
Tinggalkan jejak kalian dengan koment, saran dan kritik kalian untuk menciptakan alur yang lebih baik.~~~
-----------
Hati Joel jatuh saat mendengar suara Ariel telah berubah dan menyadari sikap yang baru saja di tunjukkan padanya.
"Maafkan aku, Ariel. Aku tidak bermaksud membentakmu," sesal Joel.
"Tak apa, aku mengerti," jawab Ariel tersenyum tipis dan kembali melanjutkan makannya.
Kebungkaman Ariel selama makan, mau tak mau mengusik hati Joel. Ariel memang tetap menghabiskan makanannya, namun semua terasa hambar bagi Joel.
"Aku akan ke kamar, kamu tidak perlu mengikutiku. Walaupun kamu berperan sebagai dokterku disini, aku ingin tetap memiliki privasiku sendiri," ucap Ariel dan berlalu pergi.
"Tunggu, Ariel,! Biarkan aku membantumu," tawar Joel mnghentikan Ariel dan manghampirinya.
Ariel hanya diam dan mengangguk, tidak menolak ketika Joel membantu memapahnya menuju kamar.
"Sekarang kamu bisa keluar, aku ingin membersihkan diri," ucap Ariel datar.
"Apakah kamu marah padaku?" tanya Joel.
"Tidak. Aku bahkan tidak memiliki alasan yang cukup untuk marah padamu," sambut Ariel. " Aku hanya ingin menggunakan waktu privasiku sebanyak dan sebaik mungkin," sambungnya.
"Apa kamu yakin tidak memerlukan bantuanku?" tanya Joel memastikan.
"Astaga,,, Joel. Aku ingin ke kamar mandi. Kamu tidak mungkin ikut ke dalam bukan?" geram Ariel menepuk dahinya.
Semburat merah muncul di wajah Joel. Menyadari kekonyolannya, Joel segera keluar dari kamar Ariel, menutupi rasa malunya.
Namun, tetap saja, rasa khawatir itu tetap menyelimuti hati Joel. Hingga, kekhawatirannya menjadi kenyataan, membuat dirinya menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa menjaga Ariel dengan baik. Hal itu terjadi beberapa saat setelah dirinya keluar dari kamar dan mendengar Ariel berteriak di sertai suara berdebam keras.
"AAakkhhhh,,,,,!!!!"
GEDEBUKK,,,,!!!
BAAMMM,,,,!!!
Joel segera berlari menuju kamar Ariel dan membuka pintu kamar mandi tanpa mengetuk. Ariel bersimpuh dilantai dengan tangan menutupi kepalanya.
Beberapa botol sabun dan shampo berserakan di lantai. Handuk bersih juga sudah tergletak di lantai beserta rak penyimpanannya.
"Ariel,,,!!!!" seru Joel panik.
Dengan hati-hati, Joel mengangkat tubuh Ariel dan membawanya ke tempat tidur.
"Apakah kau terluka? dimana yang sakit?" tanya Joel cemas.
"Aku baik-baik saja," jawab Ariel mengelengkan kepalanya.
"Apa yang aku katakan tentang membantumu, Ariel? Kenapa kamu masih saja bersikap seolah kamu bisa melakukannya sendiri? Bagaimana jika kamu benar-benar terluka?" cecar Joel kesal.
"Tidak bisakah kamu bersikap dewasa sedikit saja?" lanjutnya.
"Cukup, Joel,!" sentak Ariel. "Aku tau kamu dokterku disini. Tapi, bukan berarti kamu bisa seenaknya memarahiku. Jika kamu merasa ini adalah beban, kirimkan saja satu perawat untukku dan kamu bisa bebas dari pasien sepertiku," sambut Ariel kesal.
'Apa yang salah dengannya? Aku terus mencoba mengingat dimana letak perkataanku yang salah, namun aku tak menemukannya. Dan sekarang dia marah lagi tanpa alasan yang jelas,' bisik hatinya.
"Ini bukan soal dokter ataupun pasien, Ariel," jawab Joel menaikkan suaranya. " Tapi ini tentang sikapmu," lanjutnya.
