I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
63. Diajak Untuk Kembali Berkumpul



"Uhh,, suara berisik apa ini, Bram?" tanya Ariel.


"Ah,, maaf, sedang diadakan pesta di kantorku," kilah Bram.


"Ada apa? Apa kau memerlukan sesuatu?" tanya Bram.


Dalam hatinya ia merasa senang hanya dengan mendengar suara Ariel melalui ponselnya, dan betapa bersyukurnya dirinya dapat berbicara dengan Ariel dalam keadaan masih sepenuhnya sadar.


"Begitukah? Maaf sepertinya aku telah menganggu," sesal Ariel.


"Tidak, tolong jangan berkata seperti itu. Kamu sama sekali tidak menganggu. Lagi pula ini hanya pesta yang diadakan karyawanku, dan aku hanya duduk tanpa melakukan apappun," sanggah Bram.


"Katakan saja, ada apa?" tanya Bram mengalihkan perhatian.


"Aku_ah tidak, maksudku kami ingin mengajakmu makan malam bersama, bisakah kamu datang?" tanya Ariel.


"Makan malam? Kami?" ulang Bram. "Maksudmu, bersama Joel?" imbuhnya.


'Tentu saja bersama Joel! apa yang aku harapkan?' desis Bram dalam hati.


"Salah satunya," jawab Ariel.


"Maksudmu?" tanya Bram tanpa sadar mengerutkan keningnya.


Suara orang lain terdengar dari ponsel Bram, membuat kerutan didahinya kian terlihat.


"Biarkan aku yang bicara," ucapnya.


"Akh,,, hentikan! Kembalikan ponselku, hei,, Charliee,,!!"


Suara gaduh terdengar sesaat, Bram menatap ponselnya untuk beberapa saat, ingin memastikan bahwa yang menghubunginya memang Ariel. Ketika Bram kembali mendekatkan ponsel ke telinganya, suara orang lain terdengar.


"Hei,, Bram,!! Datanglah kemari,! Kami sedang bersama namun terasa kurang karena kau tidak bersama kami," serunya.


"Charlie? Kaukah itu?" tanya Bram ragu.


"Binggo,, apa kau tidak akan datang? Kita sangat jarang bisa makan malam bersama, dan saat ini aku sedang bebas dari tugas," ujar Charlie bersemangat.


"Dia sedang ada pesta lain, Charlie. Apa yang akan dikatakan teman-temannya jika Bram meninggalkan pesta begitu aja?" ucap Ariel.


Suara Ariel terdengar sedikit samar, dari suaranya, Bram yakin Ariel berada tak jauh dari Charlie. Dan tentu saja Joel akan ada disana.


"Dan kau juga sudah merampas ponselku, petugas Charlie," imbuh Ariel dengan nada menyindir.


"Hei,, aku sedang libur. Jadi sekarang aku hanyalah wanita biasa, penduduk biasa bukan petugas polisi dengan seragam," jawab Charlie membela diri.


"Kau sungguh petugas yang buruk," cibir Ariel.


"Apakah kalian menghubungiku hanya untuk membuatku mendengar perdebatan kalian?" sindir Bram.


"Jadi apakah kau akan kemari atau tidak? Sejujurnya kami memerlukan orang lain untuk memanggang barbeque," ungkap Charlie.


"Oh,,, kau memintaku datang hanya untuk menjadi pesuruh?" sindir Bram.


"Tentu saja, apa lagi?" sambut Charlie bercanda disertai tawa renyah.


"Apa yang sedang kalian rayakan?" tanya Bram penasaran.


"Aku naik jabatan," ungkap Charlie.


"Sebenarnya ini sudah beberapa hari lalu, Ariel mengetahuinya dan ingin merayakannya. Jadi aku ingin kamu juga bergabung karena kau temanku," sambung Charlie.


"Wow,,, selamat untukmu," sambut Bram.


"Ucapkan itu saat kau disini," jawab Charlie.


"Hei,,, hati-hati,,," seru Ariel panik.


"PRANGG,,,!!"


Suara seruan Ariel terdengar lagi disertai suara benda jatuh diikuti sesuatu yang pecah.


"Suara apa itu?" tanya Bram cemas, khawatir jika sesuatu menimpa Ariel.


"Hahhh,,, Joel memecahkan beberapa gelas berisi minuman," desah Charlie.


