
Ariel berpikir keras, memikirkan bagaimana caranya mereka bisa tetap tampil.
"Bagaimana dengan alat musik baru?" saran Bram.
"Tidak sesederhana itu, Bram. Semua alat musik baru harus di atur untuk menyesuaikan nadanya. Dan itu tidak bisa dilakukan hanya dengan hitungan menit," jawab Ariel.
"Menggunakan alat milikku pun tetap tidak akan sempat, waktu kita sangat terbatas jika mengingat jarak yang harus kita tempuh," ucap Ariel mulai frustasi.
Ariel meletakkan telapak tangan didahinya. Hingga sebuah tangan menyentuh bahunya, membuat Areil menoleh.
"Tenanglah, kamu tidak akan bisa memikirkan apapun jika kamu terlalu panik," ucap Joel.
"Aku mencoba, Joel," jawab Ariel lesu. " Tapi, memikirkan mereka bisa saja mendapatkan image buruk dari penyelengara acara ini, bisa memutuskan impian mereka, aku tidak tau bagaimana kedepanya nanti" sambungnya.
"Apa kau lupa, kamu memiliki seseorang yang bisa diandalkan? Kamu bahkan mengundangnya dengan memberikan tiket masuk padanya," ucap Joel tersenyum.
"Apa maksud_,,,"
"Yo,,, Joel. Apakah aku terlambat?"
Suara seseorang yang tidak asing bagi Ariel memotong ucapannya muncul dari balik punggung Joel.
"David,???" desis Ariel kaget.
"Aku segera kesini setelah Joel menghubungiku. Beruntungnya, aku baru saja tiba saat menerima telepon darinya," terang David.
"Perlu bantuanku?" tanya David dengan seringai lebar diwajahnya.
"Bolehkah aku?" tanya Ariel penuh harap.
"Dengan senang hati," sambut David tersenyum hangat.
"Kau sudah membuatku yang kumuh ini bisa masuk kedalam gedung mewah seperti ini. Aku hanya akan menjadi seorang bren*sek jika tidak membantumu," lanjutnya tersenyum lebar.
"Terima kasih banyak, David," ucap Ariel tersenyum lega.
David segera memeriksa alat musik. Matanya memeriksa dengan teliti tiap bagian yang rusak.
"Aku tetap membutuhkan peralatanku, dan itu ada dirumah. Tapi, aku bisa membuat ini bisa dimainkan setidaknya hingga acara berakhir," ungkap David.
"Kamu bisa melakukan itu?" tanya Ariel.
"Ini hanya sepotong kue, Ariel. Katakan saja beres. Tapi, setelah ini, bawa alat-alat ini ketempatku agar aku bisa memperbaiki dengan lebih baik," papar David.
"Aku benar-benar tertolong. Terima kasih banyak," ungkap Ariel.
"Kau hanya perlu menyetel ulang nadanya," ujar David.
"Aku mengerti," jawab Ariel.
David mulai sibuk dengan menggunakan alat mini yang selalu ia bawa kemanapun. Sementara Ariel menyetel ulang nada tiap alat musik yang telah diperbaiki sementara.
"Pernahkah ada orang yang mengatakan padamu bahwa kau benar-benar menakjubkan, David," puji Ariel tulus.
"Aku tidak pernah bertemu dengan orang yang memiliki kemampuan memperbaiki alat musik begitu sempurna seumur hidupku," sambungnya.
"Pujianmu berlebihan, nona. Aku hanya memiliki tangan yang bisa digunakan untuk mendapatkan uang dan bisa melanjutkan hidupku," ucap David tertawa pendek.
"Justru sebaliknya, aku tidak pernah bertemu dengan orang yang bisa memainkan alat musik memiliki nada sempurna sepertimu," puji David.
"Dan konyolnya, aku baru saja menyadari bahwa kau adalah Ariel Esther, yang sering menjadi bahan pembicaraan disetiap acara musikal yang pernah aku datangi," tambahnya.
"Kamu berlebihan, aku tidak sampai seperti yang mereka bicarakan," sanggah Ariel. "Kebanyakan orang sangat suka melebih-lebihkan apa yang mereka dengar," imbuhnya.
"Aku meragukan itu benar, walaupun aku bukan pengemar berat musik, tapi aku menikmati apapun alat musik yang kau mainkan," ungkap David.
"Jadi, maksudmu Ariel bukan hanya sekedar guru musik?" sela Joel dengan wajah terkejut.
"Ehh,,, kau tidak tau? Atau kau tidak sadar, Joel? Keterlaluan sekali," cibir David.
"Selesai," ucap David memotong ucapan Joel.
"Aku sarankan untuk menghindari tuts ini," ucap Davin menunjuk salah satu tuts piano.
"Aku mengerti, terima kasih," ucap Ariel.
