I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
43.Yang Tidak Diharapkan 3.



"Letakkan jarimu disini," ucap Ariel,


Ariel menuntun tangan Joel, dan meletakkan jarinya di Neck gitar.


"Pilihlah posisi yang nyaman bagimu ketika memangku gitar. Misalnya saja dekatkan badan gitar didada dan perutmu," terang Ariel.


Ariel mengulurkan tangannya dari belakang Joel, dan memposisikan gitar yang ada dipangkuan Joel.


"Lalu tahan badan gitar dengan bantuan kaki kananmu, kemudian tekan senarnya,"


"Ditahap ini kamu bisa menekan senarnya dengan asal sampai jarimu terbiasa. Lakukan hal awal ini selama lima menit," terangnya.


Ariel terus menjelaskan dengan tangan tak lepas dari Joel. Semua penjelasan yang diterangkan Ariel dengan posisi seperti memeluk dari belakang dan berbisik ditelinga Joel, membuatnya tidak bisa fokus.


"Mungkin di awal punggungmu akan terasa sakit, tapi itu akan hilang dan kamu akan terbiasa. Setelah kamu terbiasa, punggungmu tidak akan sakit lagi," ucap Ariel


Joel mengikuti intruksi Ariel, dan jelas saja dirinya terus melakukan kesalahan. Namun, Ariel tidak berhenti dan tetap mengajari Joel dengan lebih pelan.


"Aku akan mengajarimu cara tuning setelah kamu terbiasa dengan posisi memegang gitar," tutur Ariel.


"T-Tuning?" ulang Joel bertanya.


"Itu istilah menyetel senar gitar," jelas Ariel.


Jantung Joel berpacu, keringat mulai terbentuk didahinya.


"Kamu tegang sekali, Joel. Kamu memang harus duduk tegak, tapi jangan tegang," saran Ariel kembali menyentuh bahu Joel dan menegakkan punggung Joel.


"Uhm,,,,Ariel,,," panggil Joel.


"Ya,?" jawab Ariel.


"Apakan penjelasanku terlalu cepat?" tanya Ariel.


"Tidak,, bukan itu," jawab Joel gugup.


"Uhm,,, Bisakah aku ke tolilet yang ada diapartemenmu sebentar?" harap Joel.


Ariel mengerutkan keningnya. Berpikir apakah ada yang salah dari caranya mengajari Joel bermain gitar.


Namun, melihat Joel mulai berkeringat, Ariel menghela nafas pendek dan tersenyum.


"Tentu," jawab Ariel.


"Ini kuncinya," ucap Ariel sembari menyodorkan kunci apartemen.


"Terima kasih," sambut Joel menerima kunci dan beranjak dari duduknya.


Sepeninggal Joel, Bram yang sedari tadi duduk sedikit menjaga jarak dari mereka bangun dari duduknya dan menghampiri Ariel.


"Payah sekali, dia terlalu kaku," cibir Bram.


"Apakah kau sedang mengolok dirimu sendiri?" jawab Ariel.


"Errr,,,," Bram memutar bola matanya lalu tesenyum kalah.


"Dia bahkan lebih cepat belajar jika dibandingkan denganmu," sambut Ariel.


"Hei,,, ayolah, jangan membuka kartuku," keluh Bram.


Ariel terkekeh pelan, yang segera diikuti Bram.


Sementara itu, Joel masih berada ditoilet berdiri didepan cermin, lalu membasuh wajahnya.


"Arrhhh,,, kenapa jantungku sama sekali tidak bisa tenang sih,!" gerutu Joel mengacak-acak rambutnya, lalu menatap wajahnya dicermin.


Joel menatap tangannya, dan teringat kembali saat dimana Ariel terus meletakkan tangannya diatas Joel.


Joel berbalik dan sedikit menyandarkan badanya di wastafel. Matanya menerawang menatap langit-langit, lalu tersenyum.


"Dia memang masih belum memberikan jawaban apaun padaku, aku bahkan tidak tau bagaimana perasaannya terhadapku. Tapi, perasaanku padanya justru semakin dalam sekarang," ucap Joel pada diri sendiri.


"Lebih baik aku segera kembali," ucap Joel lagi.


Joel keluar dari apartemen Ariel dan berjalan menuju atap, untuk kembali bergabung bersama Ariel dan Bram.


"Hei, Ariel,!" panggil Bram.


"Uhm,?" Ariel menatap Bram dan menaikan alisnya.


"Aku bosan menunggu, Joel. Bagaimana kalau kita main lagi?" ajak Bram.


"Apa kau tidak lelah?" tanya Ariel.


"Tidak sama sekali," jawab Bram cepat.


Ariel tersenyum sembari mengelengkan kepalanya, lalu mengangguk setuju.


Ariel dan Bram kembali memainkan piano dan gitar masing-masing selama Joel belum kembali.


Namun permainan mereka tidak berlangsung lama. Ketika sebuah suara yang tidak asing bagi Ariel, menghentikan permainan Ariel dan Bram.


"Tak bisa ku percaya, aku bisa melihatmu setelah sekian lama disini, ARIEL,," ucap Jesica.


Ucapan skeptis meluncur begitu saja dari bibir Jesica yang menatap Ariel sinis.


Hal lain yang mengejutkan diriinya adalah, Bram juga berada didekat Ariel.


"Jesica,,," desis Bram.