"Abaikan saja, jadi apa kau akan datang?" tanya Charlie.


"Kau kejam sekali," sambut Bram tertawa.


"Baiklah, dimana kalian sekarang tepatnya?" tanya Bram.


"Di rumah Joel. Api unggun juga sudah siap sekarang," papar Charlie.


"Baiklah, aku akan datang. Beri aku waktu untuk kesana," jawab Bram.


"Sebanyak yang kamu butuhkan, sampai jumpa, Bram," sambut Charlie senang.


Bram masih menatap ponselnya selama beberapa saat, lalu menghembuskan nafas panjang.


"Biar bagaimanapun, Charlie sudah menjadi seorang teman untukku. Anggap saja aku datang karena aku turut senang dengan berita ini," gumam Bram.


Bram menghabiskan sisa minumannya dan meletakkan beberapa lembar uang di bawah gelas sebelum pergi.


Sebelum mencapai rumah Joel, ia menyempatkan untuk membeli makanan ringan dan beberapa kaleng minuman serta hadiah untuk Charlie. Merasa apa yang dibelinya telah cukup, Bram kembali menjalankan mobilnya menuju rumah Joel.


>>>>>>>>--<<<<<<<<<<


Sementara itu, disisi lain.


Joel saat itu baru saja keluar dari rumah dengan nampan berisi beberapa gelas minuman. Saat ia menuruni tangga kayu dan berniat meletakkan nampan itu di meja, secara tidak sengaja kakinya menginjak batu yang membuatnya tergelincir dan jatuh terduduk, menjatuhkan beberapa gelas dinampannya.


"PRAANGG,,,,!!"


Ariel bergegas menghampiri Joel untuk membantunya. Sebagian gelas yang tidak terjatuh menumpahkan isinya ke tubuh Joel, membuatnya basah dan meninggalkan noda warna dibajunya.


"Aku baik-baik saja," jawab Joel.


"Hanya saja, aku perlu membersihkan diri sebentar," imbuhnya.


Ariel mengambil alih nampan ditangan Joel dan membantu Joel berdiri. Ia melihat batu yang membuat joel terjatuh, lalu memungutnya.


"Bagaimana bisa batu ini bisa terlepas dari tempatnya?" gumam Ariel.


Sebuah jalan setapak yang terdiri dari susunan batu didepan rumah Joel memang terlihat sudah sangat lama, namun sangat terawat. Dimana disalah satu sisi adalah tanah keras dan sisi lain pasir pantai yang luas.


"Aku tak pernah memperhatikannya, mungkin beberapa anak yang bermain disini yang melakukannya," jawab Joel.


"Aku akan kedalam sebentar," ucap Joel.


"Baiklah, aku akan menyiapkan minuman lagi," sambung Ariel.


"Kalau begitu, tolong ya," balas Joel.


Ariel mengangguk dan melangkah masuk kedalam rumah Joel menuju dapur, kembali membuat minuman.


Saat Ariel telah selesai dengan minumannya, dan meletakkan di meja luar rumah, ia kembali masuk dan mendapati Joel masih belum keluar dari kamarnya.


"Joel,,,! Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ariel sembari mengetuk pintu.


"Kenapa dia lama sekali?" gumam Ariel. "Apakah terjadi sesuatu padanya?" imbuhnya.


"Joel,,,!" panggil Ariel.


Hening,,,,


Ariel memutar knop pintu dan membukanya. Dengan hati-hati, Ariel menjulurkan kepalanya kedalam kamar, namun kamar itu kosong.


"Joel,,?" panggil Ariel lagi dan melangkah masuk.


Ariel mengedarkan pandangannya, terpesona dengan interior kamar Joel yang terkesan hangat. Semua yang berada dikamar tersusun rapi. Barang-barangnya pun terlihat sederhana namun memiliki arti tersendiri.


Sebuah bingkai foto dimeja samping tempat tidur menarik perhatiannya, membuat Ariel menghampiri bingkai foto itu. Dan ketika Ariel melihat foto itu, ia melebarkan matanya dengan rasa tak percaya ketika melihat foto itu.


Foto dirinya ketika menyibakkan rambut karena tertiup angin, menatap matahari terbenam dan tersenyum menikmati pemandangan sore ditebing batu. Saat pertama kalinya Ariel berada disana bersama Joel.


