I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
92. Di Palais bagian 2



Suasana Palais Garnier tampak ramai dengan jumlah pengunjung yang lebih banyak dari bisasanya.


Hal itu dikarenakan adanya pertunjukan orkestra yang akan berlangsung malam itu. Diantara banyaknya pengunjung, salah satu pengunjung berjalan dengan santai menuju ruangan yang dikhususkan untuk staf.


"Tuan Bram?" sapa seseorang ketika melihat Bram.


"Anda benar-benar datang, itu benar-benar sebuah kehormatan bagi kami," imbuhnya seraya menjabat tangan Bram


"Kau mengundangku di saat aku kebetulan berada disini," jawab Bram ramah.


"Mari saya antar ke kursi anda. Saya menyiapkan kursi VIP untuk anda," ucapnya.


Bram hanya mengangguk ramah dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


Sebagian hatinya, Bram tidak begitu ingin melihat pertunjukan musik itu, hanya saja ia tidak ingin hubungan baik yang terjalin dengan orang-orang yang berada di sana menjadi renggang, dan tentu saja akan mergikan baginya.


Bram hanya duduk tanpa melihat kearah panggung, namun saat ia mendengar alunan tuts piano yang mulai mengalun, ia segera berdiri dari duduknya.


"Ariel, ini permainan piano Ariel," ucapnya sembari melihat ke arah panggung.


Namun, pandangan Bram terhalang oleh salah satu dari pemain orkestra yang berada disana. Bram meninggalkan kursinya dan meminta seseorang untuk mengantarnya kebelakang panggung dengan alasan mengenal salah satu pemain.


Ia menjadi lebih yakin saat tiba di belakang panggung melihat Joel ada disana. Dengan langkah ringan, Bram menghampiri Joel yang tengah berdiri dengan mata terus tertuju pada Ariel yang sedang memainkan piano untuk pembukaan acara.


Joel masih terpaku pada Ariel ketika merasakan tangan seseorang berada dibahunya, membuat ia menoleh.


"Bram? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Joel terkejut.


"Aku mendapat undangan disini, tapi aku sungguh terkejut kau berada disini, lebih tepatnya kalian berdua," ujar Bram tersenyum hangat.


"Salah satu pemain orkestra itu meminta Ariel bergabung, dan dia setuju bergabung hanya di satu pertujukan ini," jelas Joel.


"Meskipun sempat terjadi hal menyebalkan," imbuhnya dengan mengerutu.


"Hal menyebalkan seperti apa yang kau maksud?" tanya Bram mengerutkan keningnya.


"Dua orang dari mereka menghinanya," jelas Joel.


"Bisa jelaskan lebih spesifik tentang itu?" pinta Bram.


"Kenapa aku harus menjelaskannya padamu?" jawab Joel menyipitkan matanya.


"Oh ayolah,,, dua orang lebih baik untuk menghadapi orang bermulut besar," bujuk Bram.


Joel menghela nafas panjang, lalu menceritakan apa yang terjadi saat Ariel baru saja tiba, dan menemui mereka. Namun tetap mengarahkan pandangan mereka ke panggung.


Sementara itu, di atas panggung, mereka yang sebelumnya meremehkan Ariel tercengang ketika melihat dan mendengar permainan pianonya.


Mereka bahkan sempat mengatakan kata-kata yang tidak menyenangkan saat masih dibelakang panggung.


"Pembukaan awal adalah kamu memainkan piano dengan melodi ringan, barulah nanti kami akan memainkan lagu kami dan kamu mengiringi," jelas Marc beberapa saat lalu.


"Kau sudah mengatakan itu lebih dari tiga kali, dan aku sangat mengingatnya," jawab Ariel.


"Marc, tolonglah. Berhenti membuat keributan," lerai Albert.


"Ariel, aku minta maaf padamu. Aku tau dia sedikit kasar padamu, tapi tolong maafkan dia, dia tidak sepenuhnya bersikap seperti ini karena keinginannya," ucap Albert tampak tidak tau bagaimana harus bersikap.


"Aku tau, aku hanya memiliki satu pertanyaan untukmu," ujar Ariel.


"Apa?" sambut Albert ragu.


"Apa kau masih percaya padaku?" tanya Ariel.


"Tentu saja, aku percaya padamu," jawab Albert tanpa keraguan.


"Maka itu sudah lebih dari cukup," jawab Ariel.


"Sikapmu seolah kau bisa mengatasi semuanya hanya dengan modal orang lain percaya padamu, konyol!" dengus Marc.


Ariel mulai merasa jenuh dengan sikap Marc yang seolah bisa mengatur semuanya sesuai kehendaknya. Meskipun ia juga tetap mengakui kemampuan Marc, namun sikap Marc justru akan membuat dirinya sendiri terjatuh jika tidak diingatkan.


"Aku bermain di awal sebagai pembukaan, apapun lagunya itu tak masalah, dan kalian akan mulai bermain, setelah itu aku mengiringi dan bermain lagi di akhir sebagai penutup, lagu yang aku pilih bisa lagu yang sama dengan di awal ataupun lagu yang berbeda, bukankah begitu tuan Marc?" ujar Ariel memiringkan kepalanya menatap datar ke arah Marc.