David hanya mengangguk tanpa menghilangkan senyumannya, ketika Ariel berbalik dan memanggil anak didiknya.
"Kemari," Ariel meminta Ken, Gina dan Oliver mendekat.
"Kalian harus bisa saling melengkapi disini. Jika hanya satu tuts saja, itu bisa ditutupi dengan permainan Cello dan Biola. Aku percaya kalian bisa melakukannya," ucap Ariel.
"Baik, kak," jawab ketiganya serentak.
"Dan untukmu Ken, lakukan saja seperti biasa nya kamu bermain. Ketika kamu bermain, kamu bisa merasakannya dengan baik. Terus lakukan saja seperti itu," jelas Ariel.
"Aku mengerti," jawab Ken percaya diri.
Ariel mengangguk puas. Bertepatan dengan itu, beberapa orang mulai memindahkan alat musik mereka. Hingga tiba waktunya bagi mereka bertiga untuk bergabung bersama pemain musik yang lain.
David pamit untuk kembali ketempat duduk penonton. Sementara Ariel dan ketiga temannya memilih tetap berada dibelakang panggung.
Disisi lain, seseorang duduk diantara para penonton lain menyeringai licik menatap panggung yang penuh dengan alat musik.
Seringai diwajahnya melebar ketika para pemain mulai berada diposisi mereka masing-masing.
Ketika alunan musik mulai terdengar dan memenuhi seluruh gedung, seringai diwajahnya memudar. Digantikan dengan decakkan kesal.
Sementara Ariel berdiri dibelakang panggung dengan cemas. Berharap tidak ada kesalahan sekecil apapun itu.
Sentuhan lembut ditangan Ariel membuatnya tersentak dan segera menoleh. Joel tersenyum lembut padanya dengan tangan yang meremas lembut tangan Ariel. Mencoba untuk menenangkanya.
"Semua akan baik-baik saja. Aku yakin ini akan berjalan lancar," hibur Joel.
"Berkatmu. Terima kasih banyak, Joel. Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika kamu tidak disini," tutur Arie dengan tulus.
"Aku akan melakukan apapun untukmu, hanya untuk memastikan senyum diwajahmu tidak menghilang," sambut Joel.
"Kamu sudah sangat banyak membantuku. Ini bukan kali pertama kamu membantuku, aku bahkan merasa, ucapan terima kasih saja tidaklah cukup," ucap Ariel.
"Aku hanya berharap, kamu tidak merasa terbebani," jawab Joel.
"Aku tidak ingin terlihat terlalu kejam padamu, tapi aku_,,," (Tidak tau apakah aku mencintaimu atau tidak,) .
Ariel mengantung kalimatnya dan meneruskannya dalam hati. Perlahan ia memalingkan wajahnya dari Joel.
"Kamu tidak perlu mengatakannya, aku mengerti. Aku hanya khawatir kau menyembunyikan sesuatu dariku, bahwa kamu mungkin membutuhkanku, tetapi tidak memberitahuku," ucap Joel tanpa mengalihkan pandangannya dari Ariel.
"Yang ingin kulakukan hanyalah membuatmu bahagia, hanya agar aku bisa melihat senyum diwajahmu," lanjutnya.
Ariel kembali menatap Joel. Ia mulai menyadari satu hal yang pasti, bahwa hatinya goyah hanya ketika ia bersama Joel. Seolah dirinya bisa mengandalkan Joel dalam situasi apapun.
Sementara disisi lain, Bram yang melihat hal itu dari awal, hanya tersenyum getir. Jarak antara dirinya dengan Ariel terasa semakin jauh, bahkan jalan itu seolah telah menghilang.
'Aku memang bodoh telah melepaskanmu dan membuatmu terluka. Dan aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Aku hanya ingin kamu bahagia. Tapi, sebelum hal itu terjadi, aku ingin mengisi waktu sebanyak yang bisa kugunakan untuk bisa menjalani hariku bersamamu, karena aku akan selalu mencintaimu, Ariel,'batin Bram.
Suara sorakan penonton menyadarkan Bram dari lamunannya. Ia bahkan tidak tau sejak kapan acara itu telah berakhir. Sekali lagi, Bram melihat Ariel yang saat itu memeluk Joel saat acara berjalan lancar sebelum akhirnya memilih keluar dari tempat itu dan memilih menunggu dimobilnya.
Didalam mobil, Bram menghubungi seseorang dan meminta untuk menyelidiki siapa orang yang telah melakukan sabotase terhadap Ariel.
"Jesica,,, mungkinkan dia yang melakukan semua ini? Jika iya, aku tidak akan memaafkannya dan akan membuat perhitungan dengannya. Tak peduli apakah dia seorang wanita sekalipun," gumam Bram.
Bram mendesah pelan, duduk bersandar dengan mata menerawang menatap langit melalui mobilnya.
...>>>>>>>--<<<<<<...