"Kalau begitu, jelaskan juga padaku tentang sikapmu,!" tantang Ariel kesal. "Apakah begini seharusnya sikap seorang DOKTER terhadap PASIENNYA,?" sergah Ariel tidak mau kalah.
Seolah mendapatkan tamparan telak, Joel terdiam dan menyadari kesalahannya. Dirinyalah yang telah memasukkan masalah pribadi yang bahkan tidak di ketahui Ariel, tanpa sadar hal itu justru memancing emosinya dan melampiaskan amarahnya pada Ariel yang tidak tau apapun.
Joel menghela nafas panjang, dan menatap Ariel yang tengah menatap marah padanya.
"Maafkan aku,Ariel. Aku tidak bermaksud untuk memarahimu, aku hnya khawatir padamu. Maafkan aku karena membawa masalah pribadiku dan menargetkanmu menjadi pelampiasan bagiku," terang Joel.
"Aku sedang tidak ingin mendengar apapun, karena aku juga tau kamu tidak ingin mengatakannya," tukas Ariel.
"Sekarang keluarlah,! Aku ingin istirahat," pinta Ariel.
"Aku harus memastikan kondisimu terlebih dulu, Ariel!" sanggah Joel.
"Aku baik-baik saja. Sekarang keluar!" tolak Ariel.
"Tapi_,,,"
"Aku ingin kamu keluar, Joel. SEKARANG,,,!!!" potong Ariel.
"Baiklah," jawab Joel lesu. "Aku akan keluar, panggil aku jika kamu memerlukan sesuatu. Aku akan ada di luar," harap Joel.
Ariel mengangguk dan membiarkan Joel keluar dari kamarnya.
Ariel menjatuhkan dirinya di tempat tidur, matanya menatap langit-langit dan menerawang.
'Kuharap, ini segera berlalu,' batinnya.
Matanya perlahan menutup karena kelelahan, dan tak lama hembusan nafasnya menjadi tenang seiring dengan Ariel yang terlelap dalam tidurnya.
_ _ _ _ _ _ _
Entah berapa lama dirinya tertidur, Ariel kembali terbangun ketika langit telah berubah gelap.
Keheningan di apartemennya membuatnya bertanya-tanya, apakah Joel sedang keluar atau justru dia sudah tidur.
Ariel bangun dari tidurnya dan beranjak keluar dari kamar. Namun Joel tidak terlihat di manapun. Semua barang Joel masih adadi sana, namun tidak terlihat sedikitpun dari pemiliknya.
"Aku ke rumah sakit sebentar untuk mengambil obat, aku akan segera kembali sebelum tengah malam. Makan malammu sudah aku siapkan. Makanlah saat kamu bangun dan jangan lupa minum obatnya,,,,,, Joel"
Ariel membaca pesan yang di tinggalkan Joel dan membuka tutup mangkuk dimana sebuah sup yang masih hangat didalamnya.
Tergiur dengan aromanya, Ariel memakan sup itu dan meninggalkannya begitu saja setelah selesai.
Langkahnya mengarah ke ruangan dimana piano miliknya berada. Dengan melompat kecil, Ariel menuju kursi yang berada di dekat piano dan duduk di sana.
"Aahh,,, sudah berapa hari aku tidak menyentuhmu?" gumam Ariel pelan.
Tangnnya bergerak membuka penutup tuts dan menjalankan jarinya di atas tuts piano. Matanya terpejam,dan tangannya mulai menekan tiap tuts dengan lembut.
Tarian jarinya di tiap tuts pino menghasilkan melodi yang indah nan menenagkan. Perasaan kesal dan amarah yang semula ada di hatinya, menguap begitu saja.
Seutas senyum tersungging di bibir Ariel yang masih terus memejamkan matanya dengan tangan yang terus menari dengan lincah di tiap tuts piano.
Setelah lagu itu berakhir, dan membuka matanya, Ariel menghembuskan nafas pelan, merasa puas juga lega di waktu yang sama.
PROK,,,,
PROK,,,,
PROK,,,,
Suara tepuk tangan menyadarkan Ariel dan membuatnya segera menoleh ke arah sumber suara, hanya untuk menyadari Joel telah berdiri di belakangnya.