"B-B-Bagaimana bisa? K-Kapan foto ini,,?" desis Ariel terbata.


"Tentu saja aku mencurinya," bisik Joel.


Suara Joel tiba-tiba berbisik ditelinga Ariel dari belakang. Membuat Ariel terkejut dan nyaris menjatuhkan bingkai foto ditangannya.


Ariel baru akan berbalik saat tangan Joel bergerak lebih dulu melingkar dipinggangnya, memeluknya dari belakang dan manahan gerakannya.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Berada didalam kamar seorang pria dewasa, tidakah menurutmu itu berbahaya?" goda Joel berbisik ditelinga Ariel.


"Uh,,, itu,, aku,,, uhm,, aku hanya,,, akh,, lepaskan dulu,,!" pinta Ariel mengeliat berusaha melepaskan diri dengan panik.


"Hooo,,, melepaskanmu? Itu sulit," jawab Joel.


Joel mengeratkan pelukannya dan meletakkan dagunya dibahu Ariel. Mengeluarkan hembusan nafas panjang.


"Andai kita hanya berdua saja saat ini," desah Joel.


"Bukankah kita belum pernah menghabiskan waktu berdua? Maksudku, benar-benar menghabiskan waktu berdua saja, bukan sekedar makan siang bersama atau saling mengunjungi satu sama lain," papar Joel.


"Kita bisa melakukannya saat kamu libur bekerja, Joel," hibur Ariel.


Joel hanya mengangguk pelan dibahu Ariel sebagai tanggapan.


"Bagaimana kamu bisa mendapatkan foto ini?" tanya Ariel. "Bagaimana aku bisa tidak menyadarinya?" imbuhnya.


Ariel meletakkan bingkai foto ditangannya dengan hati-hati.


"Aku mendapatkan momennya, dan memotretmu menggunakan ponselku," papar Joel. "Saat itu , aku melihat kamu terlihat sangat cantik, dan aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memotretmu," imbuhnya.


"Bukankah itu termasuk ilegal?" sindir Ariel.


"Aku hanya menyimpannya untuk diriku sendiri, kenapa itu ilegal?" jawab Joel.


Ariel perlahan memutar tubuhnya agar menghadap Joel. Namun, Ariel justru tercekat saat melihat Joel hanya menggenakan celana panjang tanpa atasan. Membiarkan tubuh bagian atas terbuka. Ariel serta merta mendorong Joel agar menjauh darinya.


"Ukh,,, kanapa kau belum mengenakan pakaiamu?" keluh Ariel.


"Aku baru akan memakainya, tapi justru melihamu ada didalam kamarku," jawab Joel tanpa beban.


"K-Kalau begitu, selesaikan. Aku akan keluar," ujar Ariel panik.


Ariel berbalik dan berjalan cepat menuju pintu. Wajahnya telah memerah dengan jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih cepat.


Ketika Ariel mencapai pintu dan akan membukanya, tangan Joel mendorong pintu dari belakang Ariel, membuat pintu kembali tertutup.


"Joel,,, apa maksudnya sekarang?" tanya Ariel seraya berbalik.


Joel meletakan tangannya dipintu, satu tangannya yang bebas memutar kunci pintu, mengurung Ariel diantara kedua tangannya.


"Apa kau pikir, kamu bisa kabur begitu saja setelah masuk tanpa ijin?" sindir Joel.


Seringai lebar muncul diwajah Joel. Matanya memandangi wajah Ariel yang terkurung diantara kedua tangannya, dan tengah mendongak menatapnya.


"Aku,,, hanya,,, aku hanya khawatir karena kamu tidak kunjung keluar," jawab Ariel.


"Usahamu untuk mengelak sangat buruk," sindir Joel.


Ariel menelan ludahnya dengan gugup, perasaan yang sebelumnya tidak ia rasakan bahkan saat Joel tidak mengenakan atasan saat bertemu pertama kali, sekarang terasa berbeda.


Perlahan Joel membungkuk dan mendekatkan wajahnya, mengunci tatapan matanya pada Ariel agar tidak berpaling. Jarak wajah mereka kian menipis, hingga Joel bisa melihat bulu mata Ariel bergerak karena hembusan nafasnya. Hingga, Ariel menutup kedua matanya.


...>>>>>>--<<<<<<...