Bram membelalakan matanya melihat Jesica yang datang bersama Charlie. Bibirnya kelu, lalu menelan ludahnya sembari melirik Ariel yang masih duduk memunggungi Jesica.


Jari tangan Ariel melayang diatas tuts piano, tak lama kemudian menurunkan tangannya dan berbalik, menatap Jesica, lalu tersenyum.


"Lama tidak bertemu, Jessi," sambut Ariel.


'Mereka saling mengenal? Bagaimana bisa?' batin Charlie ditengah keterkejutannya.


"Kau tak berubah sedikitpun dari terakhir yang kuingat," cibir Jesica.


"Kau bahkan masih memilih apartemen jelek seperti ini untuk kau tinggali," ejeknya.


"Aku memilih apartemen untuk ku tinggali, bukan untuk ku pamerkan," jawab Ariel datar.


"Cih,,, secara tak langsung kau mengatakan bahwa kau tak mampu untuk membayar apartemen yang lebih baik dari ini," sahut Jesica sinis.


"K-K-Kalian saling mengenal?" sela Charlie terbata.


Charlie menatap Jesica dan Ariel secara bergantian. Lalu menatap Bram.


"Wanita naif ini?" cibir Jesica menunjuk Ariel dengan telunjuknya.


"Tentu saja aku mengenalnya. Dan apa maksudmu saling mengenal? Apa kau juga mengenalnya?" cecar Jesica.


Charlie membeku, menatap ak percaya pada Jesica, lalu mengarahkan pandangannya pada Ariel yang berdiri dengan wajah datar.


"Tunggu sebentar,,," ucap Jesica menatap Charlie dan Ariel bergantian.


"Jangan bilang teman yang kau katakan berulang_,,," Jesica mengantung kalimatnya dan beralih menatap Ariel.


" Cih,,, tentu saja, hari ini adalah ulang tahun mu. Bukankah begitu, Ariel?" tanya Jesica sinis.


"Sarkasme mu semakin buruk dari terakhir kali kita bertemu," balas Ariel tenang.


"Terserah," dengus Jesica.


"Apa yang membuatmu mau menerima Bram lagi, Ariel? Bukankah dia sudah mencampakakanmu? Kau benar-benar menjijikan,!" ejek Jesica.


"CUKUP,,,!!!" hardik Charlie.


"Jesica, ucapanmu keterlaluan," sergah Charlie.


"Dan kau tak berhak ikut campur urusanku," sahut Jesica.


"Apa yang kau inginkan?" Bram membuka suara dan berdiri didepan Ariel.


"Ohoo,,, Kau tak pantas bersikap seperti pahlawan setelah menjadi seorang baj*ngan, Bram," cibir Jesica sembari melipat kedua tangannya.


"Kau_,,," geram Bram.


Ariel meraih tangan Bram dan menariknya agar mundur. Ariel mensejajarkan posisinya disamping Bram, dan kembali tersenyum.


"Apakah kau sudah selesai bicara, Jessi?" tanya Ariel.


"Ah-,,, maaf. Maksudku Jesica," ralat Ariel.


"Apakau kau sebegitunya merindukanku, hingga kau menghampiriku setelah mendengar permainan pianoku?" sindir Ariel.


Jesica tersentak dan melebarkan matanya. Seoalah tidak lagi mengenali sosok Ariel yang ada didepannya.


'Apa ini? Ariel tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Kenapa dia bisa tetap tenang? Bahkan membalasku?' batin Jesica.


"Apakah aku salah? Atau, justru apa yang aku katakan adalah benar hingga membuatmu kesulitan untuk bicara?" cecar Ariel.


"Aku tak menyangka kau masih ingat dengan permainan pianoku. Apakah itu karena rasa bersalahmu?" ucap Ariel lagi.


"Aku bahkan tidak melakukan kesalahan apapun padamu," dengus Jesica.


"Lalu, katakan padaku kenapa kau bersedia meluangkan waktumu untuk melihatku setelah mendengar permainan PIANO-ku?" sambut Ariel.


"Bukankah kau bisa saja langsung pergi dan mengabaikan yang kau dengar jika memang benar kau tidak memiliki kesalahan apapun padaku?" cecar Ariel.


"Itu bukan urusanmu, dan aku tidak harus menjelaskan alasannya padamu," tukas Jesica.


"Dan bagaimana bisa kau berada di kota ini?" tanya Jesica.


"Apa pedulimu untuk tau dimana aku berada dan apa yang aku lakukan?" sambut Ariel datar.


"Ah,,, aku tau! Kalian membuat janji disini, sama seperti Bram yang tiba-tiba berada disini. Maka, bukan hal aneh jika kau juga berada disini," cibir Jesica.


"Yah,, kalian berdua memang cocok. Kau si naif bersama Bram yang bren*sek," ejek Jesica.


Ariel terdiam. Bukan karena tidak bisa menjawab ucapan Jesica, namun ia merasa sia-sia membuang tenaganya hanya untuk menanggapi Jesica.


Dibalik punggung Jesica, Ariel melihat Joel berdiri mematung selama beberapa saat, sebelum akhirnya ikut angkat bicara.


"Apakah itu berarti aku juga seorang pria bren*sek karena bersama Ariel disini?" ucap Joel dingin.


Jesica tersentak dan menoleh kebelakang, terkejut melihat Joel telah berdiri dibelakang mereka berdua.


>>>>>>>--<<<<<<<