Tatapan kagum terlihat jelas di matanya. Joel menghampiri Ariel dengan senyum di bibirnya.
"Aku tidak tau apakah orang yang menilai permainannmu dan mengatakan baik, dalam keadaan sadar atau tidak. Tapi, aku bisa mengatakan, permainanmu sungguh menakjubkan, Ariel,!" sanjung Joel.
Ariel tersenyum menanggapi Joel. Baginya, kalimat yang Joel lontarkan sangat sering dia dengar. Bahkan ketika dirinya masih bersama Bram, dia juga mengatakan hal yang sama.
"Hei,,,,apa yang terjadi dengan wajah itu? Kamu terlihat sedih. Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?" tanya Joel menghampiri Ariel, meletakkan tangan dibahunya.
"Tidak sama sekali," jawab Ariel lalu tersenyum.
"Lalu apa yang membuatmu bersedih?" tanya Joel lembut.
Ariel terdiam, hatinya menghangat dengan sikap Joel. Namun, dirinya juga binggung dengan sikap Joel yang sering kali berubah secara tiba-tiba.
"Kamu sudah makan?" tanya Joel menganti topik pembicaraan.
"Sudah," jawab Ariel singkat.
"Bagus, jadi apakah kamu bisa memainkan gitar untukku?" harap Joel.
"Kenapa?" tanya Ariel binggung.
"Setelah mendengar kamu memainkan piano, aku ingin sekali mendengar kamu memainkan gitar, apakah akan berbeda ataukah akan sama?" jelas Joel.
"Apakah itu harga yang harus aku bayar dari sup yang kamu buat?" tanya Ariel menyipitkan mata.
"Angaplah seperti itu, itu akan menjadi lebih mudah," sambut Joel menyeringai.
'Dia terlihat senang ketika bermain alat musik, mungkin jika dia bermain musik lagi, akan membuat perasaanya lebih baik,' batin Joel.
"Baiklah,,, aku akan memainkannya untukmu. Hanya satu lagu," jawab Ariel.
Joel bersorak senang dan mengambil gitar untuk di serahkan pada Ariel.
Ariel memutar badannya dan meletakkan gitar di pangkuannya. Setelah menghembuskan nafas pelan, Ariel mulai memetik gitar di tangannya.
Setiap petikan dimainkan dengan penuh perasan, hingga menghasilkan melodi yang menghanyutkan.
Joel memjamkan matanya menikmati alunan melodi gitar yang di petik Ariel, menghayati melodi yang mengalir, dan membiarkan meresap kedalam hatinya.
' Dia bisa menghasilkan melodi seindah ini hanya dengan gitar? Tak bisa ku percaya, dia menganggap kemampuan luar biasa ini sebagai amatir? Apakah dia bercanda?' batin Joel.
Joel bertepuk tangan dengan semangat saat lagu telah berkhir. Matanya menatap kagum pada Ariel yang masih bersikap santai di depannya.
"Aku bertanya-tanya sebenarya apa pekerjaanmu?" tanya Joel.
Pandangan mereka saling bertemu, Ariel terdiam selama beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Joel.
"Pekerjaanku berhubungan dengan musik," jawab Ariel.
"Bisakah kamu mendefinisikan hal itu lebih luas?" sambut Joel binggung.
"Sebutan mudahnya adalah, aku mengajar musik," jelas Ariel.
"Guru musik?" tanya Joel lagi.
"Anggaplah begitu," jawab Ariel.
"Woww,,, itu mengesankan," sambut Joel.
"Itu tidak sehebat yang kamu bayangkan, Joel," tukas Ariel.
"Tapi, bagiku itu adalah hal luar biasa," balas Joel.
Ariel hanya mengangkat bahunya acuh. Wajahnya kembali tanpa ekspresi, namun tetap bersikap normal di depan Joel.
Joel menghampiri Ariel dan mengambil alih gitar dari tangannya. Joel menunjuk jam tangan dengan jarinya dan memperlihatkan pada Ariel, sebagai isyarat sudah waktunya untuk istirahat karena sudah larut.
Ariel hanya tersenyum tipis sebagai tanggapan, namun tetap menjalankan intruksi yang diberikan Joel.
...>>>>>>--<<<<<<<<...