Ariel meletakan tasnya di kursi panjang yang berada didudut ruangan, lalu berdiri di tengah-tengah mereka, meminta perhatian penuh dari mereka.


"Akan ada pertunjukan orkestra dalam dua bulan kedepan, dan aku akan memilih tiga orang diantara kalian,"


"Siapa yang aku pilih bukan dia yang terlihat selalu baik ketika berlatih, tapi dia yang bisa mengerti apa yang dia mainkan,"


"Aku beharap kalian saling mendukung, bukan saling iri pada yang lain, karena aku tetap akan menunjuk kalian semua untuk bermain secara bergilir,"


"Dann,,,,"


Mereka mengangguk mengerti, lalu menatap Ariel, penasaran dengan apa yang akan disampaikan ketika pelatih mereka mengantung kalimatnya.


"Akan ada satu orang yang akan menemani Ken pergi ke paris untuk mengantikanku menerima undangan mereka, jadi bersainglah dengan cara sehat, kalian mengerti?" ungkap Ariel.


Pernyataan terakhir Ariel seolah menjadi motivasi dimana mereka menjadi lebih bersemangat dari sebelumnya. Mereka kembali melanjutkan latihan mereka.


Bahkan di hari berikutnya, mereka kembali datang lebih cepat. Membuat beberapa orang lain yang berlatih di ruang sebelah mereka memberikan tatapan heran.


Mereka giat berlatih seolah mengatakan tidak ingin megecewakan pelatih mereka yang peduli pada mimpi mereka, pelatih yang mereka pikir hanya tau tentang bermain ternyata lebih dari itu. Mereka menyadari pelatih mereka mencarikan peluang dengan cara apapun agar mereka bisa tampil dalam pertunjukan solo ataupun orkestra.


Sama seperti sebelumnya, sore itu mereka selesai berlatih dan enggan untuk buru-buru pulang. Mereka berkumpul dan saling bertukar pikiran dengan Ariel yang menjawab tiap keluhan mereka. Membuat mereka semakin mengagumi sosok pelatih didepan mereka.


"Kak, apakah kami juga boleh berbicara tentang masalah pribadi?" tanya salah satu dari mereka.


"Kamu bisa bercerita apapun padaku hanya jika kamu nyaman menceritakannya," jawab Ariel.


Mereka kembali saling menimpali satu sama lain, hingga suara tawa mereka terdengar di luar ruangan. Sampai suara ketukan pintu membuat mereka terdiam seketika bersamaan dengan pintu yang di buka.


Salah satu murid Gerry muncul sembari menundukan kepalanya dengan sopan.


"Maafkan saya menganggu waktu anda, coach," ucapnya sopan.


"Tidak apa-apa, ada apa?" tanya Ariel pada gadis yang berdiri diambang pintu.


"Ada yag mencari anda," jawabnya.


"Mencariku?" ulang Ariel dengan kening berkerut heran, namun juga merasa deja vu.


"Benar," jawabnya.


"Silahkan," ujarnya ketika mundur selangkah dan membiarkan orang yang mencari Ariel masuk.


Ariel melebarkan kedua matanya saat Joel muncul dari balik pintu, merasa senang dan heran di saat yang sama.


"Terima kasih sudah mengantarnya, kamu bisa keluar," sambut Ariel.


"Woahh,,, dia tampan," celetuk suara gadis di belakang Ariel.


"Benar, apakah dia juga akan berlatih disini?"


Suara bisik-bisik berlanjut, sementara Ken hanya terkekeh pelan melihat apa yang terjadi.


"Kenapa kemari? Bukankah sekarang belum jamnya untuk_,,," Ariel mengantung kalimatnya ketika melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan melebarkan kedua matanya seketika.


"Astaga,,," pekik Ariel terkejut.


Mereka saling pandang ketika melihat sikap pelatih mereka menyambut orang yang asing bagi mereka, sampai mereka mendengar suara pria itu yang sukses menciutkan nyali mereka.


"Apa kau lupa kita memiliki acara yang harus dihadiri, Sweety?" tanya Joel.


"Bukan begitu," sanggah Ariel. "Tapi aku lupa waktu," imbuhnya.


"Jadi, mau pulang sekarang? Lagipula, Ken bisa diandalkan untuk menyelesaikan sisanya," tawar Joel.


"Baiklah, tunggu sebentar," sambut Ariel, lalu berbalik untuk mengambil tas miliknya.