"I-I-itu benar," jawab Marc terbata.


"Selesai," sambut Ariel menjentikkan jarinya.


Marc baru akan membuka suara lagi ketika tangan John bergerak lebih duu untuk menariknya manjauh dari Ariel. Tidak ingin situasi berubah menjadi lebih panas.


"Sekarang, siapa yang memasang wajah ingin membunuh?" goda Joel terkekeh pelan.


"Diam!" sungut Ariel kesal.


"Kenapa sekarang kamu tampak marah?" ujar Joel tersenyum jahil.


"Sekarang aku tak akan menghentikanmu jika kau ingin memukul wajahnya sekali," sambut Ariel cemberut.


"Manisnya,,," Joel dengan gemas menarik hidung Ariel.


"Aakh,, hentikan,!" pekik Ariel menepis tangan Joel.


Joel gagal menahan tawanya, ia tertawa melihat reaksi Ariel yang segera menutup hidungnya.


"Merasa lebih baik?" tanya Joel tiba-tiba berubah lembut.


"Terapi darimu adalah yang terburuk," ujar Ariel meninju main-main dada Joel yang segera tertawa pelan.


"Tapi berhasil," jawab Joel tersenyum lebar. "Ayo kembali," ajaknya.


Ariel mengangguk dan kembali bergabung bersama teman-teman Albert. Sebelum naik ke atas panggung, Joel berhasil mencuri satu ciuman di pipi Ariel, memanfaatkan posisi Ariel yang berada di paling belakang.


"Aku akan melihatmu dari sana," bisiknya sembari menunjuk sudut belakang panggung dengan kepalanya.


Ariel mengangguk melirik sudut belakang panggung namun tetap bisa melihat posisi dimana Ariel akan bermain, lalu tersenyum dan meninggalkan Joel.


Kembali ke saat ini,


Tak satupun dari teman-teman Albert tidak terkejut dengan permainan piano Ariel. Ia memainkan melodi ringan yang sering ia mainkan, dan semua orang mengenal melodi itu sebagai ciptaannya sendiri.


Tak berselang lama, mereka mulai memainkan alat musik mereka, Ariel mengiringi permainan mereka dengan mudah meskipun hanya mendengar mereka memainkannya satu kali. Bahkan tidak ada satu kesalahan sama sekali.


Di melodi akhir mereka, Ariel melanjutkan memainkan piano.


Semua yang mendengar melodi itu tertegun, seolah emosi yang Ariel tuangkan kedalam lagu itu masuk kedalam hati mereka.


Joel bahkan bisa merasakannya. Termasuk Bram yang ada disampingnya.


Ariel menyampaikan lagu ini untuk seseorang, seseorang yang mengisi hatinya dan ia telah sepenuhnya membuka hati untuk orang itu.


Diakhir permainan Ariel, suara tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Albert dan teman-temannya menatap Ariel dengan tatapan takjub.


'Dia bermain seolah ini bukan permainan pertamanya. Dan lagu tadi, aku tak pernah mendengarnya sebelum ini,' batin Albert.


'Lagu tadi luar biasa, aku juga tidak pernah mendengarnya, dia bahkan bermain mengirngi kami dengan sangat sempurna,' batin Marc.


'Bagaimana bisa? Dia baru sekali mendengar lagu kami, dan dia bisa bermain dengan sangat sempurna, dan memainkan lagu yang tidak pernah ku dengar sebelumnya,' batin Marius.


Mereka membungkkukan badan mereka dan meninggalkan panggung. Merasakan kelegaan memenuhi hati mereka saat merasa telah memainkan musik dengan baik. Mereka kembali kebelakang panggung dengan hati di penuhi tanda tanya, dan satu pertanyaan terbesar mereka adalah ' Siapakah Ariel sebenarnya?'


 Ketika mereka sampai di belakang panggung, Joel yang telah menunggu segera menghampiri Ariel, lalu mendekapnya.


"Terima kasih," bisik Joel.


"Hooo,,, apa kau bisa mengerti apa yang aku mainkan?" tanya Ariel.


"Sangat," jawab Joel.


Sama seperti Ariel, dirinya juga mencintai Ariel dengan sepenuh hati. Itulah makna dari lagu yang Ariel mainkan. Lagu yang juga menyambut kehadiran seseorang dengan hati terbuka sepenuhnya, tanpa keraguan yang dulu menyelimuti hati Ariel.


Seorang pria yang dikenal Albert dan Tim sebagai orang yang memberi mereka kesempatan tampil di gedung itu menghampiri mereka.


Albert dan Tim baru akan membuka suara ketika pria itu lebih dulu membuka suara membuat mereka terkejut.


"Sudah saya duga, itu benar-benar anda, saya sempat ragu karena anda bermain bersama mereka, tapi lagu terakhir sungguh tidak bisa di sangkal lagi, itu adalah lagu ciri khas dari sosok anda, lama tidak bertemu mademoiselle Ariel, senang rasanya dapat melihat anda lagi disini,"


Pria itu membungkuk hormat dan mengulurkan tangan kepada Ariel yang segera menyambutnya dengan ramah.


.....


.....


.


.


To be Continued