"Hari ini cukup disini, kalian bisa pulang," ucap Ariel seraya meraih tas miliknya.


"Kak,," seru gadis berponi.


"Ya?" sambut Ariel.


"Kakak tampan itu siapa?" tanyanya.


Beberapa dari mereka memelototkan matanya untuk menegur temannya yang memberikan pertanyaan itu.


"Kenapa?" tanya Ariel tersenyum.


"Uhm,,,sepertinya, aku bisa lebih giat berlatih kalau kakak tampan itu bergabung latihan bersama kami," ujarnya spontan.


Ken berusaha menahan tawanya dengan membekap mulutnya, Alice yang melihat itu mulai menangkap kemana arahnya dan turut menahan tawanya.


"Apa kau tidak dengar tadi kakak itu memanggil kak Ariel apa?" sembur temannya yang lain.


"Memangnya kenapa?" tanya gadis berambut poni itu dengan wajah polos.


"Kak Ariel pergi saja, abaikan saja pertanyaanya," sahut yang lain.


"Memangnya kalian tidak penasaran?" ujar gadis berponi tidak mau kalah.


"Dia suamiku, apa jawaban itu cukup?" jawab Ariel kembali bertanya.


"Ahh,, kak Ariel pasti bohong," sambutnya.


"Kenapa aku harus berbohong dalam hal ini?" sambut Ariel mengerutkan keningnya.


"Soalnya kakak tampan itu diam saja, bahkan tidak mengiyakan jawaban kak Ariel," jawabnya beralasan.


Ariel mengosok tengkuknya, bingung bagaimana harus bersikap, mengharapkan Ken menjelaskan pun sia-sia, karena mereka menganggap Ken bersekongkol.


"Bunny, kenapa bukan kamu saja yang menjelaskan pada mereka? Sepertinya mereka akan lebih menyukai mendengar jawabanmu dibandingkan jawabanku," ujar Ariel pada akhirnya.


Joel tersenyum geli sembari mengelengkan kepalanya.


"Kenapa tidak di tunjukan saja pada mereka alih-alih menjelaskan dengan banyak bicara?" goda Joel masih berdiri didekat pintu.


"Ha ha,, lucu," jawab Ariel tertawa singkat, lalu memasang wajah serius dalam sekejap.


"Tidak akan," tegas Ariel mulai melangkah mendekati suaminya.


"Ayo pulang," ajak Ariel saat ia berada didepan Joel.


Joel mengangguk pelan sembari mengulurkan tangannya yang segera disambut Ariel dengan senang hati. Mereka berdua melangkah keluar mengabaikan suara kecewa mereka.


"Kak Ken, memang benar kakak tampan tadi suami kak Ariel?" tanya Alice setelah Ariel menutup pintu.


"Begitulah," jawab Ken menaikan bahunya.


"Yaahhh,,,,"


Beberapa gadis yang tertarik pada Joel mendesah kecewa. Namun mereka tetap bertanya tentang Joel pada Ken, meski mereka hanya mendapatkan jawaban bahwa Joel adalah seorang dokter.


"Sepertinya muridmu yang sekarang sedikit lebih berani dibandingkan yang dulu," ucap Joel memecah keheningan ketika mereka berjalan menuju pintu keluar studio.


"Yah,,, katakan saja mereka memiliki nilai kurang dan lebihnya masing-masing," jawab Ariel.


Joel hanya tersenyum simpul, menjalin jemarinya dengan jemari istrinya. Ia melepaskan tangan Ariel hanya ketika mereka akan masuk kedalam mobil.


Beberapa yang melihat mereka kembali membicarakan Ariel. Tanpa ia sadari, dirinya kembali di perbincangkan karena diantar jemput oleh pria yang tidak mereka ketahui identitasnya.


>>>>>>>--<<<<<<<<


Ariel mematut dirinya didepan cermin. Memastikan apakah apa yang ia kenakan akan cocok untuk acara yang akan ia hadiri malam ini bersama suaminya.


Ia menata rambutnya dengan gaya Half Updo, menganyam sisi kanan dan kirinya, lalu mengumpulkan rambutnya di bahu kanan. Riasan sederhana yang ia sapukan di wajahnya dengan lipstik coral membuat wajahnya terlihat lebih segar.


Dress Gown Night bahu terbuka Chic Halter dengan warna White Parchment sepanjang menutupi mata kaki sengaja Ariel pilih ketika suaminya memilih untuk mengenakan setelan jas Dark Brown.


....


....


To be Continued...